bc

4 PUTRI Dan CEO Tampan

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
contract marriage
family
HE
love after marriage
age gap
second chance
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
stepfather
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
city
office/work place
lies
secrets
sentinel and guide
love at the first sight
assistant
like
intro-logo
Blurb

Nandia tidak pernah membayangkan bahwa sebuah pernikahan yang dimulai tanpa cinta justru akan mengubah seluruh hidupnya. Terikat dalam perjanjian pernikahan dengan Arkan, ia harus belajar hidup bersama seorang pria yang menyimpan terlalu banyak rahasia.Awalnya, pernikahan itu hanyalah kesepakatan. Tidak ada cinta, tidak ada tuntutan perasaan, dan tidak ada janji untuk saling memiliki.Namun, ketika perhatian kecil berubah menjadi rasa kehilangan, Nandia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Arkan.Di balik hubungan mereka, tersimpan rahasia besar yang berkaitan dengan kehormatan keluarga, pengkhianatan, dan nama seorang ayah yang harus dipulihkan.Ketika kebenaran mulai terungkap, cinta mereka justru diuji oleh perpisahan, persidangan, dan sebuah kecelakaan yang mengubah segalanya.Akankah mereka menemukan jalan pulang, atau justru kehilangan kesempatan untuk mencintai dengan sungguh-sungguh?

chap-preview
Free preview
TOPLES TANPA PAPA
BAB 1: Toples Tanpa Papa Bandung, malam takbiran, Maret 2026. Pempek kapal selam buatan Nandia gagal untuk ketiga kalinya. Telurnya pecah di tengah adonan, cukanya terlalu manis, dan aromanya tidak seperti yang dulu memenuhi seluruh gang setiap malam takbiran. Nandia mencicipi sepotong, lalu meletakkan garpu pelan-pelan. Rasanya benar. Hanya saja bukan rasa Papa. “Kak Nandia hitung lagi, ya, berapa kali gagalnya?” gumam Nandia sambil menghitung. Chintya bersandar di ambang dapur dengan sweter kebesaran dan rambut yang masih berbau pesawat. Dua puluh sembilan tahun, istri seorang pria Korea, dan tetap masuk rumah dengan cara yang sama seperti waktu remaja: tanpa mengetuk, langsung mencomot makanan. “Tiga,” jawab Nandia. “Ini yang ketiga.” tanya Chintya. “Enak, kok.” jawab Nandia. Chintya mengunyah. “Cuma kurang bohong sedikit.” ulang Nandia. “Bohong apa?” tanya Chintya. “Bohong bahwa ini masakan Papa.” jawab Nandia. Chintya tersenyum, lalu menunduk menatap piring. “Nggak apa-apa, Kak. Ini masakan Kak Nandia. Itu juga cukup.” kata Chyntia. Nandia memalingkan wajah dan pura-pura mengaduk kuah. Setahun terakhir, ia pandai melakukan itu. Papa meninggal bulan November, dua minggu setelah ulang tahun Cicilia. Jantungnya menyerah pada pagi yang biasa, saat ia sedang memotong kemplang di teras. Tidak ada pesan terakhir. Tidak ada surat di dalam toples. Hanya sebuah kursi rotan yang kini kosong di sudut ruang tengah, dan Mama yang tidak mengizinkan siapa pun memindahkannya. Malam ini adalah takbiran pertama tanpa Papa. Menjelang magrib, rumah mungil di Cijagra itu akhirnya penuh lagi. Mia tiba dari Jakarta dengan blazer krem dan tas kamera, buru-buru memeluk semua orang karena siarannya baru selesai tadi siang. Cicilia datang terakhir dari Palembang, membawa dua kardus kemplang dan kulit yang sudah menggelap oleh matahari Sungai Musi. Dua puluh empat tahun, tetapi masih menjadi orang pertama yang membuat Mama menangis begitu saja, hanya dengan berkata, “Ma, aku pulang.” Cici memeluk sambil tersenyum ceria. Mereka makan di lantai ruang tengah, seperti dulu. Opor Mama, pempek Nandia yang ketiga, sambal terasi dari Palembang. Tidak ada yang menyinggung kursi rotan itu, tetapi semua orang duduk sedikit menjauh dari sudutnya. Setelah piring-piring dikumpulkan, Mama berdiri dan mengambil sesuatu dari lemari. Toples kaca itu sudah jauh lebih tua dari mereka berempat saat dewasa. Pita merahnya telah berganti belasan kali. Kacanya tergores di satu sisi, bekas jatuh waktu Mia dua belas tahun dan nekat menjadikannya properti siaran TV rumahan. “Dua puluh tiga tahun,” kata Mama pelan, meletakkannya di tengah karpet. “Papa selalu bilang, toples ini yang membuat kalian tidak pernah benar-benar pergi.” Tidak ada yang menjawab. Cicilia menggigit bibir. “Tahun lalu Papa yang membacakannya terakhir,” lanjut Mama. “Dan ini…” Ia mengeluarkan selembar kertas dengan lipatan yang sudah lemas. “Ini kertas Papa. Mama nemu di dasar toples tadi pagi. Belum pernah dibaca siapa pun.” Nandia merasa dadanya mengencang. Dua puluh tiga tahun ia hafal tulisan tangan itu: tegak, sedikit miring ke kanan, dengan garis bawah tipis pada kata yang dianggap penting. Mama menyerahkannya pada Nandia. “Kamu yang baca, Kak.” kata Mama lembut. Nandia membuka lipatan itu. Hanya satu kalimat. Mimpi Papa tahun ini: lihat keempat putri Papa duduk di satu meja, tanpa ada yang menjaga siapa-siapa. Ruangan itu sunyi sampai suara jarum jam dinding terdengar jelas. Chintya menutup wajah dengan kedua tangan. Mia menarik napas gemetar. Cicilia sudah menangis tanpa suara, seperti dulu ketika ia masih lima tahun dan belum paham kenapa orang dewasa sering menangis. “Tanpa ada yang menjaga siapa-siapa,” ulang Nandia lirih, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Itu buat Kakak,” kata Mia. Suaranya serak. “Papa nulis itu buat Kakak.” kata Chyntia. “Papa nulis itu buat kita semua.” kata Nandia datar. “Tapi paling buat Kakak.” kata Cici. Nandia ingin membantah, tetapi tidak menemukan kalimat yang cukup jujur. Mereka membuka kertas-kertas tahun lalu satu per satu, ritual yang tidak pernah ditinggalkan. Chintya menulis: bertahan di Incheon, meski sulit. Mia menulis: jadi suara yang berani, bukan cuma wajah di layar. Cicilia menulis: menjaga warung Nenek sampai tahun depan. Kertas Nandia kosong. Persis seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya ada tanggal di pojok kanan atas dan satu kata kecil yang sudah luntur: nanti. “Aku lupa nulis,” katanya, menyelipkannya kembali ke toples. Tidak ada yang percaya. Tidak ada pula yang memaksa. Ponsel Nandia bergetar di saku. Ia melihat nama di layar: Dimas. “Sayang, maaf banget.” Suara Dimas hangat dan terburu-buru, latar belakangnya terdengar riuh. “Aku nggak jadi ke Bandung. Papa mendadak minta aku ikut acara keluarga di Solo, nggak enak nolaknya. Besok pagi aku video call buat ngabarin ke Mama, ya?” Nandia memandang Mama yang sibuk merapikan serbet, berpura-pura tidak mendengar. Dimas, tunangannya sejak dua tahun lalu, direktur muda di perusahaan tempat Nandia bekerja, dan calon suami yang akan menikahinya tiga bulan lagi. Mama sangat menyukainya. “Nggak apa-apa,” kata Nandia. “Salam buat keluarga.” ulang Nandia. “Kamu memang paling pengertian.” Dimas tertawa kecil. “Aku sayang kamu.” Telepon terputus. Nandia menatap layar yang kembali gelap, dan untuk sesaat ada sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan curiga, melainkan seperti ada nada yang sedikit meleset dari lagu yang dihafal. Mia pergi ke dapur untuk mengambil air. Cicilia sibuk membujuk Mama makan tambahan lontong. Chintya menelepon suaminya di Incheon dengan suara pelan berbahasa campur Korea. Di dapur yang remang, Mia membuka ponselnya yang sudah bergetar sejak tadi. Pesan dari Tasya, rekan kerjanya di stasiun TV, masuk bertubi-tubi. “Mi, bukannya ini tunangan kakakmu? Aku nggak mau salah, tapi ini barusan di lobi hotel dekat kantor. Maaf ya, Mi. Aku nggak tahu harus kirim ke siapa.” Isi w******p singkat dari Tasya. Foto itu diambil dari jarak sepuluh meter, sedikit goyang, tetapi cukup jelas. Dimas dalam jaket yang tadi pagi ia pamerkan di video call, bukan batik Solo seperti yang ia janjikan. Lengannya melingkari pinggang seorang perempuan yang tertawa menghadap kamera lobi. Mia memperbesar gambarnya dengan jari yang mulai dingin. Kalung perak berbandul daun di leher perempuan itu adalah hadiah ulang tahun dari Nandia dua tahun lalu. Rambut ikalnya, tawanya, bahkan caranya memiringkan kepala, semua sangat Mia kenal. Vanya. Sahabat Nandia sejak kuliah. Perempuan yang akan berdiri di samping Nandia sebagai pengiring pengantin. Dari ruang tengah, suara Nandia terdengar memanggil, hangat dan tenang seperti biasa. “Mi, airnya sekalian satu gelas buat Mama, ya!” kata Nandia. Mia berdiri membeku di antara kompor dan jendela dapur, ponsel di tangan, dengan satu pertanyaan yang tidak punya jawaban baik: kalau dia memberi tahu sekarang, siapa yang lebih hancur, Kak Nandia atau malam takbiran pertama tanpa Papa? Kata Mia dalam hati.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.6M
bc

The Silver Wolf

read
615.6K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.2M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
907.7K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook