Area konser itu sudah seperti kota kecil ketika mereka sampai. Spanduk besar bergoyang tertiup angin, lampu panggung masih diuji coba, dan suara sound check bergema seperti petir yang belum benar-benar turun. Orang-orang berdatangan dari segala arah—kaus band, kamera ponsel, dan wajah-wajah yang terlihat terlalu bahagia untuk ukuran sore hari. Niva baru saja melepas helm ketika matanya langsung berbinar. “Panggungnya di sana!” serunya, menunjuk kerumunan yang sudah mulai berkumpul di depan panggung utama. Ia bahkan sudah melangkah cepat, seperti anak kecil yang melihat wahana favoritnya di taman hiburan. Belum sampai tiga langkah, tangannya ditarik pelan dari belakang. “Eh,” Niva menoleh. Nio berdiri santai di belakangnya, masih memegang helm, alisnya terangkat. “Kita makan dulu,” ka

