Ayla kembali sekolah seperti biasa ia berangkat bersama kakaknya, Alyo.
Ayla keluar dari mobil Alyo berjalan menuju kelasnya, setiap pagi Ayla selalu diantar oleh Alyo sampai ke kelas gadis itu, namun di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Angel.
"Hai Angel!" sapa Alyo ramah yang dibalas senyuman hangat Angel.
Ayla memutar bola matanya malas, melihat Angel tiba-tiba ia merasa badmood.
"Hai Ayla!" sapa Angel masih tersenyum, Ayla mengangkat bibirnya sebelah menampakkan jika ia tak suka melihat Angel.
"Kak, gue duluan." pamit Ayla namun tangannya ditahan oleh Alyo.
"Biar gue anter!" ucap Alyo.
"Gak usah, godain aja tuh cewek gak jelas terus." kesal Ayla.
"Oke." jawab Alyo tanpa beban, Alyo melepaskan tangan Ayla, gadis itu menghentakkan kakinya kesal, kenapa seolah-olah Angel lebih penting darinya? Ini tidak bisa dibiarkan.
Ayla memilih kembali berbalik berjalan sendiri menuju kelasnya, namun tiba-tiba Alyo sudah berada di depannya, berdiri di hadapan Ayla.
"Tapi, setelah gue nganterin lo ke kelas dengan aman." ucap Alyo mengedipkan sebelah matanya lalu mengacak-ngacak rambut Ayla.
Tingkah Alyo seperti inilah yang selalu diinginkan Ayla.
Ayla hanya tersenyum singkat, pipinya tiba-tiba memanas, semburat merah muncul di pipinya.
Alyo menarik Ayla, merangkul bahu adiknya dan kembali berjalan menuju kelas Ayla diikuti oleh Angel yang berjalan di belakang mereka berdua.
Setelah mengantarkan Ayla, Alyo berbalik menuju kelasnya yang berada di hadapan kelas Ayla terletak di lantai dua, Alyo menggandeng Angel untuk berjalan bersamanya.
Di kelas, Ayla masih memperhatikan Alyo dari dalam melihat kakaknya berjalan bersama cewek lain, ntah kenapa timbul perasaan tak rela dalam dirinya.
"Ay, lo lagi liatin apaansih?" tanya Tusa mengagetkan Ayla.
"Ng-gak ada kok." jawab Ayla menarik Tusa untuk duduk di bangkunya.
Alyo menarikkan kursi untuk Angel mempersilahkan gadis itu duduk, Angel tersenyum melihat perlakuan manis Alyo kepadanya.
"Makasih Alyo."
"Sama-sama."
Alyo memilih duduk di kursi sebelah Angel dahulu sembari menunggu guru masuk ke kelas.
"Nanti ke kantin bareng kuy!" ajak Alyo.
"Mmm sorry, gue gak ke kantin gue bawa bekal." jawab Angel tak enak.
"Oh oke, nanti gue beli makanan aja di kantin makannya di sini bareng lo." ucap Alyo lagi-lagi Angel tersenyum membalasnya.
Alyo suka melihat Angel tersenyum seperti itu, ntah kenapa sejak bertemu dengan Angel ia merasa sudah dekat dengan gadis manis itu.
Kedekatan Alyo dan Angel akhir-akhir ini, sukses membuat seseorang di dalam kelas itu mengerang kesal, ia tersenyum devil tahu langkah apa yang harus dilakukannya.
Bel pun berbunyi, Alyo segera pindah ke tempat duduknya, meninggalkan Angel yang memang duduk sendiri di belakang karena anak baru, tak lama kemudian guru mata pelajaran seni budaya pun masuk ke kelas Alyo untuk memulai pembelajaran.
"Selamat pagi murid-murid!" sapa Buk Gania itu dengan ceria.
"Pagi Buk!" jawab semua murid di dalam kelas.
"Ibuk mau kasih berita bahagia untuk kalian semua." ucap Buk Gania.
"Apa Buk?" tanya murid-murid penasaran.
"Mau tau?" tanya Buk Gania.
Oh ayolah Buk Gania terkenal dengan tingkah sok cantik dan centilnya, tak ingat dengan umurnya yang sudah berkepala 5.
"Iyaa." jawab sebagian murid dengan malas, ada yang tak menjawab karena memilih diam saja tak berkomentar.
"Mau tau aja atau mau tau bingit?" tanya Buk Gania dengan centilnya.
"GAK DIKASIH TAHU JUGA KAGAK MASALAH!" jawab semua murid kompak.
Nah beginilah jika semua murid di kelas ini sudah bosan dengan basa-basi Buk Gania.
Buk Gania mengerucutkan bibirnya kesal, bukannya terlihat imut malah seperti mulut bebek.
"Ish, untung Ibuk ini cantik dan baik hati, huh!" kesal Buk Gania memiringkan kepalanya ke samping.
"Besok adalah ulang tahun sekolah kita, nah malam besok ada acara promnight jadi, kalian semua diundang, boleh datang bawa pasangan tapi inget loh pacarannya jaga jarak, jangan malu-maluin nama sekolah kita, karena kepala sekolah lain juga diundang dalam pesta ini." jelas Buk Gania serius, semua murid bersorak senang, bahkan ada yang lompat-lompat dan akan naik ke atas meja, kapan lagi sekolah membuat acara seperti itu?
"Ingat, jaga nama baik sekolah kita!" tegas Buk Gania membuat semua murid kembali diam dan menurut patuh.
Buk Gania memang terlihat centil namun berbeda pada saat ia menerangkan pelajaran, ia akan berubah serius jika memang situasi sedang serius.
Bahkan penggaris panjang papan tulis tak akan kenal siapapun pasti bisa melayang jika ada yang bersalah. Buk Gania juga memiliki tingkat ketegasan tinggi.
Maka dari itu Buk Gania dijuluki Miss Centil Galak di sekolah ini.
"Buk, pakaiannya bebas kan?" tanya salah satu murid mengangkat tangannya.
"Yaiyalah masa yaiya dong, asalkan kalian gak pakai karung goni aja!"
Semua murid terbahak, namun kembali terdiam karena kilatan mata Buk Gania yang tajam menyuruh diam agar kelas tak rusuh.
"Baik, kita mulai belajar! Buka buku kalian bukan buka hatinya!" tegas Buk Gania.
"Tapi hati saya sudah terbuka untuk Ibuk!" ucap Alyo membuat Buk Gania merona malu.
"Aah Alyo, kamu bisa aja jangan buat ibuk melting deh, kalau ibuk terbang ntar jatoh emang kamu mau sambut apa?" Buk Gania masih tersenyum malu-malu.
Buk Gania sangat suka digoda oleh Alyo, muridnya yang satu itu selalu menarik perhatian Buk Gania, siapa sih yang tak tertarik dengan Alyo?
"Nggak lah Buk, ibuk kan berat, mana kuat saya!" jawab Alyo enteng.
"Ah kamu, yang berat kan rindu!" jawab Buk Gania semakin menjadi-jadi.
"Asalkan ibuk bahagia, saya mah ngalah aja!" ucap Alyo lagi yang membuat Buk Gania semakin menggigit bibirnya, bahagia jika digoda oleh Alyo.
"Sudah Alyo, urusan kita nanti aja di luar, sekarang kita mulai belajar!" ujar Buk Gania kembali serius.
***
Alyo berpikir keras siapa yang akan menjadi pasangannya pada acara prom besok?
Gebetan Alyo terlalu banyak, jadi ia pun pusing membawa yang mana ke acara prom.
"Yo, lo gak ke kantin?" tanya teman sebangku Alyo.
"Eh iya, ngagetin bae lo, Jay!" kaget Alyo menggeplak tanpa segan kepala Jaya, teman sebangkunya itu meringis pelan.
"Lo yang melamun aja daritadi, hayoloh ngelamunin apaan? Ingat kita masih anak sekolah jangan pikirin lobang mulu."
Takk
Alyo kembali melayangkan tangannya ke Jaya.
"Gila lo, siapa yang mikir kek gitu, ah dasar otak kadal lo!"
"Yee kali kali ajee."
"Gue lagi mikirin penyakit kanker kronis gue nih, yang gak sembuh-sembuh." ucap Alyo mendramatis.
"Emang lo sakit kanker apa? Kok guu gaktau!" kaget Jaya dibuat-buat.
"Sakit kanker ganteng kronis, semakin hari kegantengan gue semakin bertambah, heram gue!"
Plaakk...
Sekarang giliran Jaya yang menggeplak kepala Alyo.
"Kepedean lo, gantengan juga gue!" ucap Jaya sama saja dengan Alyo, sama-sama kepedean.
"Ah elah Jay, perbandingan muka ganteng gue sama lo tuh ibaratkan langit dengan kerat bumi, jadi harap bersabar yah!" ucap Alyo menepuk-nepuk bahu Jaya prihatin.
"Kutu Monyet lo!" umpat Jaya kesal.
***
"Lo kenapa gak makan di kantin?" tanya Ayla melihat Alyo membawa makanannya dari kantin.
"Gue mau makan bareng Angel di kelas." jawab Alyo.
"Ish, Angel lagi Angel lagi." desis Ayla tak suka.
"Lo kenapa Ay? Kok kayak gak suka gitu sama Angel?" tanya Tusa yang duduk di sebelah Ayla.
"Angel itu kan se--" ucapan Kina terpotong oleh Ayla yang memasukkan bakso ke dalam mulut gadis itu.
"Gue gak suka aja." potong Ayla.
"Ay, hampir keselek nih gue, kalau gue mati emang lo mau nguburin?" kesal Kina menatap tajam Ayla.
"Hehe, sorry Na!" Ayla memberikan kode kepada Kina supaya tutup mulut tak memberitahu Tusa.
Tib-tiba seorang pria datang dan berdiri di samping Ayla.
"Hai!" sapanya, Ayla menoleh singkat lalu tersenyum.
"Viki?"
"Syukur deh lo masih ingat sama gue!"
Ayla tersenyum lalu menyuruh Viki duduk di sampingnya.
"Nanti mau pulang bareng lagi?" tanya Viki.
"Makasih Vik, tapi gue pulang bareng kakak gue." tolak Ayla halus.
Viki mengangguk saja lalu tatapannya beralih ke Tusa, Viki mengedipkan matanya ke Tusa, gadis itu hanya memalingkan mukanya.
"Tus, lo kenal sama dia?" tanya Kina memperhatikan gerak-gerik Tusa dan Viki.
"Ay, gue duluan ya, see you!" Viki pamit memotong Tusa yang akan menjawab pertanyaan Kina.
"Gue pergi prom bareng siapa ya?" tanya Ayla menyeruput air minumannya.
"Bareng si Viki tuh aja." ucap Kina.
"Gue kan belum terlalu kenal sama dia, Na."
"Trus lo mau ngajak siapa lagi? Gue mah mau pergi bareng Kak Jaya." Kina tersenyum malu-malu.
"Lo udah jadian sama Kak Jaya?" tanya Tusa.
"Belum, masih PDKT hehe."
"Ayo guys kita ke kelas." ajak Ayla diangguki kedua sahabatnya.
***
Alyo makan bareng Angel di kelas. Angel tak bisa menolak karena Alyo juga tak menawarkan, ia langsung duduk saja di samping gadis itu lalu menyantap makanan.
"Lo suka bawa bekal?"
"Iya, daridulu gue selalu bawa bekal, karena bunda selalu nyiapin bekal gue."
"Btw, lo kenapa pindah ke sini? Dulu lo tinggal dimana?" tanya Alyo penasaran.
"Gue sebelumnya tinggal di Bali sama bunda gue, sekarang gue ke sini karena ada urusan keluarga di masa lalu." jawab Angel tanpa ragu.
"Bokap lo?" tanya Alyo ragu.
"Sudah meninggal sejak gue dalam kandungan."
"Maaf ya, Ngel. Gue gak tahu."
"Gapapa kok, santai aja."
Setelah selesai Angel membereskan tempat bekalnya lalu menyimpan di laci mejanya. Namun ada sesuatu di laci gadis itu, ia menemukan secarik kertas yang digulung panjang.
Angel membuka gulungan kertas itu dan membacanya tentu saja sudah tidak ada Alyo di sampingnya, karena pria itu sudah kembali ke tempat duduknya.
Jauhin Alyo, kalau gak lo akan tau akibatnya! Gue gak main-main.
Angel terkejut menatap kertas itu, sebuah ancaman dari seseorang misterius. Angel membeku di tempat, kenapa dia diteror seperti ini? Padahal Angel yakin jika ia tak pernah membuat masalah sejak pindah ke sini.