Suasana terasa sangat sunyi, dentuman bass yang seperti hampir memecahkan gendang telinga itu tak lagi berpengaruh kepada sesosok pria tinggi yang bertelanjang d**a itu. Dia pun melangkahkan kaki jenjang bak ksatria itu menjauhi hingar bingar gemerlap malam.
Wanita penghibur meliuk-liuk seperti cacing kepanasan, bedanya dia manusia yang hanya memakai busana kekurangan bahan, menutupi 2 area sensitifnya yang murahan.
Puntung rokok berserakan di lantai, bukan berarti pecandu rokok, hanya saja dia begitu bosan, hingga semua rokok dia hisap habis. Kacau. Itu yang tengah dihadapi pria tampan itu.
Kai, pria 24 tahun yang hidup dalam kemewahan yang tak pernah habis walau nanti ada kebakaran besar melanda kediamannya yang megah. Kai terbiasa hidup serba melimpah, namun sayangnya, Kai tak pernah melihat wajah ayahnya sejak ibunya meninggal dalam kecelakaan kecil yang sukses menyisakan hitam di hatinya yang dulu putih. Perempuan setengah baya yang dulunya adalah sekretaris ayahnya lah yang kini mengelola semua harta orang tuanya, karena saat itu Kai masih belum cukup usia untuk mengemban semua aset dan harta warisan ayah ibunya. Namun, sudah 24 tahun pun usianya, Kai tetap tidak memegang kendali dengan semua haknya, termasuk hidupnya.
Saat ini Kai hanya diam menyaksikan pemandangan kelam malam di atas atap diskotik langganannya. Hanya diam, sambil memejamkan mata. Bibir sensualnya begitu menggoda, dihiasi lebam dengan darah yang hampir mengering di tepi bibirnya. Sepertinya bekas pukulan beberapa menit yang lalu. Tubuh atletisnya yang begitu kokoh, sangat pas dijadikan tempat perempuan beruntung yang nanti dikungkung dalam pelukannya yang hangat. Begitu jantan, begitu perkasa dengan bekas luka lain di wajahnya.
Dia kembali menghirup rokok terakhirnya, mencoba mencari ketenangan di terpaan angin yang menyentuh kulit putihnya.
Masih di diskotik tadi, semua bersorak memuja perempuan-perempuan penjual diri, bisa dibilang tidak memuja, tapi melecehkan. Tapi perempuan-perempuan itu seperti tidak peduli, mereka sudah digerogoti nafsu, entah terpaksa karena kerasnya kehidupan dengan pilihan yang salah atau memang menyukai bahkan nyaman dengan pekerjaan mereka. Oke, lupakan jalang yang malang itu. Kita fokus ke sosok gadis manis berseragam sekolah menengah atas. Dia tengah berdiri dengan permen karet bergerak-gerak di bibir kecilnya yang merah muda alami, tanpa polesan lipstick seperti layaknya perempuan dewasa kebanyakan.
Gadis manis itu menatap pintu diskotik yang mematung di hadapannya, seakan memanggilnya untuk masuk ke dalam. Sejak 10 menit yang lalu dia berdiri di sana, menatap dengan mata bulatnya yang tajam, tangannya bersembunyi di dalam saku sweater hitamnya.
Penjaga diskotik itu sedikit tertarik untuk melirik sekilas kecantikannya itu, tapi kembali acuh dengan posisi-dan wajahnya yang sangat tidak bersahabat.
Gelap malam dengan kemilau lampu jalan di sepanjang diskotik menerangi kilatan matanya yang begitu tajam namun indah. Sungguh cantik. Entah apa yang ingin dilakukannya di depan diskotik itu. Tempat terlarang, apalagi untuk anak seusianya yang masih sekolah.
"Aku membencimu" Lirihnya penuh benci. Entah kepada siapa u*****n batin itu dia tujukan.
2 lantai, hanya 2 lantai tinggi gedung diskotik itu, bukan karena murahan, hanya saja letaknya pun terpencil di antara gedung usang dan toko buku bekas, di jalan tikus yang sepi dilalui pengendara.
Penjaga diskotik itu tampak berbincang sesama rekannya, lalu beralih memandang ke arahnya.
"Hei bocah! Ngapain kamu berdiri di situ? Mau masuk? Ganti dulu seragammu, gadis manis." Ucap salah satu penjaga diskotik itu meremehkan.
Tatapan gadis manis itu beralih ke arah penjaga yang berbicara tadi, lalu merogoh sesuatu di sakunya. Tampak dia mengetik sesuatu di hpnya. Lalu kembali menatap pintu diskotik itu, dan mengacuhkan penjaga diskotik tadi.
"Pergi sana anak kecil! Kau mengganggu pengunjun di sini. Apa kau mau melayani lelaki hidung belang yang nanti melirikmu!" bentak penjaga lainnya.
Beberapa pengunjung yang baru datang pun melihat ke arah gadis itu, lalu saat melewati pintu masuk, penjaga diskotik itu terlihat menunduk lalu melihat ke arah gadis tadi. Gadis itu melihat ekspresi penjaga itu, namun tidak peduli.
Penjaga itu pun berjalan mendekatinya,"Kenapa kau keras kepala hah?! Ini bukan tempatmu! Mengganggu saja! Bentak penjaga diskotik itu.
Gadis itu tetap diam, tak bergeming. Penjaga itu pun jengah dan meninggalkannya, hendak kembali ke tempat penjagaannya. Saat penjaga itu berbalik meninggalkannya, gadis itu berteriak sangat kencang.
"AAAAAKKKKKKKKK!!!"
Pekikkannya mengejutkan semua yang ada di sana, termasuk Kai.
"Hei!! Ada apa denganmu?! Apa kau gila?!!" bentak penjaga lainnya.
Gadis itu kembali berteriak, memekik sekencang yang dia bisa. Pekikan yang sedikit memilukan.
"AAAAAAAKKKK....AAAAAAAAAAAAAAAAKK!!"
Lalu,
PLAK! Bunyi tamparan keras menghentikan gadis itu.
"Untuk apa kau ke sini?! Cepat pulang! Ini bukan tempatmu!"
Di belakang Gadis itu, tampak gadis lain yang juga berseragam sama dengannya berlari tergesa-gesa menghampirinya yang sekarang hanya mematung setelah tamparan keras menghentikan aksi teriaknya.
"Maafkan kami, Tante.." Ucapnya sambil menunduk berulang-ulang penuh kecemasan, sambil melihat ke arah temannya.
"Bawa dia pulang! Jangan sampai dia kembali lagi ke sini! Jangan menggangguku! Aku tegaskan sekali lagi! Jika dia masih ngotot dan membuat keributan di tempat kerjaku, akan kupastikan temanmu ini akan merasakan nasib yang lebih buruk dari kakaknya!!!
Perempuan 40-an yang berpenampilan seksi itu pun berlalu. Penjaga itu kembali melanjutkan tugasnya.
"Jennie..." Ucap temannya itu sambil memeluknya.
"Ayo kita pulang. Sudah malam, Jennie."
Jennie, gadis 18 tahun itu hanya diam, dadanya naik turun menahan sesak dadanya. Posisi wajahnya tetap seperti saat setelah ditampar keras oleh perempuan berpakaian seksi tadi. Rambutnya acakan menutupi wajahnya.
"Kita pulang sekarang ya.. di sini tempat yang berbahaya untuk kita." Sambil merangkul Jennie. Jennie tetap tak bergeming.
Di lantai atas sana, tampak berdiri pria jangkung tadi, Kai. Kai sudah melihat petunjukan tamparan tadi, dia hanya diam dengan wajah datarnya. Rokok bertenger di jarinya yang besar.
"Tenangkan dirimu, Jennie. Ingat juga kesehatanmu, kau kan sedang sakit Jennie. Ayo kita pulang ya, nanti kita ditinggal taksi yang kupesan tadi."
Tiin..tiiinnn!!!
Terdengar suara klakson dari ujung lorong sana.
"Itu pasti taksi tadi. Tunggu sebentar ya, Jennie." Dia pun berlari menuju taksi itu.
Belum beberapa detik setelahnya, PRANGG!! Suara pecahan kaca menghentikan langkahnya.
"Apa-apaan kau jalang!" teriak penjaga itu, mulai berlari menghampiri Jennie penuh amarah.
Ya, saat temannya itu berbalik hendak menuju taksi itu, Jennie mengambil batu sebesar telapak tangannya, dan melayangkan ke arah pintu kaca diskotik itu. Jennie seperti menahan dendam yang membuatnya kalap seperti itu.
Penjaga itu pun mendorong tubuh Jennie hingga tersungkur di dekat tangga arah pintu masuk diskotik.
"Kau akan membayar mahal perbuatanmu ini! penjaga itu tampak menghubungi seseorang.
Kai yang sedari tadi memperhatikan pun membuang puntung rokoknya ke bawah, dan lebih fokus melihat pemandangan yang membuatnya sedari tadi tak dapat menikmati angin malam yang dingin.
Tangannya memegang pagar pendek sepingggangnya, badannya sedikit condong. Kai mulai tertarik dengan kejadian itu, meski meringis sedikit menahan perih di ujung bibirnya saat membuang air liur bekas aksi merokoknya itu.
Jennie hanya tertunduk pilu meringis menahan sakit di lutut dan sikunya yang berdarah. Saat Jennie hendak mengangkat tubuhnya yang nyaris mencium anak tangga itu, puntung rokok jatuh tepat di samping punggung tanganya.
Jennie pun mengangkat wajahnya, dia melihat sesosok pria bertelanjang d**a, mata mereka seakan bertemu. Lalu redup, dan hitam pekat.
"Jennie?! Jennie!!" Sayup terdengar teriakan memanggil yang semakin lama semakin hilang.
***