TUDUHAN

1325 Words
BAB 4: Tuduhan Jakarta, Selasa malam, Maret 2026. Surat itu sampai pukul empat sore, dikirim lewat kurir ke meja Nandia, dengan stempel merah di ujung kirinya: SURAT PENONAKTIFAN SEMENTARA. Sehubungan dengan dugaan penyalahgunaan wewenang dalam transaksi keuangan senilai Rp 4.800.000.000, Saudari Nandia Anindya Prameswari dinonaktifkan sampai proses audit internal dan pelaporan ke pihak berwajib selesai. Tanda tangannya Hartono Prasetya. Nandia membaca surat itu dua kali, lalu melipatnya rapi dan memasukkannya ke tas. Rini memandangnya dengan wajah pucat dari mejanya, tidak tahu harus berkata apa. “Aku nggak apa-apa,” kata Nandia. “Tolong jaga laporan pajak yang di folder biru ya.” Kata Nandia Ia berjalan keluar kantor dengan kardus kecil berisi foto, mug, dan buku catatan. Bukan karena ia kalah. Hanya karena ia tidak mau memberi satu pun dari mereka kepuasan melihatnya menangis. Dimas menunggunya di lobi apartemen kost, pukul tujuh malam. “Nandia, tolong. Lima menit.” ucap Dimas sang mantan. “Aku nggak punya lima menit.” kata Nandia. “Aku tahu Papa gegabah.” Dimas mengikuti langkahnya ke dalam lift. Wajahnya lelah, matanya merah, dan untuk pertama kalinya ia tampak seperti anak yang ketakutan, bukan pria yang percaya diri. “Tapi ini bisa diselesaikan. Kamu cuma perlu bilang nggak melihat apa-apa soal transfer itu. Soal Vanya juga. Aku bisa putusin Vanya. Kita menikah, seperti rencana…” nada memohon Dimas. “Kamu masih memintaku menikah denganmu,” kata Nandia, nyaris tertawa, “setelah menjadikan namaku alasan polisi bisa masuk ke rumah ibuku?” ucap tegas Nandia. “Itu cuma jaga-jaga!” kata Dimas. “Jaga-jaga untuk siapa?” tanya Nandia. Dimas terdiam. Lift berhenti di lantai delapan. Nandia keluar, berjalan ke pintu kamarnya, dan membukanya tanpa menoleh. “Nan.” Suara Dimas berubah, lebih rendah dan dingin. “Papa bilang kalau kamu buka mulut, dia bisa memastikan kamu tidak bekerja di industri ini lagi. Dan dia punya cukup bukti untuk membuat kamu dan ibumu repot bertahun-tahun.” kata Dimas. Nandia berhenti. “Ancaman?” ucap Nandia sambil melirik tegas. “Peringatan. Dari orang yang masih sayang kamu.” kata Dimas. “Orang yang sayang tidak mengancam, Dim.” Ia memandang Dimas sekali lagi, dan akhirnya menyadari bahwa pria itu tampak asing, seperti foto lama yang tidak lagi cocok dengan siapa pun. “Pergi.” kata Nandia muak. Pintu tertutup. Nandia bersandar di baliknya dan baru sekarang membiarkan tubuhnya turun perlahan sampai duduk di lantai. Ponselnya berdering. Nama di layar membuat matanya panas: Mama. “Kak, tadi penjahit gaunnya telepon. Katanya fitting terakhir minggu depan.” Suara Mama riang, jauh dari Jakarta dan semua kekacauan ini. “Kamu sehat? Kok suaranya serak?” tanya Mama. Dulu, Nandia akan menjawab “baik-baik saja, Ma”, lalu menelan semuanya sendirian. Ia menatap langit-langit kamar kost yang sempit. Ucap Nandia dalam hati “Ma, Kakak lagi ada masalah di kantor. Belum bisa cerita semuanya. Tapi Kakak janji, minggu ini Kakak cerita. Jangan dulu khawatir.” Kata Nandia. Hening sebentar di ujung sana. Lalu Mama berkata pelan, “Itu pertama kalinya kamu bilang begitu. Biasanya kamu bilang nggak ada apa-apa.” ucap Mama. “Kakak belajar, Ma.” ucap datar Nandia. “Mama bangga.” Suara Mama bergetar. “Jangan lupa Makan yang sehat ya, Kak.” kata Mama. Grup obrolan keluarga ramai begitu ia membuka ponsel. Mia: Kak, aku dengar kabar dari Tasya. Kantor Kakak ada masalah? Chintya: Kak, jawab. Aku sudah booking tiket besok pagi. Cicilia: Kak, aku bisa jual sebagian hasil warung dulu. Mia: Kak Nandia jangan ngilang. Nandia mengetik dan menghapusnya tiga kali. Dulu, jawabannya akan selalu sama: Kakak urus, kalian jangan khawatir. Ia menarik napas, lalu menulis sesuatu yang berbeda. Kakak dinonaktifkan karena tuduhan uang 4,8 miliar. Kakak nggak melakukannya. Kakak belum tahu cara menyelesaikannya. Kakak butuh kalian, tapi bukan untuk jual apa pun. Cuma untuk didengar malam ini. Beberapa detik tidak ada balasan. Lalu panggilan video masuk dari tiga arah sekaligus, memenuhi layar dengan wajah-wajah yang paling ia rindukan. Chintya di apartemen Incheon, Mia di mobil siaran, Cicilia di dapur warung Palembang. Mereka tidak menawarkan solusi, tidak juga memberi ceramah. Chintya hanya menyuruhnya makan, Mia menceritakan lelucon buruk tentang artis tamu di studionya, dan Cicilia mengarahkan kamera ke arah Sungai Musi yang mulai jingga, supaya kakaknya bisa melihat sesuatu yang tenang. “Kakak belajar,” kata Mia, matanya merah, tersenyum di tengah tangis. “Dikit,” jawab Nandia, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tertawa. Bel pintu berbunyi pukul sebelas malam. Nandia sudah menutup panggilan video, mengganti baju, dan sedang menyiapkan teh yang tidak akan ia minum. Lewat lubang intip, ia melihat sosok tinggi berjas gelap berdiri tegak di lorong, satu map cokelat di tangan. Arkan Wiradipa. Ia membuka pintu dengan rantai masih terpasang. “Bapak tahu ini jam berapa?” ucap Nandia. “Saya tahu.” Arkan tidak tampak canggung. “Ada sesuatu yang perlu Anda lihat. Lima menit.” kata CEO. Setelah ragu sesaat, Nandia membuka rantai. Pria itu masuk, melihat ruangan sempit itu sekilas, lalu duduk di kursi kayu satu-satunya dan membuka map di meja kecil. Nandia baru sadar ia hanya memakai kaus kebesaran dengan rambut yang masih basah. Pria itu tidak berkomentar sepatah pun, kecuali satu detik ketika matanya turun ke leher Nandia yang lembap, lalu cepat-cepat kembali ke dokumen. Isinya selembar dokumen tua. Fotokopi surat jalan pengiriman barang tertanggal 2009. Di bagian bawah, ada tanda tangan seorang saksi gudang. Nandia kenal tulisan itu begitu melihatnya. Tegak, sedikit miring ke kanan. Tulisan tangan Papa. “Ini apa?” tanya Nandia memastikan apa yang dilihatnya. “Surat jalan fiktif untuk proyek tepian Musi. Sembilan miliar rupiah barang yang tidak pernah ada, dibayar penuh oleh perusahaan ayah saya kepada Aliong Jaya. Tiga bulan kemudian proyek itu runtuh, ayah saya dituduh menggelapkan dana investor, dan ia…” Suaranya tidak bergetar, tetapi rahangnya mengeras. “Ia meninggal dua minggu setelah sidang pertama.” Kata Arkan Sang CEO. Nandia memandang tanda tangan di bagian bawah dokumen. Tangannya dingin. “Ayah Anda menandatangani surat jalan ini sebagai saksi,” lanjut Arkan. “Tanpa tanda tangan itu, pembayaran tidak akan cair.” ucap tegas Arkan “Papa nggak mungkin…” ucap Nandia “Anda tahu apa yang ayah Anda lakukan di Palembang tahun 2009?” tanya Arkan. “Dia bekerja di gudang. Dia…” Nandia menggeleng keras. “Papa jujur. Dia bukan orang yang…” ucap Nandia tidak percaya dengan apa yang didengar. “Saya tidak bilang ia sengaja.” Arkan menatapnya, dan untuk pertama kalinya, matanya tidak dingin. Hanya lelah, seperti orang yang sudah memikul beban itu terlalu lama. “Tapi nama ayah Anda ada di dokumen yang menghancurkan keluarga saya, Nandia. Dan nama Anda ada di transaksi yang sekarang menghancurkan hidup Anda. Dua hal itu tidak mungkin kebetulan.” kata Arkan Nandia berdiri terlalu cepat sampai lututnya menabrak meja kecil. Dokumen-dokumen hampir jatuh, dan Arkan ikut berdiri, menangkap pergelangan tangannya sebelum ia kehilangan keseimbangan. Ruangan itu terlalu sempit untuk jarak yang aman. Dari dekat, Nandia bisa melihat garis letih di bawah mata pria itu dan denyut halus di lehernya, secepat denyut nadinya sendiri di bawah genggaman jemari Arkan. “Lepaskan,” bisiknya, tanpa tenaga. “Anda hampir jatuh.” kata Arkan. “Saya baru dituduh menjual nama ayah saya. Saya berhak hampir jatuh.” Ucap Nandia. Genggaman itu mengendur perlahan. Ibu jarinya sempat menyapu bagian dalam pergelangan Nandia, entah sengaja atau tidak, lalu hilang. Arkan mundur satu langkah, napasnya tidak lagi serapi tadi. Ruangan itu hening. “Besok jam tujuh pagi, datang ke kantor saya,” kata Arkan sambil berdiri. “Dan bawa kartu identitas Anda.” ucap CEO menegaskan ke Nandia. “Untuk apa?” tanya Nandia. Ia berhenti di depan pintu, memandangnya lurus. “Karena saya akan menawari Anda satu cara menyelamatkan nama Anda. Dan ayah Anda.” Jawab Arkan “Cara apa?” tanya Nandia. “Menikahlah dengan saya.” ucap tegas Arkan Sang CEO
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD