Pagi itu dapur Sweet Saturn sudah hidup seperti biasa, tapi ada yang terasa kosong. Nio masuk tanpa banyak bicara, langsung cuci tangan dan mengambil apron. Tangannya bergerak otomatis—memotong buah, menuang, mengaduk. Tapi matanya sempat menyapu ruangan. Terasa kosong. “Nina,” panggilnya singkat. "Mbak Niva mana?” Nina menoleh sambil memasak adonan klepon. “Mbak Niva izin nggak masuk, Mas. Katanya ada masalah keluarga.” Gerakan tangan Nio berhenti sebentar. Keluarga? Setahuku orang tuanya sudah nggak ada. Ia kembali bekerja, menuang minuman pertama ke wadah adukan. Lalu yang kedua. Ketiga. Tapi pikirannya tidak ikut rapi seperti tangannya. Ponsel di saku dikeluarkan. Ia menekan tombol rekam. “Niva, ada apa? Kamu baik-baik aja? Kok nggak ke toko?” Pesan terkirim. Beberapa menit

