Langit malam sudah menggantung. Pintu apartemen terbuka dengan bunyi klik pelan. Ezkar muncul dengan kaus santai dan rambut sedikit berantakan. Alisnya langsung naik begitu melihat sosok di depan. Radio berdiri tenang—tapi di belakangnya koper dan tas berderet seperti hendak mudik. “Eh… ada apa nih?” Ezkar mengerjap. Belum sempat dijawab, langkah cepat terdengar dari dalam. Niva keluar sambil mengikat rambut asal. “Eh! Makasih, Kak!” katanya, langsung meraih pegangan koper dan menariknya masuk. Radio ikut membawakan sisanya, wajahnya masih menyimpan bingung. “Lho, Niva bilang mau tinggal di sini lagi. Dia nggak bilang?” Ezkar menoleh cepat ke Niva. Ada jeda sepersekian detik—lalu sudut bibirnya naik, susah disembunyikan. “Yang bener, Niv?” suaranya berubah ringan. “Serius lo tingga

