Bab 24. Terus Terang

1386 Words

Pagi itu meja makan di rumah Radio sudah tertata rapi. Niva duduk manis di salah satu kursi, gaun terusan pastel yang ia kenakan jatuh lembut sampai lutut. Tangannya sesekali merapikan rambut, lebih karena gugup daripada berantakan. Radio menuang kopi ke cangkirnya sendiri, lalu melirik Niva sekilas. “Ezkar bilang kamu pengin banget belajar kue tradisional.” Niva mengangguk. “Iya. Dulu ibu sering terima pesanan kue hajatan. Aku sering lihat dari kecil, sering bantu juga.” Senyumnya tipis, tapi hangat. “Kalau bikin kue-kue yang sama, rasanya kayak… mengulang waktu sama Ibu.” Radio berhenti sejenak, lalu duduk. “Aku nggak punya banyak ingatan soal Tante Andini,” katanya jujur. “Ezkar yang lebih dekat. Dia sempat diasuh sama beliau waktu kecil.” Niva terdiam, lalu mengangguk pelan. Sesa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD