Pintu apartemen baru saja terbuka ketika suara Ezkar langsung menyambar. “Dari mana lo?” Niva berhenti. “Beli seblak.” Ezkar bangkit dari sofa. “Seblak mana yang belinya pakai helm?” Niva menggenggam tasnya. “Tadi nebeng temen.” “Si barista itu?” Ezkar mendengus. Niva diam, dan itu cukup menjadi jawaban. Ezkar mendekat, tatapannya tajam. “Ngapain lo bohong cuma buat jalan sama dia? Pacaran lo?” “Gue nggak pacaran, cuma ke pasar malam.” “Keluar malam, bilang beli seblak, sama cowok. Pakai bohong segala. Mulai berani main api sekarang?” “Gue cuma ke pasar malam, bukan aneh-aneh! Lagian kita cuma teman” Ezkar mengusap wajahnya kasar. Suaranya turun, tapi lebih dingin. “Cewek apaan lo, mau aja diajak cowok keluar malam. Mana ada temen jalan berdua malam-malam.” Tatapannya menusuk.

