5. KIC

1940 Words
Salfa yang masih takut papanya akan mengetahui kedatangan Raziq pun langsung turun kebawah untuk menghampiri papanya yang masih berada di depan rumah. Dan ternyata benar papanya dan supirnya masih bicara di depan pintu gerbang. “ Pa.” Panggil Salfa yang menghampiri papanya. “ Salfa” “ Papa lagi ngapain sih, kok ngga langsung masuk.” Tanya Salfa. “ Ngga ada apa-apa kok fa, Cuma tadi kata pak Arman ada mobil mencurigakan yang dari sore sampai malam di depan rumah terus. Seperti lagi mengintai rumah ini. Tapi kamu tenang aja mobil itu udah pergi kok.” Jawab papanya. Salfa pun hanya bisa menelan ludahnya ketika semua orang mencurigai keberadaan Raziq. “ Paling juga Cuma orang numpang berhenti pa, jangan terlalu di fikirin pa.” balas Salfa mencoba membuat fikiran papanya teralihkan. “ Mungkin aja sih fa. Tapi zaman sekarang memang tetap harus waspada. Karena sekarang rawan banget terjadi kejahatan dimanapun. Walaupun di tempat ramai pun juga sering terjadi.” Ujar papanya. “ Udah pa, lebih baik sekarang kita masuk, mama udah masakin makanan enak banget.” Ajak Salfa yang membuat papanya tidak membahas hal ini lagi. Setelah mengajak papanya masuk Salfa pun kembali ke kamar. Dirinya pun kembali mencoba menghubungi Raziq. “ Halo, Assalamualaikum bby.” “ Waalaikumsalam, Mai.” “ Sekarang kamu dimana.” “ Di jalan mau ke apartemen. Malam ini kamu datang kan ke apartemen.” Tanya Raziq. “ Maaf bby keliatannya malam ini aku ngga jadi datang ke apartemen. Apalagi papa tadi ngira kamu orang jahat yang lagi mengintai. Maaf ya bby, aku Cuma ngga mau buat papa curiga.” Balas Salfa. Dan Salfa pun mendengar helaan nafas kecewa dari Raziq. “Ok lah kalau gitu. Aku pun ngga bisa berbuat apa-apa kan.” Balasnya. “ Kamu ngga marah kan bby.” “ Ngga Mai, aku ngga marah kok. Aku Cuma kangen aja sama kamu.” “ Mai pun begitu, kita ketemu besok ya bby.” “ Hmmm.” “ Ya udah Mai tutup dulu ya bby. Oh iya bby, Mai mohon jangan lakuin hal seperti tadi ya bby. Mai ngga mau kamu ketahuan dan sampai kena marah papa.” “ Iya Mai.” “ Assalamualaikum.” “ Waalaikumsalam.” *** Rencana yang sudah dia rancang semalam pun kembali gagal. Awalnya pagi ini dia ingin datang awal ke apartemen untuk menemui suaminyadan menyiapkan sarapan. Namun semua itu gagal ketika papanya mengatakan kalau nanti malam dia dan mamanya di suruh menemani papanya datang ke sebuah pesta perayaan ulang tahun pernikahan rekan papanya. Dan setelah itu mamanya pun mengajak dirinya untuk membeli gaun. Karena mamanya tahu kalau Salfa tidak memiliki gaun untuk pergi ke pesta. Wajah Salfa pun terus murung ketika dirinya sedang berada di butik untuk memilih gaun. Mamanya pun menyadari sikap putrinya yang tidak seperti biasanya. “ Fa.” “ Iya ma.” “ Kamu kenapa sih biasanya paling semangat kalau di ajak shoping. Tapi kali ini mama perhatikan kok wajah Salfa cemberut dan ngga ada semangat-semangatnya. Kenapa kamu fa.” Tanya mamanya. “ Salfa ngga apa-apa sih ma. Cuma Salfa malas aja ma buat pergi keacara itu. Salfa kan ngga kenal sama teman-teman papa ma. Salfa taku malu-maluin mama sama papa kalau sampai Salfa ikut.” Ucapnya yang beralasan. “ Jangan begitu dong fa, apa yang papa katakan pagi tadi itu ada benarnya juga fa. Siapa tahu kalau nanti kamu ikutan, kamu bakalan menemukan pengalaman karena berada disekitar orang-orang hebat. Dan siapa tahu juga ada salah satu perusahaan teman papa yang kamu inginkan untuk tempatmu bekerja. Katanya kamu ngga mau kerja bareng papa dulu. Dan siapa tahu juga di pesta nanti kamu bakalan ketemu sama jodoh kamu.” Ledek mamanya. “ Apaan sih ma, ngga dengan opsi yang terakhir ya ma.” “ Memangnya kenapa, kan anak mama masih single siapa tahu juga kan bisa dapat jodoh disana, atau jangan-jangan sudah ada laki-laki yang berhasil mencuri hati anak mama ya.” Ledek mamanya lagi. “ Apaan sih ma, ngga begitu juga kali.” Balas Salfa dengan tersenyum malu. “ Udah deh Salfa mau nyobain baju aja lagi dari pada nanti di ledekin terus sama mama.” Balasnya yang langsung masuk kamar ganti. *** Salfa pun yang mengenakan gaun maroon pun terlihat begitu anggun dan menawan. Dan ketika dirinya masuk ke ballroom bersama orang tuanya pun ternyata Salfa langsung menjadi pusat perhatian para laki-laki muda yang juga ada disana. Papa dan mamanya pun hanya tersenyum melihat anaknya yang saat ini menjadi pusat perhatian. Namun ternyata berbeda dengan Salfa, justru saat ini dirinya begitu risih karena banyak yang memandang kearahnya. Setelah memberikan selamat pada pak Timo dan isterinya, mereka bertiga pun mencari tempat untuk duduk. “ Ma, kenapa sih pada ngliat Salfa begitu, emangnya Salfa aneh ya.” “ Mereka liatin Salfa karena mereka terpesona akan kecantikan kamu malam ini, sayang.” Jawabnya. “ Mama ngada-ngada deh.” “ Bisa-bisa malam ini papa bakalan dapat menantu deh.” Gurau papanya. “ Apaan sih pa, papa sama mama ada-ada aja deh. Salfa kan baru lulus kuliah pa.” Ujarnya. Namun dalam hatinya pun bicara. “ Papa memang sudah dapat menantu pa.” Candaan itu pun terhenti ketika keluarga Salfa berpas-pasan dengan keluarga Raziq. Salfa dan Raziq tidak tahu kalau mereka akan bertemu diacara yang sama. Raziq memang memberitahukan kalau dirinya malam ini ada acara begitu pula denganSalfa, dia sudah meminta izin Raziq kalau malam  ini dirnya akan menemani orang tuanya datang ke acara temannya. Dan mereka berdua tidak menyangka kalau mereka akan bertemu seperti ini apalagi dengan orang tua mereka. Suasana pun semakin tegang ketika tatapan tajam pada papa mereka saling bertemu. Raziq pun kemudian menarik tangan papanya supaya menjauh dari sana. “ Pembunuh.” Ucap papa Raziq dengan lirih, namun ternyata kata tersebut bisa memancing emosi papa Salfa. “ Sebaiknya kita temui pak Timo dulu pa.” Ajak Raziq yang membuat papa dan mamanya setuju untuk pergi dari sana. Senyuman tipis pun terlihat dari bibir Raziq dan Salfa ketika pandangan mereka bertemu namun itu hanya sebentar sebelum Raziq pergi. Salfa pun mengajak orang tuanya. “ Ayo pa.” “ Kenapa kita harus bertemu dengan mereka disini.” “ Pa, ini kan bukan acara papa. Apalagi papa dan keluarga mereka sama-sama kenal dengan pak Timo. Pastilah dia juga diundang.” “ Kenapa kamu seperti membela mereka.” “ Astagfirullah pa, Salfa bukan membela. Tapi Salfa Cuma bilang apa adanya kok. Udah deh pa, selama acara berlangsung kita buang dulu perasaan ini. Ngga enak kalau sampai orang liat pa.” balas Salfa. Mamanya pun membantu Salfa untuk meredakan emosi suaminya. Tidak berbeda dengan keadaan papa Raziq saat ini. Dia pun dapat melihat emosi yang terpancar dari raut wajah papanya. “ Pa, tolong dong pa jangan emosi seperti ini. Apalagi di tempat umum begini.” Ucap Raziq. “ Kamu ngga tahu apa yang papa rasain setiap melihat wajah laki-laki itu dan keluarganya.” Balas papanya. “ Raziq tahu kok perasaan papa. Tapi kali ini kita ada di acara orang lain.” Balas Raziq yang terus mengingatkan papanya. “ Benar yang dibilang Raziq pa.” Ujar mamanya juga. “ Kalian memang sama saja.” Jawab papa Raziq yang langsung berjalan duluan karena masih kesal dengan kejadian tadi. Raziq dan Salfa yang duduk berjauhan pun terus-terusan saling memandang. Apalagi Raziq terus-terusan terlihat kesal setiap ada laki-laki yang berusaha mendekati Salfa. Seperti saat ini Salfa di suruh papanya untuk mengambilkan makanan, namun ketika sedang mengambil makanan ada laki-laki yang mencoba mengajak dirinya mengobrol. Emosi pun langsung terlihat diwajah Raziq, dia pun mencari cara supaya tidak ada yang berani mendekati isterinya lagi. “ Awww.” Ucap laki-laki yang ditabrak oleh Raziq. “ Sorry… sorry saya ngga sengaja. Aduh baju anda jadi basah deh.” Ucap Raziq yang pura-pura tidak sengaja, padahal dirinya memang sengaja menumpahkan minuman itu ke baju laki-laki tersebut. “ Gimana sih kalau jalan.” Ucap laki-laki tersebut yang langsung meninggalkan Salfa. Sedangkan Salfa hanya tersenyum melihat kejadian itu. Karena dirinya tahu kalau semua itu hanya akal-akalan Raziq untuk menjauhkan semua laki-laki darinya. Salfa pun sebenarnya risih banyak laki-laki yang mencoba dekat dengannya, tapi untung saja ada Raziq yang menjauhkan mereka darinya. “ Makasih bby.” Ucapnya lirih supaya tidak terlihat orang tuanya kalau mereka berdua saling bicara. “ Aku tunggu di loby.” Ucapnya sambil berjalan. Dan setelah Salfa mengantarkan makanan tersebut ke meja papanya pun dia meminta izin untuk pergi ke toilet. Namun semua itu hanya akal-akalan Salfa saja, dia ingin menemui suaminya yang sudah beberapa hari ini tidak bisa ia temui. Benar saja, Raziq sudah menunggu Salfa di loby.  Mata Salfa pun terus beredar untuk mencari keberadan suaminya. Tak lama kemudian senyuman pun terpancar dari wajahnya ketika dia sudah bisa menemukan suaminya. Di sofa Raziq sedang memandangi ponselnya dengan wajah murung. “ Bby.” Panggil Salfa. Namun Raziq tidak menjawab, dia masih saja kesal dengan kejadian di pesta itu. “ Bby kamu kenapa sih, kok aku panggil diam aja.” Tanya Salfa yang langsung duduk. Tapi dia tidak bisa dekat-dekat dengan Raziq karena dia takut ada yang memata-matai mereka berdua. “ Bby jawab dong bby, jangan diam aja.” Raziq langsung menghela nafas dan memandang Salfa. “ Gimana laki-laki ngga terpesona sama kamu kalau kamu keluar dengan penampilan yang seperti ini Mai, aku ngga suka ngliat laki-laki lain ngliatin kamu dengan tatapan yang menyebalkan. Kamu itu milikkku Mai, Cuma aku yang bisa didekatmu dan terus memandangimu. Aku ngga suka kalau kamu keluar dengan kecantikanmu yang diatas rata-rata. Aku ngga suka Mai, aku cemburu. Dan kenapa kamu ngga bilang kalau kamu akan datang ke acaranya pak Timo.” Ucap Raziq tanpa berhenti, justru hal itu membuat Salfa hanya tersipu malu dan bahagia karena suaminya itu bisa cemburu seperti ini. Salfa langsung meletakan jarinya di mulut Raziq. “ Bby bicaranya jangan keras-keras nanti ada yang denger gimana. Kalau sampai papa kamu dan papaku tahu gimana. Aku juga ngga menyangka kalau aku bisa ketemu kamu disini.” Ujar Salfa yang khawatir. Tanpa berfikir panjang, Raziq pun langsung menarik tangan Salfa untuk pergi ke basemant. Disana ternyata Raziq membawa Salfa dengan mobilnya. “ Bby kita mau kemana bby, kita ngga boleh pergi gitu aja. Gimana sama orang tua kita. Masa kita pergi ninggalin mereka sih. Kalau mereka nyariin kita gimana bby.” Tanya Salfa yang takut. “ Kita mau kencan.” Jawab Raziq dengan singkat, dan terus melajukan mobilnya. “ Kencan! Bby kamu jangan ngada-ngada deh. Aku pergi kesini sama orang tuaku bby, gimana kalau mereka nyariin aku.” Balas Salfa. “ Ya bilang aja, kalau kamu pulang duluan atau kamu pergi ke rumah Hani. Karena tiba-tiba Hani telfon.” “ Tapi masa aku harus sering bohong sama mereka sih bby, aku ngga nyaman bby.” “ Apa kamu ngga kangen sama aku. Apa kamu ngga mau kencan sama aku. Apa kamu ngga suka pergi sama suami kamu. apa kamu mau aku anterin balik kesana.” Tanya Raziq pada Salfa. Dan hal itu pun kemudian membuat Salfa bungkam. “ Maaf bby, bukannya aku ngga mau. Aku begini karena aku takut kalau sampai orang tua kita tahu kalau kita pergi bareng. Dan aku pun takut kalau sampai mereka misahin kita berdua.” Jawab Salfa. “ Kamu jangan takut Mai, selama aku ada didekatmu ngga akan ada yang berani memisahkan kita. Kita akan selalu sama-sama Mai, kamu percaya kan sama aku.” Ujar Raziq yang membuat Salfa percaya padanya. Kemudian Salfa langsung memeluk lengan Raziq yang sedang menyetir. “ Maaf ya bby.” “ No problem. Sekarang  kita jadi kencan kan.” Tanyanya. “ Jadi dong, memangnya kita mau kencan kemana bby.” “ Ke apartemen.” Salfa langsung menjauh dari Raziq dan menatapnya. “ Kalau ke apartemen sih bukannya kencan, itu sih maunya kamu.” Balas Salfa yang sudah bisa menebak keinginan suaminya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD