Bab 46. Hasil Perenungan

1351 Words

Sore itu apartemen terasa terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang biasanya ramai oleh suara Niva. TV menyala. Cahaya bergerak di layar, tapi tak benar-benar masuk ke kepala Ezkar. Ia duduk bersandar, satu tangan menopang pelipis, pandangannya kosong—menembus layar, melewati waktu. Pintu terbuka. Suara langkah ringan masuk, diikuti bunyi tas diletakkan. Ezkar baru seperti ditarik kembali ke ruangan itu. Ia berkedip, lalu menoleh. Begitu melihat Niva, sudut bibirnya langsung naik, cengengesan seperti biasa—seolah jeda kosong tadi tak pernah ada. “Gimana di bazar? Dagangan lo laku?” tanyanya ringan, nada tengilnya kembali utuh. Niva menatapnya sekilas. Mengangguk. “Ya lumayan.” Singkat. Terlalu singkat untuk ukuran Niva. Ia langsung melangkah melewati Ezkar. “Gue mandi dulu, ya. Gerah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD