Akhirnya paginya Salfa pun pulang ke rumah orang tuanya, setelah semalam dia menginap di apartemen bersama dengan Raziq. Namun raut wajah Salfa sedikit berubah ketika dirinya mengingat ucapan Raziq yang meminta izin padanya untuk berangkat ke Bengkulu untuk mengurusi proyek yang sedang ia tangani. Semua itu membuat Salfa sedih karena dirinya harus jauh dari Raziq selama beberapa hari kedepan.
“ Salfa.” Panggil papanya yang membuat Salfa terkejut karena dirinya sedang melamun.
“ Papa.” Jawabnya yang langsung memandang kearah papanya.
“ Kenapa semalam kamu pergi begitu aja, ketika acara belum selesai. Memangnya ada apa dengan Hani sampai kamu harus segera kesana.” Tanya papanya yang kesal karena Salfa meninggalkan acara secara tiba-tiba.
“ Sebenarnya Hani ngga kenapa-napa pa, dia baik-baik aja kok. Salfa aja yang memang pingin kesana. Karena Salfa malas ada di pesta itu pa, Salfa ngga suka ada disana. Apalagi banyak orang yang sok deket sama Salfa. Salfa benar-benar ngga nyaman pa, maka dari itu Salfa pergi dari sana.” Ucapnya yang harus kembali berbohong.
“ Tapi kan papa malu sama teman-teman papa, karena kamu mendadak menghilang. Tapi semalam ada yang ngliat kamu pergi diantar sama laki-laki. Siapa dia.” Tanya papanya yang mengintropeksi Salfa.
Apa yang Salfa takutkan pun terjadi. Dia takut ada orang yang mengenalinya dan melihat dirinya bersama dengan Raziq.
“ Oh Salfa memang telfon taksi online pa. Mungkin yang dimaksud teman papa itu taksi online yang Salfa pesan.” Jawabnya dengan perasaan khawatir karena papanya ternyata curiga padanya dan takut kalau papanya tidak percaya. Namun Salfa pun tetap merasa bersalah karena telah membohongi papanya seperti sekarang.
“ Ok kalau gitu, lain kali kalau mau pergi jangan begitu lagi ya fa, papa sama mama benar-benar khawatir.” Balas mamanya.
“ Iya ma, maaf ya ma.” Ujarnya.
***
Siangnya ketikaSalfa sedang membantu mamanya menyiapkan makan siang, tiba-tiba pintu rumah pun terbuka.
“ Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam. Hani.” Ucap Salfa yang tidak menyangka kalau sahabatnya ini akan datang menemui dirinya.
“ Biasa aja kali fa ngliatnya, kaya ngga ketemu satu tahun aja. Baru juga beberapa hari ngga ketemuudah kangen aja.” Balas Hani.
“ Hai Hani, baru juga semalam ketemu dan tidur bareng sama Salfa masa sekarang udah kangen lagi.” Ucap mamanya.
Hani yang tidak faham dengan ucapan mamanya Salfa pun hanya mengerutkan dahinya. “ Semalam.” Ucapnya. Sedangkan Salfa hanya bisa menelan ludahnya karena mungkin dia akan ketahuan kalau kali ini dirinya membohongi mamanya.
“ Biasa ma, namanya juga cewek, ngobrolnya ngga ada habisnya dong, iya kan Han.” Ucap Salfa yang mencoba mencairkan keadaan yang membuat Hani bingung.
“ Mungkin iya.”
“ Kok Hani keliatan bingung gitu, tunggu deh apa jangan-jangan Salfa bohongin mama sama papa ya.”
“ Bohong tentang apa ma.”
“ Hani jawab tante, apa semalam Salfa tidur di rumah kamu.” Tanya mama Salfa yang mengintrogasi Hani. Dan Hani yang di tanya seperti itu pun bingung, dia pun menatap kearah Salfa. Begitu pula dengan Salfa, kali ini jantungnya benar-benar berdebar kencang karena mamanya mencurigai dirinya. Kemudian Salfa pun memandang kearah Hani dan memberikannya kode supaya Hani berbohong pada mamanya.
“ Owh ... semalam... itu tante maksudnya memang semalam Salfa nginep di rumah Hani. Dan hari ini gantian Hani yang mau nginap sini tante.” Jawab Hani.
“ Tuh kan ma, sekarang mama udah percaya kan sama Salfa. Kalau gitu Salfa masuk ke kamar dulu ya ma sama Hani.”Ucapnya dan langsung menarik tangan Hani untuk ke kamarnya.
Ketika berjalan Hani terus memukul Salfa karena menyembuyikan sesuatu darinya. “ Kamu harus bilang ke aku semuanya fa, apa yang lagi kamu sembuyikan dari semua orang. Kenapa bisa mama kamu ngira kalau semalam kamunginap di rumahku, memangnya kamu semalam ada dimana.” Tanya Hani dengan lirih.
“ Sssst, diam dong Han, nanti bisa-bisa mama denger. Ok... ok aku akan ceritakan semuanya ke kamu.” Jawab Salfa.
Sesampainya di kamar Salfa, Hani terus saja bertanya karena dirinya tidak sabar untuk mengetahui hal yang sudah Salfa sembuyikan darinya dan keluarganya.
“ Fa... apa yang sebenarnya terjadi, coba jelaskan ke aku.” Tanyanya.
“ Aku akan ceritakan semuanya ke kamu Han, tapi aku mohon sama kamu Han. Kalau rahasia ini ngga akan pernah bocor ke siapapun sampai aku sendiri yang mengatakannya pada kedua orang tuaku.” Pintanya.
“Ok.. ok tapi memang apa yang sebenarnya terjadi fa. Apa rahasia besar yang lagi coba kamu sembuyikan.”
Salfa pun mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Kemudian dirinya membuka galeri untuk melihat berbagai foto dirinya bersama dengan Raziq. Dan Salfa pun menujukkannya pada Hani.
“ Ya Allah fa, ini kan kamu fa. Dan laki-laki ini, bukannya dia Maulana Raziq Raditya anak dari Fendy Raditya yang tidak lain adalah musuh papa kamu sendiri. Terus ada hubungan apa kamu sama dia fa, kenapa kalian keliatan dekat sekali seperti pasangan kekasih.” Ungkap Hani yang syok melihat foto-foto tersebut. “ Terus kenapa kalian pakai pakaian seperti itu fa, kenapa kalian seperti sedang menikah. Fa tolong fa jawab aku, jangan buat aku bingung seperti ini.” Ucap Hani yang benar-benar takut kalau sahabatnya ini memiliki skandal besar.
“ Aku sama mas Raziq kuliah di tempat yang sama Han, dan disana dia dan teman-temannya begitu membantuku untuk menyesuaikan diri sebagai mahasiswa baru. Lama-kelamaan kita semakin dekat. Awalnya aku ragu untuk lebih dekat dengannya dikarenakan status dia yang anak darimusuh papaku. Tapi aku benar-benar bisa melihat ketulusan dia Han, dan hal itulah yang membuat aku mulai membuka hatiku untuk dekat dengannya. Dan ngga disangka dia pun memiliki perasaan yang sama padaku Han, diantara kita berdua tumbuhlah benih-benih cinta Han.” Ungkap Salfa
“ Astagfirullah fa, kamu sadar ngga sih fa dengan apa yang kamu lakukan. Kamu sudah membuat masalah besar karena dekat dengannya fa. Gimana kalau sampai papa kamu tahu. Fa sebaiknya kamu cari aman aja fa, jauhi dia fa.” Ucap Hani yang khawatir akan keadaan sahabatnya untuk kedepannya.
Salfa langsung menggeleng. “ Ngga bisa fa, aku dan dia ngga mungkin menghentikan ini semua Han. Karena kita pun sudah bertindak lebih jauh lagi dari pada itu Han.” Ucap Salfa.
“ Apa maksud kamu fa.”
“ Aku dan mas Raziq sudah menikah fa.” Jawab Salfa.
“ APA.”
“ Ssst, jangan keras-keras Han nanti mama denger.”
“ Ya Allah kenapa ini bisa terjadi. Astagfirullah. Ya Allah... Astagfirullahaladzim. Ya Allah fa kenapa kamu bisa segila itu sih fa. Kamu sadar ngga sih fa dengan tindakan kamu ini. Kenapa kamu senekat ini fa.” Ungkap Hani yang mondar mandir karena syok setelah mengetahu kalau sahabatnya ini telah menikah.
“ Aku tahu kalau aku udah nekad banget Han, aku tahu aku salah karena menyembuyikan masalah besar ini dari papa sama mama. Tapi aku dan mas Raziq benar-benar ngga bisa membiarkan keluarga kita terus-terusan begini Han. Kita berdua ingin menyatukan keluarga kita berdua Han, kita ingin menyudahi permusuhan ini Han. Maka dari itu kita fikir mungkin dengan cara kita menikah akan membuat mereka bisa bersatu.” Balas Salfa yang membela dirinya.
“ Aku tahu niat kamu dan dia baik untuk menyatukan keluarga. Tapi kan ngga harus dengan menikah sembuyi-sembuyi begini fa. Aku yakin masalah ini bukannya membuat semuanya membaik tapi justru memperkeruh keadaan fa.” Balas Hani.
“ Kok kamu bilang begitu sih Han, kamu kan sahabatku harusnya kamu dukung aku dong Han.”
“ Aku memang sahabat kamu fa, tapi apa iya aku harus diam aja ketika sahabatku melakukan kesalahan besar, aku bilang begini justru karena aku peduli dan sayang ke kamu fa. Aku takut kamu akan menyesal karena sudah bertindak sejauh ini fa. Apalagi kalau sampai papa dan mama kamu mengetahuinya.” Balas Hani.
“ Maaf Han, tapi aku sama mas Raziq benar-benar saling mencintai. Dan kami ngga bisa terus-terusan bersama disana tanpa ada ikatan yang jelas. Justru itu membuat kita semakin berdosa, iya kan Han.” Ujar Salfa
“ Apa kamu yakin kalau dia mencintaimu fa.” Tanya Hani.
“ Kok kamu bilang begitu sih Han, aku yakin kalau mas Raziq memang benar-benar mencintaiku. Mungkin kamu ragu karena dia adalah anak dari musuh papaku, awalnya aku pun begitu tapi semakin aku mengenal dia semakin aku tahu kalau dia benar-benar tulus mencintaiku.” Jawab Salfa.
“ Terus gimana kalian bisa menikah fa, siapa yang menikahkan kalian berdua.” Tanya Hani lagi.
“ Hanan.”
“ Apa Hanan.”
“ Iya aku minta bantuan sama dia.”
“ Kamu benar-benar gila ya fa, aku benar-benar syok dengar semua ini. Jadi semalam kamu ngga pulang ke rumah karena kamu ke rumah suamimu. Oh iya apa keluarga Raziq tahu akan hal ini.” Tanya Hani lagi.
Salfa langsung menggeleng. “ Keluarga mas Raziq pun belum ada yang tahu. Yang tahu hal ini baru beberapa teman dekatku dan mas Raziq yang ada disana, kamu dan Hanan.”
“ Kepalaku benar-benar pusing dengar kabar ini. Aku ngga tahu sekarang harus komentar apalagi fa. Kamu buat aku ngga bisa berfikir apapun lagi.” Balasnya.
“ Kamu jangan seperti ini dong Han, aku butuh dukungan kamu Han. Kamu pun harus terus mendoakanku ya supaya aku dan mas Raziq bisa segera menemukan jalan keluar dari masalah ini.” Pinta Salfa yang langsung bersikap manja kepada sahabatnya.
“ Kalau untuk itu pasti aku akan terus mendoakanmu fa, tapi aku seperti mimpi mendengarkan semua cerita darimu. Tapi mau bagaimanapun aku harus tetap memberimu selamat atas pernikahan sembuyi-sembuyi ini. Semoga kamu dan suamimu bisa segera menyelesaikan masalah besar ini dan hidup bahagia bersama.” Balas Hani yang langsung memeluk sahabatnya.
Mereka pun melanjutkan cerita mereka. Hani pun begitu setia mendengarkan semua cerita Salfa tentang kehidupannya di luar negeri bersama Raziq dan dengan statusnya sebagai seorang isteri. Namun semua cerita yang ia curahkan pada Hani pun tiba-tiba sirna ketika Salfa mendengar pertanyaan Hani.
“ Fa, apa yang akan kamu lakukan kalau sampai kedua orang tua kalian tahu semua ini dan ingin memisahkan kalian. Mana yang akan kamu pilih fa, Raziq atau orang tuamu.” Tanya Hani.
Salfa pun diam sejenak memikirkan hal itu. “ Aku memang anak papa dan mama tapi aku pun sekarang seorang isteri Han. Bakti utamaku ada pada mas Raziq. Mungkin aku akan tetap memilihnya, tapi buka berarti aku akan mengabaikan perasaan orang tuaku Han, aku akan tetap berusaha dan terus berusaha supaya papa dan mama mau menerima mas Raziq sebagai menantu mereka.” Jawab Salfa. Hani pun kembali memeluk sahabatnya, karena ia yakin kali ini Salfa benar-benar dalam keadaan dilema.