Interkom membelah kesunyian pagi dengan vibrasi yang tidak menyenangkan. “Farina, masuk sebentar.” Suaranya mengalun santai, sebuah anomali bagi pria yang baru menjabat direktur selama dua puluh empat jam. Farina merapikan laporannya, menarik napas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa kesabaran, lalu mengetuk pintu. “Masuk.” Arno bertahta di kursi kebesarannya dalam keadaan yang jauh dari kata formal. Jas tertanggalkan dan lengan kemeja tergulung hingga siku. Ia tampak terlalu mapan di sana, seolah ruangan itu adalah habitat alaminya sejak lama. Farina meletakkan map di meja. “Ini laporan rapat kemarin, Pak.” Alih-alih menyentuh dokumen itu, Arno justru melakukan inspeksi visual dari ujung rambut hingga ujung sepatu Farina. “Office look cocok juga di kamu.” Sekretarisnya itu be

