14. KIC

1770 Words
Hari ini Salfa sudah siap dengan pakaian olahraganya. Dia akan kembali menjalankan misinya yaitu mengikuti kemana Raziq pergi. Kemarin Salfa memang meminta bantuan Hani untuk mencari tahu semua kegiatan yang sering di lakukan oleh Raziq kepada sepupunya yang tidak lain adalah kekasih Diana, adik Raziq. Dan menurut yang dia tahu kalau har libur begini Raziq sering lari pagi di taman yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ketika Salfa turun dan meminta izin untuk olahraga semua orang heran karena tidak biasanya Salfa melakukan olahraga di hari liburnya. “ Ma, pa Salfa pergi olahraga dulu ya.” Ucapnya yang menyalami tangan kedua orang tuanya. “ Ngga salah kak.” Ejek Hanan. “ Apa papa ngga salah liat.” Tanya papanya juga yang heran. “ Kenapa sih pada ngeledekin Salfa, kan bagus pa, ma kalau pagi hari kita olahraga. Apalagi ini hari libur.” Jawab Salfa. Hanan justru tertawa mendengar jawaban kakaknya. “ Aku heran deh ke kamu, kok kamu bisa bilang gitu. Biasanya aja hari libur begini kamu masih dalam selimut. Eh tiba-tiba aja mau olahraga. Bisa-bisa pulang dari olahraga tuh badan sakit semua karena ngga pernah di gerakkin.” Balas adiknya. Salfa pun langsung memelototi Hanan yang terus mengejeknya. “ Udah nan, kakakmu kan mau melakukan hal yang positif kok malah di ketawain sih.” Ujar mamanya. “ Tuh dengerin kata mama, jangan sukanya Cuma ngatain aku aja.” Balas Salfa yang bahagia karena di bela mamanya. “ Ya udah ma, Salfa keluar dulu ya takut kesiangan.” “ Memangnya kamu mau olahraga kemana fa, kenapa bawa mobil segala.” Tanya papanya. “ Mmmm, itu pa Salfa mau lari pagi di taman. Sekalian janjian sama teman-teman.” Ucapnya dengan gugup. “ Papa kira mau lari pagi di sekitar sini.” “ Ngga kok pa, kalau gitu Salfa pergi dulu ya pa. Assalamualaikum.” “ Waalaikumsalam.” Kemudian Salfa pun keluar dari rumah dan mulai melajukan mobilnya ke taman. Dia takut kalau tak keburu untuk bertemu dengan Raziq, maka dari itu dia sedikit laju dalam mengendarai mobilnya. Sesampainya di taman, Salfa pun lari pagi mengitari taman yang lumayan luas. Namun dari tadi dia belum juga menemukan sosok yang di carinya. Padahal, dia sudah lumayan lelah. “ Ya Allah aku udah lelah begini masa belum juga ngliat mas Raziq sih. Jangan-jangan dia ngga kesini. Percuma dong aku jauh-jauh datang kemari.” Ucapnya sambil duduk di kursi taman karena kelelahan. Dan ketika dirinya sedang meneguk air, tibatiba ada sosok laki-laki yang di tunggunya lewat di depannya. Wajah yang tadinya kecewa pun mulai berubah ceria, dengan cepat Salfa membetulkan riasannya yang mulai berantakan. Dia tidak ingin terlihat berantakan di hadapan Raziq. Dan setelah itu Salfa pun mulai menyusul Raziq untuk memulai aktingnya lagi. Dengan cepat Salfa berlari agar bisa sejajar dengan Raziq. “ Hai.” Sapa Salfa sambil mensejajarkan dirinya dengan Raziq yang sedang berlari-lari kecil. Namun ternyata sapaannya tidak di hiraukan oleh Raziq, dia hanya meliat sekilas dan setelah itu kembali berlari mendahului Salfa. Melihat dirinya yang tidak mendapatkan respon dari Raziq pun terlihat kecewa dan hanya bisa menghela nafas. “ Ya Allah cool banget sih mas kamu, bikin aku makin keras berusahanya.” Ujarnya pelan, kemudian dia kembali berlari mensejajarkan dirinya dengan Raziq. Apalagi ketika para wanita yang ada di sekitar sana melihat Raziq sedang berlari, hal itu langsung membuat Salfa cemburu. “ Tunggu dong, kok larinya cepet banget sih, kan aku susah ngimbanginnya.” Ujar Salfa pada Raziq. Tapi Raziq masih belum meresponnya, dia kembali mempercepat larinya. Hal itu kembali membuat Salfa kesal dengan perbuatan suaminya yang terus-terusan mengacuhkannya. Dan akhirnya Raziq pun selesai berlari, dia duduk di sebuah bangku taman. Salfa yang melihat hal itu pun menyusul duduk di depan Raziq. Dia terlihat kelelahan karena mengikuti Raziq yang lari terlalu cepat. “ Ya Allah, mas kenapa larinya cepat banget sih. Aku kan jadi kecapean ngikutinnya.” Ujar Salfa yang masih mengatur nafas. Raziq masih juga tidak merespon ucapan Salfa. Dia justru heran melihat Salfa yang terlihat sok kenal dengannya. Sampai akhirnya dia mulai membuka suara. “ Memangnya siapa yang menyuruh kamu mengikuti saya. Memangnya kamu ada perlu apa dengan saya. Kenapa dari tadi kamu menganggu saya lari. Saya rasa, pagi ini saya tidak ada urusan dengan siapapun.” Ucap Raziq. Mendengar Raziq membuka suaranya, Salfa pun tersenyum memandangi suaminya. Dia tidak mendengarkan Raziq bicara justru terus terpesona akan wajah Raziq setelah berolahraga. “ Aku baru sadar, kok kamu tambah ganteng ya mas setelah olahraga.” Ucapnya tanpa sadar. “ Ehem.” Raziq  hanya berdehem mendengar ucapan Salfa. Salfa pun langsung malu karena mengucapkan hal itu pada Raziq. “ Sorry, oh ya tadi masnya bilang apa ya. Bisa di ulagi ngga.” Tanya Salfa yang cengengesan. “ Salah apa saya pagi ini bisa bertemu dengan perempuan gila seperti anda.” Bals Raziq yang akan beranjak pergi dari sana. “ Ehh tunggu mas, masnya mau kemana kita kan belum selesai ngobrol.” Ujar Salfa yang mencegah Raziq pergi. “ Saya ngga ada urusan dengan anda.” Balas Raziq yang kembali duduk karena di tarik oleh Salfa. “ Memangnya masnya lupa ya sama saya.” Tanya Salfa yang langsung menampilkan wajah sedihnya. “ Ini Salfa mas, isteri kamu.” Ucapnya dalam hati “ Saya ingat.” “ Jadi beneran masnya ingat dengan saya.” Balas Salfa yang tersenyum karena Raziq mengingat dirinya. “ Pasti saya akan mengingat orang yang pernah membuat masalah dengan saya dan berani menabrak mobil saya. Karena saya pasti berharap tidak ingin kembali bertemu dengannya.” Balas Raziq. “ Maaf ya mas tentang kejadian kemarin, saya benar-benar ngga sengaja mas. Saya juga kan udah ganti rugi mas. Dan saya juga ngga menyangka lho bisa ketemu kamu disini, pasti ini takdir kan.” Ujar Salfa yang kembali mengambil kesempatan. Namun Raziq hanya tersenyum mengejek ketika mendengar ucapan Salfa yang mengatakan pertemuannya ini sebuah takdir. “ Oh iya mas, kita kemarin kan belum sempat kenalan. Kenalin mas, namaku Salfa. Nama masnya siapa ya.” Tanya Salfa yang mengulurkan tangannya. “ Saya ngga ingin berkenalan dengan seseorang yang tidak memiliki urusan penting dengan saya.” Ucap Raziq yang langsung pergi meninggalkan Salfa. Tapi Salfa tidak putus asa, dia kembali mengejar Raziq. “ Tunggu, tunggu bby. Kenapa jalannya cepet banget sih bby.” Panggil Salfa yang terlepas memanggil Raziq dengan sebutan bby. “ Ini yang kedua kalinya saya dengar kamu memanggil saya bby, memangnya siapa bby itu.” Tanya Raziq yang berhenti karena mendengar Salfa kembali memanggilnya bby. Salfa hanya diam sambil menelan ludahnya, dia bingung mau menjawab apalagi. “ Owh... itu saya, saya kebiasaan manggil orang lain yang saya kenal itu dengan panggilan bby. Jadi terbawa aja gitu mas.” Jawabnya dengan gugup. Raziq memicingkan matanya mencari kebohongan pada ucapan Salfa. “ Bohong.” Balasnya yang kembali berjalan ke parkiran. “ Kok masnya bisa bilang saya bohong, memangnya masnya tahu siapa bby itu.” Tanya Salfa pada Raziq dengan harapan Raziq bisa sedikit demi sedikit mengingat hal itu. “ Ngga penting dan bukan urusan saya.” “ Tapi kalau itu penting dan ada urusannya dengan kamu gimana mas.” Tanya Salfa. Dan hal itu langsung membuat Raziq berbalik memandang Salfa. Kemudian perlahan Raziq mendekati Salfa, hal itu justru membuat Salfa takut, dia pun mundur perlahan sampai dirinya menabrak seseorang di belakangnya. Untung Raziq menariknya sehingga Salfa tidak jadi jatuh. Dan karena kejadian tadi, saat ini mereka begitu dekat, apalagi wajah mereka yang terus saling pandang. Jantung Salfa pun kembali berdebar, karena sudah lama dia tidak merasakan genggaman orang yang ia cintai itu. “ Saya yakin dan saya percaya kalau saya tidak pernah berurusan dengan gadis centil dan agresif sepertimu. Saya tahu apa motif kamu menggoda saya seperti sekarang, saya yakin kamu adalah wanita yang akan melakukan apapun demi mendapatkan uang.” Balas Raziq yang langsung melepaskan Salfa dan pergi meninggalkan Salfa yang masih bengong, karena dia tidak percaya orang yang begitu ia cintai mampu menyebutnya seperti itu. “ Kamu benar-benar melupakanku mas, kamu sudah berubah. Kenapa kamu bisa bicara sekasar itu padaku mas. Apa kamu ngga sadar kalau ucapanmu sudah begitu melukai hatiku mas.” Ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, namun kali ini dia masih bisa menahannya. *** Sedangkan di mobil, Raziq yang mulai melajukan mobilnya terus memandang Salfa dari kaca spionnya. Dia heran melihat Salfa yang terus terdiam setelah dirinya menyebutkan hal itu. “ Kenapa juga aku harus ketemu dengan gadis aneh itu disini. Atau jangan-jangan dia mengikutiku sampai kesini. Sebenarnya siapa dia, kenapa seolah pandangannya itu dia pernah mengenalku. Aku harus menanyakan ini ke nenek atau mama. Siapa tahu mereka mengenal gadis ini.” Ujar Raziq yang langsung melajukan mobilnya menuju rumah. Sesampainya di rumah, ternyata keluarganya sedang berkumpul untuk menikmati sarapan. “ Assalamualaikum.” “ Waalaikumsalam.” “ Sudah selesai ziq olahraganya.” “ Udah nek, lumayanlah udah ngeluarin keringat.” “ Kamu mau sarapan apa Ziq biar mama ambilkan.” Tanya mamanya yang siap mengambilkan Raziq makanan. “ Roti aja ma.” Jawabnya. “ Oh iya nek, ada yang mau Raziq tanyakan.” “ Soal apa Ziq.” “ Apa nenek, papa atau mama kenal dengan gadis yang namanya Salfa.” Tanya Raziq. Semua pun langsung diam ketika Raziq menyebutkan nama Salfa ketika mereka sedang sarapan. Raut wajah keluarganya pun langsung berubah mendengar nama Salfa di sebut. “ Kenapa kamu tanya itu.” “ Tadi kebetulan waktu di taman sewaktu Raziq lagi olahraga, tiba-tiba ada gadis yang deketin Raziq dan dia memperkenalkan dirinya ke Raziq. Katanya namanya Salfa. Apa mungkin sebelum ini Raziq pernah mengenal dia.” Tanyanya. “ Semua di keluarga ini jelas tahu gadis sialan itu termasuk kamu.” Ucap nenek Maryam yang terlihat langsung emosi. “ Jadi benar Raziq kenal sama dia. Memangnya dia siapa nek.” Tanya Raziq. “ Nenek tidak suka kamu bertemu atau dekat dengannya Ziq. Karena di keluarga kita tidak akan pernah ada yang bisa dekat ataupun berhubungan dengan keluarga pembunuh itu.” Ucap nenek Maryam. “ Sudah bu, jangan emosi begini nanti darah ibu naik lagi.” “ Memangnya kenapa nek, apa maksud nenek.” “ Dia adalah anak dari Nizar. Kakak pembunuh kakek dan pamanmu. Nenek yakin gadis itu kembali mendekatimu karena dia ingin merayumu dan kembali menghancurkan keluarga kita Ziq. Itu pasti rencana licik keluarga Nizar.” Ungkap nenek Maryam.Tapi ternyata emosinya sekarang membuat dadanya kembali sakit. Mama dan papa Raziq langsung memapahnya ke kamar Setelah mengetahui siapa sebenarnya Salfa itu pun membuat Raziq terdiam. Dia pun memikirkan ucapan neneknya yang mengatakan niatan Salfa mendekatinya. “ Kamu fikir kamu bisa merayuku, jangan panggil aku Raziq kalau aku tidak bisa berbalik menghancurkan keluargamu. Aku pasti akan membalas semua sakit hati yang keluargamu lakukan pada keluargaku. Akan kupastikan kalian akan membayarnya.” Ucap Raziq sendiri sambil tersenyum licik membayangkan wajah Salfa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD