Labeldo - 09

1060 Words
Hari ini, Sakugo dipenuhi dengan semangat yang menggelora karena dia telah mendapatkan kabar bahwa peresmian dirinya menjadi seorang labeldo tinggal 2 minggu lagi, dan dia sudah sangat tidak sabar ingin segera melakukannya, sebab dia sudah mengerti tentang segala hal mengenai dunia bawah tanah, tempat para labeldo bekerja dan berjuang. Setelah dijelaskan semuanya oleh Karlia, entah kenapa ketertarikan Sakugo terhadap labeldo jadi semakin meningkat dari hari-hari sebelumnya. Entahlah, sepertinya Sakugo memiliki beberapa tujuan yang membuatnya begitu semangat, terlepas apapun itu tujuannya, Karlia sangat gembira melihat anak itu akhirnya tertarik untuk menjadi seorang labeldo tanpa harus dibujuk rayu lagi seperti pertama kali mereka bertemu. Selain itu, Karlia dan Sakugo juga jadi semakin dekat, rasanya seperti mereka adalah pasangan yang tinggal di bawah atap yang sama meski sebenarnya itu tidak tepat, hubungan mereka lebih terlihat seperti bibi dan keponakannya. Ya, kurang lebih seperti itu. Singkat cerita, Sakugo telah membereskan tugas-tugasnya dalam menemani Karlia ke supermarket dan membantunya di kebun, sehingga dia menuntut Karlia untuk memulai sesi penceritaan mengenai dunia labeldo lagi, seperti hari-hari kemarin, karena Sakugo sangat tertarik dan ingin lagi mendengarnya dari awal. Namun sayangnya, hari ini Karlia tidak punya cukup energi untuk menjelaskannya lagi pada Sakugo sehingga dia meminta anak itu untuk beristirahat saja sementara di kamarnya. Tentu saja Sakugo kaget dan kecewa pada respon yang diberikan oleh Karlia, dia tidak menyangka gadis itu menolak permintaannya, padahal biasanya ia selalu dipaksa untuk mendengar segala penjelasan-penjelasan mengenai dunia labeldo, entahlah, Sakugo jadi terheran-heran pada hal tersebut. Apakah Karlia sudah tidak punya bahan lagi untuk dijelaskan pada Sakugo sehingga dia bingung apa yang harus dijelaskannya lagi pada anak itu? Tapi Sakugo padahal sudah bilang bahwa menceritakan ulang pun dia tidak keberatan karena bisa saja ada detail-detail kecil yang dilupakan oleh Sakugo. Tapi sayang, seribu sayang, Karlia benar-benar tidak bisa meluangkan waktu untuk menjelaskan ulang semua hal itu pada Sakugo. Pada akhirnya, Sakugo hanya duduk melamun di teras halaman belakang dengan memandangi perkebunan dan luasnya langit di atas. “Aku lapar.” Seketika Sakugo merasakan perutnya berbunyi dan ia sadar bahwa itu tanda dia sedang keroncongan, seperti biasa ia selalu lupa makan jika sedang sangat bersemangat. Akhirnya, Sakugo berjalan menuju dapur dan mencair bahan-bahan makanan di sana, untuk dibuat makanan yang lezat olehnya. Sebenarnya Sakugo tidak begitu pandai membuat makanan, tapi setelah tinggal seminggu di sini, dia bisa belajar dari Karlia dan sedikitnya dia bisa mendapatkan ilmu seputar membuat makanan dengan berbagai cara, meskipun ia hanya mampu melakukannya dengan cara yang masih sangat sederhana, setidaknya itu bisa menutupi rasa laparnya yang kian mencekik. Sakugo tersenyum saat dirinya mencoba menyalakan kompor dan memasukan beberapa bahan-bahan yang dipilihnya ke dalam pemanggang, karena minyak sayur sudah ditata rapi di permukaaan katel, suara berisik dan air minyak yang meletup-letup jadi momentum yang menyenangkan sekaligus menegangkan di sesi memasak Sakugo yang pertama kalinya. Dia tidak pernah menyangka kalau proses memasak sendiri akan terasa sulit dan penuh tantangan seperti itu, dia kira akan lebih cepat dan mudah seperti yang biasa ia lihat saat Karlia memasak di depannya. Ternyata jika mencobanya sendiri, sensasinya jadi sangat berbeda. Singkat cerita, Sakugo berhasil mematangkan makanannya dan dia sudah siap untuk menyantapnya di meja makan, dia sebenarnya masih tidak menyangka dia bisa memasak sendiri dengan tangannya sendiri, itu adalah prestasi dan rekor yang sangat luar biasa, tapi ia mencoba untuk bersikap normal karena tidak mungkin sampai berteriak-teriak saking senangnya. Kemudian, Sakugo mulai mengambil sendok dan garpu dan mulai mencicipi makanan buatannya, dan dia terkejut karena rasanya sangat lezat, meskipun tidak selezat masakan Karlia, tapi itu cukup layak untuk di makan lidah manusia. Kebanggaan Sakugo terhadap dirinya sendiri jadi semakin tinggi, dia sangat terkagum dengan masakannya sendiri. Jika belajar dan berani mencoba, ternyata tidak begitu mengecewakan. “Sakugo, kau sedang apa?” Karlia terkejut saat hidungnya menghirup aroma masakan saat dirinya baru saja keluar dari kamar setelah berjam-jam tidur di sana. Gadis itu kaget melihat Sakugo sedang duduk di meja makan sendirian dan tampaknya seperti orang yang sedang memakan sesuatu, seingatnya dia belum menyiapkan makanan apapun pada Sakugo dan lagipula, ini masih belum masuk ke dalam sesi makan malam, tapi kenapa bisa ada aroma makanan yang sedap di sini. Cepat-cepat Karlia berjinjit mendekati Sakugo dan melihatnya dari dekat, keterkejutannya jadi semakin menjadi-jadi saat tahu bahwa saat ini Sakugo memang sedang menyantap makanan yang bukan buatannya. “Ini siapa yang masak?” “Aku sendiri. Ini masakan pertama! Bagaimana menurutmu? Aku hebat, kan?” Sakugo menjawab pertanyaan Karlia dengan tersenyum lebar dan membangga-banggakan dirinya sendiri karena telah berhasil menciptakan makanan lezat dengan tangannya sendiri, tanpa bantuan dari siapapun. Itu membuat Karlia mengernyitkan alis dan tidak percaya, tetapi dia mencoba ingin mencicipi masakan buatan Sakugo karena sangat penasaran. Ketika dia telah menyuap sesendok, Karlia terbelalak karena rasanya sangat lezat, nyaris seperti masakan dirinya sendiri. Karlia tidak pernah menyangka Sakugo bisa membuat makanan seenak ini, dia kira anak itu hanya remaja ingusan yang sering merengek pada orang tuanya untuk dibuatkan makanan, tapi ternyata dugaannya salah besar. Sakugo bukan remaja yang seperti itu, dia berbeda dari remaja-remaja biasanya. Fakta baru yang sangat mengejutkan. “Kau belajar dari siapa?” Rasa penasaran Karlia tidak bisa dibendung lagi sebab dia tidak menyangka Sakugo bisa membuat makanan seenak ini, apakah dia melihat internet saat membuatnya atau itu adalah murni berasal dari kejeniusannya sendiri? Sungguh, Karlia tidak tahu lagi harus berkata apa selain melemparkan pertanyaan itu, sebab pujian-pujian pun terasa begitu klise untuk anak seperti Sakugo. Karlia lebih butuh penjelasan yang konkrit dan mendetail dari apa yang sedang dialaminya saat ini. Ini adalah hal yang tidak bisa dianggap remeh. Ia harus mencari tahu apa yang membuat remaja lelaki seperti Sakugo, yang seharusnya hanya bisa nongkrong dan berbuat onar, bisa membuat makanan selezat itu. Sungguh, Karlia sangat-sangat-sangat penasaran. “Tentu saja aku belajar darimu, Karlia,” jelas Sakugo dengan cengengesan. “Memangnya kau pikir aku bisa melakukannya secara tiba-tiba begitu? Tentu saja itu mustahil! Aku bisa, karena aku mengamati. Selama ini aku selalu melihatmu memasak di sini dan aku hanya mencoba mengaplikasikan apa yang kulihat menjadi sesuatu yang dapat kupelajari sehingga aku bisa melakukannya sama sepertimu! Hehe!” Karlia hanya terdiam saat mendengar penjelasan dari Sakugo, tentu saja dia terkejut, tapi bukan hanya itu yang dia rasakan, karena dia baru sadar bahwa anak itu juga memiliki teknik yang sangat luar biasa saat mempelajari sesuatu yang baru. Itu bisa digunakan saat dia terjun ke dalam dunia bawah tanah yang kejam dan menyeramkan. Karlia tersenyum dalam sesaat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD