05 |MAHASISWA FANATIK

1043 Words
PAGI ini Sergio melakukan rutinitasnya seperti biasa, olahraga 15 menit, mandi dan membuat sarapan sebelum pergi mengajar ke kampus. Sergio tidak tinggal dengan kedua orang tuanya, dia tinggal di apartemen sendiri karena jaraknya yang lebih dekat dengan Universitas. Sergio mengeluarkan motor sport berwarna hitam metalik yang selama ini menjadi transportasinya kemanapun, termasuk berangkat kerja. Sesampainya di kampus dan memakirkan motornya, Sergio berjalan masuk ke koridor utama gedung fakultas Psikolog. “Mas Ser!” “Ya Allah!” Sergio menekan dadanya kuat-kuat sebab terkejut Jeha tiba-tiba menyembul keluar dari balik pilar, mengagetkannya. “Jeha! Kamu ngangetin saya aja!” tegur Sergio dengan raut kesal. Masih pagi, dan gadis itu tanpa rasa bersalahnya sudah membuat Sergio jantungan. Jeha tersenyum nyengir. “Maaf Mas Ser, habisnya aku sudah nunggu lama di sini.” “Kenapa kamu nungguin saya?” tanya Sergio sambil menatap Jeha penuh antisipasi. “Kangen sama Mas Ser…” jawabnya dengan intonasi manja yang mengubah ekspresi Sergio menjadi jijik. “Berapa kali saya bilang, jangan panggil saya Mas Ser saat di kampus! Saya ini dosen kamu, bisa tidak sih kamu sopan sedikit?” omel Sergio. Seakan tak terpengaruh dengan raut garangnya, Jeha justru bergelanyut di lengan pria itu sambil membalas perkataannya. “Jadi kalau nggak lagi di kampus, aku bisa panggil Mas Ser?” Jeha mengerlingkan mata genit. Lagi-lagi sikapnya membuat Sergio naik darah, ya Allah… kalau begini terus Sergio bisa kena gejala hipertensi. Sergio memejamkan mata sejenak untuk mencoba sabar. “Sana kembali ke kelas kamu! Saya juga harus buru-buru ke ruangan untuk menyiapkan materi,” ujar Sergio, berharap dengan berbicara lembut pada Jeha bisa membuat gadis itu berhenti bersikap menyebalkan. Dan ternyata benar, tanpa disuruh Jeha melepaskan sendiri tangannya dari lengan Sergio. “Oke deh, kalau Mas Ser—eh maksudku Pak Ser bilang gitu, aku bakal nurut masuk kelas. Nanti di jam istirahat aku calling-calling yah, dadah…” Jeha meletakkan jari yang ia ibaratkan telepon ke samping telinga, lalu melambaikan tangan sebelum pergi. Sergio lantas baru ingat kalau Jeha memiliki nomornya. “Jeha!” Pria itupun spontan memanggilnya lagi. Jeha berhenti berjalan dan menoleh, “Kenapa Pak? Mau ngucapin ‘dadah sayang’ juga ya?” celetuknya, kembali membuat Sergio sebal. “Bukan, mau nanya dari mana kamu dapat nomor pribadi saya?” Jeha tersenyum misterius, sengaja memancing rasa penasaran Sergio. “Rahasia!” Usai menjawab, Jeha langsung kabur meninggalkan Sergio yang setengah mati menahan kejengkelan. *** Salah satu momen yang paling Jeha nantikan hari ini selain di jam istirahat adalah mata kuliah kedua Psikopatologi yang dosennya tak lain Sergio Orlando. Melihat pria itu kini benar-benar seorang dosen membuat Jeha teringat kenangan lamanya saat Mas Ser mengajarinya rumus Psikometri yang Jeha anggap sulit. Sakit di rongga dadanya menyadarkan Jeha dari lamunan kenangan lamanya bersama Sergio saat masih menjadi Mas Ser yang tulus mencintainya. Gadis itu sudah tak fokus mendengar penjelasan materi pelajaran Sergio di depan, Jeha malah kepikiran kata-kata Mas Ser yang pernah diucapkannya. Saat Mas Ser bilang ia tidak perlu memusingkan gadis yang tidak ia ingat. Dari sepenggal kalimat yang dikatakan Mas Ser waktu itu, mungkinkah masih berlaku sampai sekarang? Alasan Sergio tak menggubris perasaan Jeha karena pria itu tidak mengingatnya. Jeha meremas tangannya sambil bergumam, “Aku harus buat Mas Ser ingat sama aku! Semua hal yang aku lewati bersama Mas Ser itu nyata dan aku yakin Pak Sergio itu Mas Ser.” Jeha merogoh ransel mengambil hpnya kemudian menekan tombol call, menelpon ke nomor hp Sergio yang kini berbunyi hingga mengganggu konsentrasi pria itu. Sergio melirik layar hpnya yang tergeletak di atas meja, melihat nomor asing yang sama seperti kemarin malam sontak membuat pandangan Sergio mengarah ke Jeha, menatap tajam gadis itu. Sergio mematikan panggilannya lalu melanjutkan penjelasan materinya, sementara Jeha tak mudah menyerah begitu saja. Ditelponnya lagi nomor hp Sergio, tetapi pria itu menghiraukannya dan terus menjelaskan materi seolah-olah tak mendengar bunyi teleponnya. “Pak, telepon Pak Sergio bunyi tuh! Mungkin panggilan penting,” celetuk salah satu mahasiswa laki-laki yang terusik dengan suara telepon Sergio. Sergio menghela napas panjang, dengan sabar ditolaknya panggilan Jeha lalu memberi peringatan kepada gadis itu lewat picingan mata tajamnya. Jeha tersenyum geli melihat ekspresi Sergio sekarang, lalu kembali menelponnya dengan iseng. “JEHA!!” Sergio spontan membentak Jeha karena frustasi. Mahasiswa lain yang tak mengerti sontak memusatkan pandangan ke arah Jeha, penasaran apa yang telah dilakukan gadis itu sampai Sergio meneriakkan namanya. Jeha yang mendadak menjadi pusat perhatian sontak linglung, “Ke-kenapa Pak?” tanya Jeha, pura-pura tak bersalah dihadapan teman-temannya. Sergio meringis, ia tidak mungkin mengatakan dihadapan para mahasiswa jika telepon yang mengusiknya sedari tadi berasal dari Jeha. Mahasiswa lain bisa salah paham dan malah curiga. “Kerjakan soal yang ada di papan! Jika jawabannya salah, kamu keluar dari kelas!” Jeha tersenyum miring, alasan klise seperti sebelumnya—Sergio tahu saja cara menyingkirkannya dari kelas agar berhenti mengganggunya. Sadar bahwa dirinya tak bisa menjawab soal yang ada di papan tulis, Jeha lantas pamit keluar lebih dulu. “Saya izin keluar Pak. Pak Sergio pasti sudah tahu saya gamungkin bisa jawab soal itu.” Jeha mengedikkan bahu acuh tak acuh, kemudian keluar dengan santainya diiringi tatapan heran semua mahasiswa, takjub dengan keberanian Jeha yang sudah dua kali diusir keluar dari kelas Sergio. Tidak berhenti sampai di situ, usaha Jeha untuk memulihkan ingatan Mas Ser adalah dengan membuntutinya sepanjang hari sambil membawa papan bertuliskan INGAT AKU MAS dan membuat aksinya menggegerkan seluruh mahasiswa yang tidak sengaja melihatnya. Sementara Sergio terus menghindarinya dan tak mengacuhkan ulah konyol Jeha dengan papan tulisannya bak orang sedang melakukan demo. Sergio sungguh tidak habis pikir Jeha akan mempermalukan dirinya sendiri hanya untuk mendapat perhatiannya. Sergio tidak akan terkecoh dengan aksi mahasiswa fanatiknya tersebut. Jeha memanyunkan bibir, ternyata ini lebih sulit dari yang ia bayangkan sebelumnya. Tapi Jeha tidak boleh menyerah, ia akan terus berusaha sampai Sergio ingat jati dirinya sebagai Mas Ser yang dahulu begitu memujanya. “Aku tidak akan menyerah! Mas Ser… dengarkan ucapanku baik-baik. Aku… Jehasalma Sabila akan membuatmu ingat dan kembali mencintaiku!” Jeha berteriak terang-terangan di lorong terbuka yang terhubung dengan taman kampus. Sergio yang sedang membaca buku di kursi taman hanya geleng-geleng kepala saat mendengar teriakan Jeha dari lorong. Namun sayangnya cara itu belum berhasil membujuknya, Sergio bahkan tidak peduli dan sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari buku bacaan di tangannya. BERSAMBUNG…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD