Benar kata Bonar Patar. Seorang pria tinggi, berperawakan kekar, berwajah tampan, berpakaian rapi dengan aura dingin serta tatapan tajam, datang menjemput Casey setengah jam kemudian.
Casey mengikuti pria itu tanpa ragu. Sedangkan Bonar Patar kembali ke Indonesia. Tugas pria gi-la itu sudah sepenuhnya selesai, dan sekarang gilirannya untuk memulai pekerjaannya.
"Semangat untuk dua ratus lima puluh juta." Casey berkata di dalam hati. Dia hanya mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri agar tidak goyah. Meski sejujurnya, motivasi apapun tidak pernah masuk ke otaknya selama itu merupakan motifasi untuk menuju kehancuran.
Radit membuka pintu mobil agar Casey masuk dan duduk pada kursi bagian belakang. Setelah itu dia berjalan memutar, membuka pintu untuk dirinya sendiri, lalu dia mendudukkan diri di balik kemudi.
Casey duduk dengan patuh sembari mengawasi Radit lekat. Di lihat secara penampilan, pria itu memang tampan dan masih muda. Namun pria itu seperti batu es yang tidak bisa di cairkan. Pembawaannya seperti pria terhormat yang memiliki pendidikan tinggi dengan attitude yang maha baik. Menunjukkan bahwa Radit mungkin adalah tangan kanan dari orang yang membayarnya.
"Perkenalkan, saya Radit. Saya adalah asisten pribadi Nona Reynand." Radit memperkenalkan diri sebelum menyalakan mesin mobilnya. Suaranya datar, pembawaannya dingin, auranya kejam seolah dia bisa membunuh hanya dengan sebuah tatapan.
Casey tersentak. Bukan suara dingin yang membuatnya takut, namun bahasa Indonesia fasih dengan aksen kental yang membuatnya menyadari satu hal, yaitu.. apa kliennya berasal dari Indonesia?
O.. o.. Casey memutar bola matanya. Semua ini.. benar benar sulit di percaya.
Transaksi yang terjadi dengan tempat yang sudah di tetapkan di Manila, Filipina, dia pikir orang yang harus menghabiskan tujuh malam dengannya adalah orang berkebangsaan asing. Tapi apa kabar kalau ternyata orang itu adalah orang yang masih satu rumpun, masih satu bahasa, masih satu tanah air, dan masih satu kepercayaan dengan dirinya?
Astaga.
Semua itu sungguh tidak terbersit dalam benak Casey. Itu pula yang membuatnya harus lebih berhati-hati karena orang orang seperti itu adalah jenis orang kaya yang tidak boleh di singgung karena mereka adalah Tuan muda dari kalangan konglomerat. Dan mereka memiliki semacam otoritas yang sudah di garis bawahi secara tegas yang memisahkan antara pimpinan dan bawahan, yang memisahkan antara ras dan suku, yang memisahkan betapa banyak perbedaan antara si kaya dan si miskin.
Begitulah cara mereka bekerja. Dan sepertinya Casey harus berhati hati selama di sini. Dia tidak boleh berbuat ulah dengan orang orang seperti itu. Dan dia juga tidak di izinkan untuk menyinggung Nona Reynand atau siapapun itu.
Anggap saja itu sebagai pantangan yang akan terkena kutukan atau kesialan kalau Casey sampai melanggarnya. Memberikan tantangan tersendiri agar dia menjadi lebih berhati-hati.
"Jangan terlalu tegang, Nona." Radit menatap Casey dengan tatapan yang tidak setajam sebelumnya. Dia cukup sadar diri untuk tidak membuat Casey takut atau membuat Casey merasa tidak nyaman dengan dirinya
Radit menyalakan mesin mobil, lalu dia melajukannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan Manila. Bola matanya fokus menatap jalan beraspal di depannya. Sedangkan tangan kekarnya sibuk memegang stir.
Casey mengulas senyum tipis. Sebenarnya dia tidak begitu tegang, dia hanya sedang berpikir keras karena semua terasa sangat tabu. Nona Reynand, bukankah itu artinya kalau Nona Reynand adalah seorang wanita? Membuat dia tidak tau bagaimana harus bersikap, membuat nyalinya ciut saat menghadapi situasi semacam ini.
Satu hal yang sangat mengganjal di otak kecil Casey,, yaitu.. apa mungkin dia akan mempunyai klien seorang wanita?
Bukan hal yang mustahil, bukan?
Seorang wanita? Aih.
Casey membayangkan betapa anehnya hubungan antara wanita dan wanita. Sementara dia sendiri tidak tahu menahu tentang hal itu. Tentang bagaimana cara mereka memuaskan diri, tentang bagaimana cara mereka berhubungan se-ks, tentang bagaimana cara mereka.. aish.. itu tidak penting untuk sekarang. Intinya adalah dia pasti akan menemui ajalnya hari ini. Di tambah Amira tidak mengajari bagaimana cara melayani seorang wanita, jadi ya sudahlah.. dia hanya bisa pasrah dan berharap di beri kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi.
"Saya pikir, anda sudah salah paham, Nona." Radit mencoba menjelaskan setelah menerka situasi berdasarkan gerak gerik yang Casey tunjukkan.
"Hah?" Casey tersentak. "Apa maksudmu?" Casey bertanya dengan wajah seolah dia adalah yang paling bo-doh di sini. Sedangkan lawan bicaranya adalah seorang jenius. Memberikan perbedaan yang cukup jauh sampai membuat dirinya sadar diri tentang siapa dirinya.
"Sebenarnya anda tidak perlu khawatir. Nona Reynand adalah orang yang membayar anda. Sementara Tuan Reynand adalah orang yang membutuhkan jasa anda." Radit menjelaskan secara perlahan agar tidak menyulut kesalahpahaman di kemudian hari.
"Apa?" Casey semakin tersentak. "Maksudmu?" Nyonya Reynand membayar seorang gadis untuk di gunakan oleh Tuan Reynand?
Apa Radit bercanda?
Atau.. apa Radit sudah gangguan jiwa? Mana ada seorang istri mencarikan seorang gadis untuk suaminya? Mungkin ini bukan hal yang aneh untuk mereka, tapi jelas ini bukan sesuatu yang normal yang bisa di cerna oleh akal sehat, yang bisa di mengerti oleh manusia polos seperti dirinya.
"Saya tidak bisa menjelaskan detailnya, nanti anda juga akan mengetahuinya sendiri." Radit tidak memiliki kapasitas untuk berbicara sebagai seorang asisten. Dia hanya di tugaskan untuk menjemput Casey sore ini dan menjemput Arka nanti malam.
"Oh, okey." Casey mengiyakan tanpa banyak bertanya. Mungkin Hanya dia yang berpikir berlebihan dengan memikirkan rumah tangga dan kehidupan pribadi orang lain. Sungguh bo-doh karena dia berpikir sampai sejauh itu. Bagaimanapun hanya orang bo-doh yang akan melakukan hal itu, dan dia adalah salah satunya.
"Kalau anda tidak keberatan, siapa nama anda?"
"Kamu bisa memanggilku Caca." Casey sengaja mengeja kata Caca dengan tempo lambat. Meski bukan hal akurat untuk menyamarkan identitas, namun saat dia bisa menyamarkan diri, seperti menyamarkan warna rambut dan menyamarkan warna bola mata, setidaknya itu masih lebih baik.
"Baiklah Nona Caca, saya akan mengantar anda menuju kediaman utama keluarga Reynand." Ucap Radit ramah. Namun tidak menghilangkan karakter dinginnya.
Kediaman utama yang Radit maksud merupakan tempat tinggal untuk anggota keluarga Reynand selama tinggal di Manila. Entah itu hanya sebentar atau untuk waktu yang lama. Dan selama beberapa tahun terakhir, rumah itu menjadi tempat tinggal untuk Aruna yang memimpin RC Manila.
Casey mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Baiklah" Jawabnya kemudian. Radit hanya asisten, namun sudah seperti itu. Lalu bagaimana dengan bosnya? Itu benar benar membuatnya bergidik ngeri.
***
Lima belas menit kemudian.
Lima belas menit kemudian, mobil yang Radit kemudikan, berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah berpagar tinggi.
Tin tin.
Radit menekan klakson dan penjaga keamanan segera membukakan pintu gerbangnya.
Radit kembali melajukan mobilnya dan berhenti tepat di beranda depan rumah itu.
Casey mengintip melalui jendela. Dia mengawasi rumah itu dari atas ke bawah dari ujung kiri ke ujung kanan tanpa kedip. Mungkin itu adalah rumah milik seseorang yang harus Casey temani. Seseorang yang Radit panggil Tuan Reynand.
Jelas kalau Tuan Reynand adalah tipe manusia beruang yang pernah di ciptakan sebagai pengisi bumi. Tidak heran, orang itu rela kehilangan ratusan juta hanya untuk pelayanan seorang wanita muda yang masih perawan seperti dirinya. Sudah bisa di tebak kalau Tuan Reynand adalah pria tua bangka, bau tanah, hidung belang, mes-um, menjijikan dan mengerikan yang pernah ada.
Ekspresi wajah Casey berubah suram. Entah kenapa semangat membara yang sempat dia rasakan, mendadak layu dalam hitungan detik. Rasanya seperti memompa balon hingga besar, namun balon itu tiba tiba meletus hingga menyisakan rasa putus asa serta patah semangat yang mendalam.
Membayangkan harus berbagi ranjang selama satu pekan dengan pria gendut, membuatnya ingin mundur teratur. Namun, lagi lagi.. dia tidak memiliki kuasa.
Nyawa Ibunya lebih penting dari apapun bahkan tubuhnya sendiri. Jadi.. Casey tidak di izinkan untuk menyerah. Setidaknya dia bisa membayangkan pria tampan seperti Michele Morrone saat b******a dengan gendut si-alan itu. Dengan begitu maka semua masalah akan terselesaikan dengan baik sesuai rencana.
Tok tok tok.
Radit mengetuk kaca jendela mobil dari luar sampai tiga kali saat dia tidak melihat Casey turun dari mobilnya.
Ketukan itu membuyarkan Casey dari lamunannya. Dia yang mengerti arti dari ketukan itu segera turun dari mobil. Dia berjalan di belakang mengikuti Radit yang memimpin jalan sembari membawa kopernya sampai pria itu berhenti di depan pintu.
Radit membuka pintu dan mempersilahkan agar Casey segera masuk ke dalam. "Masuklah. Kamar anda ada di lantai dua. Pintu pertama sebelah kiri tangga." Radit menjelaskan secara singkat namun penjelasannya padat dan berisi. "Dan ini adalah koper milik anda." Tidak lupa Radit menyerahkan dua koper ukuran sedang milik Casey.
"Apa kamu tidak menemaniku?" Casey merasa asing di tempat sebesar ini. Terlebih, dia tidak mau sendirian di hari pertamanya. Jadi dia hanya ingin agar seseorang menemani dan bisa memastikan kalau dia tidak akan di tumbalkan, tidak akan di bunuh, tidak akan di siksa atau apapun itu sebutannya.
"Maaf, Nona." Radit membungkukkan badan. "Saya memiliki hal yang harus di urus. Permisi!" Selesai berkata, Radit membalikan badan hendak pergi. Namun, dia tersentak saat tangan seseorang, menempel di lengannya.
"Aku takut sendirian. Tidak bisakah kamu menemaniku sampai Tuan Reynand datang?" Casey memegang erat lengan Radit agar pria itu tidak meninggalkan dirinya.
"Maaf, Nona." Radit melepaskan pegangan tangan Casey secara perlahan tanpa gadis itu sadari. "Saya masih memiliki pekerjaan yang harus di kerjakan. Tapi anda tenang saja. Tidak ada binatang buas di sini. Jadi anda tidak perlu khawatir." Radit mencoba memperingatkan agar gadis itu tidak berulah menggunakan bahasa yang lebih halus.
Casey menganggukkan kepala dengan cepat. "Baiklah, baiklah, aku mengerti. Kamu pergilah! Aku akan mengurus diriku sendiri." Ucap Casey sebelum dia masuk dan menutup pintunya kembali.
"Fiuh." Casey menghela nafas panjang. Benar benar pria yang tidak bisa di provokasi. Membuatnya tidak hanya mati rasa, namun juga mati gaya.
Mengawasi rumah sebesar ini. Casey merasa ingin menangis. Kenapa? Kenapa setelah dia selesai dengan satu masalah, selalu muncul masalah baru?
Agaknya, itu adalah peribahasa paling tepat yang menggambarkan betapa kehidupan Casey di penuhi dengan tumpukan masalah yang seolah tak ada habisnya.
Sekarang, setelah Casey sudah sejauh ini, sudah berada pada tahap ini, dia justru takut dengan pria tua yang tinggal di sini.
Meski tujuan awalnya datang ke sini, sudah sangat jelas yaitu untuk menemani pria tua itu? Tapi kenapa dia masih risau dan gelisah? Bukankah itu tidak masuk akal?
Casey enggan memikirkan apa lagi menyesali. Dia meletakan kopernya secara asal, lalu dia mengambil sebuah patung berbahan kayu yang menjadi dekorasi di dalam rumah. Dia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya naik ke lantai atas sembari memegang patung itu erat erat.
Ini merupakan simbol penjagaan diri. Bisa mencegah beberapa penyakit. Contoh kecilnya adalah penyakit biadab kalau si pria tua tiba tiba menerkam dan menggigitnya. Dia rasa, patung ini akan sangat membantu keselamatannya.
Namun, setelah semua ruangan di lantai dua berhasil dia jelajahi sepenuhnya, dia tidak menemukan siapapun.
Casey memutar bola matanya. Aneh.. apakah dia memasuki rumah yang salah?
Casey turun ke lantai bawah dan mengembalikan patung kayu itu ke tempatnya semula. Sudahlah.. biarkan saja. Kalau tidak ada orang, bukankah ini merupakan pertanda baik?
Bibir Casey melengkung membentuk sebuah senyum, setidaknya dia akan aman untuk sekarang.
Casey membawa kopernya naik ke lantai atas. Lalu dia masuk ke kamar tidur yang letaknya sebelah kiri tangga sesuai yang Radit katakan.
Casey meletakan kopernya secara asal lalu dia melihat ke luar jendela. Melihat langit yang sangat cantik. Namun, sayang sekali. Kecerahan langit tidak secerah hatinya. Hatinya terlalu kusut dan suram untuk di bandingkan dengan hamparan langit indah dengan warna orange yang mendominasi.
Casey mengambil hpnya. Lalu dia mengabadikan sedikit momen kala senja di negeri orang melalui beberapa bidikan. Setelah itu dia mengirimkannya pada Amira.
Casey : "Aku sudah sampai."
Amira : "Benarkah?"
Casey : "Mm. Tapi, aku belum melihat orang seperti apa yang harus aku temani."
Amira : "Apa kamu sudah tidak sabar?"
Casey : "Kamu ini bicara apa?"
Amira : "Aku hanya mengigau."
Casey : "Haish. Kalau begitu, katakan pada Mama kalau aku sudah sampai dan keadaan ku baik-baik saja.."
Amira : "Tentu. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu fokus saja pada pekerjaanmu."
Casey : "Okey. Terima kasih, Amira."
Amira : "Jangan sungkan."
Selesai, Casey menyimpan hpnya lagi.
Casey mengalihkan pandangan dan kembali melihat ke luar jendela. Bola matanya fokus mengawasi kala mentari menelusup masuk kembali ke peraduan. Menyisakan kegelapan langit dari ujung ke ujung. Tidak ada cahaya apapun. Yang ada hanya kegelapan, kesunyian dan kesendirian.
Suhu udara di sini sendiri, relatif stabil. Membuatnya tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin. Masih berada pada taraf normal. Jadi Casey pikir, cuaca dan iklim tidak berpengaruh untuk kesehatan serta daya tahan tubuhnya meski dia berada pada lingkungan yang berbeda dari negara tempatnya berasal.
Apa lagi, Casey bisa menyesuaikan diri dengan mudah karena Filipina tidak berbeda jauh dengan Indonesia, yaitu negara yang sama sama memiliki iklim tropis. So, its time to enjoy new life for the next seven days.