Hari Minggu

1567 Words
"ALYO BANGUN!" "ALYO UDAH SIANG NIH, AYO BANGUN!" "ALYO ANTERIN MAMA KE PASAR!" "MAMA TUNGGU DI BAWAH!" Samar-samar Alyo mendengar suara mamanya di balik pintu kamar, Alyo dengan enggan membuka mata, ia masih berada di dalam mimpi indahnya. "LIMA MENIT LAGI MA!" teriak Alyo masih menutup matanya. "DARITADI JAWABAN KAMU LIMA MENIT TERUS, AYO CEPAT MANDI!" suruh Fira berkacak pinggang di balik pintu. "Ah masih pagi juga, Mama!" ucap Alyo masih berada di alam bawah sadarnya. Mungkin matahari akan mendumel jika Alyo mengatakan sekarang masih pagi, nyatanya sekarang sudah hampir pukul 12 siang. Sinar matahari sudah masuk ke celah kamar Alyo, sinar cerah dan panas yang sudah berada di atas kepala. "Lagian lagi asik nih sama mimpi." ucap Alyo mengucek matanya. "Masa iya gue mimpi dansa bareng sama si Ayla adek gue? Malah menang jadi King pula tuh, ah aneh-aneh aja tuh mimpi." cerocos Alyo masih mengucek matanya. Jadi yang semalam itu hanya mimpi? Benarkah? Alyo turun dari kasurnya, namun ia seperti menginjak sesuatu, Alyo menoleh melihat apa yang ada di lantai. Alyo mengerutkan keningnya, di lantai ada pakaian yang berserakan persis seperti yang dipakainya dalam mimpi. Tunggu... Apa mungkin kemaren malam memang kenyataan? Alyo mengerjab-ngerjabkan matanya, siapa tahu ia salah lihat karena bangun tidur. Tetap saja, baju, jas, dan celana Alyo masih berserakan di lantai. Lalu Alyo mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Matanya menangkap ada mahkota di atas nakas. Berarti semua yang terjadi malam itu beneran? Bukan mimpi. Alyo memukul dahinya pelan, memang benar kemaren ia pergi bersama Ayla ke pesta prom, lalu mereka berdansa bersama, dan mendapatkan mahkota. Jadi, semua itu bukanlah mimpi! "Ah masa gue lupa momen bahagia itu sih." dengus Alyo. "ALYO KAMU UDAH MANDI? UDAH PAKAI BAJU? UDAH SIAP-SIAP?" tanya Fira datang lagi. Alyo menghela nafas pelan, dari semua pertanyaan mamanya jawaban darinya hanya satu yaitu, belum. "BELUM MA!" teriak Alyo. "KAMU GIMANA SIH? DARITADI MAMA BANGUNIN BELUM SIAP-SIAP JUGA, SEKARANG CEPETAN MANDI 15 MENIT LAGI MAMA TUNGGU DI BAWAH!" teriak Fira berang, Alyo tergesa-gesa berlari ke kamar mandi sebelum teriakan mamanya menghimbau semua warga berdemo ke rumahnya karena sakit kuping. Teriakan marah sang mama memang luar biasa. *** Tujuh belas menit kemudian Alyo turun ke bawah sebelum mamanya kembali berteriak di depan pintu kamarnya. "Pagi Mama cantik, ayo ke pasar, Ma!" ajak Alyo sok asik karena melihat mamanya yang sudah berkacak pinggang di ruang tamu. "Pagi pagi apaan, ini udah siang!" bantah Fira. "Iya Ma, ayo ke pasar Ma tadi desak-desakin Alyo." "Kamu itu udah telat 2 menit, Mama bilangnya 15 menit lagi turun ke bawah sekarang udah jam berapa ha?" Alyo menelan ludahnya susah payah, urusan tepat waktu dan kedisiplinan memang mamanya nomor satu. "Tapi Ma--" "Assalammualaikum Ma, ini belanjaannya tarok dimana?" potong suara yang memotong ucapan Alyo. Alyo menganga tak percaya melihat Ayla mengangkat karung goni dan kantong kresek besar di tangannya dengan santai. Kecil-kecil kuat juga tuh anak. Pikir Alyo. "Walaikumussalam sayang, makasih ya, kamu letakkin di dapur aja langsung." jawab Fira lembut. "Loh, tuh si Ayla udah belanja kenapa mama bangunin Alyo minta anterin ke pasar?" tanya Alyo masih heran. "Ya terserah mama dong, kalau mama gak bangunin ntar kamu gak bangun-bangun sampai sore." santai Fira santai, Alyo melengos. "Ah Mama!" "Lagian kamu tuh kalau hari Minggu itu bangunnya pagian dikit napa? Bantuin mama nyiram bunga, sekalian olahraga." omel Fira. "Tau ah, Alyo mau sambung tidur lagi." ucap Alyo melangkah kembali ke kamarnya. "Ish kamu, gak ada kerjaan lain apa?" "Nggak ada Ma, dunia nyata terasa kejam bagi Alyo, lebih baik di dalam mimpi saja." ucap Alyo mendrama. "Cis, ada-ada saja kamu." *** "Ma, Ayla ke rumah Kina dulu ya." pamit Ayla setelah mengantarkan belanjaan mamanya ke dapur. "Yaudah, jangan lama-lama ya nanti bantuin mama masak." "Oke siap Ma!" Ayla melangkah keluar rumahnya, namun di seberang rumahnya ada sosok yang sedang menatapnya garang, lidahnya diulurkan ke arah Ayla membuat gadis itu berteriak ketakutan. "AAAAA!" Ayla kembali masuk ke dalam rumahnya dengan nafas ngos-ngosan. Fira melihat Ayla ketakutan langsung menghampiri anak gadisnya. "Kenapa sayang? Kok teriak-teriak gitu?" "Di samping rumah Kina, ada anjing besar galak lagi Ma, mungkin punya tetangga baru." ucap Ayla mengatur nafasnya, ia sangat takut dengan anjing. "Oh iya Mama lupa kasih tau, kemaren Om Alan emang baru beli anjing baru karena anjingnya yang lama si Kimo udah mati." "Ah kalau si Kimo Ayla gak takut, anjingnya kecil, jinak, suaranya lembut lagi, lah ini besar kayak kingkong warna hitam, galak lagi." jelas Ayla. "Iya tapi anjingnya kan diikar sama Om Alan, jadi kamu gak usah takut, anjingnya gak akan bisa ngejar kamu kok." ujar Fira menenangkan Ayla. "Gamau, anjingnya galak liat mukanya aja Ayla takut." "Terus gimana ke rumah Kinanya?" tanya Fira. "Mama temenin Ayla dong!" ajak Ayla memohon. "Kamu minta temenin kakak kamu aja, mama juga takut sama anjing trauma pernah digigit." ucap Mamanya pula. "Ih ngeri banget sih Ma, yaudah Ayla minta temenin sama Kak Alyo aja." Fira mengangguk saja, lalu Ayla menaiki anak tangga menuju kamar Alyo, kebetulan pintu kamar itu tak terkunci. Ayla menatap Alyo yang kembali tidur, apakah pria itu masih belum puas tidur daritadi pagi? "Kak," panggil Ayla menarik kaki Alyo. Namun tak ada jawaban, Ayla kembali menarik kaki Alyo, tetap nihil. Ayla beralih memencet hidung Alyo menariknya dengan keras. "Awwh hidung mancung gue aww," pekik Alyo terbangun. "Ah akhirnya bangun juga lo kak," ujar Ayla santai. "Ah lo Ay, kalau hidung mancung gue jadi pesek emang lo mau tanggung jawab?" kesal Alyo mengusap-ngusap hidungnya. "Lebay amat sama tuh hidung," cibir Ayla. "Biarin, lo ngapain bangunin gue?" "Oh iya, temenin ke rumah Kina," rengek Ayla menarik tangan Alyo. "Lah biasanya juga lo pergi sendiri, kan dekat di depan rumah doang ah elah." "Ada anjing galak di samping rumah Kina, Ayla takut," rengek Ayla lagi semakin menarik-narik tangan Alyo tak peduli jika tangan Alyo putus nantinya. "Anjingnya gak galak kok, kemaren aja pas gue ketemu dia langsung sapa nah terbukti kalau ntuh anjing ramah," ucap Alyo santai. "Maksud lo, tuh anjing gonggongin lo? Ramah apanya!" "Daripada tuh anjing diam aja liat orang lewat berarti dia bisu kalau gak emang udah sombong dari lahir." Kenapa malah jadi ngomongin anjing? "Ah Kak Alyo bodo amat ah, pokoknya temenin Ayla ke rumah Kina, ayoo!" paksa Ayla. Alyo mengiyakan saja, ia langsung merangkul bahu adiknya lalu keluar kamar dan menuruni anak tangga. Rumah Kina dan rumah mereka berdua berhadap-hadapan hanya dibatasi oleh setapak jalan aspal. Ayla makin merapatkan badannya ke Alyo karena matanya bertemu dengan mata anjing galak milik tetangganya itu. Setelah sampai rumah Kina, Ayla mengetok pintu rumah itu tak lama kemudian Kina muncul dari balik pintu. "Eh lo Ay, ayo masuk," ajak Kina. "Iya Na." Alyo berpamitan kepada Ayla dan Kina kembali pulang ke rumahnya. "Kok pake dianterin sama kak Alyo segala sih?" tanya Kina heran. "Tuh, ada anjing baru Pak Alan galak banget." "Oh, ahaha iya iya." Kina menarik Ayla masuk ke dalam rumahnya, Kina hanya tinggal sendiri karena mama dan papanya sedang ada kerjaan di luar kota. Rencana, Ayla akan menginap menemani Kina malam ini. "Langsung ke kamar gue aja, yuk, sudah ada Tusa di dalam." "Iya." Lalu mereka berdua asik dalam dunia mereka, jika sudah berkumpul dengan pada sahabatnya maka yang dilakukan adalah bercerita, bergosip, dan bercanda ria tak akan ingat waktu lagi untuk pulang. *** Alyo mengiring bola basktet itu mendekati ring basket, lalu bola itu dilemparkan masuk ke dalam ranjang basket. Shoot! Akhirnya bola itu masuk dan jatuh ke bawah melalui ranjang. Kegiatan minggu ini diisi dengan main basket bersama teman-temannya oleh Alyo. Setelah 2 jam bermain, akhirnya mereka duduk beristirahat di tempat duduk yang disediakan untuk penonton. Alyo bermain basket di sekolahnya, mereka juga sekaian latihan untuk pertandingan minggu depan. Alyo menyelonjorkan kedua kakinya, rasa lelah terasa di sekujur badan Alyo. "Yo, nih air buat lo!" ucap Jaya memberikan sebotol air mineral yang tidak boleh disebutkan mereknya. "Makasih Jay." "Iye." Alyo langsung mengambil sebotol air yang disodorkan oleh Jaya, lalu ia memperhatikan botol mineral itu. Nih air mineral gak boleh disebutin mereknya, karena gue ganteng gue bakal sebutin inisialnya saja, air yang dikasuh Jaya berinisial AQUA! Ucap Alyo bermonolog sambil memutar-mutar botol itu, Jaya menatap heran dengan tingkah yang dilakukan Alyo. "Woy, ngapain lo mandang-mandang tuh botol? Lo kasih jampi-jampi ya?" tanya Jaya. "Iya." "Jampi-jampi apa?" tanya Jaya dengan polosnya, percaya dengan ucapan Alyo. "Gue kasih jampi-jampi, kalau yang minum air ini mukanya makin ganteng." Alyo lalu membuka penutupnya dan meneguk air itu sampai kandas. "Lo minum sampe habis? Lo haus atau kesurupan?" tanya Jaya takjub, bahkan air di dalam botolnya masih tersisa setengah. "Supaya kegantengan gue makin maksimal, makanya gue abisin." Jaya hanya melongo atas tingkah sahabatnya itu, Alyo memang sahabat yang beda. "Jay, gue cabut ya!" pamit Alyo namun Jaya tak menjawab ia masih melongo tak sadar jika Alyo sudah meninggalkannya. Apa benar air tadi membuat Alyo tambah ganteng? Itulah yang dipikirkan Jaya. *** Alyo langsung pulang ke rumahnya, hari sudah sore, matahari hampir tergelincir membuat langit ikut menggelap, tandanya akan datang waktu malam. Alyo membuka pintu rumahnya yang tak dikunci, di ruang keluarga ada Ayla yang tengah duduk menonton TV. Alyo langsung menghampiri Adiknya itu, jika tak mengganggu Ayla sehari saja Alyo tak akan tenang rasanya. "Lagi ngapain lo Ay?" tanya Alyo tak berbobot. "Lagi masak, gak liat gue lagi nonton!" jawab Ayla kesal. "Dih, galak bener, Neng!" goda Alyo namun Ayla tak menggubris, matanya masih fokus menonton. Lalu Alyo tersenyum jail, ia mendekati Ayla lalu menarik muka gadis itu ke dalam ketiaknya. Ayla meronta kesal ia berteriak minta dilepaskan. "IIIH KAK ALYO LO BELOM MANDI!" Merasa puas, Alyo melepaskan muka Ayla, pria itu tertawa lepas melihat muka Ayla yang memerah. "Ih bau tau gak," kesal Ayla memukul lengan Alyo. "Enak aja, gue kagak mandi seminggu tetap wangi kali, nih lo cium lagi nih." Alyo menyodorkan ketiaknya ke arah Ayla, gadis itu langsung menepis tangan Alyo. Ayla akui ketiak kakaknya itu masih wangi walaupun keringetan tapi tetap saja Ayla tak mau diketiakin apalagi Alyo belum mandi. "Gakmau, udah sana pergi, mandi dulu," suruh Ayla melemparkan bantal sofa ke arah Alyo. "Iya-iya." Lalu Alyo menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mandi, melihat muka kesal adiknya itu sudah menjadi hobi Alyo. *** Hai guys, jangan lupa tap lovenya ya Makasih yang udah mau baca ~Amalia Ulan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD