Gedung pertemuan itu tampak megah dengan pilar-pilar tinggi dan lampu kristal yang membiaskan cahaya keemasan. Saat kaki jenjang Niva yang dibalut high heels perak melangkah keluar dari Mercedes, suasana seolah mendadak hening. Farina, yang sudah menunggu di lobi dengan gaun merah menyala, sempat mematung. Senyum "tuan rumah"-nya goyah selama dua detik sebelum ia berhasil menguasai diri. Niva benar-benar menjelma menjadi sosok yang berbeda; ia tidak lagi tampak seperti gadis minimarket, melainkan seorang debutante dari keluarga terpandang yang baru kembali dari sekolah asrama di Swiss. "Wah, Ez... kamu benar-benar kasih keajaiban pada Niva," bisik Farina saat mereka berjalan masuk ke ruang perjamuan. Ezkar hanya mengangguk, namun matanya terus mencuri pandang ke arah Niva. Ia takju

