Tekanan

1833 Words
"Sudah, Nona anda tidak perlu khawatir!" kata Olive susah payah berdiri. Dan memasukkan ponselnya ke kantong Dddrriittt... Dddrrriittt... 'Ahk, pasti ini Nyonya lagi' bathinnya "Nona, saya ingin terima panggilan dulu. jadi saya permisi!" Cepat Olive pergi melihat kembali ponselnya dan ternyata yang menelponnya Kale. "Kenapa kamu lama banget, Olive? kalian sudah sampai'kan?" selidik Kale "Sudah, Tuan. Hanya saja saya dilarang pulang dengan Nona Mina" bersama Kale, Olive memang jauh lebih santai, mungkin karena usia mereka yang terpaut tidak terlalu jauh "Untuk apa?" tanya Kale penasaran. "Nona Mina meminta saya mencicipi kue buatannya. Enak sekali, Tuan" jujurnya bahagia. Kale tidak bereaksi, tapi ini kali pertamanya ia mendengar suara Olive jauh lebih ceria. "Saya cuma mau bilang kalau Mama cari kamu, jadi sebaiknya kamu cepat pulang!" titah Kale. "Baik, Tuan. Saya akan pulang secepatnya" Kale menutup ponselnya. "Mina..." beonya. Wanita seperti apa ia yang bisa membuat Olive terdengar ceria. "Maaf Nona, kali ini saya harus pergi. Dan terima kasih atas kuenya yang nikmat!" santun Olive "Eeeh tunggu dulu Mbak, kita belum ngobrol!" Mina terus melarang olive pergi "Saya tidak bisa mengobrol lagi karena saya masih ada urusan" "Kalau begitu, kamu bekal saja kuenya. Kamu suka'kan ? Tunggu aku akan siapkan untuk kamu" tawar Mina. Langsung ia bergegas menyiapkan kotak bekal. Sedang Olive memanggil Bu Zakiyah. "Bu, mungkin sebentar lagi panti itu akan kembali di bangun, dan ini!" Ia menyerahkan setumpuk uang ke tangan Zakiyah. "Apa ini?" "Ini uang yang Tuan siapkan untuk mengganti semua kerugian yang timbul akibat kebakaran itu, Ibu bisa membelikan barang-barang sesuai keinginan Ibu dan penghuni lainnya" ucap Olive menyerahkan uang dua ratus lima puluh juta ke tangan Zakiyah "Tidak perlu, kami tinggal di rumah ini saja sudah lebih dari cukup bagi kami, rumah ini bahkan memiliki fasilitas yang begitu lengkap". "Tapi sayang, Ibu dan anak-anak tidak bisa selamanya tinggal disini. Rumah ini sedang tahap renovasi dan bahaya untuk ditinggali anak-anak" info Olive Zakiyah menatap sekilas ke atas. Benar, pada lantai tiganya terlihat begitu kacau. Dan ia sebenarnya juga khawatir jika anak-anak terkena jatuhan bahan bangunan dari atas "Kalian hanya sementara tinggal disini. Setidaknya sampai panti selesai dibangun" jelas Olive "Dan terima ini untuk kebutuhan panti sehari-hari. Jika kurang, anda bisa memintanya lagi" tambah wanita berkuncir kuda itu Sementara Mina mendengarnya dari jauh, siapa Tuan yang dimaksud Olive dan mengapa ia terkesan menyesali kejadian kebakaran itu. Memangnya kenapa? bathinnya curiga "Tunggu Mbak!" Mina mendekat, wajahnya berubah jadi lebih serius. "Apa Mbak tahu sesuatu tentang kebakaran itu?" selidiknya, Olive memandang Mina, ia tahu dari cerita Kale jika Roselah dalangnya, dan sebenarnya Olive tidak merasa heran. "Tidak Nona, lagipula bukan'kan kebakaran itu terjadi karena aliran listrik yang pendek?" alibinya, ia tahu orang suruhan Rose yang lainnya tidak mungkin asal kerja. Setidaknya mereka sudah menyiapkan alasan yang kuat sampai tak ada yang bisa menciumnya bahkan polisi sekalipun. "Dan, apa bekal ini untuk saya?" Olive menunjuk bekal yang di tangan Mina, demi mengalihkan pembicaraan. Mina menyerahkannya meski rasanya ia tidak puas dengan jawaban Olive. "Terima kasih sekali lagi saya pamit pulang!" katanya yang sudah mengambil kotak bekal itu --- Saat malam hari, Mina nampak tidak bersemangat. Apa benar yang Olive katakan. Tapi setahunya anggota panti lainnya termasuk ia sangat menjaga keamanan panti. Bahkan mereka memiliki alat pemadam kebakaran yang berisi CO2 itu dan selalu mereka cek fungsinya secara berkala. Tapi malam itu, APAR itupun hilang dari tempat biasa. "Bu, apa benar kebakaran itu karena arus listrik yang pendek. Apa Ibu tidak merasa ada kejangalan disini, karena sewaktu api masih kecil aku sempat mencari APAR di tempat biasa tapi gak ada, Bu" cecar Mina. Zakiyah yang ditanya merasa kaget. Ia juga baru tahu hal ini dari cerita Mina. "Apa mungkin APAR Itu sudah diambil Budi untuk memadamkan apinya dititik berbeda?" gumamnya. Tak puas membuat Mina mencari Budi. "Budi... Budi..." "Iyah Ka?" sahut Budi, pemuda tanggung berusia empat belas tahun. Ia juga salah satu anak panti yang sudah tinggal disini sejak bayi. "Waktu malam itu, apa kamu yang mengambil APAR,nya?" tanya Mina meski tak yakin. Apa bisa Budi mengoperasikannya, jika tidak... untuk apa ia ambil? Budi nampak melonggo heran, ia mengeleng. Dan itu jawaban yang untuk bagi Mina. "Aku harus ke panti asuhan lagi secepatnya" gumam gadis itu --- Mina memang gadis biasa, pendidikan yang ia cecappun tidak begitu tinggi tapi bukan berarti ia akan terima di bohongi seperti ini. Pagi sekali ia ijin ke panti yang sudah kebakaran itu Bermodal menaiki angkot satu kali, Mina sampai disana. Hatinya terasa perih, bagaimanapun ia sedih melihat tempat yang selama ini menampungnya, kini lapuk menjadi arang. Masih lekat di ingatannya bentuk bangunan itu sewaktu masih berdiri kokoh disana. Ia bahkan bisa mengira-ngira dimana letak kamarnya dan juga kamar adik-adiknya yang lain. Mina mengambil satu boneka teddy yang masih "selamat" dari kobaran api. Sepertinya boneka itu ditutupi reruntuhan sehingga masih bisa utuh. Ia mengusapnya pelan seolah menyingkirkan debu yang menempel disana. "Pasti adek Mary senang" desisnya, tahu siapa pemilik boneka itu. "Jadi saya mau tempat ini diratakan dan di bangun resort penginapan" suara Rose memerintah orang-orangnya. Mina berusaha mendekat. Bukankah kata Olive tempat ini akan dibangun panti kembali, tapi kenapa Rose justru ingin membangun resort. "Ibu Rose" panggilnya "Mina" kaget Rose tapi hanya seperkian detik, wanita itu kembali bersikap angkuh. "Bu, apa benar tempat ini akan di bangun resort dan bukan panti lagi?" lirih Mina khawatir, Pelan Rose membuka kacamatanya. "Benar" jawabnya sambil memasukkan kaca matanya ke dalam tas. "Tap, Bu. bukankah Tuan Hadi bilang, tempat ini selamanya akan menjadi tempat berteduh bagi kami, anak-anak yatim asuhannya termasuk saya"' "Tuan Hadi sudah tidak ada, dan sekarang sayalah yang mengatur semuanya" Mina menunduk lemas, bahkan bahunya turun karena begitu putus asa. "Saya bisa membangun panti itu lagi, asal ada syaratnya!" tawar Rose. Baginya kehilangan proyek ratusan juta bukanlah masalah, asalkan Mina mau menyetujui permainannya. "Syarat, Bu?" kutip Mina. "Kamu bahkan tahu syarat apa yang saya maksudkan" ucapnya sinis "Maksud ibu tawaran Ibu waktu itu, untuk mengandung cucu Ibu?" cicit Mina. "Saya tekankan kamu ditugaskan mengandung pewaris selanjutnya, dan bukan sekedar cucu saya. Anak itu nanti sepenuhnya milik keluarga Tjandra. Dan kamu sama sekali tidak memiliki hak" tekannya penuh ambisi. Loh, bukankah sama saja... anak itu nantinya memang cucu Rose. Tapi kalau wanita itu berucap seperti itu justru terkesan jika ia tidak akan mencintai calon cucunya. Rose memang hanya memikirkan penerus tahtanya Membayangkannya saja membuat Mina menggeleng tidak terima. "Kenapa? apa kamu menginginkan penghuni lainnya hidup di kolong jembatan, terlunta-lunta tak ada tujuan?" sahut Rose memojokkan Mina. "Cukup sewa'kan tubuhmu selama satu tahun, setelah itu kamu bisa pergi. Bahkan saya akan memberikan hak penuh atas panti ini berganti menjadi atas namamu" Mina tersenyum getir, wanita seperti apa yang ada di depannya? mengapa begitu tega merendahkan harga dirinya sebagai manusia bebas. Tak terasa airmatanya menetes, ia tak tahu harus menerimanya atau menolaknya. Mina pulang dengan berjalan kaki, Ia sedang sibuk memikirkan tawaran Rose, apa ia tega membuat adik-adiknya yang imut harus menderita tidur di jalan. Dilihatnya boneka teddy yang sejak tadi ia peluk. "Mary..." gumamnya membayangkan wajah adiknya yang paling kecil itu. Mary sendiri berusia lima tahun. Ia dititipkan ke panti sejak usianya tiga tahun setelah kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan kereta api. Saat pertama kali melihat Mary, Mina langsung teringat dengan dirinya dulu, pemalu dan merasa tidak betah di panti. Kerjaannya selalu menangis minta pulang. "Tole*), kamu dimana?" cicitnya memanggil abang kesayangannya, Hasa. --- "Assalamualikum, Bu" sapanya "Walaikumsalam, kamu dari mana saja Mina. kenapa pulangnya sampai sore gini?" resah Zakiyah. "Bu, Aku tadi ketemu Bu Rose" cicit Mina duduk di ruang makan. "Lalu apa yang ia katakan padamu?" selidik Zakiyah ikut duduk di sampingnya. "Bu Rose bilang, ia tak mau lagi membangun panti disana, Bu. Bu Rose ingin menggantinya dengan sebuah resort" "Heemmm..." Zakiyah mendesah, ia tak tahu harus berkomentar apa. "Sementara kita tidak bisa tinggal disini selamanya, Bu" lanjut Mina. Zakiyah mengenggam tangannya. "Apa kita mencari tempat sewa untuk kita?" idenya "Bu, berapa lama kita bisa menyewa tempat. Apalagi ibu tahu, anak-anak disini cukup banyak dan rata-rata sudah besar. Kita butuh rumah yang luas untuk menampung semuanya" kata Mina "Kamu benar, tapi Ibu gak punya cara lain. Selama ini Ibu hanya ditugaskan menjaga dan merawatnya tempat ini oleh Tuan Hadi. Dan setelah Tuan Hadi tiada, tidak ada lagi keluarga Tjandra lainnya yang bersedia berkunjung kesini. Kita bahkan membuat kerajinan tangan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, kamupun juga tahu itu, Mina" paparnya putus asa "Iyah, Bu" "Tapi sungguh Mina, ibu ikhlas dengan semua ini. Karena ibu sangat senang dekat dengan kalian" lanjut Zakiyah. Mina merasa terharu ia memeluk wanita yang sudah ia anggap Ibunya sendiri. "Sebenarnya aku punya cara lain, Bu" jujurnya setelah melepaskan pelukkannya. "Cara apa?" desak Zakiyah. "Bu Rose masih menawarkan aku untuk menikah dengan anaknya, dan jika aku bersedia, aku akan mendapatkan hak atas panti ini" terang Mina "Enggak Nak, jangan gadaikan dirimu untuk kami, Insha allah kita masih punya jalan lain" balas Zakiyah kembali merangkul Mina. "Tidurlah, Mina... hari sudah larut!" suruh Zakiyah setelah lama memeluk Mina. Mina mengangguk, ia berjalan masuk ke kamarnya Meski waktu semakin larut tetapi sepasang mata Mina belum ingin terpejam. 'Heemmm... apa aku terima saja tawaran Bu Rose? tapi aku bahkan belum mengenal lelaki itu, gimana bisa aku menikah dengannya? Tidak Mina, kamu gak boleh terima semuanya. Ibu Zakiyah benar, pasti ada satu cara lain. Cara yang terbaik tanpa perlu mengandung seorang anak seperti keinginan Bu Rose' analisisnya sendiri. Mina akhirnya memutuskan tidur, Karena dipikirkan seperti apapun, Ia tak pernah menemukan titik terang atas kegelisahan hatinya. Mina hanya berharap tidur bisa membawanya dalam kedamaian dan mungkin saja saat terbangun, masalahnya sudah menguar bersama mimpinya. "Hikksss... hhikkksss..." "Mary...!" seru Mina, baru saja matanya terpejam lima menit Buru-buru Mina keluar kamarnya. "Mary, kenapa dek?" tanyanya mengelus gadis kecil berambut ikal itu "Mary kangen sama tempat bobok Mary" polos gadis itu, dengan hidung memerah karena terlalu banyak menangis. Mina terjongkok menyamai tinggi Mary. "Disini'kan juga ada tempat bobok Mary" rayunya lembut. Mary menggeleng "Gak mau, Mary mau kamar Mary" kukuhnya memeluk boneka teddy yang tadi Mina selamatkan dari reruntuhan. Mina mendesah, bagaimana ia mengabulkan permintaan Mary malam ini. Dengan sayang Mina mengelus pipi Mary, menghapus sisa airmatanya. "Gimana kalau besok kita kesana, tapi sekarang Mary bobok dulu" janjinya. Mungkin besok Mina dapat menjelaskan pada Mary apa yang terjadi dengan panti mereka. "Mary mau'kan nurut sama Kak Mina?" cicitnya memohon "Mau, Kak" "Ya sudah, sekarang Mary tidur sama aku ajahyuk" Mina sudah menggenggam tangan Mary Ddddoookkk... Dddoookkk... "Siapa itu?" "Buka, keluar kalian dari rumah ini!" seru suara lelaki menggelegar, membuat si kecil Mary takut "Kak aku takut!" "Tenang ajah, Mary. Biar kakak lihat dulu" sebenarnya Mina juga merasa takut, tapi ia juga penasaran. Sebagai anak panti tertua, Mina merasa memiliki tanggung jawab lebih. "Sekarang Mary masuk kamar dulu, Kakak mau bukain pintu Om itu" ijinnya "Gak boleh Kak, suara Omnya galak" larang Mary "Gak Mary, itu bukan galak... cuma... eemm cuma lagi sakit tenggorokan makanya suaranya jadi besar seperti itu" hibur Mina terpaksa bohong. "Sekarang Mary bobok duluan,yah, Sayang. Janji Kakak bakalan nyusul" "Wooyy... budek buka. atau mau gue dobrak sekalian" ancamnya yang membuat siapapun mendengarnya akan ketar-ketir dibuatnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD