BAB 2

1398 Words
Tangannya yang begitu kekar meraih tubuhku yang terkulai lemah di atas lantai dingin yang berdebu. Sesosok tampan membawaku ke dalam pelukannya, menggendongku dengan perlindungannya. Aku merasa nyaman dan terlindungi. Lukaku tak lagi terasa karena lelah bercampur nyaman ini. Aku hanya bisa melihat garis wajahnya dari kungkungannya yang mengggendongku. Saat kulihat sekitar, tampak wajah sahabatku Jiesso terlihat berlari kecil menusulku setelah berbicara dengan sesosok yang menamparku tadi. Aku kembali melihat ke arahnya, namun aku masih tidak bisa melihat wajahnya denga jelas. Deru napasnya menenangkanku, aku mengantuk tapi tak ingin tidur. Aku hanya penasaran dengan dia yang saat ini berada di sisiku. Entah kemana dia kan membawaku, aku hanya tak bisa fokuskan akal sehatku saat ini. Saat dia masih menggendongku, dia tetap berjalan lurus tanpa melihat ke arahku. "Tidurlah!" Suaranya... begitu dingin namun meneduhkan hatiku yang sakit. Aku tak tahu dia bawa kemana diriku ini, aku pun terlelap. Pagi terasa malas menampakkan teriknya. Awan tampak begitu murung, angin yang berhembus pun cukup membuat tubuh ringkih gadis yang masih dibaluti seragamnya bergelung kedinginan. "Astaga, kau terlihat kedinginan, Jennie." Jisoo meletakkan s**u dan roti di atas meja di samping tempat tidur. Jennie pun bangun dari tidurnya, dan menyandarkan tubuhnya di tepian tempat tidur. "Ternyata hanya mimpi" Jennie bergumam sendiri sambil meringis kecil meraba luka di tangannya. Jennie pun memperhatikan sekitarnya, "Lagi-lagi kau membawaku ke rumahmu, Jisoo." Ucap Jennie sedikit merasa bersalah. "Tidak masalah, daripada di rumahmu yang sepi itu. Cepatlah mandi, kita akan ke sekolah. Jangan jadikan lukamu itu sebagai alasan bolos sekolah ya, aku sudah menyiapkan seragamku untukmu, pakailah." Ucap Jisoo. *** "Jam 9 nanti apakah kau bisa membantuku? Aku butuh waktumu hingga aku pulang dari rumah sakit nanti. Sepertinya kau cocok menggantikannku sebentar." "Bagaimana mungkin aku menggantikanmu? Aku takut akan menjadi masalah nantinya." "Tolonglaah... ibuku membutuhkanku sekarang, upahku kau ambil saja. Kapan lagi kau merasakan masa kuliah ya kan? Setidaknya kau juga dapat ilmu dan sedikit uang hasil magang menggantikanku. Oke! Aku akan mengirimkan alamatnya untukmu, kau hanya duduk manis di sana, dan lakukan apa yang mereka perintahkan, disaat absenku, kau nyahut saja dengan suaramu, dia begitu tua, tak akan mengenalmu," ucapnya bohong, "lagian kau cantik, dia tak akan mempermasalahkanmu, malah menggodamu, hehee.. hati-hati di sana, aku yakin kau bisa. Aku akan mengirimkan alamatnya sekarang ya.." bujuknya asal. "Tapi ak.." "Terima kasih sayangku!" piip... bunyi telepon terputus. "Kau jahat sekali.." Ucap lelaki yang tengah menyeruput teh panas di kursi santai. "Aku tidak jahat, sayang.. aku hanya meminta tolong kepadanya." "Dengan sedikit pemaksaan begitu?" Pria itu pun tersenyum santai. "Ahahah... biarkan saja. Lagian dia juga untung, upahku kubiarkan dia yang ambil, dia yang putus kuliah setelah masuk satu minggu-dapat ilmu juga kan dia tak rugi, malah untung. Kurang baik apalagi aku ini, sayang.." "Terserah padamu, lain kali kenalkan aku dengan teman bodohmu itu, dan yang terpenting sekarang kau harus menemaniku." "Aku berbohong padanya untukmu sayang.." Sepasang kekasih itu pun tertawa mesra. Di lain tempat, Gadis cantik yang dipaksa menggantikannya untuk magang hanya bisa menghela napas. "Apa yang harus aku lakukan di sana?" Gumam Gadis cantik berambut panjang itu. Langit masih saja cemberut, tak b*******h seperti hari-hari sebelumnya. Mendung, dingin dan berembun. Gadis cantik itu berjalan tenang menuju halte yang berada cukup jauh jika berjalan kaki dari kontrakkannya kecil. "Kuharap tak ada lagi kejadian yang membuatku tidak nyaman. Cukup kemarin malam aku mengalami kejadian yang tidak mengenakkan di kafe tempat kerja pertamaku. Lagian ini kan pagi, dan sepertinya tidak akan sampai malam." Gadis cantik itu menguatkan hatinya dengan bicara sendiri menyusuri jalan sepi. Tak terasa gerimis pun melanda, gadis cantik itu pun berlari kecil, tepat di depannya sudah terlihat halte yang ditujunya. "Aku lupa membawa payung, seharusnya aku membawanya di saat cuaca sudah terlihat mendung dari subuh tadi." Gumam gadis cantik itu sambil merapikan pakaian dan rambutnya yang sudah dijilat gerimis. Di saat yang sama, ada mobil jeep hitam usang berhenti di seberang sana. Di dalam mobil itu ada sesosok pria tampan dengan celana jeans sobek, dan singlet putih membaluti badannya yang bidang. Kai, hanya diam memandang gadis cantik yang sedang menunggu bus yang tentunya setiap hari menjadi kendaraan gadis itu. Setiap pagi Kai selalu berhenti di sana, mengendarai mobil jeep usang kesayangannya. Siapa Kai untuknya? Mengapa dia selalu mengikuti Nancy diam-diam? Jawabanya hanya satu, cinta. Kai hanyalah laki-laki biasa, tidak ada embel-embel panjang di belakang namanya, tidak ada pekerjaan layak dari jerih payahnya, tidak ada, sekalipun keluarganya dari keluarga yang kaya raya. Itulah yang selalu ditanamkan dalam hati dan pikirannya yang keras seperti batu itu. Kai selalu menyibukkan dirinya di dalam rumah lamanya yang usang, membuka bengkel untuk kendaraannya sendiri. Hobi namun berhasil membuat hari-harinya cukup sibuk di waktu-waktu tertentu. Meski sesekali Kai akan berkunjung ke 'kebun binatang' yang sangat ingin dia hindari untuk dikunjungi, meskipun selama ini memang dipaksa untuk berkunjung. Untuk sesaat, mari kita berhenti membahas kehidupan Kai. Kembali ke kisah Kai dan Nancy. Setiap pagi Kai selalu berhenti di seberang halte itu, hanya untuk melihat pemandangan indah dalam hidupnya. Nancy. Gadis cantik yang begitu dia sayangi, cinta dalam diamnya. Wajah tampannya terlihat sedikit kusut, karena beberapa lebam bekas luka semalam. Pandangan Kai tak pernah lepas dari Nancy yang berada di seberang sana. Kai pun melajukan mobilnya setelah memastikan Nancy sudah menaiki bus. Biasanya Kai hanya akan melihat wajah Nancy di pagi hari, tak sampai menunggu hingga naik bus hanya saja kali ini Kai sedikit mengkhawatirkan Nancy. Di perjalanan, Nancy termenung melihat sekitar jalan, lewat jendela bus yang dia naiki. Terbayang kembali saat laki-laki tinggi menabrak tubuhnya saat dia hendak menyelamatkan diri dari segerombolan preman yang tengah menggodanya saat dia hendak pulang dari kafe malam kemarin. Laki-laki itu sedikit membantunya di saat yang genting kala itu. Para preman tadi menghentikan aksinya karena laki-laki itu berhenti tepat di depan Nancy. Lalu dengan santai laki-laki itu berjalan melewati Nancy. "Kenapa kau masih di sini? Pergilah!" ucap laki-laki itu sambil menolehkan wajahnya ke arah Nancy. Nancy hanya mengangguk ragu dan berjalan menjauh, dia hanya berjalan lurus, dan menemukan jalanan ramai. Yang ada di pikiran Nancy hanyalah menjauh dari masalah. Di jalanan ramai, Nancy tersadar dan menghentikan jalannya. Dia ingin kembali melihat situasi di sana, tapi Nancy terlalu takut. Nancy pun mengepal erat tangannya, menutup rapat matanya. "Terima kasih.. maafkan aku." Lalu Nancy kembali melanjutkan jalannya, dan menaiki bus terakhir malam itu. Lamunan Nancy terhenti, Nancy terlihat murung. "Entah itu kebetulan atau dia memang berniat menolongku, aku harap dia baik-baik saja. Aku harap kesialan tak lagi datang padaku. Karena aku butuh pekerjaan itu." Gumam Nancy. Bus pun berhenti di tempat tujuan Nancy. Nancy pun turun dari bus sambil menutup kepalanya dengan tas sandangnya. Gerimis masih melanda, tak kunjung reda. Saat sampai di depan gerbang yang sudah terbuka lebar, Nancy berlari kecil menuju pintu masuk. "Apakah kau anak magang mahasiswa akhir itu?" tampak perempuan separuh baya menyapa kehadiran Nancy. "Ayo silakan masuk, teman-temanmu yang lain sudah berkumpul di ruang pertemuan. Bapak akan sedikit terlambat karena ada urusan mendadak." Nancy hanya tersenyum dan mengikuti ibu itu menuju ruangan pertemuan. "Silakan masuk, Nak. Ibu tinggal dulu." "Makasi ya, Bu." Nancy pun berjalan ragu, sungguh dia sangat canggung. *** "So.." Jennie memanggil Jisoo sambil melongo mengaduk bakso yang sudah hampir tak panas lagi di hadapannya. "Apa?" Jawab Jisoo yang asyik mengotak-atik hpnya. "Apa yang terjadi tadi malam?" Jisoo pun mendongak dan menegapkan badannya. "Jennie..." Jisoo pun mulai khawatir dengan sikap Jennie akhir-akhir ini. "Semalam kenapa kau mengikutiku? Sudah kubilang jangan mengikutiku, So. Di sana berbahaya.. " "Apa bedanya denganmu, Jennie.. Di sana memang berbahaya, untuk anak sekolah seperti kita. Kenapa kau malah mengkhawatirkanku? Seharusnya kau juga mengkhawatirkan dirimu sendiri, Jennie. Untung aku mengikutimu saat keluar dari rumahku kemarin, kalau tidak, tidak bisa kubayangkan berita apa yang akan kudengar esok harinya. Kau gila Jennie!" "Aku gila? ya, mungkin aku sudah gila, dan akan tambah gila lagi bila aku harus menanggung amarah keluargamu padaku karena selalu mencelakakan anak semata wayangnya ini." Jisoo terdiam, dia tahu betul bagaimana keluarganya terhadap Jennie. Jisoo pun berdalih dengan mengambil mangkuk bakso yang terlalu lama menganggur tak dijamah sama sekali oleh pemiliknya. "Bila kau tak memakannya, biar aku saja." Ucap Jisoo gagu. "Terima kasih.." Jennie berucap lirih, meski sebenarnya Jennie tidak tahu apa yang ditawari Jisoo kepadanya barusan. Jisoo pun berhenti menyendoki bakso ke mulutnya, lalu kembali lagi menyendok dan mengunyah bakso di mulutnya. "Terima kasih banyak sahabatku, atas semuanya." "Lupakan, terima kasihmu terlalu banyak. Ini enak loh.. aku habiskan ya.." lahap Jisoo. Jennie pun tersenyum senang, imut sekali. "O ya, semalam kita diantar lelaki tampan, dia tinggi sekali. Tapi sayang, dia jutek dan dingin. Mungkin mafia atau gangster seperti di Jepang sana. Di perjalanan dia tak bicara sepatah katapun, sampai akhir. Menyeramkan. Tapi tak apa juga, lagian dia dah baik mau menolong dan mengantar kita sampai ke rumah." Ucap Jisoo Jennie terkejut, "Jadi itu bukan mimpi?" ucap Jennie membatin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD