04 |SEPUPU PAK GLEN

1001 Words
ROSSA datang berkunjung ke rumah Jeha saat mereka libur kuliah di hari minggu. Ternyata gadis itu tidak sendirian, melainkan juga dengan Glen. Melihat Rossa dan Glen datang bersama sudah bukan hal aneh lagi di mata Jeha karena sepertinya ada sedikit kecocokan dari dunianya bertemu Mas Ser dengan dunia tempatnya tinggal saat ini. “Saya ikut datang ke sini karena ingin minta-maaf secara langsung ke kamu Jeha. Maaf jika hukuman bapak dulu menjerumuskan kamu ke dalam masalah.” Glen menyesal, andai saja waktu itu dirinya tidak menyuruh Jeha mencari serigala di hutan—ya walaupun saat mengatakannya Glen hanya bercanda, namun Jeha benar-benar mencarinya di hutan Harapan. “Pak Glen nggak perlu merasa bersalah, saya juga nggak menyalahkan bapak atas apa yang sudah terjadi. Sebaliknya saya justru berterima kasih.” Jeha menarik senyum lebar. “Terima kasih untuk apa?” Glen mengerjap bingung. “Karena berkat Pak Glen, saya bisa bertemu dengan Mas Ser!” Jeha menjawab semringah. Meski terdengar tidak masuk akal, tapi pertemuannya dengan Sergio dalam wujud serigala memberi kenangan tersendiri bagi Jeha. Jeha tersenyum-senyum sendiri membayangkan momen romantisnya bersama Mas Ser, sedangkan Glen berpaling menatap Rossa heran, seolah meminta penjelasan tentang ucapan Jeha sebelum ini. Rossa meringis, ia sendiri masih bingung tentang cerita kedekatan Jeha dengan Sergio di dunia lain. Tapi Rossa sedikit percaya setelah Jeha tahu hubungan tersembunyinya dengan Pak Glen, karena tidak mungkin Jeha bisa tahu jika dirinya saja belum pernah memberitahu gadis itu sejak sadar dari koma. “Lo beneran tahu gue jadian sama Pak Glen?” Rossa berbisik ke samping telinga Jeha, ingin memastikan sekali lagi. Jeha lantas menjawabnya blak-blakan, “Kalian masih jadian? Yang aku tahu kalian sudah menikah, dan bentar lagi punya anak!” Rossa melotot kaget, lalu menoyor dahi Jeha yang kembali kumat sintingnya. “Punya anak gimana? Nikah aja belum. Jangan ngada-ngada deh!” sungutnya. Sementara Glen bertambah heran, tidak mengerti kenapa Jeha bisa menyimpulkan demikian. “Ros, jangan gitu sama Jeha. Dia kan baru aja sembuh,” tegur Glen yang seketika menghentikan perbuatan Rossa menoyor dahi Jeha. Rossa memberenggut karena dimarahi pacarnya, lalu meminta-maaf. “Iya, maaf Jeh. Abisnya lo ngarang banget sih.” Jeha mencebik, “Aku nggak ngarang, emang gitu faktanya di dunia aku ketemu sama Mas Ser. Di sana kamu bahkan sudah hamil sebesar ini!” Tangan Jeha membentuk lingkaran di atas perut, memberitahu Rossa ukuran perutnya saat hamil. Glen terkekeh sedangkan Rossa mendadak linglung. “Sebenarnya dunia yang kek’ gimana sih yang sejak sadar dari koma selalu lo bicarain itu! Apa semacam dunia paralel?” tanya Rossa, penasaran. Jeha meletakkan jari di dagu, seakan tengah berpikir. “Entahlah, di sana ada orang-orang yang sama seperti kalian. Dengan sifat dan wajah yang sama. Aku bahkan sudah lulus diwisuda, tapi kenapa saat sadar dari koma aku malah harus mengulang semester dan tertinggal satu tahun dengan angkatanku. Aish, menyebalkan!” omelnya. “Berarti lo emang tinggal di dunia paralel!” celetuk Rossa dengan yakinnya. “Bukan.” Sahutan Glen itupun menyita perhatian Jeha dan Rossa berpaling ke arahnya. “Menurut teori Einsten yang pernah aku baca, jika Jeha terjebak di dunia paralel, sistem waktu tidak akan berbeda. Karena Jeha bilang di dunia itu dia sudah lulus artinya sudah empat tahun berjalan sementara selama ini Jeha terbaring koma selama setahun saja yang artinya Jeha bukannya terjebak di dunia paralel. Bisa jadi dunia yang dimaksud Jeha adalah dunia fana yang konon katanya diciptakan untuk manusia yang mengalami koma.” Penjelasan Glen sukses membuat Jeha dan Rossa membuka mulut lebar, melongo mendengar penjelasan yang rasanya mustahil dipikir dengan akal. Beberapa peneliti termasuk Einsten memang menganggap dunia paralel itu ada, tapi tidak pernah ada bukti ilmiah yang jelas untuk membuktikan dunia itu benar-benar ada. “Bukan dunia paralel, ataupun dunia fana. Aku benar-benar mengalaminya Pak. Dunia tempatku bertemu dengan Mas Ser adalah nyata! Aku bahkan masih merasakan cium—ekhm maksudku… merasakan genggaman tangan Mas Ser,” sangkal Jeha, hampir saja membongkar aibnya sendiri yang telah beberapa kali berciuman dengan Sergio. Rossa menatap Jeha miris, sedangkan Pak Glen mendengus pasrah dan memilih bertanya, “Sebenarnya siapa Mas Ser yang sejak tadi kamu bicarakan itu, Jeha?” “Mas Ser itu singkatan dari MAS SERIGALA yang wajahnya mirip sama Pak Sergio. Dosen Psikopatologi di Univ kita.” Rossa menjawab mewakilkan Jeha. “Sergio?” Glen menanggapi dengan kening mengerut. Rossa mengangguk. “Iya, Pak Glen pasti kenal. Kita kan satu kampus,” jawabnya. “Bukan kenal lagi, kami juga dekat karena Sergio adalah sepupuku. Kami masih satu keluarga,” timpal Glen, memicu keterkejutan dari Rossa dan Jeha yang saling bertukar pandang, berpikir dunia ini ternyata sangat sempit. *** Malamnya di kediaman Sergio, pria itu sibuk berkutat dengan laptop untuk merekap data nilai mahasiswa. 15 menit berlalu, kurang setengah mahasiswa lagi namun Sergio sudah merasa letih. Pria itu melepas kacamata baca yang dikenakannya lalu memijit pangkal hidung mancungnya, beristirahat sejenak dari pekerjaan yang belum selesai. Sergio menarik kedua tangannya ke atas, merilekskan otot-ototnya yang kaku. Ditengah aktivitas tersebut, tiba-tiba ponsel Sergio yang tergeletak di samping laptop berbunyi. Sergio menatap layar ponselnya dengan alis bertaut bingung, “Nomor siapa ini?” Sergio melirik jam weker yang menunjukkan pukul 10 malam, dia tidak punya pacar dan mustahil rekan dosen menghubunginya malam-malam begini. Selain itu, tidak ada mahasiswa yang tahu nomor pribadinya, lantas Sergio berpikir jika nomor itu milik salah satu keluarganya. Tanpa curiga, ia pun mengangkat telponnya dan menyapa, “Halo.” “Mas Ser!” sahutan cempreng bernada riang dengan panggilan khas yang sangat Sergio hafal membuatnya menjauhkan ponsel. “Nggak mungkin, dari mana cewek gila ini dapat nomorku?” Sergio menatap horor nomor asing di layar handphone yang ternyata berasal dari Jeha. “Halo! Mas Ser? Mas Ser pasti kaget ya aku tiba-tiba telpon?” Suara Jeha terdengar di telepon yang masih tersambung. Sergio menghela napas sambil mengusap wajah frustasi, sebelumnya Sergio sempat berpikir berada di rumah membuatnya tenang karena bebas dari gangguan si cewek gila ini, tapi kenapa?! Kenapa Jeha malah bisa tahu nomor ponselnya sehingga Sergio tidak yakin hidupnya bisa tenang lagi. BERSAMBUNG…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD