Bab 9. Seberapa Pantas

1498 Words

Pagi itu, udara di apartemen terasa terlalu tenang untuk ukuran dua perempuan yang sama-sama punya agenda tersembunyi; Farina datang dengan senyum sosialitanya yang rapi, sementara Niva masih memeluk bantal dengan rambut acak-acakan, belum sadar bahwa obrolan santai sambil minum teh itu sebenarnya adalah undangan menuju sebuah arena uji mental bernama arisan elite. Ajakan itu datang dengan senyum yang terlalu manis untuk sekadar basa-basi. “Sabtu ini aku ada arisan kecil di villa,” ujar Farina santai sambil menyeruput teh chamomile. “Teman-teman sosialita biasa. Kamu ikut ya, Niva. Biar kenal circle-ku.” Niva hampir menjatuhkan cangkir. “Aku?” Ezkar langsung menyahut sebelum Niva sempat menolak, “Bagus. Lo perlu networking. Biar makin dianggap setara.” Setara. Kata itu terdengar seper

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD