Tiga Hari Kemudian.
Rumah Sakit.
Casey sudah siap dengan semua yang di butuhkan. Sekarang dia hanya perlu terbang ke Manila dan menjemput rupiahnya di sana. Namun, sebelum berangkat, dia akan menjenguk Mama lebih dulu. Dia akan meminta doa restu lalu berpamitan.
Casey menyusuri lorong rumah sakit. Langkahnya mantap dan dia yakin Mama akan senang kalau dia berhasil mendapatkan uangnya lalu Mama akan di operasi.
Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di hati, yaitu Casey percaya Mama tidak akan senang kalau tau dia mendapatkan uang dengan cara yang tidak di benarkan secara keyakinan dan secara norma sosial.
"Fiuh." Casey menghela nafas panjang. Sekarang dia tidak tau lagi mana yang di benarkan dan mana yang tidak di benarkan. Sekarang dia linglung dan mungkin dia akan menjadi amnesia untuk sesaat sampai semua ini selesai dengan titik terang yang membawanya pada keberhasilan mendapat biaya untuk kesembuhan Mama.
Namun, seorang pemikir yang selalu berpikir sepuluh langkah ke depan, tidak mungkin mengesampingkan aksi, reaksi serta konsekuensi.
Untuk mencegah kemungkinan itu, tentunya dia sudah menyiapkan beberapa hal penting seperti alasan dan berdalih ataupun kebohongan dan alasan.
Semua itu.. entah dia harus beralasan kemudian berdalih atau dia harus berbohong dulu baru beralasan, itu tetap berlaku untuk wanita sepintar Mama. Jadi, kalaupun dia berbohong, setidaknya kebohongannya harus bisa di telaah dan harus bisa di cerna oleh akal sehat.
Itu sebabnya Casey sudah menyiapkan sederet daftar kebohongan beserta alasan masuk akal yang seharusnya mampu meyakinkan Mama agar tidak perlu khawatir lagi kepadanya.
Kemungkinan keberhasilannya adalah tujuh puluh delapan persen. Atau presentasenya sekitar delapan puluh banding dua puluh. Jadi, dia optimis akan berhasil.
Iya. Harus berhasil. Harus.
Seharusnya begitu. Kalau tidak, ah.. entahlah. Kalau masih tidak berhasil mungkin dia akan memaksa pergi meski tanpa persetujuan dari Mama.
Hm. Ide yang bagus.
Tekadnya sudah bulat. Dan semoga saja Sang Pencipta, memudahkannya. Lagi pula, niatnya baik, meski harus dia akui kalau cara yang dia gunakan sangat salah dan tidak di benarkan. Tapi sudahlah. Lupakan caranya yang penting hasilnya. Lupakan dosanya yang penting Mama sembuh. Titik tanpa koma.
Casey mengulurkan tangan untuk meraih gagang pintu. Setelah teraih, dia buru-buru membukanya.
Ceklek.
Casey melangkah masuk. Langkahnya pelan karena terasa berat seolah ada yang menariknya untuk tidak masuk ke dalam dan menemui Mama.
Casey yakin kalau apa yang dia lakukan adalah benar meski hati kecilnya menolak statement itu. Tapi, semua itu tidak penting. Melihat Mama terbaring lemah tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit, perasaannya sebagai seorang anak, tercabik dan benar-benar hancur.
Casey berdiri di samping ranjang dimana Mama terbaring. Mata Mama terpejam erat. Keadaan juga sangat sunyi karena tidak ada pergerakan apapun. Dia membungkukkan badan dan mencium dahi Mama sekilas. Wajah Mama pucat dan tubuhnya jauh lebih kurus dari beberapa bulan lalu saat Mama masih sehat. Namun perubahan itu, meski terjadi secara signifikan, tapi tetap saja menjadi bukti kalau perjuangan Mama untuk hidup, patut di hargai dan masih harus di lanjutkan.
"Mm, kamu datang?" Mama Rianti yang sedang tidur, terbangun saat merasakan bibir putri kesayangannya menyapu dahinya. Dia mengulurkan tangan dan membelai wajah cantik putrinya dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.
"Iya." Casey mengangguk. "Aku datang." Casey menyentuh tangan Mama yang sedang membelai wajahnya. Dia memejamkan mata saat merasakan tangan hangat itu tidak berubah. Kelembutan, kasih sayang, cinta dan perhatian, tidak lekang oleh waktu meski sekarang tangan itu sudah berubah menjadi kurus kering karena harus berjuang melawan sakit yang semakin hari kian buruk.
"Duduklah!" Mama Rianti meminta agar Casey duduk pada sebuah kursi kosong di samping ranjang. Dia bangun secara perlahan dan dia menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. "Kamu pasti lelah." Suaranya parau karena menahan luka yang teramat dalam. Andai dia tidak menguatkan hati, melihat putrinya pontang-panting mencari uang dengan susah payah, dia lebih memilih untuk tidak melakukan perawatan medis di rumah sakit. Namun, melihat semangat putrinya yang tidak segan melawan peluh dan rasa lelah, tanpa sadar.. itu mampu menguatkan sampai dia bisa bertahan sampai detik ini.
"Aku tidak lelah." Bohong. Casey memulai kebohongan pertamanya. Dia lelah. Sangat lelah. Namun dia mencoba yang terbaik untuk menutupi agar Mama berhenti mengkhawatirkan dirinya. Lagi pula dia cukup yakin kalau lelahnya akan menjadi berkah.
"Apa kamu membohongiku?" Seorang ibu selalu tau bagaimana kondisi anaknya yang sebenarnya. Mama Rianti juga demikian. Dia tau kalau Casey sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja, Casey terlalu pandai membungkus fakta dan terlalu pintar menyembunyikan kebohongan di balik kebohongan.
Casey mengulas senyum tipis. "Tidak, Ma. Untuk apa aku berbohong? Aku benar-benar tidak lelah. Tubuhku sangat kuat, sehat, bugar dan energik." Casey menunjukkan raut wajah ceria seolah apa yang dia katakan adalah benar.
Mama Rianti tersenyum. "Baiklah." Dia tau membahas masalah seperti ini di saat kritis, tidak akan berakhir baik. Selain akan menyakiti Casey, dia juga enggan memperpanjang masalah. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan kuliahmu?" Mama Rianti menatap wajah putrinya lekat. Putrinya.. putrinya yang berharga, putrinya yang malang. Yang tidak pernah mengeluh meski banyak masalah dan memiliki beban hidup yang sangat besar.
Mama Rianti yakin kalau suami dan anak laki-lakinya yang sudah tiada, akan sangat senang kalau mengetahui betapa gigih dan bertanggung jawabnya Casey dalam menanggung beban keluarga.
"Biasa saja. Semua normal dan tidak ada yang istimewa. Hanya saja, aku perlu pergi selama satu pekan untuk menggantikan Amira menemui supplier." Casey berbicara dengan pelan dan santai sembari menatap Mama dengan tatapan yang sulit di artikan. Maaf, Ma. Aku berbohong. Ucapnya dalam hati.
"Hm?" Mama Rianti tersentak dan dia terpaku selama beberapa saat. Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya kembali seperti semula. "Apa kamu sendirian?"
"Mm." Casey mengangguk perlahan.
"Kenapa dia tidak menemanimu? Bukankah itu berbahaya?" Raut khawatir terpancar jelas dari wajah Mama Rianti saat mendengar penuturan ini. Casey akan pergi sendirian tanpa Amira, bukankah itu cukup berbahaya untuk seorang gadis terlepas dari apakah Casey berpengalaman atau tidak?
"Amira memiliki mata kuliah yang tidak bisa di tinggalkan. Itu sebabnya aku menggantikannya. Aku harap kamu bisa mengerti dan berhenti mengkhawatirkan ku." Casey mengeluarkan kata-kata yang cukup meyakinkan dengan tidak ada gelagat aneh atau apapun yang sekiranya bisa memunculkan kecurigaan.
Casey menatap lekat punggung tangan sebelah kanan Mama. Di sana terpasang sebuah jarum yang menghadap ke atas membentuk sudut tiga puluh atau empat puluh o terhadap kulit. Meski jarum yang di gunakan jelas berbeda dengan jarum untuk menyuntik orang dalam keperluan vaksin atau apapun itu, namun tetap saja ada jarum yang menempel di sana.
Mama Rianti tersenyum lembut. "Bukankah supplier Amira berasal dari luar negeri? Itu sangat jauh, bukan?"
"Aku tau. Itu sebabnya aku harus pergi selama satu pekan atau bahkan lebih." Casey tidak mengharapkan Mama akan berkata "iya" dengan mudah. Dia juga tidak berharap Mama akan mengiyakan tanpa mengajukan serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab tanpa ada kesalahan, tanpa ada keanehan. Dia sama sekali tidak mengharapkan hal semacam itu terjadi.
"Kamu pergi selama satu Minggu, lalu bagaimana dengan kuliahmu sendiri? Kamu peduli dengan Amira, tapi kamu tidak peduli dengan dirimu sendiri, begitu?"
"Aku akan mengambil cuti, Ma. Amira sudah mengambil cuti pada saat itu, dan dia tidak bisa melakukannya lagi. Sebagai seorang teman, aku tidak bisa berdiam diri dengan membiarkan Amira pusing dan lelah sendirian. Amira sudah banyak membantuku, dan aku merasa tidak berguna saat tidak bisa melakukan apapun untuknya." Kata perkata yang keluar dari mulut Casey sangat natural seakan yang dia katakan adalah benar. Seharusnya itu berhasil meyakinkan karena aktingnya sangat profesional seolah dia adalah aktris yang sudah berulang kali mendapat penghargaan.
Mama Rianti menaikan sebelah alisnya. "Begitu ya?"
"Iya."
"Kalau begitu, pergilah!"
"Apa?" Casey tersentak. Apa Mama baru saja menyetujuinya? Menyetujui kepergiannya ke luar negri untuk menemui supplier?
Meski itu bukan persetujuan untuk dirinya berangkat ke luar negeri untuk tidur dengan seorang pria, tapi kalau semua tidak serumit dalam bayangannya, itu masih sedikit lebih baik karena dia tidak perlu menguras waktu dan semua energinya untuk berdebat dengan Mama.
Mama Rianti mengangguk pelan. "Iya, kamu pergilah."
Casey tersenyum. "Terima kasih, Mama." Casey memeluk Mama erat. Dia tau kalau Mama hanya mengkhawatirkan dirinya. Hanya khawatir. Tidak lebih.
***
"Sudah?" Amira menutup kaca jendela mobilnya sembari bertanya saat melihat Casey keluar dari rumah sakit. Gadis itu masuk ke dalam mobil lalu duduk di sampingnya. Wajah berbinar yang Casey tunjukkan, dia bisa menebak kalau semua berjalan lancar sesuai rencana.
Casey mengangguk. "Mm."
Amira menyipitkan mata. "Dan?"
"Dan berhasil." Casey tersenyum puas. "Juga tidak sesulit itu." Lanjutnya sembari memasang sabuk pengamannya.
"Benarkah?" Amira ikut senang saat Casey mendapatkan restu meski alasan kepergian sebenarnya dengan alasan yang di gunakan untuk meminta izin pada Tante Rianti jelas berbeda, namun itu masih lebih baik dari pada Casey tidak di izinkan pergi untuk menjemput uang laknatnya.
"Iya. Dan aku harap, kamu bisa menjenguk Mama selagi aku tidak." Casey menoleh ke arah Amira. "Aku berkata, kamu tidak bisa meninggalkan mata kuliah dan kamu memintaku pergi ke luar negeri untuk menemui supplier, selama satu Minggu atau lebih." Casey tau kalau Amira bisa di andalkan lebih dari siapapun. Jadi, meski tanpa bertanya, dia yakin Amira akan menyetujuinya tanpa syarat.
Amira menepuk dadanya dengan percaya diri. "Kamu bisa mengandalkanku." Ucapannya serius. Tidak ada keraguan sedikitpun.
Casey terkekeh. "Iya. Aku tau kalau kamu bisa di andalkan." Casey sendiri tidak pernah meragukan hal itu.
"Baguslah. Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke bandara untuk menemui Bonar Patar, dan kemudian kamu bisa berangkat dengan pria tua itu ke Manila." Amira melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju bandara. Dia melihat melalui spion dan mendapati dua koper yang Casey butuhkan, sudah siap dan tidak ada yang tertinggal.
Satu pekan adalah waktu yang cukup lama. Dan Amira sudah mempersiapkan segala yang Casey butuhkan dari detail terkecil sampai hal krusial sekalipun. Jadi, di pastikan Casey akan sangat berterima kasih kepadanya karena sudah menyelesaikan apa yang gadis itu perlukan.
Casey mengalihkan pandangan ke luar jendela, dia mengawasi bangunan kokoh rumah sakit yang di didirikan untuk membantu orang orang supaya sembuh dari sakitnya. Dia menatap lekat sampai bangunan itu tidak terlihat lagi. "Baiklah. Meski sedikit takut, tapi aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan." Menjadi janji yang akan dia usahakan secara maksimal dan seharusnya itu tidak akan mengecewakan siapapun.
"Iya. Kamu memang harus berhasil. Setidaknya, bawa uangnya agar Tante Rianti bisa segera sembuh." Amira tidak bisa membantu secara finansial. Jadi, dia hanya bisa memberi sedikit dorongan agar Casey tidak putus asa dengan hidupnya sendiri.
Casey mengangguk perlahan. "Aku mengerti."
***
Bandara.
"Kamu jaga diri baik-baik. Aku akan menjaga Tante Rianti untukmu. Aku akan mengunjunginya dan aku akan menggantikan mu mengurus segalanya." Termasuk menanggung kebutuhan Tante Rianti untuk seminggu ke depan. Amira memeluk Casey erat. Tangannya mengusap punggung Casey secara perlahan.
Tidak ada kesedihan di antara mereka. Mereka justru bahagia atas hal ini. Tante Rianti bisa sembuh, adalah kebahagiaan paling maksimal yang bisa mereka rayakan nanti.
"Tentu." Casey menjawab singkat. Sebenarnya, mereka tidak perlu berbasa basi karena perpisahan ini bukan akhir dari segalanya. Justru ini merupakan awal baru dimana dia akan menjemput kebahagiaan yang sudah lama tertunda. Namun, bukan uang yang akan membahagiakannya, namun kesembuhan Mama yang menjadi poin utamanya.
Amira melonggarkan pelukannya. Dia menatap Shivani lekat tanpa kedip selama beberapa saat. "Ingat untuk memakai riasan, pakaian dan parfum seperti yang aku ajarkan tempo hari."
"Mm." Casey menganggukkan kepala. "Jangan khawatir. Aku akan melakukan sesuai dengan yang kamu ajarkan."
"Bagus. Kalau begitu, pergilah!"