Bab 4. Meleleh

1311 Words
Pagi itu, mal kelas atas di Jakarta Pusat masih tergolong sepi saat Ezkar melangkah masuk dengan kacamata hitam yang bertengger angkuh di hidungnya. Di sampingnya, Farina tampil memesona dengan gaun linen pendek, sementara Niva mengekor di belakang seperti anak ayam yang tersesat di istana kaca. Kenapa ini laki pakai ikutan sih? Kirain bakal cewek-cewek doang, gerutu Niva dalam hatinya, merasa menjadi kambing congek di antara pasangan itu. ​"Ez, tas yang itu lucu banget nggak, sih?" Farina menunjuk sebuah tas tangan kulit domba di etalase butik Prancis yang harganya setara motor sport. ​Tanpa banyak bicara, Ezkar menarik kartu kredit hitamnya dari dompet kulit. "Ambil. Sekalian pilih sepatu yang cocok. Pakai kartu aku aja, jangan pakai kartu kamu." ​Niva yang berdiri di dekat rak syal hampir tersedak ludah sendiri. Ia menyaksikan bagaimana Ezkar, si pria gila hormat yang semalam menertawakan lukisan sate Maduranya, kini berubah menjadi pelayan paling sigap bagi Farina. Ezkar membawakan tas belanjaan, membantu Farina mencoba high heels, bahkan sesekali mengusap puncak kepala kekasihnya itu dengan tatapan yang—demi apa pun—sangat lembut. ​Gila, ternyata si Paduka ini kalau bucin totalitas tanpa batas, batin Niva. ​Ada rasa hangat sekaligus getir yang menyelinap di d**a Niva. Ia tersentuh melihat bagaimana Ezkar memanjakan Farina; meratukannya seolah dunia memang berputar di sekeliling perempuan itu. Namun, di saat yang sama, Niva tidak bisa menahan rasa iri yang menusuk tipis-tipis. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang menatapnya dengan binar kekaguman seperti itu. ​"Niva, kok bengong?" Farina menghampirinya sambil membawa dua potong gaun. "Ini buat kamu, Ezkar yang pilih. Katanya warna ini bakal bikin kulit kamu kelihatan eksotis." ​Niva menoleh pada Ezkar yang kini kembali memasang wajah dingin khasnya. Pria itu mengangkat bahu sekilas. "Pilihannya Farina itu. Gue cuma bayar," sahut Ezkar cuek, kembali ke mode gengsiannya. Padahal, Niva sempat melihat Ezkar yang tadi lebih dulu menunjuk gaun itu sebelum Farina sempat melihatnya. -oOo- Langkah Niva terasa berat saat ia keluar dari ruang ganti mengenakan halter-neck midi dress berwarna champagne yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Potongan sophisticated itu memberikan kesan elegan yang mahal, membuat Niva yang biasanya tampak "kumal" bertransformasi menjadi wanita kelas atas dalam sekejap. ​Ezkar, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, mendongak dan seketika membeku. Ia terperangah, matanya menyapu siluet Niva yang tampak sangat mengesankan, namun gengsinya jauh lebih besar dari kekagumannya. ​"Bagus juga... bajunya," gumam Ezkar sambil berdeham kaku, mengalihkan pandangan ke arah lain. ​Niva tersipu malu, meremas tali gaunnya. Hari itu berlanjut seperti mimpi buruk bagi dompet Ezkar. Pria itu memborong segala macam outfit untuk berbagai kesempatan, mulai dari blazer kerja, piyama, hingga gaun malam. "Baju-baju lama lo buang aja, jangan dipakai lagi. Gue nggak mau lo tinggal di apartemen elit tapi gayanya kayak gembel," perintah Ezkar mutlak. ​Namun, d******i sang Paduka runtuh saat mereka sampai di depan bagian woman's underwear. Melihat deretan renda dan sutra tipis, wajah Ezkar mendadak merah padam. Ia mundur teratur dengan kikuk. "Aku... aku tunggu di kafe depan aja, Beib. Kalian lanjutin sendiri," ujarnya cepat-cepat sambil melesat pergi. Akhirnya, Niva dan Farina bisa melanjutkan belanja dengan lebih leluasa, meski Niva masih merasa dadanya berdebar akibat tatapan tak sengaja Ezkar tadi. -oOo- Aroma esensial lavender dan uap hangat memenuhi ruangan salon eksklusif tempat Niva dan Farina kini bersandar di kursi treatment. Dengan handuk putih melilit kepala, Niva akhirnya memberanikan diri menyuarakan kegelisahannya. ​"Kak Farina, itu nggak apa-apa Bang Ezkar habisin duit sebanyak itu buat aku? Dia mapan banget, ya?" tanya Niva sungkan, teringat tumpukan tas belanjaan bermerek tadi. ​Farina memutar otak sejenak, menyesap teh melatinya dengan tenang. "Sebenarnya, Ezkar itu dapat dukungan dana untuk mencari kamu. Sepupunya yang kaya, bukan dia. Dia sih... cuma pegawai kantoran biasa, Niva," ucapnya, berusaha terdengar sesantai mungkin. ​"Terus... apartemen mewah itu?" Niva memastikan dengan dahi berkerut. ​"Itu juga punya sepupunya. Ezkar cuma bantu jaga, sekalian tempatin karena kosong," lanjut Farina konsisten dengan skenarionya. ​Niva mengangguk-angguk tanpa curiga sedikit pun. "Berarti aku punya sepupu lain yang udah mapan banget, ya?" ​Farina hanya mengangguk samar, lega karena fokus Niva mulai teralih dari sosok Ezkar. Setidaknya, Niva tidak akan menganggap Ezkar sebagai "tambang emas". ​"Terus, dia emang selalu manis gitu ke Kakak, ya? Itu bukan pencitraan di depan aku doang, kan?" Niva memastikan, sedikit didera rasa penasaran. ​Farina tertawa kecil. "Ya nggak, lah. Dia emang begitu terus sama aku. Selalu berusaha bahagiain aku." ​Mata Niva berbinar tulus, ada binar kekaguman yang terselip. "Aku ikut senang, Kak," bisiknya. Dalam hati, Niva menyelipkan doa kecil agar suatu saat nanti, ada pria yang akan meratukannya dengan totalitas yang sama besar—meski ia belum tahu dimana pria itu berada. -oOo- Ezkar menyandarkan punggung di kursi kafe, menyesap espresso-nya sambil menempelkan ponsel ke telinga. Di seberang sana, suara Radio terdengar lebih antusias dari biasanya. Adik sepupunya itu, meski hanya terpaut dua tahun, memang memiliki ambisi yang jauh lebih besar untuk menduduki takhta perusahaan raksasa keluarga mereka. ​"Jadi, berlian yang hilang itu udah di tangan lo?" tanya Radio memastikan. ​"Udah. Sekarang lagi dipoles di salon. Tenang aja, gue bakal pastiin dia layak dipresentasikan di depan Kakek," jawab Ezkar santai. "Rencana kita lancar. Kalau berhasil, lo ambil jabatan itu, gue ambil kebebasan gue. Gue lebih suka fokus rintis bisnis kecil gue sendiri daripada harus pusing urusin korporasi Kakek." ​Radio tertawa lega. "Bagus. Toh saham lo tetap mengalir, hidup lo masih makmur, dan gue bisa fokus bangun perusahaan ini. Win-win solution, Ez." ​Setelah menyudahi sambungan telepon, Ezkar menghela napas panjang, merasa bebannya sedikit terangkat. Namun, ketenangannya seketika buyar saat dua sosok wanita berjalan mendekat ke arah mejanya. ​Cring! ​Sendok perak yang dipegang Ezkar jatuh menghantam lantai marmer. Matanya membelalak, terpaku pada sosok gadis yang berdiri di samping Farina. Niva tidak lagi terlihat seperti gadis kasir minimarket yang kusam. Potongan rambut barunya—long bob dengan layer yang membingkai wajah—benar-benar mengubah auranya secara total. Wajahnya yang tirus kini terlihat segar, elegan, dan memancarkan pesona yang selama ini tersembunyi di balik poni berantakannya. ​"Gimana, Ez? Cocok, kan?" tanya Farina sambil tersenyum bangga. ​Ezkar sempat kehilangan kata-kata. Ia berdeham keras untuk menutupi rasa panglingnya yang berlebihan. "Ya... lumayan. Akhirnya muka lo nggak mirip curut lagi," ketusnya, meski detak jantungnya berkata lain. ​Niva hanya mencebik, namun dalam hati ia merasa percaya diri dengan penampilannya yang baru. Ia belum tahu bahwa di balik perubahan fisik itu, ia sedang menjadi bagian dari rencana besar Ezkar dan Radio untuk mengguncang struktur keluarga mereka. -oOo- Matahari baru saja terbenam saat Farina menggandeng Niva menuju coffee shop estetik di lantai dasar apartemen Ezkar. Sang "Paduka" memilih absen karena sudah overdosis kafein saat menunggu mereka berbelanja tadi. Niva langsung jatuh cinta pada suasananya; hangat, tenang, dengan aroma biji kopi panggang yang menenangkan. ​"Kopi di sini juara, harganya juga masuk akal. Kamu harus coba Salted Caramel Latte-nya," saran Farina. ​Sesaat kemudian, seorang barista datang mengantarkan pesanan mereka. Niva mendongak dan seketika dunianya melambat. Pria itu punya garis muka tegas, alis tebal yang tertata, dan postur tinggi tegap yang sanggup membuat lutut lemas. Saat pria itu tersenyum manis, Niva buru-buru melirik papan nama di dadanya. ​"Terima kasih, Mas Nio," ujar Niva dengan nada dan senyum yang dibuat semanis mungkin. Mode cari perhatian aktif seratus persen. ​Farina tertawa kecil melihat tingkah Niva. "Ciee, ada yang baru nemu penyegar mata nih. Bakal jadi pelanggan tetap kayaknya," goda Farina. ​Pipi Niva bersemu merah. Ia mencoba mencuri pandang lagi ke arah bar, namun tak disangka, Nio justru sedang menatapnya balik. Bukannya memalingkan wajah, Nio malah melempar senyum malu-malu yang sangat tulus. Niva merasa hatinya baru saja meleleh seperti es krim di bawah terik matahari. ​Niva tersenyum lebar, merasa sangat beruntung hari ini. Tak ada yang tahu ke mana takdir akan membawa mereka setelah tatapan pertama yang mendebarkan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD