Lampu kristal memantul di gaun cokelat yang membalut tubuh Farina. Ia melangkah di sisi Arnold, anggun, terlatih—seolah dunia ini memang panggungnya. Pesta koktail ini biasa diadakan oleh kalangan keluarga kelas atas dan pengusaha. Farina mengangkat tangannya, hendak menggandeng Arnold. Yang didapat justru tepisan halus. “Jangan sekarang, Honey,” ujar Arno tanpa menoleh. “Orang-orang tahunya kamu pacarnya Ezkar. Jangan sampai mereka berpikiran buruk ke kita.” Farina menahan ekspresi. “Tapi kita kan—” “Aku nggak mau cari masalah dengan keluarga Hargon, mereka berpengaruh,” potong Arnold datar. "Tunggu agak lama, baru kita go public." Langkah Farina tetap stabil. Senyumnya tetap terpasang. Tapi jemarinya perlahan mengepal. Arnold selalu begitu—dingin, tapi sulit dibantah. Matanya men

