Menjelang jam pulang, lobi kantor mulai ramai. Ezkar melangkah masuk, matanya langsung menangkap sosok pria yang berjalan dari arah lift. Arno. Langkah Ezkar melambat. Itu kan mantan Farina… ngapain dia di sini? Pikirannya belum selesai ketika Farina muncul dari koridor, membawa tas dan berkas. Ezkar langsung menghadangnya. “Far,” panggilnya. Farina berhenti, ekspresinya datar. “Ada apa?” Ezkar menarik napas. “Aku mau minta maaf. Soal bakery… aku nggak ada maksud ngeremehin tempat itu. Aku nggak lupa kok kenangan kita di sana. Gimana supaya kamu maafin aku?" Farina menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Kalau gitu, keluarin dia dari kursusnya.” Ezkar terdiam. Bayangan Niva yang antusias belajar membuat kue dan roti, muncul begitu saja di ingatannya. “Nggak bisa, kan?”

