Malam Hari.
Arka merenggangkan otot ototnya yang kaku karena duduk terlalu lama di dalam pesawat.
Tujuh jam mengudara dengan satu kali transit bukanlah waktu yang singkat. Dan itu membuatnya lelah sampai tubuhnya kebas dan kesemutan.
Tidak hanya itu, penampilannya juga lusuh dan berantakan. Pakaiannya kusut, rambutnya acak-acakan, wajahnya kusam khas bangun tidur.
Namun, meski dengan penampilan seperti itu sekalipun, Arka masih sama. Tidak ada yang berubah. Sama sekali tidak menghilangkan ketampanan yang Arka miliki. Kharisma serta wibawanya tetap melekat erat padanya yang kemudian menjadi pendampingnya sehari hari.
Radit mengangkat tangannya setelah melihat kedatangan Arka. Sepulangnya dia dari menjemput Casey dan mengantar gadis itu ke kediaman, dia segera pergi ke bandara untuk menjemput Arka. Tamu kehormatan yang paling Aruna tunggu.
Radit mencoba memberitahu menggunakan kode kalau bukan Aruna yang datang menjemput, melainkan dirinya.
Sebenarnya, Aruna sudah berencana menjemput Arka secara pribadi. Namun, rencana awal tidak terealisasi dengan baik, mendadak ada rapat virtual yang mengharuskan Aruna untuk ikut serta sampai akhirnya mereka berakhir dengan menggunakan opsi B atau rencana cadangan.
Arka tidak mempersulit, siapa yang datang menjemput, dia sama sekali tidak mempermasalahkan. Dia tau kalau kakak perempuannya sangat sibuk mengurus pemindahan aset, oh bukan! Maksudnya adalah pertukaran perusahaan dengannya. Jadi, dia bisa memaklumi itu.
Bagaimanapun, Aruna memang sudah di cetak sedari kecil untuk menjadi seorang penerus perusahaan. Lebih tepatnya adalah seorang Presdir yang harus menaungi beberapa anak perusahaan di bawah kendalinya.
Tidak mengherankan kalau Aruna memiliki jiwa kuat dan tahan banting yang memang sudah di asah langsung dalam pengawasan Opa. Jadi secara keseluruhan, kerja bagus.
Radit membungkukkan badan setelah Arka tiba di depannya. "Maaf Tuan, Nona Aruna sedang melangsungkan rapat virtual dengan klien, jadi dia meminta saya untuk menjemput anda." Radit menjelaskan sebelum Arka bertanya meski itu sangat mustahil. Dia yakin Arka tidak akan menanyakan apapun tentang Aruna, sangat yakin.
Arka mengibaskan tangan. "Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku tau dia sangat sibuk." Arka tidak menyindir. Sama sekali tidak. Dia hanya mengatakan yang sebenarnya. Kakak perempuannya selalu sibuk adalah sebuah realita. Jadi dia tidak akan mempermasalahkan itu.
Radit mengangguk.
"Tolong bawakan koperku." Arka menyerahkan kopernya pada Radit. Hanya koper kecil karena kebetulan Aruna sudah mempersiapkan segala yang dia butuhkan selama berada di sini. Jadi, dia merasa tidak perlu membawa banyak barang lagi.
Radit menerima koper milik Arka dan dia segera mengikuti Arka keluar dari Bandara melalui pintu masuk Bandara.
Mobil sudah siap.
Arka segera masuk dan mendudukkan diri di belakang setelah Radit membuka pintu mobil untuknya. Dia memasang sabuk pengaman kemudian dia memasang earphone dan mendengarkan musik pop milik salah satu penyanyi mancanegara yang belakangan sangat sering dia dengarkan.
Radit berjalan memutar. Setelah itu dia membuka pintu mobil lalu dia mendudukkan diri di balik kemudi. "Kita akan menuju kediaman utama keluarga Reynand." Radit berkata sembari melihat Arka melalui spion.
Arka mengangguk perlahan. Meski telinganya tersumbat earphone, tapi dia masih bisa mendengar suara Radit dengan sangat jelas.
Radit melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman utama keluarga Reynand. Setelah dia mengantar Arka hari ini, maka tugasnya sudah selesai. Dia bisa kembali ke Apartemen dan beristirahat.
Arka melihat keluar jendela setelah Radit melajukan mobilnya di jalan raya. Bola matanya fokus menikmati keindahan langit Manila yang sudah lama tidak dia lihat.
Kapan terakhir kali dia ke sini?
Entahlah.
Rasanya sudah sangat lama.
Kenyataannya, itu memang sudah sangat lama sejak dia dan Aruna bisa mengunjungi tempat yang sama di luar negeri. Sekarang dia ada di sini karena Aruna ada maunya, bukan karena liburan atau apapun itu. Kalau tidak, tidak mungkin Aruna memperlakukannya dengan sangat serius.
Tsk tsk tsk. Sangat menggelikan. Namun, Arka mencoba tidak peduli.
Hiruk pikuk Kota ini sangat terasa. Semua teramat nyata saat jalanan begitu padat dan ramai. Lalu lalang kendaraan serta pejalan kaki membuktikan kalau kehidupan malam di sini, sedang naik daun. Menjadi trend manakala beberapa kios di pinggir jalan juga ramai oleh pengunjung.
Arka tersenyum simpul. Sampai detik ini, dia bahkan masih tidak percaya kalau Aruna memiliki keinginan untuk mengakuisasi RC Construction Jakarta dan menyerahkan RC Manila kepadanya sebagai bentuk pertukaran yang adil dan berimbang.
"Heh." Arka terkekeh. Benar benar konyol. Wanita itu akan memimpin RC Construction dengan Radit sebagai asistennya. Dia tentu tidak meragukan. Dia justru mengakui kalau sepak terjang Aruna di dunia bisnis memang mumpuni dan menjanjikan keberhasilan. Berbanding terbalik dengan dirinya. Dia adalah orang yang santai dan tenang. Dia tidak ingin berebut kekuasaan atau mempermasalahkan tentang perusahaan mana yang ingin dia kuasai.
Arka bukanlah seseorang yang ambisius, gila harta ataupun gila uang. Namun karena Aruna adalah saudaranya, maka sebagai saudara yang baik, tentunya dia akan membantu Aruna sampai wanita itu mendapatkan posisi yang di inginkan. Lagi pula, entah siapa yang memimpin perusahaan yang mana, sebagai anak terakhir, Arka tetap mendapat suntikan dana dari Kakak-kakaknya yang perhatian dan royal terlepas dari apakah mereka ikhlas atau tidak memberikannya.
Hanya satu yang masih mengganjal dalam otak kecil Arka, yaitu.. motif apa yang Aruna sembunyikan sampai gigih ingin beralih perusahaan?
Apakah ini karena seorang pria?
"Sudah sampai, Tuan."
Suara Radit membangunkan Arka dari lamunannya. Lamunan panjang yang semakin di pikir, semakin terasa rumit.
Arka melepas earphonenya sembari menatap Radit lekat selama beberapa detik. Radit merupakan salah satu orang kepercayaan Aruna yang merupakan sahabat baik Aruna sekaligus pria yang di tugaskan untuk menjaga Aruna atas instruksi langsung dari Opa.
Selain tampan, Radit juga masih muda, energik, cerdas dan sangat cocok kalau bersanding dengan Aruna sebagai bos dan asisten. Namun, Arka tau lebih dari siapapun kalau Radit menyimpan sebongkah perasaan rumit untuk kakaknya perempuannya. Perasaan itu semacam mencintai dalam diam atau mencintai dari jauh.
Arka mengangguk. "Kamu pulang dan tidurlah lebih awal." Arka memberi instruksi agar Radit cukup mengantarnya sampai di sini dan pria itu boleh pergi sekarang.
"Baiklah. Terima kasih, Tuan." Jawab Radit. "Kalau ada sesuatu yang di butuhkan, jangan lupa hubungi saya."
"Mm." Arka membuka pintu mobil dan segera turun sembari menyeret kopernya menuju beranda rumah. Seingatnya, di rumah ini hanya ada satu penjaga keamanan dan beberapa Bibi yang bertugas membersihkan rumah setiap jam sepuluh pagi di setiap harinya. Setelah selesai, para Bibi itu akan segera pergi dan mereka mendapatkan bayaran pada tanggal muda di setiap bulannya. Jadi, tidak heran kalau rumah mewah ini terasa sepi seolah penghuninya adalah makhluk astral yang keberadaannya tidak terdeteksi.
Arka membuka pintu dan dia segera masuk ke dalam rumah.
Mengawasi sekeliling, meski keadaan rumah sangat bersih, namun sebagian pengisinya adalah kesunyian. Pertanda kalau Aruna tidak tinggal di sini. Pertanda kalau Aruna menyingkir selama beberapa hari ketika dirinya menginap di sini. Pertanda kalau seharusnya Aruna sudah menyiapkan apa yang dia mau.
Baguslah kalau wanita itu cukup sadar diri.
Arka berjalan ke arah tangga dan dia mulai menapak satu persatu anak tangga yang akan mengantarkannya pada lantai dua dimana kamar tidurnya berada.
Sampai pada anak tangga terakhir, Arka berjalan menuju sebuah pintu yang posisinya ada di sebelah kiri tangga. Dia mengulurkan tangan untuk meraih gagang pintu. Setelah teraih, dia segera memutarnya.
Ceklek.
Arka bergegas masuk setelah pintu berhasil di buka. Namun, dia sangat terkejut sampai jiwanya nyaris menghilang saat melihat seorang gadis berambut pirang sedang duduk di atas ranjang.
Arka mengawasi sosok gadis itu dengan seksama dari ujung kaki sampai ujung kepala. Gadis itu mengenakan mini dress warna merah cerah berbelahan d**a rendah. Rambut gadis itu berwarna pirang dengan bola mata berwarna biru. Postur gadis itu tinggi dan bentuk tubuhnya sangat proporsional. Kulit tubuhnya berwarna putih dan dia pikir, mungkin gadis itu perpaduan antara barat dan Tionghoa. Hanya saja, mata gadis itu tidak sipit seperti kebanyakan Tionghoa yang sering dia lihat.
Dengan sekali lihat, Arka bisa menyimpulkan kalau gadis itu adalah gadis perawan yang sudah Aruna siapkan. Namun, penampilan dewasa gadis itu tampak sangat di paksakan. Membuatnya justru terlihat aneh karena tidak sesuai dengan usia gadis itu yang mungkin baru dua puluhan.
Casey menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka.
Melihat siapa yang datang, Casey terpaku.
Berdiri di sana adalah sesosok pria muda, berpostur tinggi, berbadan tegap, berwajah tampan yang mengenakan pakaian casual berupa celana jeans panjang warna hitam dan kaos longgar warna senada dengan koper di tangannya.
Siapa pria itu?
Kenapa yang datang justru pria setampan ini?
Kemana Tuan Reynand, pria tua yang harus dia temani?
Casey menatap lekat tanpa kedip. Atau.. apa pria itu adalah pria yang harus dia temani?
Setelah kembali ke akal sehatnya, Casey berdiri. Meski dia masih kehilangan semua kata-katanya namun dia memaksakan diri untuk berjalan menghampiri Arka dengan langkah pelan.
Casey mengulurkan tangan. "Aku Caca." Casey memperkenalkan diri sebagai Caca. Tidak lupa dia menyisipkan senyum lembut di akhir kalimatnya.
Arka membalas uluran tangan Casey. "Arka." Arka juga memperkenalkan dirinya. Namun, dia memilih untuk menggunakan nama aslinya tanpa penyamaran. Bukan tanpa alasan, dia hanya tidak ingin menyembunyikan identitasnya. Selain mereka hanya akan bersama selama tujuh hari, setelah lewat masa itu, mereka tidak akan bertemu lagi. Jadi, dia merasa tidak perlu memalsukan identitasnya.
Arka mengawasi Casey dengan seksama. Tidak hanya cantik, tapi gadis itu juga polos dan tampak pemalu. Berbanding terbalik dengan penampilannya yang menunjukkan seolah Casey adalah w************n yang sering menjajakan tubuh tanpa rasa malu. Casey berbeda. Jadi, meskipun Casey mengenakan pakaian seperti jalang, itu tetap tidak merubah apapun. Tidak bisa menghilangkan aura polos yang melekat pada diri gadis itu. Pertanda kalau gadis itu adalah gadis baik baik, bukan gadis nakal yang berasal dari lingkup dunia malam. Mungkin? Itu hanya pemikiran yang datang dari sudut pandangnya meski dia berharap semoga saja itu benar.
Casey menarik tangannya lagi. Sekarang dia tidak tau harus bagaimana. Apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus merayu pria itu?
Melihat Casey menarik tangan dengan cepat, Arka mengulas senyum tipis. "Tidak perlu takut, aku tidak akan memakanmu. Setidaknya tidak hari ini."
Casey tersenyum canggung. Sebenarnya sangat wajar kalau dia merasa takut. Merupakan pengalaman pertamanya bersama seorang pria di dalam sebuah ruang yang merupakan kamar tidur. Membuat rasa takut kembali menyerang apa lagi Arka seperti menyimpan maksud lain di balik kata kata yang terlontar.
"Apa kamu lelah?" Casey menunjuk ranjang. "Kamu ingin istirahat?"
Arka melepas pakaiannya. "Apakah itu sebuah kode?" Arka menyampirkan pakaiannya di bahu, membuatnya bertelanjang da-da memperlihatkan tubuh sixpack kebanggaannya.
Casey tersentak. Kode? Kode apa yang Arka maksud?
"Apa kamu sudah tidak sabar untuk tidur bersama?" Arka memperjelas ucapannya.
"Tidak!" Casey menggelengkan kepala dengan cepat. "Bukan itu. Maksudku, kamu bisa menggunakan ranjang kalau kamu lelah." Maksudnya adalah tidur, bukan tidur bersama.
Arka tertawa. Ekspresi gugup yang Casey tunjukkan membuat gadis itu tampak semakin lucu.
Casey mengerutkan kening. "Kenapa kamu tertawa?" Casey tidak tau apa yang sedang Arka tertawakan. Namun harus dia akui kalau tawa pria itu, menambah ketampanannya sampai berkali-kali lipat.
"Tidak ada. Aku akan mandi terlebih dulu." Selesai berkata, Arka masuk ke kamar mandi dan dia mengunci pintunya dari dalam.
"Fiuh." Casey menghela nafas panjang setelah pria itu hilang dari pandangannya. Memang, sangat sulit membedakan antara terkutuk atau beruntung.
Mungkin apa yang Casey lakukan memang terkutuk. Namun, saat dia menyadari kalau kliennya masih muda dan tampan, dia harus mengakui kalau dia cukup beruntung. Tidak, tapi sangat beruntung.
Casey meraih koper yang Arka bawa. Setelah itu dia membukanya dan dia mulai memindahkan satu persatu pakaian milik Arka ke dalam lemari. Tidak lupa dia menyisakan sepotong baju dan celana yang bisa Arka kenakan setelah pria itu keluar dari kamar mandi.
Selesai, Casey menyimpan kopernya di dalam lemari pada bagian bawah. Dia menyalakan televisi dan dia mendudukkan diri di atas ranjang.
Meski televisi menyala menampilkan sebuah drama kolosal China, namun otak Casey tidak berada untuk mencerna tayangan itu. Dia justru sedang berpikir keras.
Aksen bahasa Indonesia fasih yang Arka gunakan, menunjukkan kalau tebakannya sedari awal adalah benar. Pria yang harus dia layani, pria yang harus dia tiduri, memang masih satu rumpun dan masih satu tanah air dengannya.
Meski sedikit resah, namun sebagai mahasiswa psikologi di sebuah Universitas ternama Jakarta, dia di tuntut untuk memiliki pola pikir yang terbuka dan luas.
Itu sebabnya dia mencoba untuk membuka diri dengan pemikiran bahwa setelah perjanjian ini usai, mereka tidak akan bertemu lagi. Mereka tidak akan saling mengenal dan mereka akan menjadi asing satu sama lain.
Di tambah, luas negara Indonesia sendiri adalah satu koma sembilan juta kilometer persegi dengan kepadatan penduduk sebanyak seratus empat puluh satu jiwa per kilometer persegi. Sedangkan jumlah penduduknya sendiri sekitar seratus tujuh puluh koma dua puluh juta jiwa pada tahun dua ribu dua puluh, dan laju pertumbuhannya sendiri sebesar satu koma dua puluh lima persen. Jadi, mustahil untuk Casey bertemu dengan Arka kalaupun mereka kembali ke Tanah Air setelah semuanya usai.