“KENAPA yang angkat telpon gue Pak Sergio? Kenapa HP lo bisa ketinggalan di apartemennya Pak Sergio? Dan apa yang sudah terjadi antara lo sama Pak Sergio kemarin?” Rossa menyerentetkan pertanyaan bak sedang nge-Rap.
Baru juga sedetik berpapasan dengan Rossa di lobi kampus, dan Rossa sudah seheboh ini bertanya. “Sabar Ros, nanti aku jelasin di jam istirahat. Mendingan sekarang kita masuk kelas dulu karena lima menit lagi kelasnya Bu Isna dimulai,” saran Jeha, menenangkan sahabatnya yang sudah kepo maksimal.
Rossa mengambil napas dalam, tidak bisa membantah karena iapun tidak ingin terlambat masuk kelas. “Yaudah deh, yuk!” ajaknya lalu menggandeng tangan Jeha dan berjalan beriringan menuju kelas filsafat ilmu dan logika yang diajar oleh Bu Isna.
Beberapa jam kemudian saat waktu istirahat tiba, Jeha menepati janjinya. Dia menceritakan semua mulai saat Jeha menginjakkan kaki di apartemen Sergio, bertemu Santika dan hampir kepergok Felisa karena telepon dari Rossa sampai Jeha memutuskan pergi.
“What! Kok bisa sih lo kelupaan bawa HP, pasti lo sengaja kan ninggalin HP lo di sana supaya ada alasan buat ketemu Pak Ser?” tebak Rossa.
Jeha tidak berbohong, dia benar-benar lupa saat HP-nya masih ditangan Sergio, namun perkataan Rossa juga tidak salah—berkat kejadian itu sekarang Jeha punya alasan bertemu dengan Sergio.
“Oh ya, kemarin Mas Ser bilang bakal balikin HP-ku di kampus. Tapi sampai sekarang kok belum dibalikin?” Jeha memberenggut, sedangkan Rossa mendengus kesal karena ucapannya diabaikan.
“Yauda sana lo ke ruang dosen! Nggak mungkin juga Pak Ser rela nyari-nyari lo di kampus segede ini cuma buat balikin HP. Helooow…, emang lo sespesial itu di mata Pak Sergio?” Rossa memberi saran, walau terkesan menyebalkan bagi Jeha.
Brak!
Rossa berjingkat kaget ketika Jeha menggebrak meja kantin kemudian bangkit dari kursi seraya berkata, “Bakal aku buktiin, kalau suatu saat aku akan jadi orang spesial buat Mas Ser lagi!”
Usai berbicara, Jeha meninggalkan Rossa yang kicep memerhatikan kepergiannya.
***
Jeha mengintip Sergio yang sedang makan siang sendirian di ruang dosen, sementara Jeha sempat melihat dosen-dosen lain makan di kantin. Sergio pasti sengaja makan di ruangannya karena takut Jeha akan mempermalukannya lagi di depan para dosen seperti kejadian tempo hari.
Tapi ada keuntungan untuk Jeha karena ruang dosen sepi penghuni, Jeha jadi bebas masuk ke sana dan menemui Sergio. “Mas Ser! Mana HP aku balikin!” Jeha datang bak menagih hutang.
Sergio yang hendak memasukkan suapan mie instan ke dalam mulutnya sontak terhenti akibat kedatangan Jeha. “Nih!” Sergio menyerahkan kembali HP tersebut ke tangan Jeha yang kelihatan kesal.
“Mas Ser kenapa nggak langsung balikin ke aku? Kenapa harus aku yang repot-repot ke ruang dosen buat ngambil HP aku sendiri? Padahal kan gara-gara Mas Ser HP aku jadi ketinggalan!” gerutunya.
Entah gadis itu sedang kesambet seetan apa, yang jelas Sergio sangat heran dengan sikapnya yang berlebihan. “Kok gara-gara saya? Salah kamu sendiri kenapa lupa bawa handphone kamu pulang.” Sergio membantah dan balik menyalahkan Jeha.
Jeha jadi semakin kesal, kemudian balas menggerutu lagi, “Mas Ser gak usah nyalah-nyalahin aku ya! Semua ini juga karena mamanya Mas Ser yang tiba-tiba datang ke apartemen. Bisa aja waktu itu aku keluar dan menemui mamanya Mas Ser, tapi aku gamau Mas Ser dituduh yang enggak-enggak karena nyembunyiin aku di apartemen. Jadi aku berusaha bantu Mas Ser supaya nggak ketahuan.”
Sergio melongo, bisa-bisanya Jeha bicara segamblang itu di ruang dosen. Beruntung tidak ada orang lain selain mereka berdua di sini, atau orang yang mendengar bisa salah paham dengan ucapan Jeha.
“Sudah, saya nggak mau debat sama kamu. Sekarang semua sudah impas, HP kamu sudah kembali dan sebaiknya kamu segera pergi dari sini supaya saya bisa lanjut makan,” tutur Sergio, tidak ingin Jeha berlama-lama di ruang dosen sebelum ada dosen lain yang memergokinya.
Jeha menyipitkan mata tajam. “Bisa-bisanya Mas Ser masih kepikiran makan di situasi seperti ini!” makinya.
Sergio meletakkan alat makannya di meja, kemudian mengembuskan napas berusaha sabar menanggapi Jeha yang tampaknya sedang PMS. “Jeha, sebenarnya kamu kenapa? Kamu marah-marah nggak jelas padahal masalahnya sudah selesai kan? HP kamu sudah kembali.”
Mata Jeha berkaca-kaca, mendadak ingin menangis saat mengungkapkan kekecewaannya. “Aku marah karena Mas Ser nggak nyari aku buat balikin HP, sementara aku yang harus nyamperin Mas Ser sendiri. Hal itu bikin Rossa mikir kalau aku bukan orang spesial di mata Mas Ser.”
Seakan menabur garam di atas luka Jeha, Sergio menjawab dengan teganya, “Ya kan emang kamu bukan orang spesial. Memangnya kamu siapa? Kamu kan cuma mahasiswa saya?”
Lagi-lagi Sergio mengatakan sesuatu yang menyakiti hati Jeha. Jeha mengepalkan tangan, mati-matian menahan keinginan untuk tidak menampar Sergio. Tapi apalah daya, tangannya seolah bergerak sendiri dan menampar Sergio cukup keras.
Plak!
Wajah Sergio sampai terlempar ke sisi kanan saking kerasnya tamparan Jeha, usai melakukan itu Jeha juga langsung kabur tanpa meminta-maaf hingga membuat Sergio marah besar. Sergio bangkit dari kursi, berniat mengajari Jeha sopan santun dan menyuruhnya minta-maaf atau Sergio akan memberinya hukuman karena sikap kurang ajarnya kepada dosen.
“JEHA BERHENTI!” Teriakan Sergio menggelegar di lorong ruang kelas. Mahasiswa yang berpapasan dengannya di jalan sampai bergidik—takut melihat wajah Sergio yang mirip singa kelaparan.
“Jeha, dosenmu menyuruhmu berhenti! Kamu mau saya beri hukuman hah!” Sergio menunjuk punggung Jeha yang masih terus berjalan mengabaikan perintah Sergio. Kejadian itu menimbulkan perhatian dari beberapa mahasiswa yang heran dengan masalah yang tengah terjadi antara Jeha dengan dosen mereka.
Jeha merapatkan tali tas selempang yang menggantung di bahu kanannya sambil berjalan menuju pintu keluar. Mata kuliah belum selesai tapi Jeha berpikir lebih baik ia pulang lebih awal karena kondisi hatinya sedang buruk.
Hampir saja tangannya menjangkau pintu untuk keluar gedung fakultas, namun satu tangannya yang lain ditarik oleh Sergio yang berhasil menyusulnya di belakang. “Kamu pikir bisa kabur setelah melakukan itu pada saya?” Suara Sergio terdengar marah.
Dengan wajah sembab dan air mata yang tak berhenti turun sejak tadi, Jeha menoleh menatap Sergio. Sergio yang ingin marah seketika kehilangan suaranya setelah melihat Jeha menangis.
“Entah di dunia ini atau di dunia sebelumnya, aku selalu ingin jadi orang spesial untuk Mas Ser. Tapi Mas Sergio di dunia ini berbeda dengan Mas Serigala di dunia sebelumnya, aku sempat bertanya-tanya kenapa Tuhan mempertemukan aku dengan pria yang memiliki wajah sama persis dengan Mas Ser yang aku cintai. Aku pikir jawabannya karena Tuhan berencana menyatukan kita lagi di dunia ini, tapi mungkin jawabanku salah.”
Sergio tertegun, cekalannya dipergelangan tangan Jeha terlepas dan Sergio tidak mencoba menghentikan Jeha lagi ketika gadis itu pergi dari hadapannya.
BERSAMBUNG…