Ayla mencuci tangannya sebelum pulang sekolah, ia merapikan rambutnya menata agar keliatan rapi, namun di luar toilet terdengar suara bentakan.
"LO ITU GAK PANTES SAMA ALYO!"
"LO UDAH GUE PERINGATIN JAUH-JAUH DARI COWOK GUE!"
"SEKALI LAGI LO DEKETIN ALYO GUE AKAN BUAT LO NYESEL!"
Ayla mengerutkan keningnya mendengar suara itu, ia sedikit familiar dan sering mendengarnya.
Merasa penasaran, Ayla bergegas keluar toilet melihat kejadian di luar.
Benar saja ada anggota geng Tari yang sedang melabrak seseorang, sepertinya Ayla kenal orang yang jadi korban Tari kali ini.
"Hekhem!" dehem Ayla langsung menarik perhatian Tari bersama teman-temannya.
"Eh ada calon adek ipar, hai Ayla cantik!" sapa Tari berambut pendek dengan ceria, walaupun Ayla tahu kepura-pura baikannya.
"Angel?" kaget Ayla melihat kondisi Angel, rambutnya sudah berantakan oleh ulah Tari's Squad.
Angel yang tadinya menunduk segera menoleh ke arah Ayla, bibirnya masih menyunggingkan senyuman kecil ke arah Ayla.
"Ayla." panggil Angel pelan.
"Tolong gue." rintih Angel pelan, pipinya sudah memanas karena tamparan keras Tari.
Ayla merasa kasihan, Tari memang tidak mempunyai hati, ia dibutakan karena terobsesi sekali dengan Alyo. Tari akan melakukan apa saja demi bisa dekat dengan Alyo walaupun pria itu sudah menolaknya berkali-kali.
"Lo kenal sama dia Ayla?" tanya Tari, namun Ayla hanya diam menatap Angel yang kesakitan.
Tiba-tiba bayangan tentang Angel di masa lalu membuat Ayla meragukan niatnya, ia memalingkan wajahnya dari Angel dengan berat hati melangkahkan kaki meninggalkan Angel bersama geng Tari.
"Gue gak kenal!" ucap Ayla dingin kepada Tari sebelum meninggalkan tempat itu.
Ayla berlari menyusuri lorong sekolahnya ntah kenapa perasaan Ayla menjadi tak enak hati meninggalkan Angel bersama Tari tadi, Ayla yakin Tari tak akan berhenti menghajar mangsanya sampai ia puas.
"Gue jahat atau baik?" Ayla menggigit ibu jarinya cemas.
"Lo jahat banget Ay!" ucap Ayla menyalahkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba Hp Ayla berdering, Alyo menelponnya, Ayla segera mengangkatnya.
"Hallo."
"Lo dimana, Ay? Gue udah lama nih nungguin lo."
"Iya iya bentar lagi, gue masih ada urusan, tungguin napah."
"Ay gue udah hampir set--"
Ayla segera mematikan telponnya sepihak, Ayla segera berlari kembali lagi ke toilet.
Mata Ayla membulat sempurna melihat Angel yang tergeletak tak sadarkan diri di depan toilet, Tari bersama gengnya sudah tidak ada lagi.
"Ngel, Ngel bangun Ngel!" panik Ayla menepuk-nepuk pipi gadis itu.
"Aduh ini salah gue, kenapa gue gak nolongin dia tadi." rutuk Ayla menyesali keegoisannya.
Ayla kembali menepuk-nepuk pipi Angel berharap gadis itu membuka matanya, namun mata Angel masih tertutup rapat.
Drrtt... drtttt
Alyo kembali menelpon Ayla, tanpa pikir panjang Ayla segera memencet tombol hijau, menjawab panggilannya.
"KAK SEKARANG KE TOILET CEPETAN GAK PAKAI BA-BI-BU-BE-BO GUE TUNGGU SEKARANG, CEPATTTT!" teriak Ayla menggas lalu Ayla langsung mematikan telponnya tanpa menunggu jawaban Alyo.
"Angel maaffin gue." isak Ayla, air mata gadis itu mengalir dari sudut matanya.
Beberapa menit kemudian Alyo datang dengan seribu langkahnya, ia khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Ayla.
"AY, AY LO GAPAPA KAN? HIDUNG LO MASIH ADA KAN? LO GAK LECET KAN? SIAPA YANG JAHAT SAMA LO SINI GUE REBUS OTAK SAMA BENAKNYA, BILANG SIAPA!" teriak Alyo setelah sampai di depan toilet tanpa melihat sekitar, ia masih dengan kepanikannya.
"Ish, gue baik-baik aja, ini si Angel pingsan." ucap Ayla mendesis pelan melihat kelebayan kakaknya itu.
"Hah Angel kok bisa pingsan gini? Abis lo cakar apa gigit?" tanya Alyo, Ayla memutar bola matanya.
"Emang gue kambing? Udah cepet bantuin bawa ke mobil kita ke rumah sakit."
"Kambing? Emang kambing bisa nyakar? Palingan cuma bisa nyubit." ucap Alyo dengan tampang oonnya membayangkan kambing bisa msncakar.
"KAK ALYO CEPETAN!"
Alyo tersentak akibat teriakan Ayla. Tidak ada yang bisa mengalahkan volume suara gadis itu, mungkin Ayla mempunyai pita suara ganda.
"Iya-iya."
Lalu Alyo mengangkat badan Angel membawanya ke parkiran, ntah kenapa perasaan Ayla menjadi tak karuan lagi ketika melihat Alyo menggendong cewek lain.
Apakah dia cemburu?
***
Ayla memutar bola matanya malas melihat Alyo yang sangat perhatian kepada Angel.
Gadis itu sudah berada di rumahnya, setelah di rumah sakit Angel diperbolehkan pulang langsung dan Alyo bersama Ayla mengantarkan Angel ke rumah gadis itu.
Sekarang Alyo sedang menyuapkan makanan ke mulut Angel, dokter tadi bilang badan Angel sangat lemah dan mentalnya masih kaget akibat pembullyan Tari tadi.
"Makasih ya Ay, Alyo, udah nolongin gue." lirih Angel pelan, bibirnya masih mengembangkan senyuman khasnya.
"Sama-sama manis." jawab Alyo tersenyum pula.
Ayla tak menjawab, ia malah memalingkan mukanya karena tak suka melihat Alyo berdekatan dengan Angel.
"Kak, pulang yuk." ajak Ayla karena sejak tadi mereka belum pulang ke rumah.
"Bentar Ay, tungguin sampai nyokap si Angel datang, kasian dia sendiri di rumah."
"Yaudah gue mau pulang sendiri aja." kesal Ayla.
"Jangan gitu Ay, kasian si Angel ditinggal sendiri." bujuk Alyo.
"Udah gapapa Alyo, gue gapapa kok tinggal sendiri." ucap Angel menengahi.
"Nah tuh gapapa ya kan, jangan manja jadi cewek. Udah ah Kak ayo pulang ntar mama nyariin." paksa Ayla menarik tangan Alyo.
"10 menit lagi aja, please." mohon Alyo karena tak tega meninggalkan Angel sendiri.
"Yaudah kalau gakmau, gue pulang sendiri aja." Ayla dengan kesal melangkahkan kakinya keluar kamar Angel, sudah cukup Alyo menemani Angel, menyuapkan gadis itu makan, menghibur, dan malah mencuekkannya sejak tadi.
Ayla merasa terbakar berada di dekat mereka berdua, ia seolah-olah menjadi nyamuk yang harus dibasmi secepatnya.
Ayla keluar dari rumah Angel berharap ada Taxi yang lewat karena kebetulan rumah Angel berada di pinggir jalan raya.
Lihat, bahkan Alyo tak menyusulnya, pria itu tak lagi memperdulikan Ayla.
"Ish Kak Alyo jahat!" kesal Ayla menghentakkan kakinya kesal.
"Mana mau hujan lagi." dengus Ayla melihat awan yang sudah menghitam pertanda akan hujan lebat.
Dan benar saja, rintik-rintik hujan turun membasahi bumi, orang-orang di pinggir jalan berlarian mencari tempat berteduh, Ayla kembali ke teras rumah Angel.
"Ish kok kak Alyo nyebelin sih, dia bener-bener gak peduli lagi sama gue? Ish tega banget! Gue kutuk jadi tambah ganteng lo, Kak!"
"Eh gue kutuk jadi jelek aja, kalau tambah ganteng ntar banyak yang suka, dia makin gak peduliin gue lagi!" rutuk Ayla masih mengomeli Alyo.
Hujan turun semakin deras, gemuruh mulai bersahut-sahutan, Ayla sangat takut mendengar petir mudah-mudahan saja petir tak menyambar sekarang.
DDUAARR
Baru saja Ayla memikirkanny a petir besar langsung menyambar.
"AAAA!" teriak Ayla menutup telinganya, bibirnya langsung bergetar karena ketakutan, jantungnya berdetak sangat cepat.
"Gue takut!" lirih Ayla memeluk dirinya sendiri, Ayla bisa saja kembali masuk ke rumah Angel, namun gengsinya terlalu besar jika kembali masuk.
Ayla harus segera pulang, ia tak ingin terus menerus menunggu hujan sampai reda di sini, Ayla nekat untuk menerobos hujan menuju jalan raya mencari tumpangan untuk pulang ke rumahnya.
Hujan sudah membasahi seluruh badan Ayla, suhu dingin langsung menusuk tulang Ayla, badannya bergetar kedinginan.
DDUAAR
Petir besar kembali menyambar, Ayla memekik ketakutan, tanpa pikir panjang Ayla segera berbalik dan memeluk badan seseorang yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Ayla memeluk badan pria itu membenamkan dadanya ke d**a bidang itu, Ayla tak memikirkan apa-apa lagi ia sangat ketakukan, sejak kecil Ayla memang takut dengan petir.
"Lo ngapain hujan-hujanan begini?" tanya orang yang dipeluk Ayla, gadis itu segera menoleh melihat siapa orang yang dipeluknya sekarang.
Ayla tersenyum lega ternyata yang sejak tadi dipeluknya bukan orang lain, ia berada di pelukan orang yang tepat.
Orang itu adalah Alyo, kakaknya.
Alyo membuka jacket yang membaluti badannya, lalu menutupi badan Ayla agar tak kedinginan walaupun badan Ayla sudah menggigil sejak tadi.
Alyo menutupi kepala Ayla dan menuntun gadis itu masuk ke dalam mobil.
Menjalankan mobilnya menuju rumah.
***
Setiba di rumah, Alyo segera mengangkat badan Ayla lalu menggendong adiknya itu menuju kamar. Ayla tertidur di dalam mobil Alyo, maka dari itu Alyo tak tega membangunkan Ayla memilih menggendongnya sampai ke kamar.
"Bik, tolong gantiin baju Ayla, dia kehujanan tadi." ucap Alyo setelah membaringkan Ayla di ranjang.
"Baik, Den!"
Jika waktu kecil, Alyo masih bisa menggantikan baju Ayla, tapi sekarang? Itu tidak mungkin karena keduanya sudah beranjak dewasa.
Sembari menunggu Ayla yang diurus Bik Atun, Alyo memilih ke kamarnya, ia akan mandi supaya lebih segar.
Setelah selesai, Alyo kembali ke kamar Ayla, ia akan mengecek kondisi adiknya itu, pasalnya Ayla tak bisa hujan-hujanan.
Dulu, waktu kecil Alyo diam-diam mengajak Ayla keluar mandi hujan bersama tanpa sepengetahuan orang tua mereka.
Alyo dan Ayla berlarian, menari dan kejar-kejaran menikmati hujan yang membasahi badan mereka. Keduanya sangat bahagia, sambil tertawa cekikikan tak memikirkan jika orang tua mereka akan marah nantinya.
Akhirnya, mereka ketahuan hujan-hujanan sehingga membuat Ayla sakit, Alyo kena marah oleh papanya karena sudah mengajak Ayla main hujan.
Alyo menyelimuti badan Ayla supaya menghangatkan badan gadis itu, Alyo menaruh tangannya di kening Ayla, rasa panas langsung menyambut, ternyata Ayla demam.
Alyo mengambil baskom dengan air, lalu meremas saputangan meletakkan di atas dahi Ayla, mengompresnya.
"Selamat tidur Ay, cepat sembuh ya." ucap Alyo mengusap kepala Ayla pelan, lalu pria itu keluar kembali ke kamarnya.
Ayla membuka matanya, menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup, di keningnya masih ada saputangan. Ayla tahu, ia tak benar-benar tidur.
Ayla ingin melihat perhatian Alyo lagi, ternyata masih sama, Alyo masih peduli dengannya dan akan seperti itu selamanya.
Ayla tersenyum lalu menutup kembali matanya, membayangkan ia dan Alyo bisa bersama, selamanya.
***
Hai Guys!!!
Semoga suka ya, jangan lupa tinggalkan jejaknya abiss baca
Makasih yang udah mau baca.
Thanks
~Amalia Ulan