ADC ~ Video Tak Layak Tonton

1668 Words
Rumah Amira. "Apa menurutmu aku harus melakukan hal itu?' Casey menutup wajahnya menggunakan bantal saat layar laptop Amira menunjukkan pria dan wanita sedang melakukan pemanasan, perenggangan, perangsangan, atau apapun itu sebutannya. Si wanita sedang memainkan milik si pria, dan si pria tampak sangat menikmatinya. Membuatnya hanya bisa menelan ludah saat membayangkan dia akan berada pada situasi itu. Dia dan pria tua bangka itu, akan melakukannya. Haish.. betapa menjijikkannya. "Buka matamu lebar-lebar, dan lihat keuntungan apa yang akan kamu dapatkan kalau kamu melakukan hal itu." Amira memperhatikan layar dengan seksama sembari memarahi Casey habis-habisan. Casey tentu tidak tau seperti apa rasanya saat dia harus melakukan hal semacam itu dengan tua bangka si-alan bau tanah yang lebih pantas menjadi kakeknya. Casey tentu tidak akan mengerti sebelum gadis itu mengalaminya sendiri, nanti. "Haish." Casey mendesis. "Apa menurutmu, pria yang akan tidur denganku setampan itu?" Pasangan yang sedang mereka tonton adalah karya luar negeri. Permainannya begitu beragam dan bisa menjadi referensi yang tepat untuk pemula seperti dirinya. Si wanita sangat cantik dengan tubuh indah. Si pria juga sangat tampan dengan tubuh kekar berbatang besar dan panjang. Namun, ada beberapa adegan ekstrim yang harus di lakukan dan itu membuat Casey merinding saat membayangkan pasangannya adalah orang semacam Bonar Patar, tua, berambut putih, bertubuh tambun, berperut buncit dengan kepala botak, Tidak tidak tidak. Membayangkan manusia seperti itu, Casey merasa kalah sebelum perang. Dia takut duluan. Sungguh. "Em.. mungkin sebaliknya." Amira terkekeh di akhir kalimatnya. Pria tampan zaman sekarang, tanpa mengeluarkan uang pun, banyak gadis cantik yang bersedia membuka paha secara gratis, jadi.. lebih baik tidak berharap terlalu tinggi, atau akan sakit saat jatuh, saat realita menghancurkan fantasi itu. "Amira! Jangan menakuti ku!" Casey melempar bantal yang semula menutupi wajahnya dan lemparan itu tepat mengenai wajah Amira. "Bagian mana dari kata-kataku yang menakuti mu?" Amira mengambil bantal itu dan dia meletakkan di atas pahanya. "Bukankah apa yang aku katakan adalah benar? Zaman sekarang, mana ada pria tampan yang bersedia mengeluarkan banyak uang hanya untuk tidur dengan gadis-gadis? Bukankah pria tampan itu bisa melakukannya tanpa pembayaran hanya bermodalkan kata cinta, mulut manis, dan sedikit rayuan? Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar? Begitu, bukan?" Casey menganggukkan kepala. Dia setuju dengan apa yang Amira ucapkan. Pria zaman sekarang, meski tidak semuanya, tapi ya.. seperti itu, tidak bisa di harapkan. Yang tampan, jelas buaya darat. "Sedangkan para tua bangka itu, kalau tidak ada uang, mana ada gadis muda yang sudi di gerayangi dan di tiduri?" Amira menambahkan setelah melihat Casey masih diam dan tidak menanggapi ucapannya. Dia pikir, Casey setuju dengan opininya. Itu sebabnya Casey tidak menanggapi atau berkomentar. Casey kembali mengangguk. Dia yakin seratus persen kalau apa yang Amira katakan adalah benar. Sangat benar. "Jadi, lihat, cermati baik-baik, dan jangan banyak mengeluh!" Sudah untung Amira mau menemani melihat video semacam itu. Tidak hanya menemani, dia bahkan mengajari Casey tentang beberapa gaya yang nyaman dan aman untuk pemula. Sangat baik, bukan? "Iya. Aku tidak mengeluh. Aku hanya bertanya." Casey sudah memilih jalan ini, itu berarti dia sudah berani menanggung segala konsekuensinya, termasuk dosa besar karena menjual diri hanya untuk sebuah nominal. Semua itu jelas tidak di benarkan. Sangat. Baik itu secara agama ataupun secara norma sosial. Menjual diri adalah perilaku menyimpang yang menggambarkan betapa tidak bermoralnya seorang manusia. Tapi, Casey bisa apa? Dia benar-benar tidak berdaya saat di suguhi pemandangan menyakitkan setiap kali dia melihat Mama kesakitan. Sebagai seorang anak, Casey sudah sangat gagal. Dia menyadari itu. Itu sebabnya dia memilih jalan ini. Tidak peduli apapun, dia akan mengembalikan Mama seperti sedia kala. Harus. *** Nirvana Avenue. Arka menghentikan mobilnya di halaman Apartemen. Dia turun dari mobil lalu naik lift menuju lantai dimana unit Apartemennya berada. Ting. Arka keluar begitu pintu lift terbuka. Kemudian dia melangkah pelan dan berhenti di depan pintu unit miliknya. Dia menekan password dan seketika pintu terbuka. Arka masuk dan menutup pintunya kembali. Dia meletakkan tas ranselnya di atas sofa, lalu dia berjalan ke dapur. Tangan kanannya terulur untuk membuka pintu kulkas. Setelah terbuka, dia mengambil sebuah botol air mineral kemasan besar dan dia menenggak sedikit isinya sekedar untuk menghilangkan dahaga. Selesai, Arka mengembalikan botol air mineralnya ke tempat semula. Setelah itu dia melangkah menuju ruang tamu dan dia mendudukkan diri di atas sofa. "Fiuh." Arka menghela nafas sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Sekarang dia sangat lelah. Namun, saat melihat sebuah amplop cokelat tergeletak di atas meja, dia mengulas senyum tipis. Siapa menyangka Aruna akan memenuhi keinginan aneh yang dia sendiri tidak begitu mengharapkannya? Di temani seorang gadis perawan, konyol. Hal seperti itu bahkan tidak pernah sekalipun terbersit dalam kepalanya, apa lagi kalau dia sampai melakukannya, tidak mungkin. Dia bukan pria seperti itu. Tapi, karena Aruna sudah mengupayakan untuk membuatnya senang, maka tidak ada salahnya untuk di coba. Arka meraih amplop itu, lalu dia membuka isinya. Adalah berkas, pasport dan tiket pesawat yang di butuhkan untuk terbang ke luar negeri. Mengingat betapa kaya dan berkuasanya Aruna, tidak sulit untuk wanita itu mendapatkan apapun yang di inginkan termasuk untuk mengabulkan keinginannya meski cukup nyeleneh. Tsk tsk tsk. Tapi, sudahlah. Dia hanya perlu berangkat, menghadiri rapat pemegang saham, lalu menandatangani surat persetujuan atas akuisisi perusahaan Filipina untuk dia pegang saat dia dewasa nanti. Jadi, itu semua hanya perkara kecil. *** Sore Harinya. "Aku akan menurunkanmu di salon sementara aku akan pergi ke butik untuk membeli pakaian yang kamu butuhkan selama di luar negeri." Mata Amira fokus menatap jalan raya di depannya. Sedangkan tangannya masih sibuk menyetir. Sesekali dia akan melihat layar hpnya untuk membalas pesan dari beberapa konsumen. "Kenapa kamu tidak ikut bersamaku?" Casey tidak mengalihkan pandangan dari layar hpnya. Di sana, adalah gambar keluarganya yang dulu sangat harmonis. Saat Papa masih ada, saat Kakak laki-lakinya masih ada, saat Mama masih sehat. Tanpa sadar, gambar itu mengantarkannya pada ingatan masa lalu yang begitu menyenangkan. Tapi sekarang, semua sudah berubah. Dan perubahan itu seperti air terjun yang jatuh dengan cepatnya tanpa peduli apakah dia siap atau tidak. Pada nyatanya, keruntuhan itu terjadi bahkan sebelum dia mempersiapkan diri. Meski dia tau akhirnya akan seperti ini, tapi sampai detik ini, dia masih saja tidak siap, tidak pernah siap. "Kita tidak punya banyak waktu. Hanya ada tiga hari dan itu tidak cukup untuk pelatihan kilat yang harus kamu jalani." Amira terus berbicara tanpa memperdulikan Casey setuju atau tidak. "Tiga hari itu cukup panjang, Amira." Casey tidak tau kenapa Amira begitu gigih ingin belanja sendiri. Membuatnya curiga. "Cukup panjang tapi kalau mengingat betapa pemalunya dirimu, aku tidak yakin kamu bisa memahami apa yang aku katakan dan memahami apa yang kamu tonton." Sudah ada lima video yang Amira putar. Dia juga sudah mengajarkan dimana posisi kaki dan tangan agar si pria merasa puas, tapi meski sudah begitu, Casey masih saja belum memahaminya dengan baik. Gadis itu seolah pandai untuk teori, namun saat praktek, tidak ada poin apapun yang di hasilkan. Casey meringis. Memang. Dia juga menyadari hal itu. Dalam hal seperti itu, mungkin iya. Katakanlah dia sangat bodoh. Maklum, dia didik dengan baik oleh orang tuanya sejak kecil. Jadi, sangat sulit untuknya menjadi nakal meski itu hanya melanggar aturan lalu lintas. "Apa menurutmu.. aku tidak berbakat?" Casey merasa tidak memiliki bakat dalam hal negatif seperti itu. Tidak seperti Amira yang bakat negatifnya sudah terasah sejak remaja. Dia benar-benar tidak bisa seperti Amira meski terkadang dia ingin bebas, lepas dan tanpa beban. "Are you kidding me? Apa kamu bercanda denganku? Apa kamu pikir, membuka paha di depan pria memerlukan sebuah bakat, keterampilan atau apapun itu?" Amira menyempatkan waktu untuk menoleh ke arah Casey meski itu hanya sekilas. Casey mengangkat bahu. "Entahlah." Casey tidak tau. "Itu sebabnya aku bertanya. Kalau aku sudah tau, aku tidak akan mengajukan pertanyaan konyol seperti itu." Imbuhnya. "Oh, honey, pada akhirnya.. semua gadis akan melakukan hal seperti itu terlepas dari apakah itu atas keinginan sendiri dengan mengatasnamakan cinta atau seperti kita yang mengatasnamakan uang. Pria menyukai se-ks, dan mereka mencintai untuk mendapatkan se-ks. Berbeda dengan wanita. Wanita akan memberikan se-ks untuk di cintai. Itu khusus untuk orang t***l yang tidak membutuhkan uang. Berbeda dengan kita. Kita melakukan se-ks tanpa cinta namun kita mendapatkan uangnya." Amira tersenyum pahit di akhir kalimatnya. Tetapi meski sangat menyakitkan, setidaknya, mereka tidak begitu murah karena mereka memasang harga untuk setiap inci tubuh yang di jamah. Tidak memberikan secara cuma-cuma apa lagi gratis. "Opini yang bisa salah namun bisa saja benar. Tergantung dari sudut pandang mana kamu melihatnya." Casey tidak membenarkan meski yang Amira katakan sangat masuk akal. "Berdasarkan sudut pandang kita sebagai orang miskin yang terlahir pintar, tentu saja benar." Amira kuliah melalui jalur beasiswa. Itu membuktikan kalau dirinya cukup pintar. Namun, karena terlahir miskin tanpa orang tua di panti asuhan, di buang, di campakkan, di kucilkan, di injak, di hancurkan, maka jalan yang dia pilih adalah dengan menjadi Mahkota Biru di rumah prostitusi yang Bonar Patar kelola selama bertahun tahun. "Dari sudut pandangku sebagai seorang anak yang membutuhkan banyak biaya untuk pengobatan Mama, aku juga terpaksa harus membenarkan hal itu meski sejujurnya.. hati nuraniku terinjak." Casey tidak memungkiri betapa dia menyesali semua ini. Namun, di banding kesehatan Mama yang merupakan prioritas utamanya, membayar dengan tubuhnya adalah sebanding. Amira menghela nafas panjang. "Iya. Begitulah. Itu juga yang membuat dunia kita berbeda dengan dunia mereka." Anak beasiswa memang lebih cocok bergaul dengan anak beasiswa meski tidak semua anak beasiswa berasal dari kalangan rakyat jelata seperti dirinya ataupun Casey. Tapi tetap saja, lingkup pergaulan para anak Sultan, tidak cocok untuk mereka. "Dan perbedaan itu tampak begitu jelas." Casey melanjutkan apa yang Amira katakan. Mereka miskin. Itulah realitanya. Jadi mau segigih apapun menampik, mau sekuat apapun menghindar, fakta itu tidak akan bisa berubah. "Kembali ke topik. Jadi, untuk menghemat waktu, kamu pergi ke salon, sementara aku akan membeli pakaian baru untukmu. Pembagian yang adil, bukan?" Amira mengalihkan pembicaraan secepat yang dia bisa. Bukan tanpa alasan, dia hanya ingin mengakhiri topik pembicaraan menyebalkan yang tidak ingin dia bahas. "Ya." Casey mengangguk perlahan. "Baiklah kalau itu yang kamu mau." Casey tidak banyak membantah meski firasatnya buruk tentang ini. Amira yang belanja? Semoga saja apa yang Amira beli adalah apa yang dia butuhkan, bukan apa yang Amira inginkan. "Deal."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD