Satu Minggu Kemudian.
Universitas.
Amira menatap lekat bangunan yang berada tepat di hadapannya. Merupakan bangunan dimana dia dan Casey berkuliah. Namun, sudah satu Minggu, Casey tidak menyapanya. Casey marah. Jelas. Gadis itu marah karena dia enggan menemui Kutu Kupret Bonar Patar untuk mencari seorang yang bersedia membeli kegadisan yang Casey miliki.
Amira ragu untuk sesaat.
Dia serba salah.
Dia juga tidak tau lagi harus bagaimana.
Diamnya Casey membuat rasa bersalah sekaligus rasa tidak berdayanya mencuat ke permukaan. Memang, sebagai seorang teman, dia tidak banyak membantu. Namun, bukan berarti dia tidak peduli. Justru karena dia sangat peduli, dia menjadi over protective.
Rasa ingin melindungi dan menjaga, benar benar timbul layaknya seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Perasaan itu nyata dan Amira benar benar merasakannya.
"Fiuh." Amira menghela nafas panjang. Dia tidak tau apa sekarang dia harus pergi ke Universitas atau harus pergi ke tempat Kutu Busuk Bonar Patar untuk membicarakan perihal Casey. Sekali lagi dia tidak tau.
Saat bingung, Amira justru tidak bisa berpikir secara rasional. Namun, berkat otak tumpulnya pula, dia sudah memutuskan untuk pergi menemui Tua Bangka itu dari pada terus-terusan di abaikan oleh sahabat terbaik yang dia miliki.
Amira menaikkan kaca jendela mobilnya, dan dia segera menancap gas meninggalkan Universitas dengan kecepatan rendah. Dia seolah sengaja tidak mematikan mesin mobil karena dia sudah berniat untuk tidak mengikuti kelas Ekonomi Pak Handoko yang akan di mulai sepuluh menit lagi.
Dia akan pergi.
Tentu.
Dan kepergiannya adalah untuk menuruti apa yang Casey inginkan, yaitu.. menemui mucikari yang dulu menaunginya. Mucikari yang sudah beberapa bulan, tidak, lebih tepatnya adalah dua puluh empat bulan tidak pernah dia temui lagi.
Amira seolah sudah melupakan bagian dari masa lalunya yang pernah ada. Namun, sepertinya dia harus berterima kasih karena berkat Casey, dia akan menemui pria itu lagi. Amat sangat berterima kasih.
Beberapa saat berkendara, Amira menghentikan mobilnya cukup jauh dari sebuah rumah tiga lantai yang posisinya tepat di samping jalan raya. Rumah itu tidak memiliki pagar ataupun pintu gerbang. Di lihat sekilas, rumah bercat cream itu terlihat seperti rumah biasa yang pada umumnya di tempati oleh sebuah keluarga. Namun, pada kenyataannya.. banyak luka terselip yang dia rasakan setelah memasuki rumah itu.
"Oh sh-it." Amira mengumpat sembari mengusap setitik bening yang luruh di ujung matanya. Kesakitan, penderitaan, di acuhkan, di abaikan, di tinggalkan, dia seolah sudah merasakan semuanya. Dan tanpa Casey ketahui, masuk ke rumah itu sama saja dengan mengorek luka lama yang sudah dia balut rapat.
Amira sudah mematikan mesin mobil. Namun, tidak tau kenapa sabuk pengaman masih melingkar di tubuhnya seolah dia enggan keluar dari mobil. Seolah dia enggan masuk ke dalam sana, ke rumah itu. Seolah dia enggan bertemu dengan Tua Bangka yang dulu selalu setia dia ikuti.
Amira tidak ingin lagi.
Dia tidak mau.
Tapi, dia bisa apa?
Cukup lama Amira berpikir. Dia bahkan menghitung kancing kemejanya untuk memastikan apakah dia memang harus masuk atau tidak.
Tapi, semua itu.. tak ada gunanya.
Amira melepas sabuk pengamannya. Dia bergegas turun dari mobil dan berlari kecil menuju halaman depan rumah itu. Setelah sampai di depan pintu, dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Mendapati keadaan cukup aman, Amira segera mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
Cukup lama menunggu, akhirnya seorang pria berbadan kekar berpakaian serba hitam membuka pintu dari dalam. Amira menatap pria itu lekat penuh selidik. Semua tentang Bonar Patar adalah kotor dan berlumur dosa. Tidak terkecuali para bodyguard yang menjaga ketat tempat ini agar tidak ada gadis yang bisa kabur.
"Aku ingin menemui Bonar Patar." Amira berkata tegas sembari menunjukkan sebuah liontin berbentuk mahkota dengan permata warna biru yang terletak di bagian atasnya, setelah menghabiskan beberapa detik waktunya untuk bersitegang dengan pria berotot itu. Liontin mahkota biru itu menjadi simbol keanggotaan yang mutlak. Juga menjadi sebutan Bonar Patar untuk memanggil anak anaknya, yaitu Mahkota Biru.
Pria itu mengangguk dan membuka lebar pintunya agar Amira bisa masuk setelah melihat liontin yang Amira tunjukkan. Merupakan tanda keanggotaan dimana anak anak Bonar Patar memiliki akses untuk keluar masuk ke tempat ini secara bebas.
Amira bergegas masuk ke dalam dan naik ke lantai dua tanpa menunggu pria berotot itu mempersilahkannya. Dia tau persis dimana pria tua itu biasa menghabiskan hari bersama anak anaknya yang cantik jelita. Jadi, tanpa menunggu lagi, dia segera masuk ke sebuah ruang yang letaknya berada di samping kanan tangga.
Tok tok tok.
Amira mengetuk pintu sebagai bagian dari kesopanan padahal di tempat ini kesopanan tidak berlaku lagi. Namun, sebagai wanita yang pernah bekerja di sini, dia merasa perlu untuk menghormati pria tua itu.
"Masuk."
Mendapat instruksi untuk masuk, tangan Amira terulur untuk meraih gagang pintu. Setelah teraih, dia segera memutar gagang pintunya.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Menampilkan pemandangan berupa pria tua yang di kerubungi oleh beberapa gadis muda. Beberapa di antaranya adalah wajah wajah yang pernah dia kenal. Merupakan teman satu perjuangan yang dulu pernah berjuang dengannya. Saat dia berhasil hidup dan keluar dari tempat lak-nat ini, beberapa temannya masih terjebak akan pusaran hitam yang menipu.
Untungnya.. dia tidak lagi dan tidak akan pernah menjalani hidup kotor dalam genangan dosa seperti itu. Tidak akan lagi.
"Oh, Mahkotaku. Mahkota biruku." Bonar Patar berseru setelah melihat yang datang adalah Amira, salah seorang anak yang dulu bekerja untuk memperkaya dirinya. "Masuklah." Ucapnya sembari melambaikan tangan meminta agar Amira masuk ke dalam.
Amira masuk ke dalam dengan nyali ketar ketir. Namun, langkahnya tegap dan penuh tekat. Jadi, meskipun sangat sulit, dia bersedia melewati jalan ini demi membuat Casey tenang.
Di pangkuan Bonar Patar adalah dua gadis cantik yang duduk dengan bergelayut manja pada tubuh pria itu. Merupakan pemandangan menjijikkan namun dia pernah berada pada posisi itu beberapa tahun yang lalu. Jadi, dia tidak akan menghakimi seseorang yang berada dalam keadaan terdesak karena dia juga pernah mengalaminya.
Amira menundukkan pandangannya agar tidak melihat aktivitas memalukan di depannya. Dia malu sendiri dengan apa yang terjadi.
Sangat sulit.
Memang.
Sangat sulit untuk meninggalkan kehidupan seperti itu. Dan untungnya, Amira bisa lepas setelah bertahun-tahun terjebak dalam prostitusi yang Bonar Patar gawangi.
"Kalian pergi dan tutup pintunya." Bonar Patar memberikan instruksi agar anak anaknya menyingkir barang sebentar agar dia dapat berbincang dengan Amira secara pribadi.
Bagaimanapun, kedatangan salah seorang mahkota biru yang sudah lama tidak mengikutinya, jelas ada suatu hal penting yang harus di bicarakan. Kalau tidak, tidak mungkin Amira ujug-ujug datang tanpa memberitahunya terlebih dulu.
Anak anak Bonar Patar sangat penurut dan langsung beranjak dari pangkuannya saat dia memberikan instruksi agar mereka pergi. Tidak lupa masing masing dari mereka, memberikan kecupan di pipinya.
Bonar Patar memperhatikan satu persatu siluet anak anaknya yang meninggalkan ruangan dan menutup pintu kembali.
Seketika ruangan menjadi sunyi. Hanya bau tembakau dan minuman keras yang tersisa selain dua sosok manusia yang masih diam, tidak mengatakan apapun dan tidak melakukan apapun.
"Amira." Suara Bonar Patar yang berat dan lembut memecah kesunyian. Dari nada suaranya, jelas dia merasa rindu akan sosok Amira yang dulu menemani dirinya hampir enam belas jam dalam sehari.
Mendengar namanya di panggil, Amira menaikkan wajahnya. Seketika sosok tua bangka, dengan rambut hampir putih semua, berperut buncit, bertubuh tambun, serta lengan yang penuh dengan tato gambar Lucifer yang dalam mitologi merupakan fallen angel atau malaikat yang di jatuhkan dari surga, tertangkap penglihatannya.
Dua puluh empat bulan tidak bertemu, nyatanya Bonar Patar tidak banyak berubah. Pria tua itu masih gemuk dengan suara khas yang lembut saat memanggil anak anaknya. Masih sama seperti terakhir kali Amira meninggalkannya.
"Duduk dan katakan kenapa kamu datang?" Bonar Patar menghisap sekali lagi rokoknya sebelum akhirnya dia menjejalkan puntung rokoknya ke dalam asbak.
Amira mendudukkan diri di atas sofa dengan pandangan menatap Bonar Patar penuh selidik. "Casey tidak mau bicara denganku." Ucapnya untuk mengawali perbincangan. Casey tidak mau bicara dengannya adalah fakta. Dan itu adalah alasan yang membuat dirinya mau tidak mau datang ke sini untuk mencari seseorang yang sekiranya bisa membantu masalah yang sedang Casey hadapi.
Bonar Patar mengerutkan kening. "Bukankah itu sudah biasa?" Dulu, dia dan Amira tidak hanya bertukar peluh, namun mereka juga bertukar pendapat dan menceritakan berbagai hal yang tidak bisa di ceritakan kepada orang lain. Jadi, saat Amira menyebut nama Casey, dia langsung mengerti Casey mana yang sedang Amira bicarakan.
"Casey membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit ibunya." Amira menjawab pertanyaan Bonar Patar dengan kalimat lain yang jauh dari pertanyaan asli yang Bonar Patar lontarkan.
"Jadi?" Tidak tau kenapa Bonar Patar mulai tertarik dengan pembicaraan ini. Karena baginya, semua tentang uang adalah sesuatu yang sangat menarik dan sayang untuk di lewatkan.
"Jadi, dia ingin seseorang membeli kegadisannya." Amira menjawab singkat dan langsung ke intinya. Berbasa basi dengan Bonar Patar bukanlah sesuatu yang baik. Jadi dia hanya ingin mengakhiri secepat yang dia bisa.
Bonar Patar menganggukkan kepala. Sejauh ini dia bisa memahami situasi yang terjadi. "Berapa yang dia butuhkan?" Dia belum memiliki gambaran apapun tentang seseorang yang bersedia membeli sebuah kegadisan. Namun, dia optimis bisa mendapatkan klien itu.
"Dua ratus lima puluh juta."
"Begitu?" Bonar Patar menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Mendengar nominalnya yang lumayan, dia memutar otak barang sejenak. Namun meski begitu, tidak ada raut keterkejutan yang terpancar dari wajahnya. "Hanya segelintir orang yang bersedia membayar harga semahal itu. Namun bukan hal mustahil untuk mendapatkan kalau mau bersabar dan sedikit menunggu."
Iya. Menurut Bonar Patar, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Selama berusaha, pasti akan menemukan jalan. Apa lagi, ini perkara mudah berupa kegadisan. Sedangkan kebanyakan klien yang datang kepadanya, berasal dari kalangan menengah ke atas. Jadi, uang dua ratus lima puluh juta, bukan hal sulit untuk di dapatkan. Kuncinya hanya satu, sabar.
"Aku akan menunggu kabar baik darimu. By the way, nomorku masih sama. Jadi, kamu bisa menghubungiku kapanpun. Tetapi, aku hanya ingin mendengar kabar baik." Maksud Amira sudah jelas kalau dia hanya ingin Bonar Patar menghubungi dirinya kalau membawa kabar baik. Kalau tidak, lebih baik tidak perlu menghubungi.
***
RC Residence.
Arka mengemudikan mobilnya kembali ke kediaman. Terasa aneh saat tiba tiba Opa meminta dirinya untuk datang. Kalau bukan sesuatu yang mendesak, pasti sesuatu yang mengejutkan. Pikirnya.
Benar saja, setelah tiba di kediaman, Arka mendapati sesuatu yang aneh di kediaman Opa.
Arka mengerutkan kening saat melihat kejadian menakjubkan di depannya. Membuatnya bertanya tanya tentang alasan kenapa Aruna pulang dan parahnya, wanita itu juga duduk manis di balik meja makan.
Kedatangan Aruna adalah hal yang mustahil. Sesuatu yang tabu adalah saat Aruna pulang ke rumah dengan memasang tampang manis dan itu sangat menjijikan. Seakan mengandung siasat terselubung yang pastinya akan merepotkan.
Bohong kalau Arka berkata tidak terkejut, pada nyatanya dia bahkan sangat terkejut sampai jiwanya nyaris menghilang. Sesuatu yang janggal pasti sedang terjadi di sini. Tapi untuk penyebabnya sendiri, itu masih belum pasti. Terlebih, baik Opa ataupun Aero, tidak ada yang mengatakan apapun.
"Arka, kamu sudah datang?" Aruna tersenyum ramah sembari menatap Arka dengan tatapan genit. Dia bangkit dari duduknya dengan merentangkan tangan untuk memeluk adik bungsu kesayangannya. Adik kesayangan kalau ada maunya. Kalau tidak, Arka bukan adiknya. Seegois itu.
"Ada apa denganmu? Kamu tampak aneh." Arka melengos pergi dan mendudukkan diri pada salah satu kursi di balik meja makan. Dia enggan berurusan dengan Aruna yang akan baik kepadanya kalau ada maunya saja. Dan siasat buruk itu sudah terbaca melalui penglihatan anti kemunafikan yang dia miliki.
"Tidak bisakah kamu berpikir positif tentang ku?" Aruna tidak mengambil hati. Dia dan Arka memang begitu. Terlebih, satu satunya orang yang mengerti dirinya hanya Aero dan selalu pria itu. Tidak dengan Arka yang menyebalkan.
"Tidak." Arka menjawab singkat.
"Haish." Aruna mendesis. Dia tidak banyak berkomentar namun dia mendudukkan dirinya pada kursi yang berhadapan dengan Arka yang hanya terhalang meja.
"Ngomong-ngomong, dimana Opa dan semua orang?" Arka mengedarkan pandangan ke sekeliling saat tidak menjumpai siapapun di dalam rumah. Tidak ada Opa, juga tidak ada Mama dan Papa. Yang ada hanya Aruna, namun hadirnya wanita itu tidak serta merta memberikan kenyamanan yang dia butuhkan saat berada di kediaman utama keluarga Reynand.
"Opa ada di ruang kerjanya. Sedangkan Mama dan Papa.." Aruna mengedikkan bahu. "Entahlah. Aku juga tidak tau." Orang tua mereka selalu saja menghilang tanpa jejak. Datang tak di jemput, pulang tak di antar. Macam Jelangkung saja mereka.
"Fiuh." Arka menghela nafas panjang. "Lantas, kenapa Opa memintaku datang? Apa ada sesuatu yang penting seperti konspirasi terselubung yang di lakukan di belakang Aero?" Arka menyimpulkan hasil analisis yang dia dapat melalui gerak gerik Aruna yang mencurigakan.
Aruna menggelengkan kepala. "Tidak ada apapun."
Arka menaikan sebelah alisnya. "Tapi?"
"Tapi.." Aruna mendekatkan wajahnya agar ucapannya bisa di telaah oleh Arka dalam satu kali pelafalan tanpa dia harus mengulang-ulang. "Aku membutuhkan sedikit bantuanmu." Lanjutnya dengan bisikan pelan.
"Bantuan apa yang kamu maksud?"
"Bertukar saham, mungkin?"
"Apa?" Arka sedikit terkejut.
"Jangan terkejut. Aku hanya ingin mengakuisasi perusahaan RC Jakarta. Sudah itu saja." Aruna merasa apa yang dia katakan sangat masuk akal. Masing masing cucu Opa, memiliki saham dari tiga perusahaan inti dari tiga negara yang berbeda. Seperti Aero yang memegang kendali RC di Jerman, dia memegang kendali RC di Filipina, sedangkan Arka akan memegang kendali RC di sini. Arka akan memegang RC di negara ini, tapi belum. Tunggu sampai Arka lulus kuliah dan mendapatkan sertifikat kelulusannya, baru Arka akan turun tangan memimpin perusahaan di sini.
Jadi, sebelum itu terjadi, Aruna ingin Arka menandatangi berkas pemindahan kekuasaan, tidak! Maksudnya adalah dia ingin Arka menandatangani berkas pertukaran perusahaan.
Aruna ingin mendapat perusahaan di negara ini dan sebagai gantinya, Arka mendapatkan perusahaan di Manila, Filipina.
Pertukaran yang adil, bukan?
"Jadi, kamu ingin kita." Arka menunjuk dirinya sendiri lalu dia menunjuk Aruna. "Kamu dan aku, bertukar perusahaan? Begitu?"
"Kira kira seperti itu intinya."
Arka mengulas senyum tipis sembari menopang dagu dengan tangan menggunakan siku yang di letakan di atas meja sebagai tumpuan. "Kenapa harus? Aku tidak setuju. Aku menolak. Lagi pula, atas dasar apa? Bukankah perusahaan di Manila, jauh lebih maju dari pada perusahaan di sini?"
Sebenarnya Arka masih memikirkan usul Aruna yang sebenarnya tidak buruk. Hanya bertukar perusahaan, bukan hal yang harus di persulit ataupun di besar besarkan dalam konteks bisnis apa lagi ini menyangkut persaudaraan.
"Sebenarnya kamu tidak akan rugi kalau menerima tawaranku." Aruna tidak tergesa-gesa dalam bernegosiasi dengan Arka. Dia tau kalau Arka masih menimbang segala sesuatunya dan masih belum menemukan jawaban. Jadi, dia akan sabar menunggu setidaknya satu atau dua menit.
"Memang tidak ada ruginya. Tapi aku tidak suka tinggal di negara lain." Arka tidak berniat untuk mempersulit Aruna, dia hanya mengatakan alasan paling realistis yang dia rasakan.
"Katakan saja apa yang kamu inginkan?" Aruna tau kalau Arka tidak semudah itu untuk menuruti apa yang dia mau. Setidaknya, ada harga yang harus dia bayar. Pasti.
"Benarkah?"
Aruna menganggukkan kepala.
"Apapun itu?"
"Yeah." Aruna menjawab cepat.
"Kalau begitu, aku ingin seorang gadis perawan menemaniku selama di Manila."