Keluarga Salfa benar-benar khawatir ketika melihat anaknya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Hani dan Hanan yang tahu penyebabnya pun tetap seolah tidak tahu apapun ketika orang tuanya menayakan penyebab Salfa pingsan. Mereka pun sampai memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Salfa.
“ Dokter bagaimana keadaan Salfa.” Tanya mamanya yang dari tadi menangis melihat anaknya belum juga sadarkan diri. “ Apa sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit.”
“ Tidak perlu kok bu, anak ibu hanya kelelahan dan syok yang begitu dalam. Sehingga membuat dirinya pinsan seperti sekarang. Insyaallah tidak lama lagi dia akan sadarkan diri.”
“ Syok, memangnya dia syok kenapa.” Tanya papanya sambil menatap Hani dan Hanan. Namun mereka berdua tetap mengalihkan pandangannya.
Kemudian Hanan pun yang khawatir papanya akan menanyainya lagi pun langsung berpura-pura mengantarkan dokter untuk keluar.
“ Ya Allah sebenarnya apa yang terjadi sama kamu sih fa, kenapa kamu bisa tiba-tiba pingsan begini.” Ungkap kekhawatiran sang mama, sambil duduk disamping Salfa.
“ Hani, apa kamu benar-benar ngga tahu kenapa Salfa seperti sekarang. Kamu kan sahabatnya, pasti dia cerita sesuatu kan ke kamu.” Tanya papanya.
“ Mmmm, setahu Hani akhir-akhir ini Salfa memang kecapean tante, om. Dia seperti ini karena mungkin memikirkan belum menemukan pekerjaan seperti apa yang dia inginkan.” Jawab Hani, yang jadi ikut menutupi masalah yang terjadi pada sahabatnya.
“ Tapi kenapa Salfa langsung pingsan ketika mendengar kabar kecelakaan yang terjadi pada anak laki-laki itu.” Tanya papanya lagi yang terlihat curiga.
Tubuh Hani pun membeku ketika terlontar pertanyaan itu dari mulut papanya Salfa. “ Ka.. kalau itu... Hani ngga tahu, mungkin kebetulan aja om.” Jawab Hani.
“ Papa jangan berfikir terlalu jauh seperti itu pa, benar kata Hani itu pasti hanya kebetulan aja.” Balas mamanya.
“ Mmmm, om tante sebaiknya om sama tante makan malam aja dulu. Biar Hani yang jagain Salfa, nanti kalau dia sadar Hani akan langsung panggil om sama tante.” Ujar Hani.
“ Benar kata Hani ma, dokter juga kan bilang kalau Salfa seperti ini karena kecapean. Jadi kamu ngga perlu khawatir berlebihan seperti ini ma.”
“ Papa gimana sih, namanya juga anak pingsan ya pasti khawatir.” Balas mamanya.
“ Udah tante, ngga apa-apa kok. Tante makan malam aja nemenin om.” Ujar Hani lagi.
“ Ya udah, titip Salfa ya Han.”
“ Iya tante.”
Hani memang sengaja menyuruh orang tua Salfa untuk keluar, karena dia punkhawatir ketika Salfa sadar dia masih dalam keadaan sedih karena mengetahui suaminya mengalami kecelakaan.
Dan berselang tiga puluh menit setelah papa mama Salfa keluar pun dia tersadar.
“ Alhamdulillah, Ya Allah fa. Akhirnya kamu sadar juga.” Ungkap Hani yang lega melihat sahabatnya sadar.
“ Han... Han... apa yang aku lohat tadi ngga benar kan Han. Semua berita itu salah kan Han. Iya kan Han.” Ucap Salfa ketika ia teringat kejadian sebelum dirinya pingsan.
“ Fa, kamu harus sabar fa. Kamu ngga boleh terlihat seperti ini di hadapan kedua orang tuamu. Kalau sampai kamu memperlihatkan kesedihanmu, maka semua yang kamu tutup-tutupi selama ini akan terbongkar fa. Aku tahu kamu syok mendengar kabar tentang dia, tapi kamu juga harus tenang, aku akan bantu kamu mencari tahu tentang keadaan suamimu fa, tapi aku mohon sama kamu, kamu harus tenang fa.” Ucap Hani yang khawatir dan sedih melihat keadaan Salfa yang terlihat begitu kacau.
“ Aku takut Han, aku takut mas Raziq kenapa-napa. Aku ngga mau kehilangan dia Han, kamu harus bantu aku ketemu sama dia Han. Aku harus menemuinya Han.” Balas Salfa yang benar-benar belum bisa mengontrol emosinya.
“ Iya fa, aku akan bantu kamu. Tapi ngga sekarang fa, ini udah malam.” Jawab Hani yang terus mencoba menenangkan sahabatnya. Kemudian Hani pun merengkuh Salfa dalam dekapannya.
Tidak lama kemudian mama Salfa pun masuk. Dia heran melihat Salfa yang sedih dalam dekapan Hani. Namun ketika dia melihat kehadiran mamanya, air matanya pun langsung ia hapus.
“ Salfa. Kamu kenapa sayang. Mama khawatir banget karena kamu tiba-tiba aja pingsan.” Ucap mamanya yang langsung memeluk Salfa.
“ Salfa ngga kenapa-napa kok ma. Salfa Cuma kecapean aja ma.” Jawab Salfa.
“ Bener kamu Cuma kecapean. Kamu ngga lagi ada masalah apapun kan. Kalau memang Salfa ada masalah yang membuat Salfa seperti ini, sebaiknya Salfa ceritakan ke mama nak, siapa tahu aja mama bisa bantu kamu.” Ujar mamanya.
“ Salfa baik-baik aja kok ma. Salfa benaran ngga kenapa-napa ma. Salfa Cuma mau istirahat aja ma.”
“ Ya udah kalau memang begitu. Han, kamu malam ini tidur sini ya nemenin Salfa.” Pinta mamanya, karena walaupun Salfa mengatakan tidak terjadi apapun, dirinya tetap merasa kalau anaknya ini memang sedang menghadapi sebuah masalah. Dan mungkin Salfa belum berani cerita padanya.
“ Iya tante.” Jawab Hani.
Setelah itu mamanya pun kembali meninggalkan Salfa dengan Hani. Dan ketika mamanya keluar Salfa pun mulai kalang kabut lagi, dia terus berusaha menelfon suaminya. Namun hasilnya tetap nihil, ponsel Raziq mati. Maka dari itu Salfa sudah berniat untuk datang sendiri ke rumah suaminya untuk mengetahui keadaan suaminya.
***
Tanpa sepengetahuan mama dan papanya, Salfa dan Hani pagi-pagi sekali sudah pergi untuk mendatangi rumah Raziq. Namun ternyata mereka tidak hanya berdua, tapi Hanan pun ikut membantu kakaknya mengetahui kabar suaminya. Karena walau mau bagaimanapun Hanan tetap tidak tega melihat keadaan Salfa sekarang. Dia pun tidak ingin orang tuanya curiga karena kakaknya pergi sendiri dan masih dalam keadaan kurang baik.
Sesampainya di rumah Raziq, Salfa pun langsung turun dan berdiri di depan pintu gerbang. Dia melihat keadaan rumah suaminya sepi. Kemudian ada satpam yang menghampiri Salfa.
“ Assalamualaikum, cari siapa ya mba.”
“ Waalaikumsalam pak. Saya cari Raziq pak.” Jawab Salfa.
“ Tuan Raziq ngga di rumah mba. Dia kan mengalami kecelakaan.” Balas satpam tersebut.
“ Terus sekarang dia dimana ya pak. Apa saya boleh tahu.”
“ Maaf mba saya kurang tahu sekarang tuan Raziq ada dimana. Karena semua orang pun sedang mengunjunginya, dan saya belum dapat kabar apapun. Jadi saya tidak bisa memberitahukannya pada mba.”
“ Apa saya bisa minta tolong pak.”
“ Minta tolong apa ya mba.”
“ Kalau nanti ada kabar tentang Raziq, tolong hubungi nomor saya ya pak.” Jawab Salfa sambil memberikan kartu namanya pada satpam rumah Raziq.
“ Ini saya terima mba, tapi saya juga ngga bisa janji mba.”
“ Iya pak, ngga apa-apa.”
Raut wajah Salfa pun masih begitu gelisah, karena belum bisa mengetahui kabar tentang suaminya. Air matanya dari semalam pun belum berhenti-berhenti. Hani dan Hanan pun jadi ikut bingung melihat keadaan Salfa seperti sekarang.
“ Kak, kita mau cari tahu kemana lagi.” Tanya Hanan.
“ Kakak juga ngga tahu mau cari kabar dimana lagi. Kakak disini sama sekali ngga tahu teman-temannya mas Raziq. Kakak ngga tahu harus tanya ke siapa.” Jawab Salfa.
“ Sabar fa, kamu ngga boleh seperti ini.”
“ Apa sebaiknya aku langsung ke Bengkulu aja ya Han, pasti mas Raziq masih ada disana kan.” Ujar Salfa.
“ Memangnya kamu tahu dimana proyek yang lagi di kerjakan sama suamimu itu.” Tanya Hani. Dan Salfa hanya menggeleng sambil menarik rambutnya. “ Fa kamu ngga tahu dimana dia kerja, jadi kalau menurutku sebaiknya kamu jangan kesana fa.”
“ Tapi aku ngga bisa tenang kalau sampai aku ngga tahu keadaaannya sekarang Han.” Balas Salfa.
“ Iya aku ngerti fa, tapi kalau sampai kamu kesana dan bertemu dengan keluarganya justru akan membuat suasana semakin kacau fa. Apalagi kalau sampai mereka tahu statusmu yang ternyata isteri dari Raziq. Apa kamu fikir mereka akan meyukainya.” Tanya Hani. Dan Salfa pun kembali menggeleng.
“ Benar yang kak Hani bilang kak, semua akan tambah runyam kalau sampai kamu nekad datang kesana.”
“ Untuk saat ini kita doakan dia fa, semoga apa yang kita takutkan dan khawatirkan tentang dia ngga terjadi. Dan dia dalam keadaan baik-baik aja.” Ucap Hani.
Salfa yang memang sudah tidak bisa lagi berfikir pun hanya menuruti ucapan sahabat dan adiknya.
“ Jadi sekarang kita kemana kak Hani.” Tanya Hanan.
“ Sebaiknya kita ke rumah kak Hani aja dulu nan. Ngga mungkin kak Salfa pulang dalam keadaan seperti sekarang. Bisa-bisa papa dan mamamu semakin curiga.” Jawab Hani.
Kemudian Hanan pun melajukan mobilnya menuju rumah Hani.
***
Sedangkan di rumah sakit terlihat kegelisahan keluarga Raziq, karena saat ini Raziq masih berada dalam ruang operasi. Keadaan Raziq sebelum operasi pun kritis, namun dokter pun tetap mengoperasinya. Karena jika tidak keadaan Raziq akan semakin memburuk.
“ Ya Allah kenapa dokter lama banget sih.” Ucap nenek Raziq yang tidak sabar mengetahui hasil dari operasi tersebut.
“ Sabar bu, pasti dokter pun sedang mengusahakan supaya Raziq selamat.” Balas Fendy yang menenangkan ibunya.
Sedangkan mama Raziq pun terus menangis dalam pelukan putrinya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau hal semacam ini akan terjadi pada putranya. Padahal baru beberapa hari yang lalau dirinya berbincang dengan putranya.
“ Feny, siapa Mai itu.” Tanya neneknya pada mama Raziq. Dan mama Raziq yang tidak tahu menahu tentang Mai pun langsung menggeleng. “ Masa kamu ngga tahu, kamu kan mamanya. Harusnya kamu tahu siapapun orang yang lagi dekat dengan anakmu. Mama macam apa kamu ini, hal seperti ini saja kamu ngga tahu.” Omel nenek Raziq.
“ Udah bu, kita kan lagi menunggu Raziq operasi. Dan ngga enak juga diliat orang masa ibu marah-marah seperti ini.” Ujar Fendy.
“ Bener yang papa bilang, sekarang yang terpenting itu keadaan kak Raziq nek. Kenapa nenek justru mempermasalahkan hal lain.” Balas adik Raziq yaitu Diana.
“ Diam kamu, kamu masih kecil jadi ngga perlu ikut campur.” Omel neneknya lagi.
Tidak lama kemudian ada suster yang mendekati keluarga Raziq.
“ Permisi bu, pak. Apa benar ini keluarga dari pasien bernama Maulana Raziq Raditya.”
“ Iya sus, ada apa ya.”
“ Ini bu saya mau memberikan barang-barang milik pasien.” Jawab perawat tersebut.
“ Berikan pada saya.” Ucap neneknya dengan tegas. Nenek Raziq meminta hal itu, karena dirinya pun ada hal penting yang ingin ia cari tahu. Siapa lagi kalau bukan Raziq.
Setelah itu dokter yang mengoperasi Raziq pun keluar dari ruangan. Dia langsung menghampiri keluarga Raziq.
“ Dok... dokter bagaimana keadaan cucu saya.” Tanya nenek Maryam.
“ Begini pak, bu. Operasi yang dilakukan memang berhasil. Namun kita pun tidak bisa menjamin kesembuhan yang sepenuhnya pada pasien. Karena keadaannya sekarang masih kritis.”
“ Apa aksud dokter.” Tanya papa Raziq.
“ Ada kemungkinan besar jika dia tersadar, dia akan mengalami gangguan pada otaknya.” Jawab dokter.
Keluarga Raziq pun langsung lemah ketika mengetahui kabar tersebut. Mereka tidak menyangka kalau Raziq akan mengalami hal mengenasakan seperti sekarang.