Di perjalanan pulang malam itu, suasana hangat di dalam mobil tak bisa disangkal. Jalanan malam meluncur tenang di balik kaca depan. Lampu-lampu kota lewat bergantian, memantul sebentar di dashboard lalu hilang lagi. Di balik kemudi, Ezkar masih menyimpan sisa senyum yang belum juga reda. Entah kenapa, setiap kali mengingat beberapa menit yang lalu, dadanya menghangat. Kenangan Niva berdiri di bawah sorot lampu, suara lembutnya memenuhi ballroom, lalu tatapan para tamu yang berubah kagum. Ia sempat mengira Niva hanya akan asal bernyanyi untuk menyelamatkan keadaan. Ternyata tidak. Gadis itu benar-benar bisa bernyanyi. Ditambah lagi suaranya memukau. Terlalu bagus sampai Ezkar beberapa kali hampir lupa menekan tuts. Sudut bibirnya terangkat lagi, bangga dengan kemampuan tersembunyi

