Dapur sekolah kuliner itu masih terasa seperti ruang operasi: terang, rapi, dan penuh aroma bawang putih cincang. Di salah satu meja, Niva berdiri dengan alis mengernyit, tapi kali ini bukan karena panik. Di samping talenan, ada buku catatan kecil yang bagian sampulnya terkena minyak. Ia memotong bawang, lalu berhenti sebentar untuk menulis cepat. “Bawang harus dipotong seragam supaya matangnya barengan,” gumamnya sambil menulis. Di halaman yang sama sudah ada catatan lain: "Daging supaya empuk: digebug sebelum dimasak, dimarinasi dulu. Ikan agar nggak amis: oleskan jeruk nipis dan garam dulu. Santan agar nggak pecah: pakai api kecil, aduk terus." Di bawahnya ada kalimat tambahan yang dia tulis dengan huruf besar: "Api besar bukan berarti masakan cepat jadi. Yang ada malah gosong."

