Suara dengung mesin pesawat memenuhi kabin yang remang. Di balik jendela kecil, hamparan awan fajar terbentang seperti lautan gelap yang diterangi segaris cahaya. Lampu sabuk pengaman masih menyala redup di atas kepala para penumpang yang sebagian sudah tertidur. Namun Arzenio Fernandi tidak bisa memejamkan mata sedetik pun. Ia duduk diam di kursinya, tubuh bersandar, tapi jemarinya sejak tadi saling menggenggam terlalu erat di atas pangkuan. Sebuah topi hitam menutupi sebagian wajahnya, seolah itu cukup untuk menyembunyikan rasa bersalah yang terus menghimpit dadanya sejak semalam. Ponselnya sudah tergantikan ponsel yang baru, nomor baru. Lagipula, kalaupun ponsel lama masih di tangannya, ia tak lagi berani menyalakannya. Karena ia tahu, begitu layar itu hidup, ia akan melihat nama

