ADC ~ Kabar Baik

2246 Words
"Apa kamu gila?" Aruna tidak percaya Arka akan sekurang ajar ini. Meminta kakak perempuannya untuk mencarikan seorang gadis perawan adalah tindakan kurang pantas. Kalau Arka meminta perihal ini kepada Aero, mungkin tidak akan jadi soal. Tapi apa kabar dengan Arka yang meminta dirinya padahal dia sendiripun masih gadis? Bukankah itu sama saja dengan menghina dirinya? Benar benar konyol. "Aku bisa lebih gila dari ini kalau kamu mau." Arka menjawab santai. "Tapi, terserah kamu mau menuruti atau tidak. Aku tidak akan memaksa." Lanjutnya sok jual mahal supaya terlihat kalau Aruna sangat membutuhkan dirinya. "Haish." Aruna mendesis. "Kamu ini sangat gesit dalam membuat tekanan darahku naik." Aruna mulai mengeluh. "Jadi, mau atau tidak?" Arka mendesak Aruna untuk segera memberi jawaban. Dia tidak memiliki banyak waktu untuk berbasa basi. Dia sibuk. "Kalau itu yang kamu mau, ya sudah." Aruna yang tidak memiliki pilihan lain, terpaksa mengiyakan tanpa kata tambahan. Mendapatkan persetujuan Aruna, Arka tersenyum tipis. Sekarang, siapa yang membutuhkan siapa? Ha? Bukankah saham dan tandatangannya juga di butuhkan dalam hal ini? Jadi tolong, jangan pernah remehkan dirinya. "Kamu yakin hanya itu?" Aruna tidak menganggap permintaan Arka tentang gadis perawan adalah hal yang sulit. Dia justru berpikir sebaliknya. Menemukan gadis perawan yang siap menemani Arka selama di Filipina, adalah perkara mudah yang bisa dia dapatkan di manapun. Namun, untuk urusan seperti ini, dia tidak mungkin turun tangan secara langsung. Setidaknya, dia akan meminta asistennya untuk mengurusnya. Dia hanya tinggal terima beres. "Kamu ini sombong sekali." Rupanya, Arka sudah meremehkan Aruna. Kakak perempuannya ini sedari kecil memang tidak pernah kekurangan apapun. Uang, jabatan, dan kasih sayang, Aruna mempunyai segalanya. Apa lagi, Aruna adalah anak perempuan satu-satunya yang di miliki oleh Mama dan Papa. Itu yang membuat posisinya dan posisi Aero tergusur karena mereka adalah pria. "Sombong juga tidak masalah karena aku memang memiliki kuasa." Aruna membanggakan dirinya dengan percaya diri. Dia punya uang dan kuasa, dia bisa mewujudkan apapun yang Arka mau. Jadi, letak kesalahannya dimana? "Sudah itu saja. Aku tidak membutuhkan yang lain." Arka tidak menginginkan hal lain selain pengalaman baru tinggal bersama seorang gadis di negara orang. Jadi, baginya.. itu sudah lebih dari cukup. "Kalau begitu, temui Opa di ruang kerjanya, dan katakan kalau kamu bersedia bertukar perusahaan denganku." Selesai. Satu permasalahan beres, dan sekarang Aruna hanya perlu membujuk Aero agar menyetujuinya. *** Satu Minggu Kemudian. Arka masih mengikuti mata kuliah saat hpnya bergetar di dalam saku. Dan keuntungan duduk di bangku paling belakang adalah memudahkan dirinya untuk membuka hp secara leluasa tanpa perlu takut ketahuan Dosen. Melihat layar, merupakan pesan singkat yang Aruna kirimkan padanya. Aruna : "Aku sudah mengurus semuanya. Kamu hanya perlu berangkat menggunakan penerbangan malam jam sembilan tepat, tiga hari lagi. Paspor dan semuanya, aku letakan di apartemenmu. Semoga perjalananmu lancar dan menyenangkan. Love. Aruna." Ada emoticon gambar love di akhir kalimat sebelum nama Aruna terukir. Melihat ini, Arka hanya menggelengkan kepala tidak berdaya. Kakak perempuannya ini benar benar menggelikan dan semakin aneh saja. *** Kantin. Orang memang seringkali sulit membedakan antara beruntung ataupun terkutuk. Amira juga tidak tau apakah dia harus mengumpat, menangis atau tertawa. Yang jelas, setelah mendapat kabar dari Bonar Patar bahwa kegadisan Casey akan di beli seharga dua ratus lima puluh juta oleh seorang klien, dia merasa akan mati detik itu juga. Detak jantungnya berpacu sangat cepat sampai dia sulit membedakan, apakah ini mimpi atau kenyataan. Sebenarnya dimana dia sekarang? Amira kehilangan semua kata-katanya sampai dia bahkan tidak menyadari kalau ternyata dia masih berada di Universitas. Letak spesifiknya adalah di kantin. Saat bangun dari keterkejutannya, kantin sudah riuh akan mahasiswa dengan keadaan bangku yang nyaris penuh. Amira mengawasi sekeliling namun tidak melihat Casey dimanapun. Kemana gadis itu? Tanyanya pada diri sendiri untuk mengisi kekosongan yang belakangan ini kian terasa sejak dia dan Casey tidak lagi bicara. Untungnya, aksi bungkam yang Casey lakukan, membuahkan hasil. Terbukti dari keberhasilannya mencari bantuan melalui koneksi Bonar Patar meski dia harus menyisihkan sebentar harga dirinya. Namun meski begitu, dia cukup yakin kalau Casey akan sangat senang mendengar kabar baik ini. Amira meraih hpnya yang tergeletak di atas meja. Lalu dia mengirim pesan singkat agar Casey segera menemuinya di sini. Amira : "Ca, dia bilang.. kegadisanmu sudah terjual." "Dia" yang Amira maksud di sini adalah Bonar Patar, dan Amira yakin kalau Casey pasti tau maksud dari kata "dia". Ting. Casey : "Benarkah?" Amira tersenyum saat mendapat pesan balasan dari Casey. Balasan pesan yang sangat cepat. Dia bisa menyimpulkan kalau saat ini Casey pasti sangat senang. Jelas. Gadis itu pasti berbinar sembari membayangkan Tante Rianti akan sembuh seperti sedia kala setelah melakukan transplantasi ginjal. Amira : "Mm. Kamu temui aku di kantin, sekarang. Aku menunggumu." Selesai mengetik dan mengirimkan, Amira meletakan hpnya kembali. Dia meneguk sedikit minuman dalam kemasan kaleng yang di bawanya dari rumah. Lalu dia melongok layar hpnya untuk melihat balasan seperti apa yang akan Casey kirimkan. Namun, cukup lama menunggu, pesan itu tidak kunjung datang. Yang datang justru Casey dengan cengiran khas yang sudah cukup lama tidak dia lihat. Casey menghampiri Amira yang duduk di sudut di samping jendela, Langkahnya sangat tergesa seolah ada sesuatu yang membuntutinya. Dan sikap buru buru itu yang akhirnya membuat Casey menabrak seseorang. "Maaf." Casey meminta maaf tanpa melihat siapa yang dia tabrak. Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Amira. Arka mengawasi lekat sosok yang sudah menabrak dirinya dan dia mendapati kalau gadis itu duduk di sudut di samping jendela. Gadis yang sangat sederhana. Pikirnya. "Ka, kamu kenapa?" Leo merangkul Arka saat melihat Arka berdiri seperti idi-ot di kantin. Dia menarik pria itu agar bergabung bersama Brian, Bayu, dan Angga yang sudah lebih dulu duduk pada salah satu meja. "Aku baik. Hanya saja-" Arka melirik gadis itu sekali lagi. "Apa yang sedang kamu perhatikan?" Brian mengikuti arah pandang Arka ke sudut kantin. "Oh, anak beasiswa?" Brian berceletuk setelah melihat ke arah sudut dan mendapati yang mengisi bangku bangku di sana adalah anak anak beasiswa dari beberapa jurusan. "Anak beasiswa?" Arka menatap Brian lekat setelah mendengar dua kata yang mampu mencuri perhatiannya. "Iya, anak beasiswa dari beberapa jurusan." Brian memperjelas ucapannya. Salah satu dari mereka adalah teman sepupunya, Arif. Dan Arif sering menceritakan perihal gadis-gadis pintar itu kepadanya. "Sepertinya kamu tau banyak tentang mereka?" Bayu menyambar botol minuman di hadapannya, lalu dia menenggak isinya sampai kandas. Yang dia maksud, jelas untuk menyindir Brian. Namun, yang di sindir seolah tidak menyadarinya. "Sepupuku juga anak beasiswa yang berteman baik dengan mereka. Anak anak jenius dengan pemikiran super canggih namun terhalang biaya untuk bereksplorasi. Memang tidak semuanya. Namun, sebagian dari mereka adalah anak anak yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. " Terbukti kalau pakaian yang mereka kenakan, sangat kolot dan ketinggalan zaman. Namun, meski begitu, paras mereka sangat menarik dengan kecantikan natural tanpa riasan. Itu adalah yang Arif ceritakan padanya karena sesungguhnya dia jarang memperhatikan. "Tapi kalau di lihat sekilas, meski kampungan.. bentuk tubuh mereka lumayan juga." Leo tidak menampik kalau gadis terkurung, tanda kutip dalam hal berpakaian, biasanya adalah gadis gadis dengan bentuk tubuh yang.. katakanlah.. ideal, namun idealitas itu tidak terlihat karena tertutupi pakaian yang tebal layaknya kepompong. "Dasar m***m!" Angga memukul kepala Leo karena sudah berpikir sejauh itu ke arah sana. Dia yakin kalau otak kecil Leo sudah traveling kemana mana membayangkan berapa ukuran da-da dan p****t gadis gadis itu. "Aku tidak mesum." Leo membela diri. "Aku hanya mengulas kasus yang sudah sudah. " Kebanyakan gadis yang mengalami pelecehan seksual adalah mereka dengan penampilan rapi dan tertutup. Entahlah. Dia pikir, gadis yang mengenakan pakaian longgar, mengenakan hoodie dan celana jeans, terlihat lebih menantang dan menarik ketimbang gadis yang gemar memamerkan aurat. Mungkin, pemikiran semacam itu pula yang di miliki oleh para pelaku pelecehan seksual. "Hai, Dilara, kamu di sini?" Bayu menyapa Dilara yang berjalan melewati meja yang sedang dia dan teman-temannya tempati. "Suit suit." Tidak lupa dia menambahkan siulan di akhir kalimatnya. "Jangan ganggu adikku. Dia sudah punya kekasih." Leo meraung saat mendapati adik kesayangannya menjadi bahan godaan teman-teman laknatnya. Dia tidak rela. Sangat. Dilara tidak menanggapi, gadis itu berlalu pergi tanpa menoleh sedikitpun, tanpa mengatakan satu patah katapun. Angga memperhatikan sosok Dilara lekat sampai dia tidak mendengarkan apa yang teman-temannya obrolkan. Gadis itu.. mm.. sangat menarik. Namun sayang seribu sayang karena gadis itu adalah adik kesayangan Leo. Membuatnya hanya bisa memperhatikan tanpa bisa memiliki. "Santai, Bung!" Bayu menepuk bahu Leo secara perlahan. "Kamu jangan sentimen begitu, aku hanya bercanda." Tambahnya. "Jangan jadikan adik kesayanganku sebagai bahan candaan apa lagi sebagai fantasi seksualmu." Leo meraung. Dia seolah mengerti isi pikiran Bayu yang mes-um. Bayu membulatkan mata. "Hei hei hei, bagaimana kamu tau kalau aku menjadikan Dilara sebagai fantasi seksualku?" Yang Bayu katakan semuanya adalah benar. Tidak hanya cantik, namun Dilara juga memiliki tubuh indah yang bisa membangkitkan naluri seorang pria untuk berbuat dosa. Jadi, sangat wajar kalau kadangkala dia menggunakan Dilara sebagai fantasinya. "Bodoh!" Angga memukul kepala Bayu keras-keras sebagai pengingat kalau Dilara bukan objek yang tepat untuk di bicarakan. Bayu mengusap kepalanya. "Jangan munafik, bukannya kamu juga begitu?" Bayu menanyakan pertanyaan ambigu yang membuat Angga kehilangan semua kata-katanya. "A.. aku tidak." Angga menampik tuduhan Bayu dengan gagap. "Aku memiliki beberapa kekasih, jadi.. untuk apa aku membayangkan Dilara?" s**t. Dia berbohong. Pada nyatanya, seberapa banyak pun kekasih yang dia miliki, dalam penglihatannya hanya ada Dilara seorang. Sampai detik ini, tidak ada yang lain terlepas dari apakah Dilara mengetahuinya atau tidak. Celotehan Angga justru membuat mereka semua tertawa. Begitu juga dengan Arka, fokusnya sudah teralihkan berkat kata-kata bijak Angga yang terlalu di paksakan. Namun, karena itu pula, suasana menjadi sangat menyenangkan. "Ngomong-ngomong, aku akan pergi ke luar negeri." Arka memulai pembicaraan serius setelah tawa semua orang reda. Leo terperanjat. "Kamu berlibur atau bekerja? Sebentar atau lama? Sendiri atau berdua?" Leo memberondong Arka dengan beberapa pertanyaan yang dia dapatkan secara spontan. "d***u!" Brian mengumpat. "Tanyakan satu persatu pertanyaan agar Arka tidak bingung." Arka yang di tanya, tidak tau kenapa justru Brian yang merasa kesal. Leo terkekeh. "Jadi, jawab saja!" Leo tidak menganggap u*****n Brian pernah terlontar. "Iya." Jawab Arka. "Iya?" Leo menatap Arka lekat penuh selidik. "Apa artinya itu?" "Artinya, semua yang kamu tanyakan, jawabannya adalah aku bekerja selama beberapa hari di sana tetapi aku tidak sendiri." Aku bersama gadis perawan yang akan Aruna siapkan. Arka melanjutkan di dalam hati. *** Casey duduk di seberang Amira setelah melihat gadis itu berada di sudut. Sebenarnya dia tidak benar-benar marah. Dia hanya melakukan aksi bungkam agar Amira mau menuruti keinginan kecilnya. Jadi, saat Amira memberikan kabar itu, dia merasa perasaannya campur aduk tidak karuan. "Jadi, aku harus berhubungan se-ks selama satu Minggu di sana?" Casey memulai percakapan dengan suara rendah agar tidak di dengar oleh orang lain. Selain ini adalah tempat umum yang ramai akan umat manusia dari berbagai kalangan, pembahasan seputar se-ks juga tidak layak untuk di bahas di area Universitas. Bangku yang Casey duduki berderit saat dia mengubah posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Amira, menunjukkan betapa tuanya usia bangku itu. Amira mengedikkan bahu. "Itu pilihanmu sendiri." "Memang." Casey tidak menampik kalau dia di penuhi tekad saat mengatakannya kala itu. Tapi, entah kenapa dia merasa takut saat kesempatan sudah ada di depan mata. Membayangkan harus tidur selama tujuh hari bersama orang asing, muncul sedikit keraguan di dalam hati. Haruskah dia melakukannya? "Kamu bisa membatalkannya kalau kamu mau." Amira juga tidak ingin Casey menyesal seumur hidup kalau sampai menempuh jalan terkutuk yang sebentar lagi akan Casey lalui. Kalau Casey mundur, merupakan hal yang tepat namun dia cukup yakin Casey tidak akan melakukannya. Selain gadis itu sangat membutuhkan uangnya, gadis itu juga selalu konsisten dengan ucapannya. Jadi, dia yakin seratus persen kalau gadis itu tidak akan mundur. "Konyol. Sudah berada di tepi jurang, sayang kalau tidak melompat." Casey tidak mungkin mundur saat kesempatan sudah ada di depan mata. Terlebih, dua ratus lima puluh juta adalah nominal yang banyak. Jadi, bisa mendapatkannya dalam waktu tujuh hari adalah sebuah keberuntungan yang terkutuk. Amira terkekeh. Dia sudah menduga kalau Casey tidak mungkin mengabaikan nominal yang sangat banyak. Melepas dua ratus lima puluh juga hanya untuk satu Minggu adalah idi-ot. Dan dia rasa Casey tidak cukup bo-doh untuk melakukannya. "Kenapa peribahasamu terdengar aneh? Bukankah seharusnya sudah terlanjur basah, cebur sekalian?" Amira mencoba membenarkan peribahasa yang menurutnya salah meski sebenarnya itu tidak penting untuk di bahas. "Terserah kamu mau berkata apa. Tapi.." Casey mencondongkan tubuhnya. "Apa itu tidak masalah?" Casey cukup khawatir. Tidak! Tapi dia sangat khawatir. "Percayalah, kamu akan baik-baik saja." Amira juga sudah melaluinya. Pada akhirnya, dia baik baik saja meski keperkasaan Bonar Patar sudah berhasil merenggut kegadisannya sampai akhirnya dia terjerumus ke lembah hitam dengan menjadi bagian dari Mahkota Biru. "Oh ya?" "Iya." Amira menganggukkan kepala. "Kamu tidak perlu khawatir. Kamu hanya perlu melakukan yang terbaik namun tetap tidak boleh memaksakan diri." Amira menjeda sebentar kalimatnya. "Beberapa pria justru menyukai gadis yang polos dan penurut. Aku rasa, karakter seperti itu sangat cocok denganmu." Lanjutnya kemudian. Selain masih gadis, Casey juga tidak pernah memiliki hubungan asmara dengan lawan jenis. Jadi, di pastikan kalau Casey masih amat sangat polos dan karakter itu yang terkadang di buru oleh beberapa pria pemburu keperawanan. "Kalau begitu, kamu harus mengajariku." Casey membutuhkan pelatihan sederhana meski itu hanya teori. Setidaknya, dia akan mempraktekkan teori itu agar dia tidak begitu menyedihkan saat melakukan yang pertama. Amira bangkit dari duduknya. "Ayo pergi!" "Kemana?" Casey bertanya dengan tampang bodohnya. Dia ingin agar Amira mengajarinya, tapi kenapa Amira justru mengajaknya pergi? "Mencari referensi di internet." Amira berbisik di telinga Casey. Casey membulatkan mata. Dia bertanya tanya melalui ekspresi wajah tanpa mengatakan apapun. "Kita harus mencari video p***o melalui link haram sebagai bahan pembelajaran agar kamu mengerti." Amira menyeret Casey agar mengikutinya. "Ayo kita ke rumahku saja!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD