Sesuai dengan janjinya untuk menjemput Alya setelah selesai rapat di kantornya. Devan pun menepati janjinya dan menunggu gadis itu di ruang tengah. Sementara Bibi Zu memanggilkannya gadis bodoh itu. Meskipun terlihat menyebalkan tadi pagi, akan tetapi Devan berusaha untuk memahami perasaan gadis itu setelah putus cinta. Dia tidak bisa menyalahkan Alya karena gadis itu berhak untuk jatuh cinta. Akan tetapi, Devan juga berhak marah karena dia menyayangi gadis itu terlebih dahulu. Hanya saja keberaniannya untuk mengungkapkan yang belum ada. Dia yang terlalu fokus pada patah hatinya di masa lalu karena ditinggal oleh sang Mama. Hingga kini luka itu masih membekas begitu jelas di dalam ingatannya. Jam menunjukkan pukul sebelas dan hampir siang. Akan tetapi gadis itu belum juga keluar dari kama

