Niva duduk di sofa kamarnya, ponsel digenggam erat. Matanya sesekali melirik gerbang rumah Radio dari jendela kamarnya. Hatinya sedikit berdebar. Ia menunggu seseorang. Tiba-tiba, suara intercom di kamarnya berbunyi. Refleks ia mengangkatnya. “Mbak, pengantar makanan pesanan Mbak Niva datang. Katanya harus serah terima langsung,” suara petugas keamanan terdengar tegas. Niva langsung tersenyum, matanya berbinar. “Iya, Pak! Saya ke sana sekarang!” Ia bergegas ke gerbang rumah yang besar. Di depan, seorang pria baru saja melepas helm. Niva mengenalinya seketika. Nio. Senyumnya hangat, mata yang selalu ramah membuat jantung Niva langsung salah tempo. “Ini pesanannya, Mbak,” kata pria itu sambil menyerahkan gelas-gelas es kopi, memperhatikan petugas keamanan di sekitar, memastikan sikap

