Setelah kejadian di taman itu, akhir - akhir ini Raziq pun mulai di sibukkan dengan segala urusan pekerjaan. Dia pun mulai serius menjalankan misinya untuk mengambil perusahaan milik papa Salfa. Bebagai cara pun dia lakukan termasuk walau cara itu sebenatnya salah. Tapi ternyata dendam keluarganya sudah membutakan hati Raziq. Saat ini Raziq sedang melakukan meeting dengan papanya. Papa Raziq pun senang melihat anaknya yang sudah mulai bergerak melakukan berbagai cara untuk menghancurkan Nizar. Keluarga Raziq khawatir dengan Raziq, apalagi setelah Raziq menceritakan pertemuannya dengan Salfa. Kekhawatiran mereka pun bertambah, maka dari itu nenek dan papanya terus menanamkan kebencian di hati Raziq pada keluarga Salfa. Sehingga akan sulit bagi Raziq untuk percaya dengan apa yang akan Salfa katakan kelak tentang hubungan mereka.
“ Kalau begitu kita pun harus membuat saham yang di miliki oleh mereka turun pa. Dan kita juga harus kembali meyakinkan para pemegang saham di perusahaan itu untuk menjual saham mereka pada kita. Tinggal sedikit lagi pa kita akan berhasil menjadi pemilik saham terbesar di perusahaan itu.”
Tanpa sepengetahuan papa Salfa ternyata Raziq dan papanya memiliki mata-mata yang memang di perkejakan di perusahaan milik papa Salfa.
“ Kamu benar, mungkin dengan cara itu kita bisa lebih mudah merebutnya dari Nizar. Untuk urusan ini akan papa serahkan padamu Ziq. Karena papa yakin kamu bisa menyelesaikannya.”
“ Raziq akan terus berusaha memikirkan caranya pa. Papa tenang saja, karena Raziq yakin kita akan berhasil. Dan Raziq ngga akan pernah membiarkan mereka bisa tenang lagi seperti sekarang.” Balas Raziq dengan senyuman liciknya.
Siangnya setelah melakukan meeting dengan papanya, Raziq pun bertemu dengan salah satu kliennya. Dia pergi kesana di temani oleh sekertarisnya yang bernama Angga.
Namun Raziq tidak menyanka ketika dia masuk kedalam kafe, ternyata dia berpas-pasan dengan Salfa yang juga sedang bertemu dengan klien.
“ Astagfirullah.” Ucap Salfa ketika menabrak seseorang ketika dirinya akan masuk kedalam kafe dan bertabrakan dengan orang ketika mereka sama-sama akan masuk kedalam.
“ Gimana sih mba. Kalau jalan yang bener dong” Ucap Raziq yang langsung emosi karena ada yang menabraknya.
“ Kamu” Ucap Raziq dan Salfa dengan bersamaan.
Senyuman mengejek pun langsung Raziq tampilkan. “ Aku ngga menyangka kalau kamu akan sejauh ini mengikutiku.” Ujarnya.
“ Apa maksud kamu mas, memangnya siapa yang mengikutimu. Aku sama sekali ngga tahu kalau kamu ada disini. Dan aku ngga mengikutimu. Aku datang kesini karena aku ada urusan kerjaan. Tanya aja temanku kalau kamu ngga percaya” Balas Salfa yang tidak terima karena Raziq menuduhnya. Untuk kali ini Salfa memang tidak tahu kalau Raziq akan datang ke kafe ini juga. Karena setelah kejadian di taman, Salfa pun belum kembali mengikuti aktivitas Raziq. Dia masih terngiang akan ucapan Raziq.
“ Kamu fikir aku akan percaya dengan ucapanmu. Bisa saja kamu dan temanmu ini sudah sekongkol.” Balas Raziq yang langsung pergi meninggalkan Salfa.
Awalnya Salfa akan mengejar Raziq, tapi ternyata kliennya pun sudah datang. Jadi niat untuk menemui Raziq pun dia urungkan.
Mereka sama-sama mengambil ruangan khusus yang ada di kafe itu. Tapi ruangan itu hanya terbatas oleh sebuah kaca. Dan tempat mereka bersebelahan. Apalagi tempat Raziq dan Salfa saling berhadap-hadapan, jadi terkadang mereka pun saling pandang. Terutama Salfa, dirinya semakin tidak fokus akan keberadaan Raziq di sampingnya, sampai ia di tegur oleh teman sekantornya karena banyak melamun.
Pertemuan Salfa dengan klien pun sudah selesai, dia menyuruh teman sekantornya untuk pulang terlebih dahulu. Kemudian Salfa menunggu Raziq selesai meeting. Ketika dirinya melihat Raziq akan keluar dari kafe, Salfa langsung mencegahnya. Dia menarik tangan Raziq.
“ Tunggu mas.” Cegah Raziq.
“ Mau apa lagi kamu. Saya fikir saya sudah ngga ada urusan dengan kamu.”
“ Aku mau bicara sama kamu mas, tolong kasih waktu aku sebentar aja.” Pinta Salfa.
Raziq pun menatap Angga yang berada di sebelahnya, kemudian dia berbisik dengan Angga sebentar.
“ Baik pak, saya akan tunggu di mobil. Kalau begitu saya permisi.”
Setelah Angga pergi Raziq pun berjalan kembali untuk mencari tempat duduk. Salfa merasa lega karena Raziq mau memberinya waktu untuk bicara. Dia kemudian mengikuti Raziq dari belakang.
“ Apa yang mau kamu katakan.” Tanya Raziq dengan gayanya yang angkuh sambil menatap Salfa.
“ Aku bukan seperti wanita yang kamu fikirkan mas. Aku melakukan ini semua karena ada sebab.”
“ Aku tahu kamu melakukan ini memang ada sebabnya, karena kamu ingin menggodaku kan.” Tebak Raziq.
Salfa kembali menghela nafas karena Raziq berkali-kali selalu salah faham dengan dirinya.
“ Ya Allah mas, aku sama sekali ngga ada niatan untuk menggoda kamu. Aku hanya ingin kamu ingat sesuatu.” Jawab Salfa.
“ Ingat apa.”
“ Ingat tentang hubungan kita.” Jawab Salfa yang terlihat ragu dalam mengatakannya. Ia takut Raziq akan kembali salah faham dengan dirinya.
“ Hubungan, hubungan apa yang kamu maksudkan.” Tanya Raziq yang bingung ketika Salfa mengatakan tentang hubungan mereka.
“ Hubungan kita sebelum kamu mengalami kecelakaan yang membuat kamu menjadi hilang ingatan.”
“ Owh apa maksud kamu hubungan permusuhan yang terjadi di antara keluarga kita. Untuk masalah itu kamu tidak perlu mengatakannya padaku. Aku sudah tahu yang sebenarnya. Siapa kamu, dan apa niatan kamu beberapa kali ini mendekatiku. Walaupun aku hilang ingatan tapi kamu harus ingat aku ngga bodoh, aku masih bisa berfikir dengan benar. Aku sarankan kamu dan keluargamu bersiap-siap saja menrasakan yang namanya kehancuran.” Balas Raziq.
“ Ya Allah mas, kenapa kamu jadi seperti ini sih. Aku ngga berfikir kearah sana. Pasti ucapan keluargamu sudah membuat kamu berfikir seperti ini, pasti mereka mempengaruhimu kan.” Ujar Salfa.
“ STOP.” Ucap Raziq dengan lancang, dia tidak terima Salfa menjelek-jelekkan keluarganya. “ Jaga ucapanmu, kamu ngga berhak menjelek-jelekkan keluargamu. Karena keluargamu pun jauh lebih busuk.”
“ MAS.” Salfa pun ikut emosi karena Raziq membahas masalah yang sama sekali tidak ingin dirinya bahas. “ Aku mau ngobrol sama kamu bukan untuk membahas tentang permusuhan yang terjadi diantara keluarga kita, aku ketemu sama kamu sekarang karena aku mau membicarakan tentang hubungan kita yang sebenarnya. Aku tahu apa yang akan aku beritahukan ke kamu pasti akan membuat kamu ragu dan ngga percaya sama aku, tapi aku benar-benar serius mas. Aku ingin membuat kamu bisa kembali mengingat tentang masa lalumu, tentang aku, dan tentang siapa dirimu. Karena aku merasa, kamu yang sekarang bukan seperti kamu yang dulu mas.” Ujar Salfa.
Namun Raziq terlihat acuh, dia tidak menghiraukan segala ucapan Salfa. “ Sudah ngomongnya. Gini ya dengerin aku. Aku ngga peduli dengan hubungan kita di masa lalu. Dan benar yang kamu katakan, aku yang sekarang memang bukan aku yang dulu. Aku Raziq yang baru, Raziq yang ngga akan mudah terpengaruh oleh omong kosongmu, Raziq yang ngga akan termakan rayuanmu, Raziq yang akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya, ataupun mengacaukan keluarganya.” Balas Raziq dengan tegas.
“ Kamu tega banget sih mas, ngomong ke aku seperti itu. Melihat kamu seperti ini benar-benar membuat aku terluka mas. Tolong dong mas, kasih aku kesempatan untuk bisa membuatmu kembali mengingat semuanya.” Pinta Salfa dengan air mata yang sudah keluar.
“Hapus air mata palsumu itu, aku ngga akan terpengaruh sama sekali.” Balas Raziq yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
Raziq telah menorehkan luka dalam hati Salfa denganucapannya yang begitu menyakitkan, namun Salfa tahu Raziq mengatakan semua itu karena dirinya belum tahu siapa dia yang sebenarnya.
“ Mas, tunggu mas. Mas Raziq.” Panggil Salfa yang mengejar Raziq keluar menuju parkiran. Disana Raziq sudah bersiap masuk kedalam mobil tapi Salfa berhasil mencegahnya.
“ Apalagi sih mau kamu. Aku ngga mau berurusan lagi denganmu. Dan aku minta tolong jangan ganggu hidup aku lagi.”
“ Aku ngga akan berhenti menganggu kamu sampai kamu mau percaya dan mengingat siapa aku mas. Aku mohon mas percaya sama aku, aku ngga bohong sama kamu.” Pinta Salfa dengan berlinang air mata.
Raziq pun hanya bisa menghela nafas, kemudian dia menghempaskan tangan Salfa yang terus memegangi tangannya.
“ Kamu seperti ini sudah sangat menyusahkan dan membuatku malu. Kalau kamu mau mempermalukan aku maka kamu sudah berhasil.” Jawab Raziq.
Angga pun keluar dari mobil. Dia ingin membantu Raziq untuk menjauhkan Salfa.
“ Pak.”
“ Tunggu Ziq, apa kamu mengenal dia.” Tanya Raziq pada Angga.
“ Dia anak dari pak Nizar salah satu saingan pak Raziq dan pak Fendy.”
“ Dengar kan, semua orang mengenal kamu itu adalah anak dari pesaingku dan papaku. Jadi hubungan apa yang akan kamu karang ke aku, apa kamu mau bilang kalau kamu itu dulu adalah kekasihku. Kalau memang iya, maka aku akan berkata WOW. Berani sekali kalau kamu mau mengatakan hal itu di depanku. Karena sangat jelas aku ngga akan percaya, karena semua itu ngga mungkin, semua itu hanya khayalan kamu. Banyak laki-laki tampan dan kaya di luar sana. Tapi kenapa harus aku yang kamu goda dan kamu akui sebagai kekasihmu.” Balas Raziq dengan segala ucapan yang menyakitkan hati Salfa.
“ Mungkin bagi kamu aku ini penipu, pengarang, pengkhayal. Terserah kamu mau bilang apa dan menuduhku apa mas, aku ngga peduli. Tapi aku hanya mau kamu tahu dan percaya kalau apa yang akan aku ucapkan adalah sebuah kenyataan. Kisah yang ngga aku karang sendiri, tapi kisah yang benar-benar terjadi antara kita berdua. Tapi hubungan kita itu nyata mas, bukan rekayasa ataupu khayalanku, hubungan kita sudah lebih dari pada hubungan kekasih mas.” Ungkap Salfa yang masih mempertahankan dirinya di hadapan Razia walaupun sebenarnya dia begitu terluka.
“ Apa maksud kamu.”
“ Aku yaki ketika aku mengucapkan ini pasti kamu akan ragu padaku, apalagi dengan status keluarga kita yang saling bermusuhan dan amnesiamu. Tapi aku mengatakan ini karena aku berhak atas dirimu mas, aku mau mempertahankan status dan harga diriku sebagai seorang wanita. Hubungan yang aku maksudkan yaitu sebuah pernikahan. Aku dan kamu sudah menikah mas.” Ungkap Salfa.
Raziq pun diam membeku mendengarkan ucapan Salfa yang baginya omong kosong namun mampu membuat hatinya goyah. Dia benar-benar tidak percaya kalau Salfa mengatakan mereka berdua telah menikah. Itu adalah salah satu hal yang sangat mustahil terjadi diantara mereka. Raziq pun langsung menatap Salfa, dia mencoba mencari kebohongan dari wanita yang mengaku sebagai isterinya ini. Tapi Raziq seolah sudah di butakan oleh fikirannya yang begitu kalut, dia tidak menemukan itu pada diri Salfa.