Ezkar menghentikan motor honda super cub C125 miliknya di pelataran apartemen mewah. Niva hanya bisa mengekor di belakang punggung lebar Ezkar saat pria itu melangkah masuk dengan langkah santai.
"Ini tempat lo selama kita menjalankan misi," Ezkar membuka pintu apartemennya.
Ruangan itu luas, dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang menampilkan kerlap-kerlip lampu Jakarta. Interiornya didominasi warna abu-abu gelap, marmer hitam, dan aksen kayu yang mahal.
Niva melongo, tak menyangka Ezkar tinggal di tempat semegah ini.
"Ada dua kamar. Itu kamar lo," Ezkar menunjuk pintu di sayap kiri. "Gue di kamar utama di sayap kanan. Jangan pernah masuk tanpa izin gue."
Niva mengangguk, merasa seperti penyusup di istana modern.
Ezkar meminta ponsel Niva, gadis itu cepat memberinya. "Lo umur berapa?" tanya pria itu sambil mengetik sesuatu di layar.
"Dua puluh tahun," jawab gadis itu.
"Gue dua puluh tujuh tahun. Berarti, lo harus panggil gue 'Abang'," pesannya sambil mengembalikan ponsel ke Niva. "Gue udah save nomor gue di HP lo. Supaya lo gampang hubungi gue."
Niva mendapati kontak baru di ponselnya, dinamai "Paduka Ezkar". Alisnya berkerut bingung.
Fix, gila hormat, pikirnya.
"Thank you, your highness," sindir gadis itu.
"Sound good!" Ezkar senyam-senyum. "Sekarang lo istirahat. Mandi deh, lo mulai bau terasi. Nanti gue kasih parfum mahal buat nutupin bau kumuh lo."
Niva segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Namun, kemewahan kamar mandinya justru membuatnya gagap. Di dalam shower box yang transparan, ada deretan kenop sensorik yang lebih mirip kokpit pesawat daripada alat mandi.
Niva memutar salah satu tombol, namun air yang keluar justru menyemprot dari keran di bawah, membuatnya terlonjak kaget. Ia memutar yang lain, tapi airnya dingin seperti es.
"Astaga, pakai ini gimana sih?" gumamnya frustrasi.
Tiba-tiba pintu kamar mandi—yang lupa Niva kunci karena saking bingungnya—terbuka. Ezkar muncul dengan kaus putih polos, tampak lelah tapi tetap tampan.
"Sini gue ajarin," Ezkar berhenti di dalam shower box. Menjelaskan singkat fungsi masing-masing.
Niva iseng mencoba, tangannya malah menyalakan body spray di dinding.
SHRUUUT!
"WOOII!!"
Air hangat menyembur dari segala arah. Ezkar yang berniat membantu justru ikut terjebak di bawah guyuran air. Dalam sekejap, kaus putih tipis yang dipakai Ezkar basah kuyup, menempel seperti kulit kedua di tubuhnya.
Niva membeku. Melalui kain yang transparan karena air, ia bisa melihat pahatan otot perut Ezkar yang sempurna. Garis-garis six-pack yang tegas dan d**a bidang yang naik-turun karena napas tertahan. Ezkar pasti rajin melatih ototnya.
Niva menelan ludah, baru sadar kalau ia pun tak kalah basahnya. Kaus yang ia kenakan berubah transparan, menonjolkan siluet bra dan bentuk dadanya yang penuh karena napas yang memburu.
Mata Ezkar menggelap. Tatapannya yang tajam sempat terpaku pada bagian d**a Niva selama beberapa detik sebelum ia membuang muka dengan cepat. Rahang pria itu mengeras, dan telinganya memerah.
"Ah elah, jadi basah kan!" desisnya, suaranya terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya. "Makanya jangan udik!"
Niva tercekat. Tajam amat omongannya. Bikin ilfeel aja, pikirnya.
Pria itu berbalik dengan gerakan kaku, keluar dengan langkah cepat yang justru tampak seperti pelarian. Niva bisa mendengar pintu kamar utama Ezkar tertutup dengan debuman keras di seberang lorong.
-oOo-
Setelah drama kamar mandi yang hampir membuat jantungnya copot, Niva kira malam ini akan ditutup dengan suasana yang sedikit lebih... berkelas. Ia ingat ruang makan yang mewah dan elegan di sana, tak sabar ingin makan di atasnya dengan gaya bangsawan. Begitu Niva keluar kamar dengan terusan kasual, aroma rempah menusuk hidungnya.
Di meja makan marmer hitam yang tadinya terlihat estetik dan mahal itu kini tertutup bungkusan kertas cokelat. Ezkar sudah duduk di sana, tapi pemandangan itu benar-benar menghancurkan ekspektasi Niva tentang "Makan Malam Berkelas".
Pria itu sibuk menuangkan gulai tunjang dan rendang ke atas piring dan mangkok porselen mahal. Tidak ada lilin ataupun musik pengiring. Yang ada hanya aroma sambal ijo yang menyengat.
"Duduk," perintah Ezkar tanpa menoleh.
Niva menarik kursi dengan ragu. "Kita... makan nasi Padang?"
"Kenapa? Lo mau foie gras? Nanti, kalau lo udah bisa bedain mana garpu salad mana garpu daging," Ezkar menyeringai tengil.
Ia kemudian melakukan hal yang membuat mata Niva hampir keluar: Ezkar mengangkat satu kakinya ke atas kursi, menekuknya dengan santai seperti abang-abang di pangkalan ojek, lalu mulai mencuci tangannya di kobokan kristal.
"Dengar, Niva. Ini pelajaran pertama: Focus under pressure," Ezkar mulai menyendok nasi dengan tangan kosong, melahap rendangnya dengan sangat rakus hingga bumbu kuningnya tertinggal di sudut bibir.
"Lo harus makan pakai sendok dan garpu itu. Gue mau lo tunjukin table manner kelas atas. Punggung tegak, jangan bunyi pas ngunyah, dan tangan jangan sampai nyentuh meja."
Niva melongo. "Tapi Abang makannya gitu!"
"I'm the ruler, jadi bebas. Lo itu 'proyek' gue, harus mau dilatih. Kita namakan misi ini Proyek Saturnus," Ezkar memutuskan sepihak.
"Abang... penggaris?" heran Niva.
Ezkar terdiam, sebelah kelopak matanya berkedut. "Nevermind. Sekarang, coba makan. Yang slay, Niva. Slay," pintanya sambil mengunyah kerupuk kulit dengan suara kriuk yang sangat tidak berkelas.
Niva mendengus, merasa ilfeel maksimal. Di depannya duduk pria tampan berperut six-pack yang tadi hampir membuatnya pingsan, tapi sekarang ia malah terlihat seperti predator nasi Padang yang kelaparan.
Niva berusaha mengikuti instruksi, mencoba memotong ayam pop-nya dengan sendok-garpu seanggun mungkin, meski punggungnya pegal karena dipaksa tegak.
"Besok jam tujuh pagi lo harus sudah siap," ucap Ezkar tiba-tiba, suaranya kembali serius meski tangannya masih sibuk mengubek-ubek nasi berkuah gulai. "Gue udah daftar lo ke tiga kursus sekaligus. Etiket, Bahasa Inggris, dan melukis. Lo nggak punya waktu buat malas-malasan."
Niva menghentikan kunyahannya. "Tiga kursus langsung?!"
"Jangan protes. Gue udah keluar duit banyak. Satu-satunya balasan yang gue harap cuma satu: lo bisa berdiri di kaki sendiri, dan bisa gue banggakan. Gue mau pas Kakek lihat lo nanti, dia merasa kayak lihat berlian yang salah buang, bukan kerikil depan minimarket," Ezkar menatap Niva tajam, ada kilat ambisi di matanya.
"Tunjukin usaha maksimal lo. Kalau lo gagal, kita berdua hancur. Paham?"
Niva menelan ludah, baru sadar kalau "pelindungan" Ezkar ini tidaklah gratis. Ia harus bertransformasi dari upik abu menjadi putri dalam waktu singkat di bawah asuhan diktator nasi Padang ini.
"Paham, Bang," jawab Niva lirih.
"Bagus. Sekarang lanjutin makannya. Tadi garpu lo bunyi pas kena piring. Kurang slay. Ulangi!"
Niva menggeram dalam hati. Tuhan, tolong kuatkan hamba menghadapi sepupu gadungan ini.
-oOo-
Setelah urusan perut selesai, Ezkar bangkit dari kursi dengan gerakan santai, meninggalkan tumpukan piring berlumur kuah gulai yang sudah mengering. Ia hanya memberikan isyarat dagu ke arah wastafel marmer yang berkilau.
"Tugas lo. Anggap aja bayaran karena udah gue kasih porsi rendang dua biji," ujar Ezkar tanpa dosa.
Niva menghela napas panjang. Mengingat statusnya yang menumpang, ia hanya bisa menurut. Namun, saat jemarinya sibuk dengan busa sabun di sink mewah itu, pendengarannya menangkap perubahan drastis pada nada suara Ezkar.
Pria itu sedang menerima telepon di sofa. Suara baritonnya yang tadinya tajam dan penuh perintah, mendadak melembut, berubah jadi serak-serak basah yang—harus Niva akui—cukup seksi. Panggilan "Sayang" mengalir begitu lancar dari bibir tengilnya.
Laku juga makhluk satu ini, batin Niva sambil membilas piring. Ia mencuri pandang ke arah sofa. Ezkar memang tampan, mapan, dan punya aura kepemimpinan yang kuat, meski ucapannya sering bikin ilfeel.
"Iya, Farina... Aku udah ketemu sama dia. Anaknya polos banget, bener-bener kayak kertas kosong," suara Ezkar terdengar bersemangat saat menceritakan "penemuannya".
"Aku bakal upgrade dia habis-habisan biar berkelas. Nanti bantu aku, ya? Temenin dia belanja outfit. Aku nggak mau dia kelihatan kampungan di depan Kakek."
Niva tertegun. Ternyata pacar Ezkar, Farina, merespons dengan hangat. Tak lama, Ezkar berjalan mendekat ke arah dapur sambil mengarahkan ponselnya.
"Nih, orangnya lagi nyuci piring. Niva, kenalan dulu sama cewek gue," seru Ezkar sambil melakukan video call.
Niva yang masih memakai celemek karet dan memegang spons segera menoleh dengan kikuk. Di layar ponsel, tampak wajah seorang wanita yang sangat cantik, elegan, namun terlihat ramah.
"Hai, Niva! Aku Farina. Ezkar udah cerita banyak tentang kamu. Nanti kita harus belanja bareng, ya! Kita seru-seruan!" sapa Farina dengan senyum lebar.
Niva balas tersenyum lega. "Hai, Kak Farina. Salam kenal," jawabnya tulus.
Ia merasa tenang karena pacar Ezkar ternyata sangat terbuka dan tidak menunjukkan gelagat cemburu sama sekali. "Nanti kita ketemu ya!"
Niva kembali melanjutkan cuciannya dengan perasaan sedikit lebih ringan. Ia merasa beruntung mendapatkan "kakak" baru yang baik, tidak seperti sepupunya yang arogan dan sok ngatur ini. Namun, di tengah gemericik air wastafel, Niva tidak menyadari satu hal.
Di balik punggungnya, Ezkar masih menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan.
Gue harus berhasil menangkan taruhan ini. Demi kebebasan gue, dan si Radio juga, pikirnya.
Niva merasa ia telah melangkah masuk ke dalam sebuah proyek penyelamatan yang menguntungkan. Namun, ia tidak tahu bahwa dalam permainan kasta dan ego keluarga besar ini, ia mungkin bukan sekadar pemain, melainkan bidak yang sedang ditaruhkan di atas meja pertaruhan yang jauh lebih berbahaya dari dugaannya.