Bab 3. Neraka Berbalut Pelatihan

1488 Words
Pukul enam pagi, dan dunia Niva rasanya baru saja runtuh untuk kedua kalinya. Bukan karena duka, melainkan karena suara alarm yang meraung dari ponselnya—yang ternyata sudah disetel dari jauh oleh sang "Paduka Ezkar". Niva menyeret langkahnya ke ruang tengah dengan rambut singa dan nyawa yang masih tertinggal di bantal, hanya untuk menemukan Ezkar sudah rapi, sedang menyesap kopi hitam beraroma mahal. ​"Lima menit telat," cetus Ezkar tanpa menoleh dari tabletnya. "Pakaian lo udah gue siapin di meja. Jangan bikin malu gue di depan Madam Rosa." ​Niva menatap sepotong dress selutut krem yang tampak sangat membatasi ruang gerak. "Madam siapa? Abang beneran mau nyiksa aku pagi-pagi gini?" ​"Namanya Madam Rosa. Dia guru etiket sosial paling ditakuti se-Jakarta Selatan. Kalau dia bilang duduk, lo duduk. Kalau dia bilang napas, baru lo napas. Paham?" ​Niva hanya bisa mendengus. Ia tidak tahu bahwa "duduk" ternyata bisa menjadi kegiatan paling menyiksa sepanjang sejarah hidupnya. -oOo- Sesi 1: Kursus etiket sosial Pukul delapan pagi, Niva sudah duduk tegak di sebuah kursi kayu berukir di ruang tamu apartemen. Di depannya, berdiri seorang wanita paruh baya dengan sanggul yang saking kencangnya sampai membuat sudut matanya tertarik ke atas. Itu adalah Madam Rosa. ​"Punggung tegak, Raniva! Jangan melengkung seperti udang rebus!" bentak Madam Rosa sambil memukul pelan pundak Niva dengan penggaris panjang. ​Niva meringis. "Ini udah tegak, Madam. Tulang belakang saya bukan tiang bendera." ​"Diam! Sekarang pegang cangkir teh ini. Hanya gunakan ibu jari dan telunjuk, kelingking jangan sampai menegang ke atas seperti antena radio. Itu sangat kampungan!" ​Niva mencoba mengangkat cangkir porselen yang harganya mungkin setara dengan gajinya di minimarket selama tiga bulan. Namun, karena tangannya gemetar menahan kantuk dan lapar, suara denting keras terdengar saat cangkir itu kembali ke piringnya. ​Madam Rosa memejamkan mata, seolah baru saja melihat penistaan agama. "Ulangi. Seruput tanpa suara. Kalau saya dengar bunyi slruurp, kamu saya suruh berdiri di sudut ruangan selama satu jam!" ​Niva tersiksa luar dalam. Di sudut ruangan, Ezkar sedang asyik memantau sambil menahan tawa, sesekali memotret wajah frustrasi Niva yang sudah memerah menahan pegal. Bagi Niva, etiket sosial ini bukan pelajaran sopan santun, tapi metode penyiksaan halus agar ia berubah jadi manekin pajangan mal. -oOo- Sesi 2: Bahasa Inggris (The Titanic Dream) Setelah Madam Rosa pergi dengan sisa-sisa kemarahan, Niva hanya punya waktu sepuluh menit untuk bernapas sebelum pintu apartemen kembali diketuk. Niva sudah siap untuk membenci siapa pun yang datang. Namun, begitu pintu terbuka, amarahnya menguap. ​Seorang pria bule berdiri di sana. Rambutnya pirang kecokelatan, disisir sedikit berantakan. Matanya biru jernih, dan senyumnya... menggetarkan. ​"Niva, ini Mister Julian. Dia yang bakal ngajar lo Bahasa Inggris," Ezkar memperkenalkan pria itu. ​Niva mematung. Pria ini bukan guru. Pria ini adalah reinkarnasi Leonardo DiCaprio dari film Titanic waktu masih muda dan belum tenggelam. ​"Hello, Niva. Nice to meet you," sapa Julian dengan suara bariton yang lembut. ​"Hello... Jack," jawab Niva tanpa sadar. ​Ezkar langsung menyikut lengan Niva. "Jack siapa? Julian!" ​"Eh, maksud saya... Hello, Mister Julian. I am fine, thank you. And you?" Niva menjawab dengan kalimat otomatis dari buku paket SMP-nya. ​Selama dua jam, Niva yang tadinya mengantuk mendadak jadi murid paling teladan. Ia menatap bibir Julian setiap kali pria itu mengucapkan kosakata baru. Namun, masalahnya tetap satu: Niva terlalu sibuk mengagumi wajah gurunya sampai otaknya gagal memproses tata bahasa. ​"Niva, try to use 'negotiation' in a sentence," pinta Julian ramah. ​Niva berpikir keras sambil menatap mata biru itu. "I want a negotiation with God... why are you so handsome?" ​Julian tertawa kecil, sementara di belakang sana, Ezkar hampir tersedak kopinya. "Woi! Belajar yang bener, jangan malah modus!" protes Ezkar. Niva hanya menjulurkan lidah, setidaknya kursus kali ini tidak terasa seperti neraka. -oOo- Sesi 3: Karya agung ketumpahan kecap Sore harinya, energi Niva sudah berada di titik nol. Kursus terakhir adalah melukis. Ezkar mendatangkan seorang pelukis nyentrik dengan baret miring untuk mengajari Niva "estetika". ​"Melukis adalah tentang menuangkan jiwa," kata sang guru sambil meletakkan sebuah apel merah dan sebuah vas bunga di atas meja. "Silakan lukis objek ini dengan jujur." ​Niva menatap kanvas putih di depannya. Kepalanya pening. Bayangan Madam Rosa yang galak dan wajah Julian yang tampan bercampur aduk jadi satu. Ia mulai mencampur warna. Ia bermaksud mengambil warna merah untuk apel, tapi kuasnya malah menyambar warna cokelat tua dan hitam. ​Lalu, kecelakaan terjadi. Karena terlalu semangat mengaduk cat, Niva tersandung kaki meja. Tangannya yang memegang palet menghantam kanvas dengan keras. Plok! Cat cokelat gelap itu tumpah membentuk bercak besar yang sangat tidak beraturan di tengah kanvas, menutupi sketsa apel yang baru setengah jadi. ​Niva terdiam. Sang guru melukis mengernyit. Ezkar yang baru selesai menelepon langsung menghampiri untuk melihat hasil karya masterpiece-nya. ​"Apaan nih?" Ezkar menatap kanvas Niva dengan dahi berkerut. "Lo melukis objek apa? Ini mah lebih mirip kecap tumpah di taplak meja." ​Niva menelan ludah, otaknya berputar cepat mencari alasan yang masuk akal. Ia segera memasang wajah serius, seolah-olah baru menciptakan mahakarya yang tidak bisa dipahami orang awam. ​"Abang nggak ngerti seni ya?" Niva balik bertanya dengan nada angkuh yang ia contek dari Madam Rosa. "Ini namanya teknik Dark Melancholy of Hunger. Ini bukan kecap, Bang. Ini adalah representasi kegelapan batin rakyat jelata yang terobsesi pada sate Madura di tengah gempuran dunia yang dingin." ​Guru melukisnya ternganga. Ezkar terdiam sejenak, menatap "lukisan" itu, lalu menatap Niva. ​"Hah? Kegelapan batin sate Madura?" Ezkar tak tahan lagi. Tawa yang ia tahan sejak tadi akhirnya meledak. Ia terbahak-bahak sampai harus memegang perutnya dan bersandar pada dinding. "Bakat lo bukan melukis, Niva. Bakat lo itu ngeles! Estetik dari mana? Ini mah murni musibah!" ​"Ini estetik, Bang! Lihat nih, gradasinya... terlihat sangat... berantakan yang terencana!" Niva tetap ngeyel sambil menunjuk bercak cat hitam yang mulai menetes ke lantai. ​"Udah, udah!" Ezkar mencoba meredakan tawanya sambil mengusap air mata di sudut matanya. "Besok-besok kalau lo gagal debut di keluarga besar, lo daftar jadi pengacara aja. Pinter bener lo memutarbalikkan fakta." ​Niva cemberut, tapi diam-diam ia merasa lega melihat Ezkar tertawa lepas seperti itu. Setidaknya, hari pertamanya di "neraka" berakhir dengan tawa, meski punggungnya pegal, lidahnya kelu karena Bahasa Inggris, dan tangannya tadi penuh noda cat yang diklaim sebagai "seni tingkat tinggi". -oOo- Sesi 4: Memahami Bahasa Komputer Niva menatap layar laptop curiga, lalu melirik Ezkar. “Lo kayaknya salah ekspektasi ke gue deh. Sehari-hari gue cuma berkutat sama sistem kasir minimarket, bukan sistem beginian, Bang.” Di depannya, sang tutor berdiri rapi dalam “seragam kebangsaan anak IT”: kemeja kotak-kotak, kacamata kotak, rambut klimis belah samping. Tinggi, wangi, dan raut wajah terlalu serius. “Coba aja dulu,” katanya tenang. Lima menit pertama, Niva masih mengangguk. Sepuluh menit, alisnya mulai bertaut. Lima belas menit, ia menatap kode di layar seperti menatap mantra pemanggil arwah. “Ini kenapa perlu titik koma di sini?” bisiknya. “Kalau nggak ada, programnya error.” Niva terdiam, lalu bersandar pelan. “Hidup gue juga error, tapi nggak sembuh ditambahin titik koma…” Di sudut ruangan, Ezkar menutup mulutnya, bahunya bergetar. Dua puluh menit kemudian, Niva menoleh dengan mata berkabut. “Bang… gue nyerah. Otak gue udah ngebul.” Tutor itu menatap layar, lalu Niva, lalu Ezkar. Hening sejenak. Ezkar akhirnya menghela napas, mengangkat tangan. “Okay. Kita… skip yang ini.” Niva langsung menutup laptop dengan penuh syukur, seolah baru lolos dari ujian hidup dan mati. -oOo- Malam itu, sebelum tidur, Niva melihat Ezkar diam-diam memotret lukisan "kecap" itu. ​"Buat apaan dipotret, Bang?" tanya Niva. ​"Buat kenang-kenangan," sahut Ezkar sambil menyeringai tengil. "Gue mau tunjukin ke Farina, biar dia tahu kalau sepupu gue ini sebenarnya adalah seniman gagal yang punya kepercayaan diri selangit." ​Niva melempar bantal ke Ezkar, yang ditangkap pria itu sigap sambil tertawa lagi. Niva masuk ke kamarnya dengan gurat senyum. Hidupnya mungkin akan sangat berat ke depannya, tapi entah kenapa, ia mulai merasa apartemen ini sedikit terasa seperti... rumah. Malam ditutup dengan dering ponsel Ezkar. Farina di seberang sana memberi usul dengan suara semanis madu. "Besok kan weekend, Ez. Biar besok aku bawa Niva belanja. Kita treatment dari ujung rambut sampai kaki supaya dia glowing maksimal." ​Ezkar mengangguk setuju, namun keningnya berkerut saat Farina menambahkan satu saran lagi. "Tapi Ez, sebaiknya kamu jangan pamer kekayaan di depannya. Bilang aja apartemen ini punya teman kamu, atau kamu cuma 'pegawai kantoran' biasa. Aku takut kalau dia tahu kekayaan kamu, dia malah terbebani menghadapi keluarga besar kalian dan mundur." ​Ezkar terdiam, lalu mengiyakan. Baginya, itu masuk akal demi menjaga mental Niva. Padahal, di balik senyum tipisnya di layar ponsel, Farina punya maksud lain: ia hanya tak ingin Niva mulai nyaman berlama-lama di sisi Ezkar, memanfaatkan uangnya. ​Di dapur, Niva sibuk mencuci piring. Tak menyadari bahwa jembatan menuju dunia barunya sedang dibangun dengan pondasi setengah rahasia, dan mungkin, setengah jebakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD