Gundukan tanah itu masih basah, sewarna dengan langit kelabu yang menggantung rendah di atas pemakaman. Niva bersimpuh di antara dua nisan yang kini berdiri berdampingan. Jemarinya yang gemetar mengusap nisan kayu ibunya yang masih baru, kontras dengan nisan sang ayah yang sudah mulai berlumut.
"Kalau Ibu pergi, aku sama siapa? Aku sendiri sekarang, Bu... Nggak punya siapa-siapa," bisiknya parau. Suaranya hilang ditelan angin, menyisakan sesak yang menghimpit paru-paru.
Sebagai anak pasangan kawin lari, silsilah keluarga adalah misteri bagi Niva. Ayah dan ibunya telah memutus jembatan menuju masa lalu demi sebuah cinta yang kini keduanya bawa sampai ke liang lahat. Niva adalah satu-satunya saksi yang tersisa, berdiri sebatang kara di atas reruntuhan kasih sayang mereka.
Langkah kaki Niva terasa berat saat ia kembali ke kontrakan mungilnya. Namun, duka belum sempat ia tuntaskan ketika suara nyaring Bu Lastri, pemilik kontrakan, menyambutnya di depan pintu. "Niva, Ibu turut berduka, ya. Tapi ini... kontrakannya sudah jatuh tempo besok. Kalau nggak bisa lanjut, Ibu harus kasih ke orang lain."
Niva hanya mampu mengangguk lemah, menjanjikan pembayaran yang ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya, lalu segera masuk dan mengunci pintu.
Di dalam kamar yang temaram, Niva merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis. Aroma minyak kayu putih dan bedak bayi—wangi khas ibunya—masih tertinggal di bantal, hangat dan menyesakkan. Selama ini, gaji kasir minimarketnya hanya cukup untuk makan. Almarhumah ibunya lah yang menambal sisa hidup mereka dengan berjualan kue kecil-kecilan.
Kini, tangan yang mahir mengadon tepung itu sudah terkubur. Niva menatap langit-langit kamar yang mulai retak, menyadari satu kenyataan pahit: ia tak punya pilihan selain belajar berdiri di atas kakinya sendiri, atau ia akan ikut runtuh oleh kerasnya dunia yang tidak pernah ramah pada orang sepertinya.
-oOo-
Di tempat lain, di sebuah rumah megah dalam perumahan elite. Ruang kerjanya terasa panas, bukan karena kurangnya ventilasi, melainkan karena ego dua pria yang sedang beradu. Ezkar berdiri dengan tangan mengepal di sisi tubuh, menatap nyalang sang kakek yang duduk di balik meja jati besarnya. Tatapan pria tua itu tetap tajam, sedingin es, dan tak tergoyahkan oleh usia.
Edward Sutejo Harlan, nama pria tua dengan gaya berkelas itu.
"Kakek bukan Tuhan, jangan selalu merasa benar!" desis Ezkar, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Gara-gara keegoisan Kakek juga, Kakek menghalangi jodoh Tante Andini, kan? Sampai dia diusir kayak kriminal cuma karena mau menikah dengan pria pilihannya?"
"Apa yang kamu tahu?" bentak Kakek sambil menggebrak meja, membuat hiasan kristal di atasnya berdenting. "Aku bisa menilai orang! Pria itu tak akan mampu bahagiakan Andini. Mereka tidak punya punya masa depan. Lihat aja, pasti di luar sana mereka hidup kesusahan. Siapa suruh menentang orang tua!"
Ezkar menyeringai sinis, matanya melirik sekilas ke arah pintu, mengingat istri baru kakeknya yang hobi menghamburkan uang di butik-butik mewah. "Terus Kakek pikir, istri baru Kakek yang boros itu pilihan sempurna?" Ezkar menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan standar ganda pria di depannya.
"Gimana kalau kita taruhan?" tantang Ezkar tiba-tiba. Ia maju satu langkah, memangkas jarak. "Kalau ternyata rumah tangga Tante bahagia dan punya anak membanggakan, berarti penilaian Kakek salah. Dan kalau itu kenyataannya, Kakek harus melepaskan aku. Biarkan aku bebas tanpa harus mengurus perusahaan keluarga. Radio bakal lebih kompeten gantikan aku, aku udah yakinkan itu berkali-kali."
Pria tua itu terdiam sejenak, menimbang harga dirinya. "Baik, kalau itu maumu," sahutnya dingin. "Tapi kalau terbukti mereka hidup merana dan gagal, kamu bukan cuma harus meneruskan perusahaan. Kamu juga harus menurut menikah dengan perempuan pilihanku!"
Ezkar menarik napas panjang, mempertaruhkan seluruh masa depannya pada satu spekulasi. "Oke, deal! Jangan ingkar janji!" Ia berbalik dan melangkah pergi, bertekad menemukan jejak Tante Andini. Demi membuktikan bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan kehancuran seperti yang kakeknya bayangkan.
-oOo-
Pintu kamar tertutup dengan dentuman pelan yang meredam kemewahan di luar. Ezkar menghempaskan tubuhnya ke kasur apartemennya, membiarkan kegelapan kamar menelan amarahnya yang perlahan mendingin menjadi rindu yang menyesakkan.
Tangannya bergerak membuka dompetnya, menatap selembar foto usang yang warnanya mulai menguning. Di sana, seorang wanita dengan senyum paling tulus yang pernah Ezkar kenal tengah memeluknya erat. Tante Andini.
Bagi Ezkar yang kehilangan ibu di usia sangat belia, Andini bukan sekadar bibi. Dialah sosok yang mengajarkannya mengancingkan baju hingga menenangkan tangisnya saat bermimpi buruk. Ayahnya terlalu sibuk untuk bisa mendampingi tumbuh kembangnya.
Ingatan Ezkar melayang ke sore hari di taman belakang, dua puluh tahun yang lalu. Saat jemari kecilnya memainkan kalung perak yang melingkar di leher Andini. Bandulnya unik, berbentuk planet dengan cincin yang melingkar cantik.
"Kenapa kalung Tante bentuknya begini, sih?" tanya Ezkar kecil, matanya berbinar menatap kilau perak itu.
Andini tertawa kecil, mengelus rambut Ezkar lembut. "Itu planet Saturnus. Dia hebat loh! Dia punya gravitasi yang kuat buat menarik batu-batu luar angkasa. Saturnus itu selalu membantu Bumi, melindungi dari serangan asteroid yang berbahaya. Dia pelindung diam-diam."
Andini kemudian membalikkan bandul itu, memperlihatkan grafir nama di baliknya. "Sama seperti Tante, Ez. Tante akan selalu lindungi kamu, sejauh apa pun Tante pergi nanti."
Janji itu terasa pahit sekarang. Di usia enam tahun, Ezkar harus menyaksikan malaikat pelindungnya diusir dari rumah megah oleh bapaknya sendiri hanya karena memilih cinta.
Sejak hari itu, kabar Andini hilang ditelan bumi, menyisakan Ezkar dalam asuhan Kakek yang keras dan haus kendali, beserta ayah yang terlalu sibuk mengejar validasi daripada memberinya perhatian.
Ezkar mengepalkan tangan, menatap bayangan dirinya di kaca jendela yang memantulkan rintik hujan. Ia tidak tahu apakah Andini masih menyimpan kalung itu, atau apakah hidup telah merenggut senyumnya. Namun, satu hal yang pasti: ia akan menemukan "Saturnus"-nya kembali. Ia akan membuktikan pada dunia—dan pada Kakek yang angkuh—bahwa pengorbanan Andini tidak berakhir sia-sia.
-oOo-
Ezkar sedang sibuk mengoceh di telepon saat langkahnya terhenti di depan meja kasir sebuah minimarket. "Iya, bawel! Bentar lagi gue ke rumah lo!"
Namun, saat ia hendak menyodorkan kartu debitnya, fokus Ezkar teralihkan sepenuhnya.
Matanya membelalak menatap sebuah kalung perak yang melingkar di leher gadis penjaga kasir itu. Sebuah bandul planet bercincin yang sangat familiar.
"Itu kalung kamu?" Ezkar menunjuk tanpa permisi.
Gadis dengan name tag bertuliskan 'Raniva' itu mengerutkan kening. "Iya, peninggalan ibu. Kenapa, ya?"
Ezkar terdiam sejenak, otaknya bekerja cepat. "Ibu kamu namanya Andini Razkia?"
Niva terkesiap, nyaris menjatuhkan kantong belanjaan. "Kok tahu?"
"Gue Ezkar, sepupu lo," jawabnya santai seolah baru saja mengumumkan ramalan cuaca.
Niva mengerjap, otaknya mencoba memproses informasi itu di tengah bunyi "bip" mesin kasir yang masih menyala.
"Tante Andini pernah ngasuh gue waktu kecil. Kalung itu buktinya. Di baliknya ada grafir namanya, kan?"
Tebakan Ezkar tepat sasaran, membuat Niva membeku di tempat.
Ezkar mengeluarkan dompetnya, menunjukkan selembar foto lama. Foto ibunya sewaktu muda bersama seorang bocah laki-laki berusia lima tahun. "Itu gue sama nyokap lo," jelas Ezkar tanpa diminta. Kini Niva tak bisa lagi menampik.
"Tolong tunjukkin rumah lo. Gue mau lihat dimana Tante tinggal," pinta pria itu mendadak.
Tidak butuh waktu lama untuk Niva membawa Ezkar ke kontrakan sederhananya. Begitu menginjakkan kaki di sana, mental Ezkar langsung mencelos.
Wah, kalau keadaannya begini sih, fix gue kalah taruhan! batinnya pesimis melihat bangunan yang hanya sebesar garasi di rumahnya.
"Niva, lo kuliah?" tanyanya, sedikit berharap.
Niva menggeleng lesu. "Mau, sih. Tapi belum ada uang."
"Ortu lo mana? Tante Andini mana?" tagih Ezkar antusias, tidak sabar ingin bertemu malaikat masa kecilnya.
Niva menelan ludah, suaranya terdengar pahit saat menjawab, "Ayahku udah meninggal sejak aku SMP. Ibu... baru meninggal dua minggu lalu."
Jawaban itu seperti hantaman palu godam bagi Ezkar.
Ia terdiam cukup lama. Saturnusnya telah tiada. Kemudian teringat realita.
"Jadi lo tinggal sama siapa?"
"Sendiri."
Keprihatinan menyesaki d**a Ezkar, gadis di depannya telah menjadi sebatang kara.
"Udah, lo kemas barang lo sekarang. Lo pindah ke apartemen gue. Gue tanggung biaya hidup lo," perintah Ezkar tanpa kompromi.
"Hah? Aku nggak mau numpang hidup!" tolak Niva cepat, memegang teguh idealisme orang tuanya.
Hening merayap. Niva meremas ujung kausnya sendiri. Pembayaran kontrakannya jatuh tempo besok. Dompetnya hanya berisi beberapa lembar ribuan yang bahkan tak cukup untuk membayar setengahnya. Kalau ia gagal, kontrakan ini akan berpindah tangan. Ia tak punya saudara untuk dituju, atapun teman dekat untuk ditumpangi. Untuk pertama kalinya sejak ibunya dimakamkan, ketakutan itu benar-benar terasa nyata: ia bisa kehilangan satu-satunya naungan yang tersisa.
Ezkar menyeringai tengil, kembali ke mode angkuh andalannya. "Kata siapa numpang? Gue butuh lo buat perjuangkan hak Tante Andini, supaya lo bisa masuk ke keluarga besar gue dengan kepala tegak."
Niva mengangkat wajahnya cepat, tertegun.
"Tapi nggak dengan lo yang begini, bakal malu-maluin. Gue bakal bantu tatar lo supaya lo bersinar, membanggakan, jadi mereka nyesel karena pernah buang nyokap lo."
Niva mengangguk setuju. "Gimana caranya?"
"Udah, pindah aja dulu!" pungkas Ezkar sambil memberikan kerlingan penuh rencana.
Niva tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhirnya bisa bernapas tenang sebagai kasir minimarket.
Hidupnya memang akan segera menjadi jauh lebih ringan secara finansial karena bantuan Ezkar, namun di sisi lain, "pelatihan maut" dari sepupu tengilnya itu sudah menanti di depan mata.