Dapur sekolah kuliner itu berkilau seperti ruang operasi. Stainless steel mengilap, kompor berjajar rapi, dan bau mentega panas bercampur bawang yang baru dicincang memenuhi udara. Di depan kelas berdiri Chef Armand—posturnya tegap, tatapannya setajam pisau fillet di tangannya. Suaranya berat, tegas, tidak berteriak sembarangan, tapi cukup membuat jantung peserta berdetak lebih cepat. “Di sini kita nggak masak asal kenyang. Kita masak dengan disiplin,” ujarnya singkat. Kelas pertama langsung dimulai dengan knife skill. Niva menggenggam pisau seperti sedang memegang takdirnya sendiri. Bawang bombai di talennya berantakan, potongan besar kecil tak seragam. Chef Armand berhenti tepat di depannya. Mengangkat satu potong bawang dengan ujung pisau. “Ini mirepoix atau puzzle?” tanyanya datar.

