LANGKAH demi langkah yang diambil Felisa teramat mendebarkan untuk Sergio dan Jeha yang sebentar lagi akan ketahuan. Felisa hampir mencapai jendela yang tertutup gorden, tempat Jeha bersembunyi.
Jeha tidak tinggal diam, dia mencari cara agar tidak tertangkap basah kemudian mendapat ide untuk keluar lewat jendela yang tak terkunci. Jeha meletakkan HP nya yang masih berbunyi di sekat jendela lalu keluar melalui jendela dan berdiri di pijakan bata sempit yang mana apabila Jeha ceroboh sedikit saja akan berdampak pada keselamatannya.
Disaat yang sama, Felisa membuka gorden tapi syukurlah Jeha sudah pergi dari sana. “Ini kan HP kamu? Ngapain ditaruh di sini?” Felisa memungut HP milik Jeha yang ditinggalkan, tipe dan merk HP-nya memang sama dengan HP Sergio sehingga Felisa mengira itu handphone putranya.
Sergio sadar bahwa handphone itu bukan miliknya tapi mungkin milik Jeha. Supaya Felisa tak curiga, Sergio pun berpura-pura, ”Eh iya Ma, Sergio lupa mungkin,” alibinya seraya menghampiri Felisa di ruang tamu.
“Ada yang nelpon nih? Namanya Rossa, dia perempuan yang kamu suka?” tanya Felisa.
“Bu-bukan Ma.” Sergio membantah, namun Felisa tidak percaya dan tersenyum, berpikir putranya berbohong karena malu. “Jangan malu-malu gitu, cepet gih! Angkat telponnya, nggak baik buat perempuan menunggu terlalu lama,” suruh Felisa sembari memberikan HP Jeha ke tangan Sergio.
Sergio terpaksa mengangkat telepon tersebut di depan Felisa kemudian meletakkan HP-nya ke samping telinga. “Halo Jeh, lama amat sih ngangkat nelpon doang! Lo lagi di mana? Sudah pulang dari apartemennya Pak Ser?” Suara Rossa terdengar di telepon, sedangkan Sergio kebingungan harus menjawab bagaimana, apalagi sekarang Felisa secara langsung tengah memerhatikannya. Beruntung mamanya tidak bisa mendengar suara Rossa di telepon, atau semuanya akan bertambah rumit.
Tak ada pilihan lain, Sergio pun menjawab perkataan Rossa asal. “Halo Rossa, iya. Tugasnya langsung kamu letakkan di ruangan dosen, di meja saya aja ya besok.”
Rossa membelalakkan mata, terkejut setengah mampus ketika yang menyahut justru suara Sergio. Rossa menjauhkan HP-nya dari telinga, memastikan bahwa ia tidak salah menghubungi nomor dosennya.
“Gue nggak salah, ini beneran nomornya Jeha tapi kenapa yang jawab malah Pak Sergio?” Rossa berbisik linglung, heran dengan situasi aneh ini.
“Oke-oke, terima kasih.” Suara Sergio kembali terdengar, Rossa baru saja akan bertanya tetapi Sergio lebih dulu memutus panggilannya, membuat Rossa semakin bingung dan penasaran sebenarnya apa yang telah terjadi antara Jeha dan Sergio.
Sedangkan di sisi lain, Sergio yang baru saja mematikan teleponnya kembali memusatkan perhatian ke Felisa yang bertanya, “Kenapa bahas tugas?”
“Dia mahasiswa aku Ma, dia bukan perempuan yang Sergio suka,” jelas Sergio, berharap Felisa tidak salah paham dengan status Rossa.
Felisa masih terlihat tidak percaya. “Terserah kamu deh kalau mau main rahasia-rahasiaan sama mama. Mama capek habis perjalanan jauh, mama istirahat bentar di kamar tamu yah.”
Sergio mengangguk mengizinkan, lalu mengantar Felisa menuju kamar tamu untuk istirahat. Sedangkan Jeha mengintip dibalik jendela, setelah memastikan Sergio dan Felisa pergi dari ruang tamu, Jeha segera masuk lagi ke ruangan sambil mengusap daada lega.
“Fyuhh… syukur deh nggak jadi ketahuan. Lebih baik aku cepet-cepet pergi dari sini sebelum mamanya Mas Ser mergoki aku lagi.” Tanpa pikir panjang, juga tanpa berpamitan Sergio, Jeha angkat kaki dari apartemen.
Satu hal yang gadis itu lupakan saat pergi dari sana adalah handphone-nya yang masih ada di tangan Sergio.
***
Malamnya, setelah membuat ppt materi untuk pelajaran besok senin, Sergio mematikan laptop dan berjalan menuju ranjang. Sergio memposisikan bantalnya agar nyaman untuk ditiduri, ketika hendak merebahkan tubuhnya yang sudah lelah tiba-tiba terdengar lagu Makhluk Tuhan Paling Sexy by Mulan Jamela. Sergio spontan teringat HP milik Jeha yang tertinggal dan ia letakkan di atas nakas.
Sergio tidak sempat mengembalikannya tadi siang karena Jeha sudah keburu pergi dari apartemennya setelah Felisa beristirahat di kamar. Melihat nama kontak pemanggil bertuliskan Mama Affa, Sergio ragu harus menjawabnya atau tidak.
Tapi telepon itu mungkin saja berasal dari Jeha yang meminjam HP mamanya untuk menghubungi HP-nya yang dibawa Sergio sehingga pria itupun memutuskan mengangkat telepon tersebut.
“Halo.”
“Halo Mas!”
Sesuai perkiraan Sergio sebelumnya, suara Jeha terdengar di seberang. “Handphone kamu ketinggalan di saya. Besok di kampus akan saya kembalikan,” ujar Sergio, yang seolah sudah tahu tujuan Jeha menelepon malam ini.
“Hehe iya, makasih Mas Ser,” jawab Jeha cengengesan.
“Maaf ya soal kejadian tadi siang, saya juga nggak nyangka mama saya bakalan datang mendadak.” Sergio merasa perlu meminta-maaf pada Jeha, meski sebenarnya bukan kemauan Sergio juga Jeha ada di apartemennya hari ini.
“Iya Mas, gapapa kok. Lagian kita juga nggak ketahuan kan.”
“Oh ya, saya juga minta-maaf tadi main angkat telepon dari temen kamu Rossa. Dia telepon terus sejak sore, akhirnya saya angkat dan bilang kalau HP kamu ketinggalan.”
Jeha meringis, saat bertemu di kampus besok Rossa pasti akan menyerentetkan banyak pertanyaan untuknya. “Iya Mas, gapapa. Rossa emang gitu, suka telepon terus kalau aku nggak hubungi dia.”
Sergio terkekeh kemudian menanggapi, “Emang dia pacar kamu? Posesif banget jadi temen.”
“Yeee, aku masih doyan sama cowok kok. Apalagi sama Mas Ser, doyan banget!” Jeha terkikik sendiri di akhir ucapannya.
Sergio tanpa sadar tersenyum mendengarnya. “Besok sudah hari Senin, sebaiknya tidur lebih awal,” ujarnya, secara tidak langsung ingin mengakhiri percakapan telepon mereka.
Jeha buru-buru mencegah, “Jangan tutup dulu Mas! Kapan lagi aku bisa telponan sama Mas Ser begini, di dunia sebelumnya Mas Ser juga gabisa pakai handphone jadi kita jarang komunikasi jarak jauh.”
Sergio mengangkat sebelah alisnya. Meski cerita Jeha selalu aneh, tapi kali ini Sergio penasaran kenapa dalam cerita itu dirinya tidak bisa memakai HP, bahkan di jaman modern seperti sekarang.
“Kamu tinggal di dunia jaman purba sebelumnya? Kenapa aku gak bisa pakai handphone?” tanya Sergio, tidak terima dirinya dianggap tidak bisa menggunakan teknologi canggih tersebut.
“Enggak, kita tinggal di jaman sekarang. Mas Ser nggak bisa pakai handphone karena Mas Ser itu siluman serigala,” jawaban polos Jeha mengundang gelak tawa Sergio.
“Saya? Siluman serigala? Haha!” Sergio menyahut tidak percaya, alih-alih tertawa.
Jeha mengembungkan pipi, merasa tengah ditertawakan. “Aku nggak bohong! Mas Ser itu siluman serigala yang nolongin aku setelah jatuh ke jurang waktu camping di hutan Harapan. Sebagai rasa terima kasih, aku akhirnya bawa Mas Ser ke kota tempatku tinggal. Di sana kita cari cara untuk mengembalikan Mas Ser ke wujud manusia,” cerita Jeha.
Sergio lagi-lagi menanggapinya dengan tawa mengejek, mana ada orang yang percaya dengan cerita mustahilnya itu. Sepertinya Jeha benar-benar mengidap Skizofrenia Residual karena memiliki keyakinan aneh yang ia anggap nyata.
Semoga saja Santika segera mendiskusikan kondisi Jeha bersama Tante Affa dan mendapat jalan keluar atas permasalahan gangguan mental Jeha.
BERSAMBUNG…