Manila. Filipina.
Enam jam empat puluh menit mengudara, akhirnya Casey tiba di Kota ini, di negara ini.
Manila, Filipina.
Merupakan kota indah yang gemerlap. Riuh dengan sejuta kuliner, hiburan serta budaya. Semua orang menikmati, kecuali Casey yang sedang sibuk menata hidupnya. Memperbaiki kehidupan yang kusut agar tidak semakin berantakan
Sampai detik ini, Casey tidak pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan kesialan beruntun yang menimpa saat roda kehidupan keluarganya berputar dengan cepat, berbalik lalu menjatuhkan sementara dia tidak bisa berbuat apapun meski itu hanya untuk menghentikan.
Kemarin Casey masih anak manis yang tidak perlu pusing memikirkan masalah uang. Semua ada, semua keperluan yang dia butuhkan, tersedia. Namun, sekarang.. semua kebahagiaan itu telah sirna.
Tidak hanya itu, dia bahkan harus mengais rezeki hingga ke Manila. Itupun bukan uang halal seperti yang dia harapkan, melainkan segepok uang haram yang sebenarnya tidak pantas untuk dia berikan kepada Mama.
Casey Trysila, adalah nama gadis itu. Seorang gadis berparas cantik berusia hampir dua puluh tahun. Seorang gadis yang memanfaatkan kecantikan serta anugrah berupa tubuh yang indah dari Tuhan untuk melakukan pertukaran yang sangat adil namun berlumur dosa dengan seorang klien.
Tapi sudahlah. Rasanya, dia tidak ingin mengungkit apapun lagi. Sudah cukup untuk hari ini, sudah cukup untuk semua ini. Di ingat pun percuma, di lupakan lebih tidak mungkin. Jadi, bersikap acuh adalah solusi terbaik untuk menghentikan segala prasangka di dalam hati.
Casey duduk menghadap jendela lebar dari lantai dua puluh di sebuah hotel. Hotel bintang lima yang dia tempati untuk sementara, memiliki pemandangan indah yang bisa membuat perasaan seketika menghangat.
Bola matanya fokus mengawasi jalanan ramai Manila. Menyaksikan gedung gedung tinggi pencakar langit yang menghiasi keindahan kota ini. Juga melihat langit cerah yang membentang dari ujung ke ujung.
Entah apa yang dia kagumi, entah apa yang dia pikirkan. Baik itu cuaca, suasana, atau hiruk pikuk kota ini tidak ada satupun yang luput dari perhatiannya.
Casey sama sekali tidak merasa lelah meski sudah satu jam menyaksikan itu, menyaksikan hal yang sama hingga berulang kali seperti tidak ada bosannya. Sesekali dia akan menggambar bentuk hati di jendela dengan jemari indahnya setelah dia meniup kaca terlebih dahulu sampai memberikan bulir bulir embun.
"Casey."
Suara seorang pria dengan tepukan lembut di bahu membuyarkan lamunannya. Casey menoleh ke arah sumber suara. Dimana seorang pria paruh baya sudah berdiri di belakangnya dengan tenang.
Mencoba untuk tidak peduli, Casey kembali membuang pandangannya keluar jendela. Dia hanya ingin sendiri. Dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Dan dia ingin menikmati detik-detik terakhir sebelum dia menjadi orang yang berbeda sepulangnya dari sini.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, mm? Apa kamu baik-baik saja?" Bonar Patar kembali buka suara setelah tidak mendapat tanggapan apapun dari gadis cantik yang duduk di depannya.
Bonar Patar mengawasi gadis itu lekat. Meski gadis itu mengenakan kaos longgar dengan celana denim panjang, serta rambut yang di ikat seadanya, namun jangan remehkan kemampuannya untuk memprediksi sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
Bonar Patar yang berprofesi sebagai bandar yang sudah malang melintang selama bertahun tahun untuk menaungi anak anak asuh seperti Amira. Lebih tepatnya adalah mucikari andal yang lihai mencari mangsa kaya dengan uang gepokan yang rela mereka bayar hanya untuk mendapat belaian dari anak anak asuhnya yang muda dan cantik, tidak mungkin tidak bisa membaca situasi. Dia tau persis kalau bentuk tubuh gadis itu sangatlah menggoda jika di buka. Dia bahkan berani bertaruh kalau gadis ini memiliki kejutan yang bisa memuaskan kliennya nanti.
Casey menggelengkan kepala. Bukan karena dia tidak memikirkan apapun, bukan karena pikirannya benar benar kosong. Justru karena ada banyak hal yang dia pikirkan sampai dia sendiri bingung harus menjawab apa, bingung harus menjelaskan apa.
"Fiuh." Bonar Patar menghela nafas panjang, "aku bukanlah orang yang suka memaksa," Bonar Patar menjeda kalimatnya. "Ini adalah pilihan yang kamu pilih sejak awal. Kamu juga tau kalau aku hanya perantara di sini. Aku mendapat komisi perantara dan kamu mendapat bayaran utuh dari klien penting yang akan membayar jasamu untuk satu pekan ke depan. Aku yakin Amira sudah menjelaskan ini sebelumnya, dan aku juga yakin kalau kamu sudah paham apa maksudku." Maksudnya jelas kalau prinsip yang berlaku di sini atas dasar kesepakatan bersama. Casey menyetujui, klien menyetujui, jadi.. apa yang harus di sesali?
"Aku..." Casey menelan kata katanya kembali. Dia sangat sadar dengan posisinya. Dia membutuhkan uang, dan klien itu membutuhkan belaian, bukankah itu pertukaran yang adil? Tidak ada yang di rugikan di sini. Baik itu dirinya, Bonar Patar ataupun klien itu sekalipun. Lagi pula, kesepakatan ini di buat dalam keadaan sadar, tidak ada pengaruh dari orang luar, tidak ada intimidasi dari pihak lain dan yang terpenting adalah.. dia yang menginginkannya. Tidak masuk akal kalau dia menyulut api, namun tidak mau bertanggung jawab memadamkannya. Itu sama saja dengan lari dari tanggung jawab.
"Bilang saja kalau memang ada yang ingin kamu katakan ataupun ingin kamu tanyakan." Ucap Bonar Patar setelah melihat sekelumit keraguan yang menghiasi wajah lugu Casey. "Aku akan menjawabnya sampai kamu mengerti." Imbuhnya.
"Em.." Casey ragu untuk sesaat. Namun akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka mulutnya dan mulai bertanya tentang apa yang dia risaukan. "Ini.. ini.. ini rahasia, kan?" Maksudnya adalah tentang indentitasnya dan identitas klien itu, apakah di rahasiakan atau tidak, apakah identitas mereka di samarkan atau tidak.
Selain merasa ini adalah hal yang sangat penting, Casey juga tidak ingin di hantui rasa penasaran kalau tidak memastikan ini sekali lagi sampai semua benar benar jelas.
Bonar Patar mengangguk perlahan. "Transaksi ini di lakukan secara rahasia. Aku sendiri juga tidak tau orang macam apa yang membutuhkan jasamu. Jadi kamu tenang saja, baik identitasmu ataupun klienmu nanti, semua akan di samarkan. Pokoknya.. akan menjadi rahasia mutlak yang di jamin keamanannya." Bonar Patar yang mengurusnya sendiri karena kebetulan, si klien menargetkan gadis pribumi untuk menemani. Jadi, dia mendapatkan Casey yang kebetulan pembawaannya sangat lembut dan pemalu, sangat cocok dengan kriteria yang kliennya tetapkan.
"Baiklah, aku mengerti." Casey bisa bernafas lega sekarang. Meski sedikit gugup, tapi.. setidaknya dia tidak perlu pusing memikirkan hal yang selama ini dia takutkan. Karena semua yang Bonar Patar katakan adalah kebenaran.
Bonar Patar mengatakan itu aman, maka itu memang aman. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Lagi pula, ketakutan Casey selama ini tidaklah berdasar. Di tambah, kerja tua bangka itu juga cukup profesional dan bersih, sampai tidak terlacak pihak berwajib meski telah bertahun tahun bergelut dengan pekerjaan haram ini. Bukankah itu cukup?
"Ada satu lagi yang ingin aku tanyakan." Casey teringat sesuatu, dan dia merasa hal ini juga harus di bicarakan secara gamblang.
"Apa? Katakan!"
"Kenapa kamu membiarkanku melakukannya?" Casey bukan seorang profesional. Dia bahkan bisa di katakan sangat amatir. Tapi, tidak tau kenapa Bonar Patar justru memilih dirinya meski banyak gadis perawan lain yang mungkin lebih profesional.
"Karena kamu layak mendapatkannya." Jawab Bonar Patar singkat, padat dan jelas.
Casey diam. Dia tidak menanggapi karena Bonar Patar benar, dia memang layak mendapatkannya.
***
Sore Hari.
Casey duduk menghadap cermin setelah mengganti pakaiannya lebih dulu. Mengenakan gaun minim bahan merk ternama berwarna merah cerah, serta berbelahan da-da rendah, cukup membuktikan jika lekuk tubuhnya memang sangat indah.
Menonjolkan kaki jenjang serta da-da besar yang mampu membuat siapapun yang memandangnya akan gigit jari untuk pria, dan iri hati untuk wanita. Pakaian lak-nat seperti ini jelas sengaja Amira kemas untuknya.
Sialan! Casey mengumpat saat melihat tubuhnya sendiri. Dia geram. Kenapa pakaian selalu berperan penting dalam hal seperti ini? Bukankah tidur bersama hanya perlu telanjang tanpa sehelai kain? Ish ish ish.. benar benar aneh, tidak terduga dan sangat menyebalkan.
Sembari mengeluh, Casey mulai mengaplikasikan riasan pada wajahnya. Bulu mata lentik, hidung mancung serta bibir tipis, tidak ada satupun yang luput dari perhatiannya. Semua terlapisi make up dengan sempurna.
Merupakan riasan ringan namun tampak memukau saat menempel pada wajahnya. Apa lagi, di tambah lipstik merah yang Amira bilang mampu membangkitkan birahi lawan jenisnya.
Casey menyisir rambutnya sekali lagi. Dia membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja. Rambut lurus berwarna pirang itu membuat penampilannya cukup mencolok dan pastinya akan mencuri perhatian.
Tidak lupa, Casey juga memakai softlens sebagai akhiran. Membuat manik matanya berwarna biru. Sangat kontras dengan rambut pirangnya. Namun, itu justru membuatnya semakin cantik dan mempesona.
Sekarang, Casey sudah selesai. Dia mengawasi penampilannya sekali lagi. Namun, sedetik kemudian dia tersenyum puas. Penyamaran yang sempurna untuk pekerjaan pertamanya.
Tidak sia sia dia mewarnai rambutnya terlebih dahulu sebelum datang ke Manila. Juga lensa kotak yang membuat penampilannya berbeda, dan sangat sulit untuk di kenali.
Semua ini tentu akan membuat identitasnya semakin samar dan sulit untuk terlacak jika kemungkinan terburuknya si klien mencari tau tentang identitasnya.
"Heh." Casey terkekeh. Penyamaran? Apakah itu akan berhasil untuk mengelabuhi kliennya agar wajah aslinya tidak terekspos?
"Haish." Casey mendesis. "Jangan berharap terlalu banyak, Nona." Ucapnya pada diri sendiri.
Casey beranjak. Dia memakai heels warna senada dan dia segera melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar tidurnya.
Ceklek. Pintu terbuka.
"Fiuh." Casey menghela nafas panjang setelah melihat Bonar Patar sedang duduk di atas sofa sembari sibuk berkutat dengan hp di tangannya. Dia mencoba tidak peduli dengan mendudukan dirinya di sofa di samping pria itu dengan jarak yang cukup jauh.
"Kenapa?" Bonar Patar melirik Casey sekilas. "Kamu gugup?" Tanyanya lagi saat melihat raut tidak tenang yang Casey tunjukkan.
"Iya." Jawab Casey dengan suara bergetar. Tangannya dingin dan di basahi oleh keringat. Menjadi tanda bahwa dia benar benar sangat gugup. Gugup atau takut? Entahlah, mungkin ke duanya.
"Santai saja. Kamu tidak perlu cemas. Kamu sudah bekerja keras dengan belajar banyak hal dari Amira. Jadi.. seharusnya tidak ada masalah." Suara Bonar Patar terdengar cukup meyakinkan. Dia berusaha untuk meringankan gejala gugup yang sering para pemula rasakan untuk pertama kalinya. Normal dan wajar jika gadis itu gugup, apa lagi saat harus melepaskan yang berharga untuk orang asing demi uang.
Lain halnya jika hubungan se-ks di lakukan dengan cinta. Suasana, sensasi serta ketakutannya jelas berbeda seratus delapan puluh derajat antara paksaan dan suka rela.
Casey mengangguk. Meski sejujurnya dia merasa tidak nyaman, tapi dia mencoba bersikap biasa saja. Bagaimanapun, ini adalah sisi yang salah. Sisi yang seharusnya tidak dia pijak, namun dia tidak berada pada posisi dimana dia bisa memilih sesuka hati. Dia di batasi, dan.. tidak berdaya.
"Masih ada waktu untuk mundur." Seakan tau apa yang menjadi keraguan Casey, Bonar Patar mencoba menawarkan dua pilihan. Antara mundur atau melanjutkan. Meski dia yakin seratus persen kalau gadis itu tidak akan mundur begitu saja.
Lagi pula, gadis itu tidak cukup bodoh untuk melepas dua ratus lima puluh juta dengan mudah. Bagaimanapun, jumlah itu adalah nominal yang banyak. Mengingat kalau tidak banyak orang yang rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah keperawanan, maka katakanlah jika Casey sangat beruntung.
Casey menggelengkan kepala. Sudah sejauh ini, dia tidak mungkin mundur. Dia tidak bisa kabur saat uang uang itu sudah melambai kepadanya. Katakanlah kalau dia mata duitan. Tapi.. siapa peduli?? Ini adalah hidupnya, dan ini adalah pilihannya. Jadi.. tidak ada yang perlu di sesali terlepas dari apapun konsekuensinya.
Bonar Patar tersenyum simpul. Dugaannya benar. Tentu saja Casey tidak akan mundur. Sekalipun Casey ingin, dia juga akan menahannya. Namun untungnya, gadis itu masih berpegang pada pendirian dan masih sadar diri.
"Tapi.. ini tidak terikat, bukan?" Suara Casey terbata. Karena ini adalah final dari keraguannya. Puncak dari segala rasa ragu yang menggerayangi hati. Merupakan hal yang paling dia takutkan dari begitu banyaknya hal menakutkan di dunia ini. Dia takut tidak bisa keluar dari lingkaran ibli-s saat sudah memasukinya.
Bukan tanpa alasan. Casey hanya tidak ingin terjerat pada lingkup kehidupan malam yang sering membelenggu para gadis dengan iming iming kehidupan mewah yang tanpa sadar justru membuat mereka semakin terpuruk dalam kecanduan dengan kehidupan semacam itu.
"Tenang saja, seperti yang kamu mau. Kamu hanya pekerja paruh waktu. Kembali ke perjanjian awal. Kamu bantu aku menemani dia dan kamu mendapatkan bayaran. Setelah itu, kamu bisa pergi. Tidak ada yang ke dua, dan tidak ada lain kali. Kecuali.. kalau kamu yang memintanya. Dan.. aku janji tidak akan ada ikatan apapun di antara kita yang sekiranya akan memberatkan untukmu setelah semua ini berakhir." Bonar Patar menjelaskan detailnya. Sejujurnya, dia sudah membahas perihal ini dengan Amira. Namun, agar semua semakin jelas, tentu tidak ada salahnya menjelaskan kembali kepada Casey.
"Tapi..." Casey ragu untuk melanjutkan. Lidahnya kelu. Dia seperti kehilangan kata kata yang telah di rangkainya selama beberapa hari terakhir.
Bonar Patar menaikan sebelah alisnya. "Amira?" Adalah nama yang Bonar Patar yakini ingin Casey sebutkan. Apa lagi setelah melihat gelagat canggung gadis itu yang membuatnya merasa perlu untuk menjelaskan sesuatu.
Bonar Patar menatap Casey lekat. "Kamu tidak tau, alasan kenapa aku menjerat Amira sampai bertahun-tahun lamanya?"
Casey tersentak. Dia tidak tau harus menanggapi apa. Dia memilih bungkam dengan seribu tanda tanya di hati. Dia merasa jika ini bukan urusannya. Namun, tidak tau kenapa tiba tiba Bonar Patar mau menceritakan permasalahan dengan Amira kepadanya.
"Amira miskin, tidak mempunyai apa apa. Dia hanya memiliki modal tubuh seksi dan wajah cantik. Sudah.. itu saja. Kamu juga tau sendiri kalau dia yatim piatu. Kalau aku tidak menjeratnya, apa kamu pikir dia masih bisa bertahan hidup?" Bonar Patar menghisap sekali lagi rokoknya sebelum menjejalkan puntung rokoknya ke dalam asbak.
"Kamu tidak tau seperti apa keadaannya saat aku menemukan dia? Dia depresi. Hampir gila. Tidak bisa membeli makanan, tidak bisa membayar kost setelah dia keluar dari Panti. Jadi.. aku rasa, dia tidak mempunyai pilihan lain selain menjual keperawanannya dan menjadi mahkota biruku." Bonar Patar menjelaskan dengan satu tarikan nafas. Dia merasa lega, merasa jika bebannya bisa berkurang dengan membagi cerita pengalaman hidupnya kepada orang lain.
Casey mengangguk. Sekarang dia mengerti. Sejauh ini, dia bisa mencerna setiap kata demi kata yang Bonar Patar ucapkan. Intinya adalah, Bonar Patar tidak seburuk seperti yang sering Amira ceritakan padanya.
Casey tersenyum masam. Kehidupan seperti itu adalah yang dia takutkan. Berlari dari satu pria ke pria lain, membuatnya bergidik ngeri. Kehidupan seperti itu membuatnya mual. Membayangkan Amira harus hidup berdampingan dengan para pria seperti itu benar benar sebuah mimpi buruk. Sehari bersama pria menggelikan seperti Bonar Patar saja membuatnya hampir gil-a, lalu apa kabar dengan Amira yang menjalani kehidupan seperti itu selama bertahun-tahun?
Bertahun tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada sekitar seribu hari lebih yang harus di lalui bersama p****************g semacam itu Dan. dia sungguh tidak ingin menjalani kisah kelam seperti Amira di sepanjang hidupnya.
"Sudah, tidak usah di pikirkan." Bonar Patar mengakhiri pembicaraan serius tentang Amira. "Setengah jam lagi akan ada orang yang menjemputmu. Kamu harus ikut dia dan aku akan kembali ke Indonesia. Kalau kamu memiliki masalah, silahkan kamu hubungin aku. Bagaimanapun, kamu adalah tanggung jawabku. Jadi.. aku tidak akan membiarkan kamu dalam kesulitan. Untuk kedepannya.. kamu urus dirimu sendiri dengan baik. Pasport, dan segala kelengkapan untuk kembali ke Indonesia ada di koper."
Casey mengangguk perlahan. "Baik, aku mengerti."