Satu minggu lebih sudah Salfa terus mencari kabar tentang keadaan suaminya. Namun selama satu minggu itu pula dia tidak mendapatkan kabar apapun. Salfa pun sudah bolak balik datang ke rumah Raziq. Tapi satpam itu tidak mau memberitahukan hal apapun tentang Raziq. Dia pun tidak pernah melihat keluarga Raziq di rumah itu. Hati Salfa benar-benar tidak bisa tenang dan tidak ada raut wajah ceria lagi yang bisa ia tampilkan.
Dan sekarang Salfa kembali datang ke rumah Raziq, karena hanya tempat ini yang bisa menjadi salah satu pentunjuknya untuk mengetahui keadaan Raziq. Satpam rumah Raziq pun sampai bosan harus menjawab jawaban yang sama pada Salfa.
“ Assalamualaikum.”
“ Waalaikumsalam, mba harus berapa kali sih saya bilang kalau saya ngga tahu apapun. Mau mba kesini seratus kali pun jawaban saya tetap sama mba. Saya disini hanya bekerja, kalau memang mba mau cari tahu tentang tuan Raziq maka mba cari tahu dari orang lain aja mba. Jangan mempersulit saya dong mba.” Balas pak Satpam.
“ Saya tahu kedatangan saya kesini membuat bapak ngga nyaman, tapi apa bapak benar-benar ngga kasihan pada saya pak.”
“ Kasihan sih kasihan mba, tapi saya lebih kasihan pada diri saya sendiri kalau sampai saya di pecat.” Ujar satpam tersebut.
Kemudian Salfa pun pergi dari rumah Raziq, dan di dalam mobil Salfa kembali mencari cara supaya dirinya bisa tahu tentang Raziq.
“ Ya Allah, tolong berikan petunjuk pada hamba-Mu ini ya Allah. Kamu dimana sih bby, gimana keadaan kamu, aku benar-benar khawatir sama kamu bby. Aku merindukanmu bby.” Ungkap Salfa yang tidak lagi bisa menahan kerinduannya pada Raziq.
Tidak lama kemudian Salfa pun mengingat sesuatu. “ Kenapa aku ngga nyoba tanya sama adik perempuannya mas Raziq. Mas Raziq kan pernah kasih tahu ke aku kalau adiknya punya toko furniture. Ya Allah kenapa aku ngga coba kesana aja, siapa tahu dia ada disana.” Ujar Salfa yang langsung melajukan mobilnya menuju toko milik Diana.
Sesampainya di sana, Salfa pun langsung mengenakan kaca mata serta topinya. Dia tidak ingin Diana bisa mengenalinya. Ketika dia masuk toko tersebut matanya pun mulai mencari sosok yang bisa memberitahukan tentang kabar suaminya. Namun Salfa tidak menemukan adanya sosok Diana disan, akhirnya dia pun bertanya pada pelayan disana.
“ Permisi mba, mau tanya benar ngga ini tokonya Diana.”
“ Iya benar mba, ini tokonya Mba Diana. Apa ada yang bisa saya bantu.”
“ Mmm, apa Diananya ada disini.” Tanya Salfa.
“ Mba Diananya baru aja keluar mba. Dia bilang hari ini mau jemput kakaknya dari rumah sakit. Katanya hari ini kakaknya pulang.” Jawab pelayan tersebut.
“ Oh iya, jadi Diana jemput kakaknya.” Tanya Salfa untuk lebih menyakinkan dirinya lagi apa yang baru saja dia dengar. “ Ya sudah mba kalau gitu saya permisi dulu ya.”
Kemudian Salfa kembali melajukan mobilnya menuju rumah Raziq. Hatinya sedikit lega karena mengetahui kalau suaminya sudah pulang.
“ Ya Allah bby, aku benar-benar ngga sabar pingin ketemu kamu. Aku bersyukur sekali akhirnya kamu sudah pulang dari rumah sakit.” Ungkapnya sendiri.
Ketika tiba di rumah Raziq, Salfa pun langsung turun dari mobil. Satpam rumah itu pun terlihat kesal karena Salfa kembali lagi.
“ Kenapa mbanya datang lagi kesini sih.”
“ Pak, mas Raziq sudah pulang ke rumah kan.” Tanya Salfa yang begitu antusias.
“ Saya ngga tahu.”
“ Kok bapak gitu banget sih pak, tinggal jawb iya apa susahnya sih pak.”
“ Udah deh mba, mending sekarang mba pergi dari sini. Dari pada mba kena semprot bu Maryam.” Suruh pak Satpam.
“ Tapi benar kan pak, mas Raziq sudah ada di rumah.” Tanya Salfa lagi.
Pak satpam pun diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Salfa. “ Mba, saya bakalan bilang ini satu kali ini saja. Tuan Raziq memang sudah kembali mba. Tapi saya kasih tahu mbanya ya. Sebaiknya lupakan tuan Raziq, karena semua itu akan sia-sia aja mba. Dia ngga akan pernah kembali mba.” Ujar pak Satpam yang langsung pergi masuk meninggalkan Salfa yang masih berdiri di depan pagar.
“ Apa maksud pak Satpam lagi. Memangnya ada apa sama mas Raziq. Ya Allah tolong pertemukan aku dengannya lagi. Aku benar-benar khawatir padanya.” Ucap Salfa yang kembali masuk kedalam mobilnya. Namun dia tidak akan menyerah, dia akan kembali lagi dan terus kembali sampai dirinya bisa bertemu dengan suaminya.
***
Raziq yang baru pulang diantarkan oleh keluarganya pun hanya diam. Tatapannya benar-benar kosong. Karena dirinya bingung apa yang terjadi pada dirinya. Semua terlihat baru baginya, entah itu orang-orang di sekitarnya ataupun lingkungannya. Keadaan Raziq memang sudah mulai membaik, namun tidak dengan ingatannya saat ini. Karena ketika dirinya tersadar dan bisa melewati masa kritisnya, dokter telah memberitahukan kalau sekarang Raziq tidak bisa mengingat apapun, semua yang pernah terjadi padanya tidak dapat dia ingat lagi, bahkan dengan keluarganya pun Raziq tidak bisa mengenalinya.
“ Ziq.” Panggil mamanya yang datang dengan membawakan makanan untuk putranya yang sedang berada di balkon untuk memandang keluar. “ Kok kamu ngga istirahat sih, kamu harus banyak istrahat Ziq, ingat pesan dokter. Kamu tuh belum di perbolehkan melakukan aktivitas yang berat.” Ucap mamanya.
“ Raziq Cuma bosan aja di dalam ma. Pingin cari udara segar.” Balasnya tanpa menampakkan ekspresi apapun.
Mamanya pun menghampiri putranya, dia pun sedih melihat keadaan Raziq seperti sekarang. Apalagi mamanya sudah mendapat larangan oleh suami dan ibu mertuanya tentang hal yang ia baru saja tahu tentang anaknya. Mama Raziq hanya bisa memberitahukan tentang masa lalu Raziq sesuai dengan apa yang suami dan mertuanya beri tahukan.
“ Kenapa harus Raziq yang mengalami hal ini ma.” Ucap Raziq sambil menatap lurus kedepan.
“ Kamu jangan bilang seperti itu Ziq, kita juga ngga pernah menyangka kalau semua ini akan terjadi pada Raziq. Mama pun sedih sayang, tapi Allah sayang ke Raziq, dia ingin Raziq menjadi hamba-Nya yang lebih baik dengan cara mendatangkan musibah ini. Jadi mama mohon ke kamu nak, apapun masalah yang kamu lalui harus tetap meminta pertolongan pada Allah, karena hanya Allah yang mampu menolongmu.” Balas mamanya.
Namun Raziq terlihat acuh dengan ucapan mamanya. Sampai nenek Raziq datang dan memarahi menantunya.
“ Tahu anak belum sembuh, malah di ceramahi begitu. Bisa-bisa bukannya tambah sembuh tapi makin sakit.” Ucap neneknya.
“ Maaf bu.”
“ Sebaiknya kamu keluar sekarang, aku mau bicara dengan Raziq.” Suruh Maryam. Setelah mamanya keluar, Raziq pun menuntun neneknya yang sudah tua untuk duduk di ranjangnya.
“ Apa yang mau nenek bicarakan dengan Raziq.”
“ Raziq harus tahu kalau nenek sayang sekali sama Raziq. Nenek ingin yang terbaik buat Raziq. Nenek pun sedih melihat keadaan Raziq sekarang. Nenek ngga menyangka kalau semua ini terjadi pada keluarga kita. Tapi nenek percaya mau Raziq hilang ingatan ataupun ngga Raziq akan tetap menjadi cucu yang selalu membanggakan nenek.”
“ Raziq sebenarnya masih percaya ngga percaya dengan apa yang terjadi pada Raziq. Dan Raziq marah pada diri Raziq sendiri karena Raziq ngga bisa mengenali siapapun. Apalagi kalian adalah keluarga Rziq sendiri. Tapi Raziq percaya kalau kalian adalah keluarga yang begitu menyayangi Raziq.” Balas Raziq yang langsung memeluk neneknya.
“ Pasti Ziq, kita akan selalu membantu dan mendukung semua hal untuk kebaikan kamu. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah ini, namun selama ini kita sudah terlalu lama diam sampai orang-orang yang menyakiti keluarga kita sudah terlalu lama hidup nyaman.”
“ Apa maksud nenek.” Tanya Raziq yang bingung denga ucapan neneknya. Kemudian sang nenek memberikan sebuah buku lama pada Raziq. “ Apa ini nek.” Tanya Raziq sambil menerima buku dari neneknya.
“ Ini adalah buku catatan kakekmu Ziq, segala aktivitas yang dia lakukan selalu dia tulis disini. Baik itu hal pribadi ataupun tentang pekerjaan.” Jawab neneknya.
Raziq pun membuka-buka buku milik alm kakeknya. Benar yang neneknya bilang, dia dapat membaca sekilas kalau banyak hal yang kakeknya curahkan pada buku hariannya tersebut. “ Ternyata kakek orang yang sangat teliti ya nek, setiap apapun yang dia lakukan selalu dia tulis disini. Raziq jadi kagum dengan kakek,dan Raziq jadi termotivasi ingin menjadi pengusaha hebat seperti kakek.” Balasnya.
“ Kakekmu memang laki-laki yang hebat dan ngga pernah menyerah Ziq. Nenek pun bangga padanya.”
“ Tapi ini apa nek.” Tanya Raziq ketika dirinya membuka buku di halaman akhir-akhir. Banyak potongan surat kabar yang tertempel disana. Tapi neneknya tetap diam belum menjawab pertanyaan Raziq. Dia menunggu sampai Raziq selesai membaca potongan-potongan surat kabar tersebut.
“ PENGUSAHA SUKSES HAMDAN RADITYA DAN PUTRA BUNGSUNYA YANG BERNAMA ARGA RADITYA DI BUNUH DI SEBUAH PABRIK YANG SUDAH TIDAK TERPAKAI. PEMBUNUH ITU ADALAH SEORANG WANITA YANG TIDAK LAIN ADALAH NIMAS PUTRI ADIK DARI PENGUSAHA SUKSES MUHAMMAD NIZAR PUTRA.”
Setelah membaca sepenggal itu pun, Raziq terlihat terkejut sambil memandang kearah neneknya, dia tidak menyangka dengan apa yang dia baca. Raziq tidak pernah menyangka kalau kakek dan pamannya meninggal karena di bunuh. “ Nenek kenapa berita ini mengatakan hal seperti ini. Apa benar kalau kakek dan om Arga meninggal karena mereka di bunuh.” Tanya Raziq.
Neneknya yang tidak kuat lagi menahan air matanya pun akhirnya menumpahkan semua di hadapan Raziq. Raziq yang tidak tega melihat neneknya menangis pun langsung merengkuh neneknya kedalam dekapannya.
“ Nek, Raziq tahu pasti semua ini berat untuk nenek. Tapi kenapa semua ini bisa terjadi pada kakek dan om Arga. Kenapa wanita itu membunuh mereka.” Tanya Raziq yang benar-benar penasaran.
“ Kamu harus membalaskan rasa sakit yang nenek rasakan selama bertahun-tahun Ziq. Nenek ngga bisa menerima semua perbauatan keji mereka terhadap kakek dan om Argamu. Mereka berdua laki-laki yang baik. Dia memang wanita gila yang dengan teganya membunuh kakek dan om Argamu.” Jawab neneknya.
“ Kenapa dia setega itu pada keluarga kita nek. Wanita itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal nek.” Balas Raziq.
“ Dia sudah meninggal Ziq.”
“ Jadi wanita itu pun sudah meninggal. Tapi kenapa nenek menyuruh Raziq untuk membalas sakit hati yang nenek alami kalau wanita itu sudah meninggal.” Tanya Raziq.
“ Walaupun wanita yang membunuh kakek dan pamanmu sudah meninggal, tapi masih ada Nizar kakak dari wanita itu Ziq. Dia pun sudah menyakiti keluarga kita. Setelah kakekmu meninggal, laki-laki itu dengan liciknya merebut dan menipu keluarga kita dengan cara mengambil perusahaan yang sedang kakekmu kembangkan. Keluarganya benar-benar licik Ziq. Jadi nenek mohon padamu Ziq, kamu harus membantu nenek dan papamu untuk mengambil lagi apa yang sudah Nizar rebut dari kakekmu. Dia tidak pantas memiliki perusahaan itu, karena semua itu adalah jerih payah dari kakekmu. Laki-laki itu harus menderita karena dia telah membuat keluarga kita terluka berkali-kali. Kamu harus melakukannya demi keluargamu Ziq.” Pinta sang nenek pada Raziq.
“ Kenapa ada orang sekejam itu nek, Orang seperti itu tidak bisa di beri ampun nek. Kenapa dia harus bahagia dengan cara merebut kebahagiaan keluarga lain, itu benar-benar licik nek. Kita ngga bisa membiarkan orang seperti itu begitu saja nek.” Ucap Raziq yang sudah mulai terpengaruh dengan cerita neneknya.
Raut wajah kebahagiaan pun terlihat di wajah nenek Maryam. Karena dia berhasil membuat Raziq berada di pihaknya.
“ Nenek percaya kalau kamu bisa membantu nenek membalas rasa sakit ini Ziq. Kamu harus merebut apa yang sudah ia rebut dari keluarga kita Ziq. Dan nenek ada satu permintaan padamu Ziq.”
“ Apa itu nek.”
“ Nenek minta padamu, kamu jangan pernah dekat dengan siapapun dari keluarganya terutama anak perempuannya Ziq. Walaupun dia masih muda, tapi wanita itu sudah licik seperti papanya. Dia seperti ular dan suka sekali menggoda laki-laki sukses sepertimu.” Jawab sang nenek yang langsung emosi ketika mengingat Salfa dan keluarganya.
“ Kenapa nenek bicara seperti itu, ngga ada untungnya Raziq dekat dengan keluarganya ataupun anak perempuan itu nek. Tapi kalau boleh Raziq tahu siapa dia nek.”
“ Dia adalah Salfa Adelia Putri.”
“ Salfa Adelia Putri.” Ucap Raziq menyebutkan nama Salfa.