Keluarga Duke Almandine

1218 Words
Rambut Lavender pucat Harriet adalah warna yang sangat langka di Utara. Saat para maid mengepang rambut Harriet ala tatanan rambut wanita Utara, Harriet sering mendapat pujian atas betapa indahnya warna rambutnya. Harriet hanya tertawa kecil mendengarnya. Ia sebenarnya merasa fisik orang Utara jauh lebih indah di matanya. Orang Utara memiliki kulit yang lembut dan putih dengan undertone merah muda, dilengkapi rambut berwarna gelap. Sementara kulit Harriet memiliki undertone pucat, dan seluruh tubuhnya tidak kuat menahan terangnya sinar matahari yang memantul di salju putih dari angkasa. “Apakah Anda memiliki darah Siren mengalir di tubuh Anda? Rambut para Siren biasanya berwarna biru tua dan keunguan,” ucap salah satu dari pelayan. Harriet tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Aku juga tidak yakin,” ucap Harriet pelan. “Atau jangan-jangan Anda masih berhubungan dengan anggota Kerajaan Mercury, Madam. Mereka terkenal dengan rambut mereka yang berwarna silver atau kebiruan,” ucap pelayan yang lain. Harriet tertawa kecil lagi. Ia benar-benar tidak tahu. Ia memang seorang bangsawan, namun keluarganya bisa dibilang eksentrik. Ibunya, Marchioness terdahulu tidak pernah menikah. Semua orang curiga bahwa Harriet dan adiknya tidak berasal dari ayah yang sama mengingat betapa berbedanya penampilan mereka. Namun, keduanya jelas-jelas adalah putra dan putri dari ibu mereka. Harriet mewarisi warna mata ibunya, dan adiknya mewarisi warna rambut ibunya yang segelap malam. Kini setelah mereka dewasa, mereka dapat melihat juga bahwa ada kemiripan di fitur wajah mereka jika diperhatikan baik-baik. “Young Lord punya rambut pirang,” ucap Harriet pelan, membuat para pelayan berhenti bicara. Semua orang meletakkan perhatian mereka padanya. “Tubuhnya lebih ramping dan entah mengapa, ia sedikit berbeda dengan para Lycan yang pernah kulihat. Bahkan ia tidak mirip dengan His Grace, Old Duke,” ucap Harriet melanjutkan. “Oh, itu karena Old Duchess, Madam,” ucap Amelia yang baru saja masuk ke ruangan. Wanita paruh baya yang masih cantik itu bertanya kepada Harriet, “Apa Madam mau melihat lukisan Old Duchess?” Amelia membawa Harriet ke sebuah lorong panjang yang belum pernah Harriet lewati sebelumnya. Di sana digantung lukisan-lukisan pasangan Keluarga Almandine dari generasi Old Duke. Harriet melihat seorang pria yang begitu gagah berdiri di sisi sebuah sofa tunggal yang diduduki oleh seorang wanita yang sangat cantik. “Ini adalah Old Duke saat masih muda, dan istrinya,” ucap Amelia. Di lukisan itu Old Duke terlihat masih sangat muda. Rambut cokelatnya ditata rapi dan iris emasnya terlihat menusuk bahkan di lukisannya. Namun tentunya, yang menarik perhatian Harriet adalah lukisan Old Duchess, seorang wanita tinggi dan ramping dengan rambut emas yang berkilau indah. Harriet menyadari bahwa telinga wanita itu sedikit runcing, dan ia langsung menoleh pada Amelia. “Faerie. Atau lebih tepatnya Half Elves,” ucap Amelia. “Oh, benarkah?” Harriet terkejut, ia terkesiap. Ia tidak menduga istri Old Duke adalah seorang half-elf. Amelia mengangguk, dan ia menarik Harriet ke sebuah lukisan lain. Di lukisan itu, terlihat seorang pria berambut emas pendek dan istrinya, seorang manusia biasa berambut pirang pula. Harriet mengerjap pada Amelia, dan Amelia segera menjelaskan. “Ini adalah mendiang Duke dan Duchess, ayah dan ibu Young Lord,” kata Amelia. Ia melanjutkan, “Setelah beliau berdua meninggal, Old Duchess memutuskan untuk menyendiri dan kembali ke alam karena kesedihannya. Namun Old Duke kadang pergi untuk mengunjungi beliau.” “Tapi hal ini sama sekali tidak tercatat di buku…” gumam Harriet. Amelia mengangguk. “Old Duke sepertinya tidak terlalu suka mencatat hal-hal semacam ini, Madam,” ucap wanita itu. Harriet bisa mengerti. Keberadaan Half Elf di dunia ini bahkan lebih langka daripada Elf, dan meskipun mereka tidak bisa menguasai sihir elf dan tidak lebih kuat daripada manusia biasa, mereka sangat cerdas dan juga menguasai bahasa elf secara natural. “Jadi sejak generasi Old Duke dan Duchess, ada banyak yang mempengaruhi lahirnya seorang putra berambut pirang di keluarga ini,” jelas Amelia saat Harriet mengagumi betapa cantiknya ibu dan nenek Liam. Dua wanita itu sangat berwibawa dan lembut, terlihat pula keceriaan di mata mereka. Harriet melihat ke satu tempat kosong di lorong itu yang sepertinya disediakan untuk satu lukisan lain. Tak ada lukisan di sana, dan itulah yang membuat tempat itu terasa kosong. Amelia bercerita tentang Old Duchess. Lalu ceritanya merembet ke cerita tentang orang tua Liam. Mendengar itu, Harriet penasaran berapa umur Amelia mengingat ia terdengar seperti mengenal mereka secara pribadi, jadi Harriet menanyakannya. “Saya sedikit lebih tua dari Dan,” jawab Amelia. Harriet mengerjap. “Sekretaris Daniel?” Amelia mengangguk, lalu wanita itu menaikkan lengan bajunya hingga menunjukkan lengan atasnya. Ada sebuah tanda unik di sana, mirip tattoo. “Saya adalah Mate-nya Dan, Madam sudah tahu itu, kan?” Harriet mengangguk. “Mate dari seorang Lycan akan hidup selama Lycan itu hidup. Kecuali Dan meninggal atau saya terbunuh, saya tidak akan mati sebelum Dan meninggal,” jelas Amelia pelan. Harriet pernah membaca fakta ini entah di buku mana, tapi melihatnya secara langsung masih membuatnya terkagum. “Saya masih sangat kecil saat saya mulai melayani Old Duchess, dan pada saat itu, Young Lord sudah tumbuh dewasa. Saya tidak terlalu mengenal orang tua Young Lord karena beliau berdua meninggal hanya beberapa tahun setelah saya bekerja untuk Old Duchess…” Harriet menjadi sedih mendengarnya. “Oh, benar juga, Madam. Mari kita persiapkan Anda untuk malam bulan purnama nanti,” ucap Amelia mencoba mengubah topik pembicaraan. Karena memang sudah saatnya, Harriet setuju. Amelia menemaninya berias dan berpakaian. Saat matahari terbenam, Harriet mengangkat sebuah nampan makan malam untuknya sendiri dan untuk Liam, bersama beberapa maid lainnya. Ia tidak menyangka sudah sebulan berlalu sejak malam pertama mereka… Saat Harriet sampai di ruang teratas, ia bisa melihat ke dalam ruangan dari pintu yang terbuka. Harriet masuk bersama para pelayan yang lain, melihat para tabib dan Daniel telah bercengkrama di dalam ruangan bersama Liam yang sedang mengeringkan rambutnya. “Jangan terlalu dipikirkan, ini mungkin sama sekali bukan hal yang buruk. Aku bangun, bukankah itu artinya ini hal baik?” tanya Liam, yang sepertinya membahas tentang dua kejadian ia tiba-tiba bangun tanpa adanya bulan purnama, dan bahkan saat matahari belum terbenam. “Milord, apakah Anda merasa berbeda dari biasanya setelah sekarang Anda bangun karena cahaya bulan purnama?” tanya salah satu tabib. “Tidak ada perbedaan signifikan. Aku hanya merasa lebih lapar dari biasanya,” ucap pria itu dan melirik pada Harriet yang tersenyum sambil mendekat ke arahnya. Setelah Harriet menyajikan makan malam Liam padanya di meja, ia melirik pada Daniel. Daniel hanya tersenyum tidak berdaya melihat betapa tidak pedulinya Liam pada kondisi tubuhnya sendiri. “Milord sudah bangun secara acak dua kali… apakah ada kesamaan yang sangat jelas antara keduanya?” gumam Daniel. “Oh! Kesamaan? Tentu saja ada.” Mata jahil Liam menatap lurus pada Harriet yang menyipitkan matanya sambil merona malu. “Ada? Milord, apakah Anda menemukan interval antara Anda bangun dan tertidur? Apakah itu ada hubungannya dengan banyaknya cahaya matahari yang Anda terima? Atau karena faktor-faktor lainnya?” tanya para tabib hampir bersamaan. Liam tertawa kecil melihat antusiasme mereka. “Jangan terlalu terburu-buru, kita harus memeriksa fenomena ini lebih lanjut, kan?” ucap pria itu mengangkat satu tangannya. Liam meminta para tabib dan Daniel pergi agar ia bisa menyantap makan malamnya setelah sebulan dengan tenang. Ia ditinggalkan bersama Harriet berdua di sana. Setelah hanya tinggal mereka berdua, Liam menatap lurus-lurus pada Harriet dan mengulum sebuah senyum nakal. “Madam, dua kali aku terbangun itu selalu ada hubungannya denganmu, kau juga sadar, kan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD