09 |MENYEMBUNYIKAN GADIS DI APARTEMEN

1038 Words
“PAK GLEN, dia yang ngasih aku nomor dan al—“ Sergio memotong ucapan Jeha, “Glen? Jadi dia yang ngasih tahu kamu semuanya? Astaga…” Pria itu mendongak menatap langit-langit lalu mengusap wajah frustasi. “Kamu kenal dekat sama Glen? Gak mungkin Glen dengan mudahnya membocorkan semua hal tentang saya ke kamu yang notabenya bukan siapa-siapa saya.” Jeha menggigit bibir bawahnya, bingung harus memberitahu Sergio atau tidak tentang hubungan Glen dengan sahabatnya, Rossa. Rossa bilang tidak ada yang tahu dirinya pacaran dengan sang dosen, bahkan ibu kandung Rossa sendiri sehingga mana berani Jeha membocorkan status hubungan mereka pada Sergio. Bisa-bisa Jeha kena amuk Rossa besok. “Jeha jawab!” bentak Sergio, mendesak Jeha agar segera menjawab. “Ekhm… anu Mas.” Bola mata Jeha berlarian, sedangkan otaknya sibuk berkelana mencari alasan. “Anu apa Jeha? Jawab, cepat!” Sergio mencengkeram kedua bahu Jeha, mengguncangnya hingga Jeha panik sebab belum menemukan alasan yang tepat. Ting… tong… Bell apartemen Sergio berbunyi, menyelamatkan Jeha dari Sergio yang seketika menoleh ke sumber suara. “Apa ada barang yang tertinggal? Kenapa Tika kembali lagi?” Sergio bertanya sendirian. Ngomong-ngomong soal Santika, Jeha baru ingat kalau sebelumnya wanita itu masih ada di apartemen Sergio. “Siapa? Tamu baru lagi?” Jeha bertanya, curiga kalau Sergio mengundang teman wanitanya lagi. Jika benar, maka fiks sudah Sergio benar-benar seorang playboy! “Mungkin itu Tika yang kembali,” jawab Sergio kemudian berjalan menghampiri pintu. Jeha membuntutinya di belakang. “Kak Tika sudah pulang? Sejak kapan?” tanyanya lagi. “Sejak tadi,” jawab Sergio cuek. Sesampainya mereka berdua di depan pintu apartemen, Sergio membuka pintu dan di detik pertama melihat wajah seseorang di berdiri depan pintu apartemennya, Sergio langsung menutupnya lagi. Brak! Jeha terkejut mendengar bunyi gebrakan pintu. Dia sontak bertanya karena heran, “Kok ditutup lagi? Memang siapa yang hmmptt!!” Sergio membungkam mulut Jeha agar berhenti bicara lalu menyeret gadis itu ke balik gorden jendela ruang tamu bak seorang penjahat yang ingin menyekap korbannya. “Ada mama saya di depan, kamu jangan coba-coba keluar dari sini! Saya nggak mau bikin mama salah paham dengan keberadaan kamu di sini, mengerti?” tutur Sergio dengan panik. Jeha yang paham dengan perkataan Sergio akhirnya mengangguk. “Iya, ngerti,” jawabnya, ia mendengus kesal ketika Sergio meninggalkannya untuk kembali membuka pintu. Sementara Jeha harus tetap bersembunyi di balik gorden supaya tidak ketahuan oleh mamanya Sergio. Entah kenapa Jeha merasa sedang diperlakukan seperti selingkuhan haram karena harus sembunyi dari mamanya Sergio. Huft… nasib-nasib, Jeha mengasihani dirinya sendiri. “Halo Ma.” Sergio menyapa dengan senyuman kikuk kemudian mencium telapak tangan Felisa. “Mama kok tumben ke sini tanpa ngabarin aku dulu,” sambung Sergio. Felisa menatap putranya curiga. “Aku kan mama kamu, masa mau berkunjung ke rumah putranya sendiri aja pakai izin dulu. Kenapa? Kamu nggak nyembunyiin cewek di dalem kan?” Sergio menelan ludah, meski cemas akan tertangkap basah namun Sergio sebisa mungkin bersikap normal. “Enggak lah Ma. Aku kan seorang dosen, harus menerapkan sikap yang baik sebagai teladan,” alibi Sergio sambil tersenyum meringis karena pada kenyataannya ia telah menyembunyikan seseorang di dalam apartemennya. Felisa mengangguk setelah menghapus kecurigaannya. “Bagus deh, mama juga percaya kamu anak baik-baik,” sahut Felisa lalu melangkah masuk ke dalam apartemen Sergio. “Mama bawakan sembako buat kebutuhan sehari-hari kamu di sini supaya nggak kekurangan, mama bawa gula, kopi, mie instan, vitamin dan banyak lagi nih! Nanti kamu tata sendiri yah!” Felisa meletakkan dua kantung keresek yang dibawanya ke atas meja makan. Wanita paruh baya itu lalu duduk di sana dan mengamati sekeliling apartemen Sergio. Sergio yang takut keberadaan Jeha diketahui ibunya berusaha menarik perhatian Felisa. “Mama kok repot-repot sih, Sergio kan bisa beli sendiri,” ujar Sergio, memicu Felisa tersenyum ke arahnya. “Gapapa, sekalian mama ingin melihat kondisi kamu. Habisnya kamu sibuk banget setelah jadi dosen, kamu juga jarang pulang ke rumah kalau weekend. Mangkannya hari minggu ini mama ke sini, mama tahu kamu pasti ada di rumah karena libur,” timpal Felisa, berangsur memeluk putranya sebab rindu. “Mama senang setelah ketemu kamu, kamu juga kelihatan sehat. Mama jadi nggak perlu cemas,” gumam Felisa, sementara Sergio membalas pelukan ibunya sembari menjawab, “Sergio sudah umur 27 tahun Ma, sudah cukup dewasa untuk mengurus diri sendiri. Jadi Mama nggak perlu cemas.” Felisa melepas pelukannya dan menatap sangsi putranya. “Umur kamu sudah 27 tahun, Glen aja sekarang sudah punya pacar. Kayaknya sebentar lagi Glen juga bakal menikah sama pacarnya, terus kamu kapan?” Sergio mencebik, dia paling tidak suka jika Felisa membahas topik ini. “Sabar Ma,” jawabnya. “Sabar-sabar-sabar! Selalu aja bilang begitu ke mama!” Felisa membalas muak, ekspresinya juga sudah berubah tidak selembut sebelumnya. “Kamu aja masih nggak punya pacar! Gimana mama bisa sabar? Coba aja kamu punya pacar, mama mungkin nggak akan sefrustasi ini mikirin nasib masa depan pernikahan kamu!” gerutu Felisa lagi. Sergio menghela napas panjang, kedua tangannya mengusap bahu Felisa, menenangkan ibunya sejenak. “Sergio janji sebentar lagi bakal punya pacar, mama doain aja yah semoga wanita yang Sergio suka bisa terima perasaan aku.” Sergio berucap meyakinkan Felisa serta meminta doa restu agar dimudahkan ketika hendak mengungkapkan perasaannya pada Santika. Bibir Felisa tertarik merangkai senyuman. “Serius? Jadi kamu sudah ada inceran wanita ya?” “Iya, ada Ma.” “Alhamdulillah…” Felisa memeluk Sergio lagi, kali ini dengan perasaan lega bercampur bahagia. Sedangkan Jeha yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka hanya bisa menahan kecemburuan setelah mengetahui Sergio mengincar seorang wanita yang Jeha percaya adalah Santika. Tidak bisa! Jeha tidak akan membiarkan Mas Ser dimiliki wanita lain. ♫ Kamulah makhluk Tuhan yang tercipta, yang paling sexy. Cuma kamu yang bisa, membuatku terus menjerit. ♫ Tiba-tiba saja ringtone panggilan masuk di HP Jeha berbunyi. Suara itupun membuat Jeha panik sementara Sergio dan Felisa sontak berpaling ke arah jendela tempat persembunyian Jeha. Sergio melotot, panik bukan main ketika muncul suara dari posisi Jeha sekarang. Felisa mengerutkan kening sambil menatap heran Sergio, “Siapa yang mutar lagunya Mulan Jamela siang-siang bolong begini?” Wajah Sergio memucat, terlebih ketika ia tidak bisa menahan Felisa bangkit dari kursi dan melangkah ke sana untuk memastikan sumber lagu yang tiba-tiba terdengar di ruang tamu apartemen Sergio. BERSAMBUNG…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD