KEESOKKAN harinya, di jam istirahat, Sergio sengaja mematikan ponselnya dan makan siang dengan para dosen supaya Jeha tak berani mendekatinya lagi. Pada awalnya makan siang diselimuti senda gurau dari para dosen itu berjalan seperti biasanya, sampai kemudian kedatangan Jeha dan sapaannya membuat Sergio tersedak minumannya.
“Halo Bapak dan Ibu dosen!”
“Uhuk… uhuk… uhuk…” Sergio menepuk-nepuk dadanya yang sakit akibat tersedak sambil menatap waspada Jeha yang berdiri di ujung meja—sedang tersenyum cerah ke arah para dosen yang bingung dengan maksud kedatangannya.
“Halo Jeha, ada yang bisa kami bantu?” Bu Risma bertanya.
Bu Laila yang teringat insiden di depan ruang dosen antara Jeha dan Sergio pun lantas menceletuk, “Oh, kamu pacarnya Pak Sergio kan? Kamu ke sini cariin Pak Sergio ya?”
Sergio meringis dalam hati. Tamatlah riwayatnya, kini sebagian besar dosen pasti ikut salah paham setelah mendengar ucapan Bu Laila.
“Wah… baru di semester ini ada dosen kecantol sama mahasiswanya sendiri,” sahut Pak Fadil, dosen Sosiologi.
“Bukannya Jeha ini mahasiswa yang jatuh dari tebing waktu camping di hutan Harapan satu tahun yang lalu ya?” Bu Isna, dosen filsafat ilmu dan logika ikut berkomentar.
“Iya benar bu. Awalnya waktu nganterin Jeha ke kelas pertamanya saya juga gatau kalau Jeha ini pernah koma satu tahun, saya tahunya dari Pak Sergio,” timpal Bu Risma sambil melempar senyum ke arah Sergio yang semakin lemas karena semua orang kini pasti bertambah salah paham.
Bu Isna ikut menumpukan pandangan ke arah Sergio. “Jadi Pak Sergio beneran pacarnya yah, bisa langsung tahu gitu,” katanya.
Sergio menggeleng. “Enggak bu, saya juga tahunya dari mahasiswa yang kenal sama Jeha. Saya dan Jeha juga tidak ada hubungan apa-apa.” Sergio berusaha menampik pikiran para dosen yang mengiranya ada hubungan khusus dengan Jeha.
“Nggak perlu malu-malu gitu Pak, tidak ada larangan kok dosen pacaran sama mahasiswa. Lagian Pak Sergio juga sudah lama ngejomblo, saya ikut seneng kalau akhirnya Pak Sergio sudah ada calon,” tanggap Pak Fadil, yang disetujui oleh para dosen lainnya.
“Bukan calon Pak, tapi saya sudah jadi tunangannya,” ujar Jeha.
Sergio hampir saja pingsan mendengar perkataan Jeha sementara semua orang membelalakkan mata terkejut. Tapi Jeha tidak salah kan? Dia dan Mas Ser memang sudah bertunangan, andai saja cincin di jemarinya tidak hilang, Jeha sudah pasti langsung menunjukkannya kepada semua orang.
“Tega banget Pak Sergio nggak ngundang saya ke acara pertunangannya!” protes Pak Fadil.
“Saya juga nggak diundang!” sahut Bu Risma lalu berpaling menatap Bu Laila dan dosen lainnya yang sama-sama menggeleng tak diundang.
“Pak Glen kan masih keluarganya Pak Sergio, Anda juga tahu soal ini?”
Glen yang sejak tadi hanya diam sebagai penonton sontak kelabakan mendapat pertanyaan dari Bu Isna. Pria itu melirik sepupunya yang sama bingungnya, Glen tahu Jeha pasti mengatakan itu karena pengalaman magic-nya di dunia fana.
Tapi seharusnya Jeha tidak perlu mengatakannya dihadapan semua orang, Glen bisa membayangkan berada di posisi Sergio yang pasti sekarang sedang bingung dan marah. “Jeha pasti cuma bercanda, ya kan jeha?” Glen bertanya dengan alis naik-turun, mengkode gadis itu agar segera menarik kembali perkataannya.
Jeha yang paham dengan kode Glen lantas memberenggut. “Iya saya minta-maaf, yang saya bilang tadi cuma bercanda kok,” katanya dengan ekspresi sedih.
“Kalau begitu saya pergi dulu, maaf kalau mengganggu waktu makan siang bapak dan ibu dosen.” Setelah berpamitan, Jeha kemudian pergi dengan langkah terseret dan wajah yang tak seceria sebelumnya.
“Kayaknya Jeha ngefans banget sama Pak Sergio,” komentar Bu Risma sambil menatap prihatin mahasiswanya tersebut.
Bu Laila kembali mengarahkan pandangan ke Sergio. “Jadi bener kalian nggak ada hubungan apa-apa?” tanyanya.
Lagi-lagi Sergio mengembuskan napas lelah, lalu menjawab, “Nggak ada bu, saya dan Jeha cuma sebatas dosen dan mahasiswa.”
Ekspresi Pak Fadil berubah kecewa, “Yah… kasihan banget Jeha cintanya bertepuk sebelah tangan,” sungutnya.
“Tapi Pak Sergio dan Pak Glen itu emang banyak banget fansnya di kampus. Nggak heran sih, kalian berdua memang ganteng,” puji Bu Isna sambil tersenyum-senyum memandangi ketampanan Glen dan Sergio yang sebelas-duabelas.
“Inget suami di rumah, Bu!” tegur Bu Laila dengan bibir mencebik kesal.
“Gapapa Bu Laila, cuma sebatas mengangumi aja. Boleh kan Pak?” Bu Isna menaik-turunkan alisnya, meminta persetujuan Glen dan Sergio yang hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut.
“Saya jadi penasaran, Pak Glen dan Pak Sergio ini sebenarnya sudah punya pacar atau belum sih? Kalian kan masih muda, mapan dan sudah siap nikah, pasti sudah ada dong calonnya?” tanya Bu Risma, penasaran dengan status dua dosen yang begitu digemari mahasiswa perempuan di universitas tempat mereka mengajar.
Kebetulan saat itu Rossa sedang lewat dekat meja mereka dan tidak sengaja mendengar pertanyaan Bu Risma. Gadis itupun berhenti karena penasaran dengan jawaban pacarnya yang akan mengakui keberadaannya atau tidak di hadapan para dosen.
Glen sebenarnya ingin menjawab tidak ada supaya tidak banyak diwawancarai, tetapi ia sadar ada Rossa didekat meja mereka dan terlihat sedang menunggu jawabannya. Bisa gawat kalau Glen tidak mengakui statusnya.
“Ekhm… saya sudah ada Bu.” Glen akhirnya mengakuinya.
Bu Risma langsung heboh, “Oh ya! Ya ampun Pak Glen ternyata diam-diam sudah punya pacar! Siapa Pak pacarnya? Dosen di sini kah? Atau justru… mahasiswa di sini juga?”
Sesuai tebakan Glen, Bu Risma pasti akan bertanya lagi. Melihat Rossa masih diam menguping pembicaraan mereka, Glen jadi bingung harus menjawab apa.
“Saya juga penasaran, tipenya Pak Glen tuh kayak gimana sih? Pasti cewek baik-baik, yang sabar, pendiam dan tutur katanya sopan seperti Anda,” timpal Bu Isna, yang seolah jadi tamparan keras untuk Rossa yang jauh dari kata sabar, pendiam dan sopan.
“Tidak juga,” kata Glen, lalu mengorbankan Sergio untuk mengalihkan topik pembicaraan. “Bagaimana dengan Pak Sergio? Anda sudah punya pacar?”
Rencana Glen pun berhasil, kini semua dosen beralih membicarakan Sergio. Sebuah keuntungan untuk Glen, tapi tidak untuk Sergio. “Sebentar lagi jam istirahat berakhir, sebaiknya kita segera habiskan makan siangnya agar tidak terlambat kelas,” Sergio berkilah. Dan syukurlah alasan itu bisa membantunya.
BERSAMBUNG…